Bab Tiga Puluh Tiga: Bola Karet
Halaman (1/3)
Mata pria itu berbinar, memantulkan sosoknya.
Qiao Qingyan dengan tenang mengambil selembar tisu untuk mengusap mulut, tanpa sedikit pun mundur.
Pria itu melanjutkan, “Nama keluarga saya Lin, nama saya Yunqi. Bolehkah saya tahu nama keluarga Kakak?”
Asistennya mulai gelisah.
Qiao Qingyan tersenyum, lalu merebut kembali pistol properti itu.
Ia berdiri dan menatap dengan sorot mata menggoda. “Dik, pistol tidak boleh disentuh sembarangan.”
Senyum di mata Lin Yunqi semakin lebar.
Qiao Qingyan melirik asistennya. “Kita pergi.”
Asistennya segera berdiri. “Baik.”
Ia masih sempat menoleh dan melotot kepada kedua pria itu.
“Perempuan secantik itu, sayang sekali aku tidak berhasil mendapatkan kontaknya.”
“Kau ini bodoh sekali.” Lin Yunqi meliriknya. “Cari tahu siapa saja pemeran utama dalam kru yang sedang syuting di sini.”
“Dia seorang aktris?”
“Kalau sehebat itu, tentu saja.” Sudut bibir Lin Yunqi terangkat.
Baru setelah syuting sore selesai, Qiao Qingyan mendapat kesempatan kembali ke penginapan untuk mengambil ponselnya.
Begitu ponselnya dinyalakan, ia mendapati belasan panggilan tak terjawab. Semuanya dari Song Shuwan.
Ia terkejut dan segera menelepon balik.
Panggilan itu cepat tersambung. Dari seberang terdengar isak tangis pelan Song Shuwan. “Kau di mana?”
“...”
Qiao Qingyan menemukan Song Shuwan di depan sebuah toko kecil di belakang stasiun.
Hari itu Song Shuwan mengenakan pakaian sederhana, satu set busana santai berwarna putih bersih. Namun, penampilannya tetap tampak tidak cocok dengan bangunan-bangunan kumuh di belakangnya.
Ia duduk di tangga dengan mata memerah dan rambut berantakan. Untungnya, ia tidak terluka.
Qiao Qingyan menghela napas lega dan berjalan menghampirinya. “Aku datang.”
Song Shuwan mengangkat wajah menatapnya. Raut wajahnya pun perlahan mereda, tetapi segera berganti menjadi rasa kesal yang amat besar. “Kenapa kau tidak mengangkat telepon?”
“Aku naik pesawat dulu, lalu kereta cepat, kemudian bus antarkota. Setelah sampai di sini, baru aku ingat kalau aku tidak tahu kau tinggal di mana atau syuting di lokasi mana.”
Ia hanya tahu bahwa Qiao Qingyan berada di Kabupaten Xi.
Qiao Qingyan berjongkok di hadapannya. “Hanya karena aku tidak mengangkat telepon, kau langsung datang kemari?”
“Ini benar-benar membuatku terharu.”
Song Shuwan tampak begitu malang. “Tadi malam aku bermimpi buruk. Pagi ini aku juga tidak bisa menghubungimu, jadi kupikir itu pertanda sesuatu yang buruk telah terjadi.”
Dahulu, ia juga pernah mengalami mimpi buruk. Setelah terbangun, ia mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya telah meninggal.
Halaman (1/3)
Ia sangat ketakutan.
Qiao Qingyan membuka mulut, lalu akhirnya memahami semuanya.
Dengan suara lembut, ia berkata, “Ini salahku. Aku yang ceroboh karena tidak membawa ponsel.”
“Ayo berdiri. Malam ini aku akan mengajakmu makan makanan enak. Kudapan di kota kecil seperti ini biasanya justru paling lezat.”
Song Shuwan terisak. “Siapa... siapa yang menginginkannya?”
Lebih dari setengah jam kemudian, ia benar-benar berubah pikiran.
Di atas meja tersaji beraneka macam sate panggang, dengan aroma yang memenuhi udara.
Melihat mereka berdua datang dari luar daerah, pemilik kedai bahkan memberi mereka sebotol bir.
Karena melihat pemilik kedai begitu baik hati, Qiao Qingyan sekalian membeli satu kotak bir.
Ia sudah makan siang, jadi kalau makan lagi perutnya akan terlalu penuh. Karena itu, ia memutuskan untuk menemani Song Shuwan minum sedikit.
Ia menuangkan segelas untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Song Shuwan belum makan seharian dan sudah sangat lapar. Ia langsung mengambil satu tusuk sate dan mulai makan.
Anehnya, sikapnya masih tetap anggun.
Qiao Qingyan membantu mengupas udang untuknya.
Sambil makan, Song Shuwan berkata, “Bagaimana kau dan Song Shixu bisa menemukan kedai-kedai seperti ini? Hebat sekali.”
Ia ingat Song Shixu pernah membawanya ke sebuah kedai makanan ringan, dan rasanya juga sangat lezat.
Qiao Qingyan mendekatkan diri. “Song Shixu juga makan di kedai seperti ini?”
Song Shuwan mengangguk. “Dia bahkan bisa membersihkan tulang kaki babi sampai tak bersisa.”
Qiao Qingyan menatap curiga. “Benarkah? Song Shixu, yang sama-sama dimanja sepertimu, ternyata bisa melakukan hal-hal seperti itu?”
“Bisa.”
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Kedai itu berada di sekitar Sungai Lin.”
