Aku pada mulanya hanyalah seorang buruh tani yang menjual tenaganya, menjalani hidup penuh nestapa laksana seekor semut kecil, setiap hari bermimpi suatu saat bisa menonjol di antara yang lain. Namun,
Sebuah Rolls-Royce Phantom convertible model terbaru melaju kencang di padang rumput hijau yang membentang tanpa batas. Pengemudinya adalah mantan juara dunia F1 yang baru saja pensiun. Aku berdiri di kursi belakang Rolls-Royce itu, tangan kiri melingkari pinggang ramping sang bintang film ternama, Liu Bingbing, sementara tangan kananku menenteng segelas anggur terbaik dari Bordeaux, Prancis, yang telah disimpan seratus tahun di ruang bawah tanah.
Rusa milu Tiongkok, badak Jawa, gajah kerdil Kalimantan... berbagai hewan langka itu berkelompok-kelompok bermain riang di padang rumput. Tak jauh dari sana, beberapa panda raksasa bermalas-malasan mengunyah daun bambu di antara rimbun bambu...
Telapak tangan kiriku meluncur turun ke pinggul montok Liu Bingbing yang menggoda, memijitnya lembut, merasakan kelembutan dan kelenturan yang sungguh menggetarkan. Dengan penuh percaya diri aku berkata, “Semua ini hanyalah hiburan bagiku kala senggang. Bagaimana, sekarang kau makin mengagumiku, bukan? Hahaha!” Cincin berlian Afrika Selatan yang besar berkilauan di jariku, memantulkan cahaya mentari.
Liu Bingbing pun bersandar manja ke dadaku, suaranya melengking manja, “Hui-ge, kau sungguh luar biasa, nanti harus benar-benar memanjakan aku ya.”
Aku tergelak, “Kenapa harus nanti? Sekarang pun boleh, kan?”
“Dasar nakal, di sini masih ada orang,” Liu Bingbing menolak namun seolah memberi harap.
“Duar!” Sebuah suara keras terdengar.
Bagai dihantam pentungan, suara deru mesin mobil lenyap seketika dari telingaku, yang tersisa hanya dengung monoton, “