Bab 4: Mencari Maut, Merengkuh Hidup
Melihat raut wajah Kakek Qiao dan Zhang Lan, tampaknya akhir-akhir ini keduanya tak menunjukkan tanda-tanda akan kehilangan harta. Jadi, uang itu benar-benar hilang atau tidak—belum bisa dipastikan!
Selanjutnya, tatkala meneliti wajah Qiao Ran, tampak jelas ia memiliki raut wajah pembawa pesona: dahinya penuh dan bersih, berkilau di bawah sinar mentari, seakan-akan menyimpan pertanda rejeki nomplok yang akan datang.
Mengaitkan kedua hal itu, bukankah kebenaran perkara ini terpampang nyata di depan mata?
Namun, kini masih harus dipastikan, di mana Qiao Ran menyembunyikan uang itu?
Hati Song Ning bergetar, lantas ia mulai menebak menggunakan perhitungan waktu dan jumlah orang di halaman.
Timur adalah jia-yi kayu, selatan bing-ding api, tengah wu-ji tanah, barat geng-xin logam, utara ren-kui air...
Harta berkaitan dengan air, jadi uang adalah air, air terletak di utara, dan bila digabungkan dengan hasil ramalan, uang itu ada di arah barat laut.
Song Ning mengangkat kepala, matanya mengitari susunan halaman kecil keluarga Qiao, hingga akhirnya tatapannya terkunci pada tunggul kayu di dapur.
Andai ada satu tempat di rumah Qiao yang sama sekali tak mungkin diinjak oleh pemilik tubuh sebelumnya, maka itulah tunggul kayu itu.
Jadi besar kemungkinan Qiao Ran menyembunyikan uang di sana.
Sejak tadi, pandangan Qiao Ran tak beranjak dari Song Ning; ketika ia melihat pandangan Song Ning mengarah lurus ke tunggul kayu, hatinya langsung digelayuti kegelisahan.
Jangan-jangan Song Ning sudah tahu sesuatu?
Tidak, tidak mungkin! Jangan menakut-nakuti diri sendiri!
Qiao Ran berusaha menenangkan diri, namun keringat dingin seketika membasahi dahinya.
“Di sana...”
Song Ning melirik Qiao Ran dengan senyum setengah mengejek, telunjuknya mantap mengarah ke tunggul kayu.
“Jika dugaanku tak salah... uang itu pasti ada di bawah tunggul itu.”
Wajah Qiao Ran seketika memucat, tubuhnya refleks berdiri menghalangi Song Ning.
“Kau... kau bilang uang ada di sana... jangan-jangan itu kau yang menaruhnya di sana...”
Song Ning mengangkat alis, “Belum dicari... tapi kau sudah yakin uang di sana?”
“Sekarang, siapa yang mengambil uang itu sudah jelas, bukan!”
Ekspresi Qiao Ran berubah drastis, buru-buru ia menengok ke arah anggota keluarga Qiao, mencari reaksi mereka.
“Qiao Ran, masih juga tak mau bicara jujur!”
Qiao Bo membentak Qiao Ran dengan suara keras, kini tak ada lagi yang perlu diragukan!
Adik perempuan ini memang sudah harus diberi pelajaran...
Qiao Ran, meski masih kecil, tak kuasa menahan desakan Qiao Bo; tubuhnya bergetar lalu ia pun menangis keras.
“Wa...”
Sambil menangis Qiao Ran berlari memeluk Zhang Lan, “Ibu, katakan sesuatu!”
Hati Zhang Lan tercekat, matanya buru-buru mencari tatapan Kakek Qiao.
Andaikan rencana liciknya terhadap mas kawin menantu ketahuan oleh Kakek Qiao...
Zhang Lan bergidik.
Sebenarnya ia hanya memikirkan kebaikan keluarga, hanya saja melihat Song Ning begitu boros, ia ingin mengambil uang itu dan menyimpannya sendiri...
Yang lain mungkin masih bisa dibujuk, tapi soal watak Kakek Qiao, ia tahu betul: urusan ini pasti akan sulit dihadapi...
“Qiao Ran! Benarkah kau yang mengambilnya?”
“Perempuan tua, kau juga...”
Wajah Kakek Qiao berubah, tak percaya menatap Zhang Lan, tubuhnya seketika membungkuk lesu.
Pantas saja tadi Song Ning menuduh maling berteriak maling!
Ternyata benar saja, sekeluarga ini menindas Song Ning seorang!
Bagus, sungguh luar biasa!
“Suamiku...”
Zhang Lan dengan gelisah mengulurkan tangan, hendak menopang Kakek Qiao, namun ia segera menepisnya.
“Jika tiang penyangga bengkok, maka seluruh rumah akan miring! Celaka benar rumah tangga ini!”
Ekspresi Kakek Qiao penuh kesedihan, tubuhnya membungkuk, seolah seketika menua beberapa tahun.
Ia terpincang-pincang melangkah ke arah Song Ning, air matanya mengalir deras saat ia membungkukkan badan.
“Song Ning... keluarga Qiao benar-benar minta maaf padamu! Atas nama istriku, aku mohon maaf padamu...”
