Bab Tiga Puluh Delapan: Pasukan Penunggang Naga
Sejak Gu Yan mengadakan konferensi pers, jumlah pendaftar audisi mencapai rekor tertinggi. Tinggal satu hari lagi sebelum pendaftaran selama seminggu itu ditutup, dan tiga hari setelahnya adalah babak audisi pertama. Lokasi audisi ditetapkan di Hangzhou. Tak peduli dari kota mana pun, atau di mana pun mereka mendaftar, semua peserta wajib tiba di Hangzhou sebelum audisi dimulai, jika tidak maka dianggap gugur. Ketergesaan waktu membuat Gu Yan semakin sibuk, namun ia menikmati kehidupan yang penuh kesibukan seperti ini.
“Alisa, untuk penyelenggara audisi, perusahaan mana yang ingin Anda pilih?” tanya sang asisten, Lan Ruo. Dulu saat di Amerika, semua keputusan itu diambil olehnya, tetapi sejak kembali ke Tanah Air, Gu Yan menegaskan bahwa semua harus lewat persetujuannya.
“Menurutmu, perusahaan mana saja yang paling cocok saat ini?”
“Tak bisa disangkal, pengaruh Anda di Tiongkok sangat besar. Hampir semua perusahaan hiburan besar maupun kecil ikut serta dalam seleksi penyelenggara audisi kali ini,” ujar Lan Ruo sambil melirik Gu Yan yang berwajah datar. “Di antara mereka, Tianhong yang sedang naik daun tiga tahun terakhir adalah pilihan yang sangat baik.”
“Kenapa?” Gu Yan meletakkan berkas di tangannya dan mengangkat alis. Tianhong, apakah benar ada kebetulan seperti itu di dunia ini? Ia ingin tahu alasan apa yang akan digunakan sekretaris yang telah mengikutinya selama tiga tahun, yang cekatan, tenang, dan bijak ini untuk meyakinkannya.
“Drama baru Anda, ‘Orang yang Penting’, bercerita tentang dunia kerja di hotel, dan Tianhong memiliki sebuah hotel bintang lima yang sangat cocok dijadikan lokasi syuting. Dengan begitu, dari segi anggaran kita bisa menghemat cukup banyak. Meski perusahaan ini masih baru, potensinya sangat besar. Bahkan Tuan Han pun memandang khusus pemilik perusahaan ini, kalau tidak, ia tak akan memberikan proyek debut Wei Hao di Tiongkok pada mereka.”
“Hanya itu?” Itu saja belum cukup untuk meyakinkannya.
“Sebenarnya, di antara perusahaan pesaing, kemunculan Zheng Group cukup mengejutkan,” ucap Lan Ruo hati-hati. Sebagai asisten, ia tentu tahu hubungan tak biasa antara pemilik Zheng Group dan bosnya.
Gu Yan terdiam, tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia tahu, alasan Yingqi ikut dalam seleksi ini pasti bukan sekadar ingin lebih sering bertemu dengannya.
“Dari hasil penyelidikan saya, selama tiga tahun terakhir Zheng Group dan Tianhong selalu bersaing ketat. Di mana ada Tianhong, di situ Zheng Group pasti akan berusaha keras menyainginya. Seperti kali ini, padahal Zheng Group adalah perusahaan makanan, tapi mereka tetap ngotot ikut bersaing di industri hiburan yang sama sekali berbeda dari bidang mereka.” Mendengar ini, hati Gu Yan yang dingin terasa sedikit hangat. Jika sampai di sini ia masih belum mengerti maksud Yingqi, maka ia benar-benar bodoh.
“Berikan saja pada Zheng Group.”
Lan Ruo baru hendak berbicara, namun mengurungkan niatnya ketika melihat sikap Gu Yan. Bosnya terkenal dengan keputusan yang mutlak, lagi pula siapa pun yang dipilih tak akan banyak berpengaruh bagi mereka. Ia percaya pada mitos tak terkalahkan Alisa, bahkan perusahaan yang nyaris bangkrut pun bisa hidup kembali hanya dengan satu drama darinya.
Setelah semua urusan selesai, Gu Yan tiba-tiba teringat ingin menelepon sahabat lamanya.
“Annyeonghaseyo!”
“Bahasa Koreamu sudah jauh lebih baik,” ujar Gu Yan dengan suara berat.
“Ah—Xiao Yan, dasar perempuan! Akhirnya kau ingat menghubungiku juga. Tiga tahun, ke mana saja kau selama ini? Dan soal perceraian itu apa? Orang lain mungkin tak tahu, tapi aku, Cai Mei, sangat mengenalmu. Kau dulu mencintai Shen Hong sampai rela mati, kenapa tiba-tiba bisa cerai? Bukankah kau yang mengajariku untuk selalu tenang dan sabar…” Suara di seberang sana terdengar sangat bersemangat.
“Bagaimana, kamu betah di Korea?”
“Menurutmu bagaimana?” Dia begitu bersinar, memancarkan cahaya yang luar biasa. Lima tahun bersama, saling setia, akhirnya ia mendapatkan cinta pria itu. Namun jarak di antara mereka tetap saja terasa tak terjembatani…
“Mei, pulanglah ke Tiongkok. Aku bisa membuatmu terkenal dalam semalam, bersinar terang, dan berdiri di sisinya tanpa harus khawatir omongan miring.”
“Haha! Xiao Yan, tiga tahun tidak bertemu, ternyata kau jadi lebih humoris,” tawa Cai Mei di seberang sana.
“Alisa itu nama Inggrisku.” Mendengar itu, suara tawa di telepon menghilang, berganti dengan keheningan. Nama Alisa, sebagai kekasih bintang Korea papan atas, mana mungkin Cai Mei tidak pernah mendengarnya. Bahkan artis seperti Lee Min pun hampir mustahil mendapat kesempatan bekerja sama dengannya.
“Aku sedang mencari pemeran untuk drama baru. Ceritanya tentang lulusan universitas yang magang di hotel. Kita bertiga dulu kuliah manajemen perhotelan, tapi tak satu pun dari kita pernah menjalani masa magang itu.” Suara Gu Yan bergetar, hidungnya terasa asam. “Setidaknya di drama ini, kita bisa menuntaskan penyesalan yang dulu tak sempat kita lewati.”
“Sebenarnya Lee Min…”
“Ajak saja dia pulang ke Tiongkok. Pemeran utama pria dan wanita hanya cocok untuk kalian berdua. Itu janjiku.”
“Tidak…” Cai Mei buru-buru menolak, “Cukup dia saja yang jadi pemeran utama pria, aku tidak usah ikut. Gosip saja sudah cukup banyak, aku tidak bisa muncul bersama dia di layar, apalagi sampai merusak kariernya demi keegoisanku.”
Melihat keteguhan Cai Mei, Gu Yan pun tak bisa berbuat banyak. Benar-benar sahabat, sama-sama bodoh. Apa pun selalu lebih dulu memikirkan orang yang dicintai, pada akhirnya justru diri sendiri yang paling terluka.