“Di sekitar Sungai Lin ada kedai makanan ringan? Aku bahkan tidak tahu.” Qiao Qingyan mulai meragukan dirinya sendiri.
“Kedai itu sangat terpencil. Wajar kalau kau tidak tahu.” Song Shuwan menelan makanannya. Bibirnya tampak sangat merah karena kepedasan.
Qiao Qingyan menatapnya, lalu teringat satu hal. “Apa kau dan Song Shixu akan bercerai?”
Ia bertanya dengan sangat hati-hati.
Itulah alasan ia menelepon Song Shuwan tadi malam.
Ia mendengar dari orang-orang di industri hiburan bahwa Guan Ran dan Song Shixu telah berpisah, karena Song Shixu hendak menikahi Fang Momo.
Kabar itu sudah tersebar luas.
Setelah itu, ia melihat Guan Ran di belakang panggung sebuah acara besar di salah satu platform daring. Wajah kecilnya tampak begitu kuyu.
Qiao Qingyan merasa masalah itu sepertinya bukan kabar palsu.
Setelah datang ke sini untuk syuting dan memikirkannya selama beberapa hari, ia akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Song Shuwan.
Halaman (2/3)
Gerakan Song Shuwan terhenti sesaat, tetapi ia segera kembali bersikap seperti biasa. Ia melirik Qiao Qingyan. “Aku juga tidak tahu.”
Qiao Qingyan berdeham pelan. “Menurut kabar yang kudengar, Guan Ran dan Song Shixu sedang bertengkar. Sepertinya mereka akan mengakhiri hubungan.”
Raut wajah Song Shuwan dipenuhi keraguan. “Kalau memang begitu menyukainya, kenapa harus berpisah?”
“Hati pria paling mudah berubah. Aku dan Gao Wangjin sudah terlibat selama bertahun-tahun, tetapi bukankah pada akhirnya kami juga bisa langsung mengakhirinya?”
Song Shuwan merenungkan sikap Song Shixu belakangan ini. Sepertinya memang ada yang tidak beres.
“Kembali ke pokok persoalan, aku mendengar kabar bahwa Song Shixu hendak menikahi Fang Momo?”
“Itulah sebabnya aku bertanya kepadamu. Apa kalian akan bercerai?”
Qiao Qingyan mengernyit, sangat mencemaskan Song Shuwan.
Meski ia juga berharap Song Shuwan dapat bercerai dan memulai kehidupan baru, saat ini belum waktunya.
Dengan keadaan Song Shuwan sekarang, bagaimana mungkin ia mampu menanggung biaya hidupnya sendiri dan adiknya?
Pria kapitalis seperti Song Shixu pasti tidak akan memberinya sepeser pun tunjangan hidup.
“Katanya, dia tidak akan menikahinya.” Suara Song Shuwan terdengar lirih.
Setelah berkata demikian, sepertinya ia merasa semakin gelisah. Song Shuwan menuangkan segelas penuh minuman untuk dirinya sendiri.
Minuman itu bahkan belum sempat ditelannya ketika air matanya mulai jatuh.
Qiao Qingyan segera bertanya, “Ada apa?”
Song Shuwan meneguk banyak-banyak. Tenggorokannya terasa perih karena pedas, lalu ia berkata, “Dulu aku selalu membius diriku sendiri dengan pikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah bercerai. Namun, ketika hari itu aku benar-benar mendengar mereka mengatakan hal seperti itu, tiba-tiba aku tidak tahu harus menghadapinya dengan perasaan seperti apa.”
“Aku baru sadar bahwa sebenarnya aku tidak bahagia.”
“Kau...” Qiao Qingyan ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung.
Sebenarnya, ia ingin bertanya, “Apa kau masih menyukai Song Shixu?”
Song Shuwan menggeleng. “Mungkin ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku kepadanya. Aku hanya merasa seolah-olah tidak memiliki satu pun kayu apung yang bisa kugenggam.”
Qiao Qingyan terdiam.
Song Shuwan menyeka air matanya. “Kau selalu bilang bahwa pikiranku terlalu sederhana dan tidak cukup mendalam. Aku sendiri juga tahu itu, tetapi aku tidak berani memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Rasanya menakutkan.”
“Dulu, ketika Ayah dan Ibu masih ada, setiap hari aku hidup tanpa beban. Masalah terbesar yang mungkin kupikirkan hanyalah harus mengenakan rok warna apa hari itu.”
“Tetapi mereka tidak pernah mengajariku bahwa dunia ternyata serumit ini.”
“Dulu aku selalu mengira semua orang di keluarga Song adalah kerabatku. Namun, mereka terus-menerus bertarung secara terbuka maupun diam-diam. Aku tidak memahami pikiran satu pun dari mereka.”
“Di mata mereka, aku hanyalah sebuah bola yang bisa ditendang ke sana kemari. Karena itu, Kakek bisa menikahkanku dengan Song Shixu tanpa menanyakan pendapatku. Song Shixu bisa pergi ke luar negeri sesuka hati, mengabaikanku kapan pun dia mau, bahkan memelihara kekasih gelap jika dia menginginkannya.”
“Bibi tertua yang dulu kukira orang baik ternyata menjadikanku bidak yang terjepit di antara dirinya dan Song Shixu. Saat aku baru menikah dengan Song Shixu, dia memaksaku untuk mengambil hati Song Shixu, mengantarkan makanan kepadanya, bahkan... menyuruhku memberinya obat agar kami tidur bersama.”
Halaman (3/3)