Ayo Bertemu di Dunia Nyata, Pemuda dan Pemudi! Bab 23 "Hmm"
Kedai tenda yang disebutkan Lin Guanqi terletak tepat di seberang jalan di belakang pintu keluar sekolah.
Karena hari ini Sabtu, suasana kedai sangat ramai. Pemiliknya, yang bertelanjang dada, sibuk mengayunkan tiga wajan sekaligus di depan pintu. Suara dentuman sodet besi beradu dengan wajan terdengar bersahut-sahutan, sementara tiga kompor bertekanan tinggi bekerja tanpa henti, masing-masing digunakan untuk memasak hidangan yang berbeda.
Lin Guanqi berseru lantang, "Paman, apakah masih ada meja kosong?"
Pemilik kedai yang sedang menyipitkan mata karena asap masakan menoleh sejenak ke arah Lin Guanqi, lalu wajahnya langsung merekah dengan senyuman. "Oh, kalian datang! Masih ada, kami bisa memasang meja tambahan di depan. Tunggu sebentar ya, saya panggil anak saya untuk menyiapkannya."
Setelah berkata demikian, si pemilik berteriak ke arah dalam rumah, "Nak, siapkan meja di luar!"
"Siap!" terdengar sahutan lesu dari dalam rumah.
Pemilik kedai kembali menoleh dan tersenyum pada Lin Guanqi. "Tumben tidak datang bersama teman-teman akrabmu itu?"
"Tidak, hari ini saya ada janji, jadi tidak mengajak mereka." Lin Guanqi menjawab sembari menoleh ke arah Jiang Mianqin yang berdiri agak canggung di belakangnya.
"Wah, sudah punya pacar ya?" Pemilik kedai mengamati Jiang Mianqin sejenak, lalu memberikan senyum ramah kepada Lin Guanqi. "Pacarmu cantik sekali, kau benar-benar beruntung."
"Eh, saya..."
Lin Guanqi tersenyum kikuk. Ia bahkan belum sempat menjelaskan hubungan mereka, si pemilik kedai sudah lebih dulu "merestui" mereka.
Suara pria paruh baya itu sangat keras, membuat Jiang Mianqin yang berdiri di belakang Lin Guanqi merasa malu. Ia menunduk dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Lin Guanqi menggaruk kepalanya. "Kalau begitu, kami tunggu di sana saja ya..."
"Baik, baik, silakan. Mejanya akan segera siap."
Pria itu menoleh ke arah wajan dan menyadari masakannya mulai berasap. Ia segera mengecilkan api agar masakannya tidak hangus.
Putra pemilik kedai yang baru duduk di kelas dua SMA sering membantu ayahnya saat akhir pekan. Lin Guanqi sudah sering melihatnya sejak tahun pertama kuliah, meski sekarang frekuensinya berkurang karena saat remaja itu kelas satu SMA, hari liburnya lebih banyak.
Ia keluar sambil membawa meja lipat. Setelah meja terpasang, ia menoleh dan menyadari pelanggannya adalah orang yang ia kenal. Wajahnya yang semula tampak bosan kini berubah ceria.
"Kak Lin, datang lagi ya? Hari ini berdua saja?"
"Iya, cuma kami berdua," jawab Lin Guanqi sambil menunjuk Jiang Mianqin di sampingnya.
Pemuda itu baru sadar ada Jiang Mianqin di sana. Begitu melihat sosok gadis cantik dengan kulit putih yang tampak kontras dengan suasana kedai tenda yang sederhana, ia tertegun.
"Kak, ini... ini pacar Kakak ya?" tanya remaja itu dengan nada terbata-bata karena gugup melihat gadis cantik.
"Eh, dia..."
"Halo, Kakak ipar."
Sebelum Lin Guanqi sempat menjelaskan, pemuda itu sudah lebih dulu memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah Jiang Mianqin justru mengangguk sebagai jawaban.
"Ya."
Suara Jiang Mianqin sangat pelan, hampir tak terdengar. Namun, Lin Guanqi mendengarnya dengan jelas dan ia pun terpaku di tempat.
Sebelum ia sempat berpikir macam-macam, pemuda itu menarik lengannya. "Kak, bicara sebentar, yuk."
Ia menarik Lin Guanqi sedikit menjauh, lalu berbisik, "Kak, apakah semua gadis cantik di Universitas Su itu secantik dia?"
"Eh..." Lin Guanqi merasa geli. "Kau kan setiap hari membantu ayahmu di sini, apa kau tidak melihatnya sendiri?"
Pemuda itu menggeleng. "Yang datang ke sini kebanyakan laki-laki, jarang ada perempuan."
