Bab 52 Beberapa Lelaki Dewasa Menindas Orang
Mendengar perkataan itu, Zhang Li dan yang lainnya menundukkan kepala sambil berusaha keras menahan tawa. Meskipun di instansi pemerintah, terutama di bidang administrasi, setiap orang biasanya licik dan penuh perhitungan, situasi di departemen mereka ini tergolong jarang. Mereka semua bergaul dengan baik, sehingga ketika tiba-tiba ada duri yang masuk seperti itu, mereka merasa sangat canggung.
Setelah menegur Zhao Shumin, Manajer Liu tersenyum dan menatap Jiang Shutang. "Xiao Jiang, lihatlah. Semangat belajarmu ini patut dicontoh oleh semua orang. Menyelesaikan pekerjaan lalu memperkaya diri sendiri adalah hal yang benar."
Hati Jiang Shutang juga merasa senang. Ia merasa atasannya cukup baik dan suasana kerjanya sangat nyaman.
Menjelang waktu makan siang, setelah ragu sejenak, Jiang Shutang tetap memutuskan untuk pergi mencari Gu Zhengnan guna menanyakan perkembangan pekerjaannya sekaligus makan bersama.
Namun, sebelum sampai di area bengkel kerja, ia berpapasan dengan beberapa buruh laki-laki.
Beberapa orang ini sebelumnya berada di bengkel yang sama dengannya dan sering melecehkannya. Salah satu dari mereka bahkan pernah mengatakan akan memberinya lima puluh yuan asalkan ia mau menemaninya tidur semalam. Ucapan itu membuat Jiang Shutang hampir menghajarnya.
Ketika melihat Jiang Shutang mengenakan gaun dan sepatu hak tinggi berbahan kulit sapi, hati orang-orang itu bagaikan terbakar api.
Perempuan jalang ini benar-benar semakin menggairahkan saja. Namun, kudengar suaminya tidak menghargainya dan menikahinya semata-mata untuk urusan ranjang. Sekarang kebetulan bertemu, mengggodanya sedikit sepertinya bukan masalah.
Maka, saat Jiang Shutang hendak lewat, pria itu langsung bersiul.
"Rubah betina jalang, jalan masih sambil menggoyangkan pantat, mau merayu siapa sih? Apa suamimu tidak bisa memuaskanmu? Wajar saja, perempuan sepertimu tidak akan merasa puas kalau tidak dilayani oleh beberapa pria sekaligus."
Begitu pria itu selesai berbicara, yang lainnya tak kuasa menahan tawa terbahak-bahak, semuanya menatap Jiang Shutang dengan pandangan yang kotor.
Awalnya Jiang Shutang tidak berniat untuk meladeni mereka, tetapi sekarang setelah dihina secara terang-terangan, tentu saja ia tidak akan pura-pura tidak mendengar.
"Berani-beraninya kau mengatakannya sekali lagi?"
Pria itu tertegun sejenak, lalu mendengus dingin setelah sadar. "Kenapa? Memangnya karena sudah menikah kau merasa hebat? Karena suamimu punya sedikit kekuasaan, lantas kau lupa daratan? Baru saja berhasil mendepak si Xiao Zhao, sekarang mau mendepakku juga? Kuberi tahu ya, aku sama sekali tidak takut pada kalian!"
Jiang Shutang tertegun. Apa maksud dari perkataan itu? Jangan-jangan Zhao Weiguo menjual jabatannya karena ulah Gu Zhengnan?
Jika memang benar demikian, mengapa Gu Zhengnan tidak mengatakan apa pun kepadanya?
"Sebagai seorang pria sejati, kumpulkan sedikit kebajikan untuk dirimu sendiri! Bukankah karena dulu aku tidak melirikmu dan tidak menggubrismu? Perlukah menyimpan dendam sebesar ini? Benar, Jiang Shutang ini lebih baik menjadi janda daripada melirik sampah sepertimu!"
Pria itu rupanya memiliki temperamen yang buruk. Mendengar ucapan itu, ia berniat maju untuk memukulnya, namun ditarik oleh orang-orang di sekitarnya.
Kebetulan pada saat itu Zhou Fuquan datang. Melihat suasana tegang di antara mereka, ia tidak dapat menahan diri untuk memberikan beberapa patah nasihat sok bijak.
"Sudahlah, kita semua dari pabrik yang sama, apa yang sedang kalian lakukan? Nona Jiang ini sekarang bukan lagi level yang sama dengan kalian, dia sudah bekerja di kantor."
Pria itu meludah ke lantai. "Bekerja di kantor lantas kenapa? Tetap saja perempuan jalang!"
Zhou Fuquan tetap tersenyam-senyum. Melihat Jiang Shutang yang sedang marah, ia berkata dengan nada datar.
"Sudahlah Xiao Jiang, jangan marah. Mereka semua hanya sedang bercanda denganmu, cepatlah kembali urus pekerjaanmu."
Jiang Shutang sangat geram hingga mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia hampir melupakan lelaki tua bangka Zhou Fuquan ini.
Terakhir kali Wang Yinhua memfitnahnya, Zhou Fuquan tidak hanya diam saja dan tidak menjelaskan apa pun, melainkan malah melemparkan kotoran itu ke kepalanya. Hingga saat ini, Wang Yinhua mungkin masih mengira bahwa dialah yang menghabiskan uang milik Zhou Fuquan.
Padahal sebenarnya ada orang lain di balik itu semua.
