Bab Empat: Memutus Ekor Demi Bertahan Hidup
Waktu berlalu bagai kuda putih melintas celah, dalam sekejap sudah satu bulan berlalu sejak Yang Guang pertama kali berganti kulit. Sejak ia merasakan manisnya berlatih usai pergantian kulit itu, selain untuk memangsa dan tidur seperlunya, ia nyaris tak pernah beristirahat lagi. Ia menyalakan semangat yang sama seperti ketika dulu, demi keberhasilan menyamar dalam organisasi penyelundup narkoba, begadang mempelajari berbagai data dan sandi—semangat itulah yang kini ia curahkan untuk melatih tubuhnya setiap hari. Selama sebulan terakhir, tubuhnya telah tumbuh jauh lebih besar; kini ukurannya sudah setara dengan anjing kampung dewasa pada umumnya. Cakar, taring, dan ekornya yang ia asah dengan penuh perhatian kini jauh lebih tajam dan kuat dibanding sebelumnya.
Yang Guang tidak tahu, bagaimana pertumbuhan bayi komodo lain pada usia seperti dirinya, namun ia yakin, ia pasti termasuk yang paling pesat tumbuh di antara mereka. Berdasarkan pengetahuannya tentang komodo, bayi-bayi komodo selepas menetas biasanya harus hidup di atas pepohonan selama delapan bulan demi menghindari dimangsa komodo dewasa. Memang, kehidupan di atas pohon memberi mereka perlindungan, namun sumber makanan di sana tentu tak sekaya dan bergizi seperti yang Yang Guang dapati di tempatnya kini.
Hari ini, sinar mentari terasa hangat, tidak sepanas hari-hari sebelumnya yang membakar kulit. Maka, Yang Guang berencana berkeliling di padang rumput dekat hutan untuk berpatroli di wilayah kekuasaannya, sembari berburu beberapa ekor tikus kecil sebagai santapan ringan. Di wilayah kekuasaannya, ia sudah jauh dari sikap hati-hati seperti saat kali pertama tiba di sini. Ia melangkah perlahan menuju padang rumput, membiarkan angin laut yang lembap menyapu sisiknya.
Hewan-hewan di padang rumput itu kini semua tahu, seekor komodo ganas telah menetap di sana. Mereka menjadi jauh lebih waspada kala mencari makan maupun bermain, sebab beberapa yang ceroboh kini telah menjadi kotoran Yang Guang. Maka, untuk sekadar mencicipi daging tikus, Yang Guang harus berusaha lebih keras.
Seiring tubuhnya kian membesar, semakin sulit baginya untuk menyembunyikan suara langkahnya. Metode berburu ala "cheetah" yang ia kembangkan dahulu kini tak lagi ampuh bagi tikus-tikus yang lincah itu. Jika ia ingin menikmati daging tikus segar, ia harus menggunakan cara komodo sejati: berburu dengan teknik menunggu mangsa di satu tempat.
Bagi Yang Guang yang kini menghargai setiap detik waktunya, ia paling tidak suka dengan metode berburu yang menghabiskan waktu seperti itu. Untunglah, dua malam yang lalu ia baru saja makan, jadi perutnya tidak terlalu lapar. Setelah dua kali mencoba namun gagal, ia pun mengurungkan niatnya untuk berburu santapan ringan. Matanya menatap ke arah hutan yang berbatasan dengan padang rumput, dan ia memutuskan untuk menyelidiki beberapa “tetangga” barunya.
Dulu, saat ia pertama kali pindah ke sana, ia terlalu terburu-buru. Tubuhnya masih kecil, dan ia pun tak berani berlama-lama, sehingga tak sempat mengamati apakah ada hewan yang benar-benar kuat di sana. Kini, selain beberapa hewan besar, ia tak lagi takut pada ular, burung, atau monyet-monyet kecil. Karena itu, kini ia merasa waktunya tepat untuk menjelajah dan mengenal wilayah tersebut lebih dalam.