"Yah, sebenarnya memang banyak gadis cantik di Universitas Su."
"Oke, kalau begitu tahun depan saya akan mendaftar ke sana!"
"Semangat."
Lin Guanqi mengangguk, namun melihat semangat yang membara itu, ia tidak tahan untuk sedikit menggoda, "Masuk Universitas Su itu tidak mudah, dan gadis-gadis di sana juga tidak mudah untuk didekati."
"...Menyakitkan sekali."
Cahaya di mata pemuda itu meredup seketika.
Lin Guanqi menepuk bahunya sambil tertawa. "Ayahmu memanggil, cepat sana!"
"Baik, silakan pesan menunya sendiri, nanti saya ambil."
"Oke."
Setelah putra pemilik kedai pergi, Lin Guanqi mengambil dua kursi dan membawanya ke meja mereka.
"Duduklah."
"Terima kasih."
Jiang Mianqin mengambil kursi, mengelapnya dengan tisu sebelum duduk. Bukannya kursi itu kotor, hanya saja ia tidak terbiasa makan di tempat seperti ini.
Lin Guanqi tidak merasa tindakannya aneh, karena saat pertama kali ia datang ke sini, ia pun melakukan hal yang sama. Bahkan, teman-temannya dulu sempat bercanda bahwa ia datang untuk membantu kebersihan kedai.
Lin Guanqi mengeluarkan beberapa lembar tisu dan mengelap meja.
Jiang Mianqin berbisik, "Apa kau sering makan di kedai ini?"
"Ya," jawab Lin Guanqi. "Sejak tahun pertama, kami sudah mencoba semua makanan di jalan belakang ini. Kedai ini punya harga paling terjangkau. Jangan lihat pemiliknya yang bertubuh besar dan berwajah garang, sebenarnya dia orang yang sangat baik."
"Begitu ya," jawab Jiang Mianqin. Ia terdiam sejenak lalu bertanya, "Apa yang dibicarakan anak pemilik kedai tadi denganmu?"
Lin Guanqi tersenyum jahil. "Coba tebak."
Jiang Mianqin menunduk sedikit, lalu berkata dengan nada galak, "Katakan atau tidak!"
"Iya, iya, jangan galak-galak!" Lin Guanqi menahan tawa. "Dia bertanya bagaimana caranya bisa mendapatkan pacar secantik dirimu."
Wajah Jiang Mianqin memerah dan ia menyanggah, "Siapa yang jadi pacarmu!"
"Ehem, bukankah tadi di depannya kau sudah..."
"Aku tidak bilang apa-apa, jangan memfitnahku!" Jiang Mianqin membuang muka.
Gadis yang gengsian itu tentu tidak akan mengakui ucapannya begitu saja, apalagi Lin Guanqi belum pernah menyatakan perasaan secara resmi kepadanya.
Melihat reaksi Jiang Mianqin, Lin Guanqi menahan tawa dan mengangguk, "Baiklah, mungkin tadi aku salah dengar."
"Jadi, apa jawabanmu padanya?"
"Aku menyuruhnya belajar dengan giat supaya bisa masuk universitas dan mencari pacar di sana."
"Hanya itu?"
"Iya," Lin Guanqi mengangguk. "Cuma itu yang kami bicarakan."
"Oh," Jiang Mianqin menjawab dengan nada kecewa. Ia pikir Lin Guanqi akan memujinya habis-habisan di depan orang lain, ternyata tidak.
Lin Guanqi seolah mengerti isi hati gadis itu, lalu berpura-pura teringat sesuatu. "Oh, dia sempat bilang satu hal lagi."
"Apa itu?"
"Dia bilang, karena yang datang ke kedai ini kebanyakan laki-laki, dia merasa sangat iri padaku karena kau mau menemaniku makan di sini. Dia juga bilang, kau adalah kakak yang sangat, sangat cantik."
Bagian pujian itu sebenarnya karangan Lin Guanqi, namun hasilnya cukup efektif, setidaknya Jiang Mianqin mempercayainya.
Ia berusaha menahan senyum dan berkata dengan nada angkuh, "Tentu saja, aku memang hebat!"
"Tepat sekali," Lin Guanqi menopang dagunya dengan satu tangan sambil tersenyum lembut. "Dulu mataku mungkin kurang jeli sampai tidak menyadari betapa hebatnya Jiang Mianqin. Ah, itu kesalahanku."
"Ehem," wajah Jiang Mianqin memerah padam. "Sudahlah, jangan berlebihan."
"Aku bicara jujur!"
"Tidak percaya~" jawab Jiang Mianqin lirih.
Keduanya saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Suasana di antara mereka pun terasa semakin hangat dan romantis.