Sekarang, alih-alih mengucapkan kata-kata yang adil, ia malah memperkeruh suasana di sini. Benar-benar seorang lelaki tua yang tidak tahu malu.
"Kepala Bagian Zhou, apakah menyebut orang lain sebagai perempuan murahan itu dianggap sedang bercanda? Kalau begitu, saya katakan bahwa ibumu adalah perempuan murahan, istrimu dan anak perempuanmu juga perempuan murahan, apakah kamu juga tidak akan marah?"
Benar saja, begitu suaranya mereda, wajah Zhou Fuquan langsung menggelap.
"Bagaimana caramu berbicara? Kamu keterlaluan sekali! Aku berniat baik membantu melerai, tapi kamu malah tidak tahu diuntung."
Ia panik, ia benar-benar panik!
Jiang Shutang menatap mereka dengan dingin. Mengingat berbagai penghinaan verbal yang diterimanya dari orang-orang selama bertahun-tahun ini, hatinya diliputi rasa benci sekaligus sakit hati.
Selama enam tahun ini, para lelaki itu memanggilnya rubah jalang, perempuan murahan, serta berbagai sebutan kotor lainnya. Sekarang setelah ia menikah pun, orang-orang ini tetap tidak mau melepaskannya.
Mereka hanya menganggapnya sebagai seorang perempuan lemah yang mudah ditindas. Coba jika dihadapkan pada seseorang yang keras kepala, siapa yang berani berbicara sembarangan?
Tepat saat Jiang Shutang mengepalkan tangannya dan bersiap meluapkan amarahnya, suara Gu Zhengnan tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Ulangi kata-kata yang baru saja kalian ucapkan."
Sedetik kemudian, Gu Zhengnan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jiang Shutang dari belakang dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini."
Wajah Gu Zhengnan saat ini tampak pucat pasi. Sepasang matanya yang sipit menyiratkan kemurkaan yang mendalam, menatap tajam ke arah Zhou Fuquan dan kawan-kawan.
Mengingat betapa Jiang Shutang telah dihina sedemikian rupa selama bertahun-tahun ini, ia sangat ingin maju dan menghajar mereka.
Namun, kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah; ia harus tetap tenang.
Melihat kedatangan Gu Zhengnan, beberapa orang itu mendadak menjadi ciut.
Mereka bisa dengan bebas menggoda Jiang Shutang karena perempuan itu adalah seorang rekan kerja wanita tanpa latar belakang apa pun, sehingga tidak bisa berbuat banyak terhadap mereka.
Namun, Gu Zhengnan berbeda. Keluarganya sangat kaya, dan dirinya sendiri memiliki kemampuan yang hebat. Siapa yang berani mencari gara-gara dengannya?
Zhou Fuquan tersenyum canggung. "Insinyur Gu, ini hanya kesalahpahaman kecil."
Gu Zhengnan menatap lurus ke depan tanpa berkedip. "Siapa namamu? Dan kamu juga."
Gu Zhengnan menunjuk Zhou Fuquan serta pria tadi.
Pria itu membusungkan dadanya. "Namaku siapa, apa urusannya denganmu?"
Gu Zhengnan mencibir dingin, lalu menoleh ke arah Jiang Shutang dan bertanya, "Shutang, apakah kamu tahu nama orang-orang ini?"
Meskipun merasa sedikit bingung, Jiang Shutang tetap mengangguk dan menyebutkan nama-nama mereka satu persatu.
Gu Zhengnan mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi makan dulu."
Jiang Shutang merasa enggan dan penasaran, namun karena Gu Zhengnan telah berkata demikian, ia tidak membantah dan mengikuti langkah suaminya pergi.
Melihat pemandangan itu, Zhou Fuquan dan pria tadi tanpa sadar menghela napas lega, yang kemudian disusul oleh perasaan bangga.
"Ternyata suami perempuan itu tidak sehebat apa pengecut. Bahkan tidak berani memukul. Sepertinya dia juga tidak benar-benar mencintai Jiang Shutang, paling-paling hanya mengincar tubuhnya saja."
Zhou Fuquan mengangguk setuju. "Sudah pasti. Kalau tidak begitu, dengan reputasi buruk Jiang Shutang, siapa yang mau menikahinya dan membawanya pulang?"
Pria itu mengangguk sambil terkekeh pelan dua kali.
"Ngomong-ngomong, Kepala Bagian Zhou, bukankah si jalang Jiang Shutang itu dulu menghabiskan cukup banyak uang darimu? Sampai-sampai membuat istrimu marah besar waktu itu."
Zhou Fuquan tidak membantah, melainkan menjawab dengan kalimat yang ambigu, lalu pergi menuju kantin untuk makan.
Setibanya di kantin, Gu Zhengnan membelikan makanan untuk Jiang Shutang, kemudian keduanya duduk dan mulai makan.
Jiang Shutang tampak tidak fokus dan merasa bahwa amarah barusan belum sepenuhnya tersalurkan, membuat hatinya masih merasa kesal.
Gu Zhengnan menyadari hal itu. "Urusan tadi tidak usah kau pikirkan lagi, aku yang akan menyelesaikannya untukmu."
Mendengar perkataan Gu Zhengnan, Jiang Shutang mau tidak mau mendongakkan kepala dan bertanya dengan rasa penasaran, "Bagaimana caramu menyelesaikannya?"
"Soal itu tidak usah kaupikirkan, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan untukmu."