Bab Dua: Asal Usul (Bagian Akhir)
Ini adalah sebuah upacara pembukaan syuting yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang tampak sangat mencolok di kota kecil Hengdian. Tak terhitung jumlah wartawan media dan penggemar mengelilingi hotel mewah itu hingga tak ada celah. Sebagian besar penggemar membawa papan nama Wei Hao, Li Min, dan Alisa. Meski cuaca perlahan mulai menghangat, semangat para penggemar tetap membara.
“Ah――――”
“Wei Hao! Wei Hao! Wei Hao...”
“Li Min! Li Min! Li Min...”
“Alisa! Alisa! Alisa...”
Tiba-tiba sorakan penuh kegembiraan meledak dari kerumunan penggemar, dan bunyi kilatan kamera pun bersahutan. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya para pemeran utama tiba.
Selain pemeran utama pria yang merupakan bintang papan atas Korea, Li Min, pemeran utama wanita hanyalah seorang gadis biasa yang tak dikenal siapa pun. Namun hari itu, dia menjadi sosok yang paling membuat iri dan dengki. Mungkin sebelumnya ia hanyalah seseorang yang tak diketahui banyak orang, tetapi mulai hari ini, hidupnya pasti akan bersinar terang. Kenapa? Karena dia terpilih menjadi pemeran utama wanita dalam karya pertama penulis naskah terkenal Alisa di daratan Tiongkok—sebuah peran yang diperebutkan oleh banyak bintang internasional wanita namun tak pernah didapatkan.
“Teman-teman wartawan media, selamat datang dalam upacara pembukaan syuting ‘Seseorang yang Sangat Penting’, karya pertama Alisa yang bertema inspiratif. Sekarang, mari kita sambut dua pemeran utama drama ini, serta putra dari pemilik perusahaan sponsor, Zheng Yingqi, dan Alisa sendiri untuk bersama-sama melakukan pemotongan pita,” ujar asisten, Lan Ruo, yang sudah sangat terbiasa dengan kata-kata semacam ini.
Tepuk tangan pun bergemuruh—setelahnya, keempat orang itu melangkah maju bersama, mengangkat gunting, dan secara bersamaan memotong pita merah.
“Alisa, bolehkah Anda berbagi harapan tentang drama ini?”
“Mengapa Anda memilih seorang aktor Korea untuk memerankan tokoh utama pria?”
“Bolehkah kami bertanya...”
Country Road, take me home... Saat itu juga, nada dering ponsel yang familiar memotong pertanyaan para wartawan.
“Halo!” Dengan bantuan Lan Ruo, ia berjalan keluar dari kerumunan wartawan.
“Halo apa, dasar brengsek!”
Begitu mendengar suara itu, meski terdengar lemah, tetap saja sombong seperti biasanya. Tangan Gu Yan yang memegang ponsel mulai bergetar, begitu gugup hingga tak tahu harus berkata apa.
“Halo! Dasar kuno, jangan-jangan kau pingsan saking senangnya?” Suara menggoda dari seberang telepon membuat Gu Yan sadar kembali.
“Kamu tunggu di situ yang manis, ya!” Gu Yan menutup telepon, lalu segera berlari ke area parkir bawah tanah hotel, tanpa memedulikan para wartawan yang saling berpandangan bingung. Tentu saja, beberapa wartawan yang sigap sudah berhasil mengabadikan momen Gu Yan menerima telepon tadi. Jika tidak ada halangan, besok berita utama hiburan pasti akan berbunyi: “Telepon misterius membuat Alisa meledak, meninggalkan para aktor dan sponsor begitu saja.”
Gu Yan memacu mobilnya secepat mungkin, melaju menuju rumah sakit tanpa sempat memperhatikan ada sebuah mobil yang mengikuti di belakangnya.
Shen Hong yang melihat mobil Gu Yan berhenti di depan rumah sakit langsung mengerti segalanya. Bagaimanapun, mereka pernah hidup bersama selama dua tahun; ada beberapa hal yang tak perlu diucapkan, namun tetap terlihat jelas.
“Dasar bocah, akhirnya kau mau juga bangun, ya.” Begitu Gu Yan masuk ke ruang perawatan, ia melihat Daxian, Si Cantik, Xiaomeng, dan Sepuluh sudah saling bercanda. Ternyata ia yang paling terakhir datang.
“Lihatlah tas LV dan gaun Chanel ini! Kalau Gu Kuno sudah kaya raya, tentu aku harus bangun untuk ikut kecipratan rejeki, dong.”
Gu Yan menghela napas, berusaha menenangkan diri, “Sudahlah, hari ini kau hidup kembali dari kematian, aku maafkan saja.”
“Haha, haha!!” Melihat Gu Yan yang tampak serius, para sahabatnya tak tahan untuk tidak tertawa. Setelah tiga tahun berpisah, akhirnya kelima sahabat itu benar-benar berkumpul kembali.
Gu Yan bersandar di ambang pintu, mendengar suara tawa dari dalam ruang perawatan, lalu perlahan pergi. Seperti saat ia datang, tak seorang pun menyadari kepergiannya.