Bab 11: Itik Buruk Rupa
Meskipun mulutnya terus berkata benci, tangan mungil itu justru mencengkeram Xia Ruo semakin erat karena takut Xia Ruo benar-benar akan membuang dan mendorongnya menjauh.
Hati Xia Ruo terasa perih luar biasa. Ia mendekap putrinya ke dalam pelukan. "Mama tidak membuang Yueyue, Mama sangat menyayangi Yueyue."
Yueyue masih terus menangis, tangannya tetap menggenggam erat baju Xia Ruo. Hingga akhirnya, karena terlalu lelah menangis, bocah itu pun tertidur.
Bi Zhang yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghela napas. "Nyonya, Nona kecil benar-benar kurang merasa aman."
"Lagi pula... dia sepertinya tahu bahwa Tuan tidak terlalu menyukainya."
Ucapan itu sebenarnya agak lancang. Namun, Bi Zhang sudah merawat Xia Ruo sejak masa kehamilannya. Ia merasa iba pada Xia Ruo, begitu pula pada Yueyue.
Kelopak mata Xia Ruo bergetar. Memang benar.
Yueyue begitu mencintai Sheng Che. Ia diam-diam menyembunyikan foto Sheng Che di dalam kamarnya. Saat belajar menggambar, ia akan menyandarkan tubuhnya ke pelukan sang ibu sambil memegang pena, meminta diajarkan cara menulis karakter "Sheng" milik ayahnya.
Bagaimana mungkin ia tidak mengenali sosok punggung pria di Disneyland itu sebagai Sheng Che? Hati Xia Ruo terasa makin nyeri.
"Aku akan mencintainya dengan sepenuh hatiku..."
Bi Zhang sebenarnya ingin membujuk Xia Ruo untuk bercerai saja dengan Sheng Che, tetapi sebagai seorang pelayan, kata-kata itu sulit diucapkan. Ia hanya berujar dengan halus, "Jika saja ayah Yueyue bisa mencintainya, dia pasti tidak akan seperti ini sekarang."
Xia Ruo mengatupkan bibir, menundukkan pandangan. Kelopak matanya memerah, rasa sesak memenuhi rongga dadanya.
Bagaimana mungkin Sheng Che mencintai Yueyue? Hatinya sudah terpaut pada Su Rongyi. Karena mencintai orangnya, ia pun mencintai segalanya yang berkaitan dengannya, termasuk menyayangi putri Su Rongyi. Ia bisa memberikan berbagai kejutan dan curahan kasih sayang yang terang-terangan kepada Su Rongyi dan putrinya.
Sedangkan ia dan Yueyue hanya bisa dibuang di vila ini, terasing dari dunia luar, dibiarkan berjuang sendiri untuk bertahan hidup.
Xia Ruo menarik senyum yang tampak getir. "Istirahatlah lebih awal, Bi Zhang. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini."
Ia menunduk dan menggendong Yueyue naik ke lantai atas. Hari ini ia telah mendapatkan pekerjaan, ia akan berusaha keras mencari uang.
Soal perceraian... ia merasa Sheng Che pasti akan segera datang menemuinya. Jika tidak bercerai dengannya, Su Rongyi tidak akan bisa masuk ke dalam keluarga Sheng. Terlebih lagi, Nyonya Besar Sheng sekarang sudah tidak lagi mencampuri urusan Sheng Che. Bagi Sheng Che, ini adalah saat yang tepat untuk menikahi Su Rongyi.
Xia Ruo membereskan barang-barangnya dan Yueyue secara sederhana. Barang-barang yang tidak terpakai baru-baru ini dimasukkannya ke dalam sebuah koper tua. Itu adalah mahar yang diberikan keluarga Xia saat "mengusirnya" keluar dan menikahkannya ke keluarga Sheng. Di dalamnya hanya berisi berbagai dokumen identitas miliknya dan sebuah kartu bank yang saldonya hanya tujuh belas koma delapan yuan.
Saat koper itu selesai dikemas, hujan mulai turun di luar. Di dalam selimut, Yueyue menggenggam erat sebuah boneka kain usang, wajah mungilnya berkerut. "Papa... Mama..."
Xia Ruo mendekat untuk menenangkannya.
Keesokan paginya saat bangun, Yueyue masih merasa marah. Saat melihat Xia Ruo, ia memalingkan wajah dengan dingin dan hanya mengikuti di belakang Bi Zhang. Namun, tepat saat Xia Ruo hendak pergi bekerja ke hotel, bocah itu segera berlari menghampiri dan menarik tangannya dengan mata berkaca-kaca.
Xia Ruo berjongkok di hadapannya. "Mama pergi bekerja mencari uang untuk membelikan Yueyue banyak sekali boneka mainan, ya?"
Yueyue mengertakkan gigi, sekujur tubuhnya gemetar. Ia menatap Xia Ruo dengan mata merah, tangan mungilnya mencengkeram lebih erat. Ia tidak ingin Xia Ruo meninggalkannya.
Xia Ruo memahami hal itu dan ingin mencoba memperjuangkannya; ia ingin membawa Yueyue bersamanya. Ia menelepon manajernya.
Sang manajer sempat ragu sejenak, lalu hanya berkata, "Meskipun hotel kami memiliki fasilitas bermain anak, pada prinsipnya karyawan tidak diperbolehkan membawa anak saat bekerja."
Setelah itu, sambungan telepon diputus.
Xia Ruo segera memahami maksudnya. Ia boleh membawa anaknya, tetapi segala risiko dan masalah yang timbul menjadi tanggung jawabnya sendiri dan tidak boleh melibatkan pihak hotel.
Ia menggendong Yueyue. "Mama akan membawamu ke tempat kerja Mama. Hari ini kamu temani Mama di sana terus, ya?"
Yueyue memalingkan muka tanpa suara, tetapi tangan mungilnya tetap memegang erat. Xia Ruo juga mengajak Bi Zhang, berpikir bahwa saat ia sibuk, Bi Zhang bisa membantu menjaga Yueyue. Hal ini juga untuk mencegah munculnya masalah bagi pihak hotel.
Setibanya di hotel, Xia Ruo berganti seragam dan mulai bekerja. Sementara itu, Yueyue diajak Bi Zhang bermain di taman bermain kecil. Yueyue jarang keluar rumah, apalagi bermain dengan fasilitas seperti itu. Melihat mobil bom-bom dan perosotan, ia merasa sangat bersemangat. Ia pernah melihat hal-hal ini di tabletnya. Ia juga pernah membayangkan bermanja-manja pada ayahnya agar diajak bermain ke tempat seperti ini. Meski kini tidak ada Papa, akhirnya ia bisa merasakannya juga.
Yueyue mengendarai mobil bom-bom dengan gembira, berputar-putar di arena.
"Brak!"
Satu benturan terjadi. Kepala Yueyue terantuk setir hingga muncul benjolan besar. Sakit sekali.
Ia menoleh ke belakang. Di mobil sebelahnya, seorang gadis kecil bergaun mekar tertawa sangat girang. "Hei, kenapa kamu bahkan tidak punya gaun putri? Kamu terlihat seperti itik buruk rupa yang tidak disayangi siapa pun."