Tentu saja Song Ning tak sudi menerima permintaan maaf Kakek Qiao—bukan ia yang bersalah, siapa yang bersalah, dialah yang harus meminta maaf!
“Ayah...”
Qiao Bo menyadari kebingungan Song Ning, segera menopang Kakek Qiao, “Jangan paksa Song Ning, yang benar-benar bersalah adalah Ibu...”
Kakek Qiao tersipu ketika Qiao Bo secara terang-terangan mengingatkannya.
Memang ia sempat berpikir menggunakan kedudukannya untuk memaksa Song Ning menelan pil pahit ini.
Zhang Lan memang keterlaluan, tapi bagaimanapun ia adalah ibu mertua, di keluarga ini masih ada sepasang anak yang belum menikah.
Andai sampai tersebar kabar bahwa ia mengincar mas kawin menantu, Qiao An pasti akan kesulitan mendapatkan jodoh!
“Suamiku... aku hanya melihat Song Ning boros... kuatir ia menghabiskan semua uang, jadi aku cari akal untuk meminta uang itu darinya...”
Zhang Lan menutupi wajah, terisak. Kini ia benar-benar tak mampu lagi menegakkan kepala di hadapan menantunya.
“Kau... kau benar-benar bodoh!”
Kakek Qiao menunjuk Zhang Lan dengan marah.
“Song Ning benar! Dari dulu mas kawin menantu adalah milik pribadinya, meski dihabiskan semua pun, itu bukan urusanmu!”
“Mereka sudah menikah, kehidupan mereka ke depan baik buruknya tergantung nasib mereka sendiri.”
“Kau cukup menikmati masa tuamu sebagai ibu mertua, kenapa harus ikut campur urusan mereka!”
“Anak itu adalah hutang!”
Air mata Kakek Qiao kian deras.
Song Ning tersenyum tipis.
Benar saja, tua-tua keladi!
Tak heran orang bilang orang tua penuh akal.
Ucapan Kakek Qiao, di permukaan memang menegur Zhang Lan, tapi sesungguhnya juga menegaskan pada Song Ning dan Qiao Bo, meredam niat serakah Zhang Lan.
Entah mengapa, ia tetap saja tak suka mendengarnya!
“Aku tak layak hidup... biarkan aku mati saja!”
Tiba-tiba Zhang Lan berteriak nyaring, menutupi wajah dan berlari ingin membenturkan diri ke dinding.
“Ibu...”
Qiao An yang paling dekat, sigap memeluk pinggang Zhang Lan,
“Ibu, jangan lakukan hal bodoh...”
“Biarkan ibu mati! Ibu tak layak hidup... hiks hiks...”
Zhang Lan meraung-raung, tubuhnya pura-pura ingin menerjang ke depan, namun matanya terus melirik ke arah Song Ning.
Song Ning nyaris tak tahan menahan tawa. Sungguh pengalaman baru!
Tradisi “tiga jurus andalan” perempuan desa—menangis, mengamuk, mengancam bunuh diri—benar-benar terbukti nyata!
Dulu saat menonton video pendek di internet, ia kira itu hanya dilebih-lebihkan pengarangnya, tapi melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata justru masih tergolong sopan!
Song Ning yakin, jika ia tak bercerai, kehidupan rumah tangganya kelak pasti sangat “berwarna”!
Namun bila bercerai, ia harus pindah domisili ke keluarga Xiao.
Dengan watak suami-istri itu, kalau ia tak dijual, maka namanya bukan Song! (Padahal memang bukan marga Song!)
Tak takut, hanya sangat merepotkan!
“Kak... katakan sesuatu!”
Qiao An memeluk erat pinggang Zhang Lan, panik menatap Qiao Bo.
“Kakak...”
Qiao Ran pun memandang Qiao Bo dengan raut memelas.
Saat ini, ibunya telah maju di depan menjadi sasaran kemarahan ayah dan kakaknya, untuk sementara ia aman.
Namun setelah urusan ibu selesai, ia pasti kena getahnya.
Qiao Ran hanya berharap ibunya bisa menanggung semua ini sendiri, jangan sampai mengaku itu idenya...
“Cukup, Ibu! Jangan pura-pura lagi, kami semua tahu Ibu tak akan rela mati...”
Qiao Bo berkata tegas, nada suaranya dingin. Tubuh Zhang Lan mendadak kaku, terdiam canggung di tempat.
Pfft—
Song Ning spontan tertawa terbahak. Sungguh lelaki lurus!
Lurusnya melebihi batang baja!
“Maaf! Tak bisa kutahan... silakan lanjutkan...”
Qiao Bo sekilas melirik Song Ning, sudah beberapa waktu tak berjumpa, ia tampak jauh lebih hidup...
Mendadak, bayangannya kembali menyatu dengan gadis cerah ceria dalam ingatannya.
“Ibu, minta maaflah!”
Qiao Bo berbalik, menatap Zhang Lan dengan ekspresi serius, “Salah ya salah! Jika memohon maaf saja tak punya keberanian, puluhan tahun hidup ini sungguh sia-sia!”
Dalam hati, Song Ning bertepuk tangan diam-diam untuk Qiao Bo—bagus sekali!