Ayo Bertemu di Dunia Nyata, Remaja! Bab 7 Kesalahpahaman Teratasi
Hanya dalam beberapa langkah dari pintu masuk menuju ke hadapan Jiang Mianqin, benak Lin Guanqi dibanjiri oleh ribuan kemungkinan dialog, tetapi tidak satu pun yang ia bayangkan akan terjadi seperti ini.
Apa maksud dari ucapan Jiang Mianqin itu?
Apakah dia akhirnya bersedia mendengarkan penjelasannya?
Mengapa hari ini?
Mengapa di sini?
Mengapa begitu mendadak?
Apakah dia sedang tertekan oleh sesuatu?
Namun...
Karena dia memintanya untuk menjelaskan, maka dia akan menjelaskannya.
Lin Guanqi berpikir sejenak, lalu menunjuk ke arah Liu Nian di belakangnya dan berkata, "Teman sekamarku, Liu Nian, saat latihan militer tahun pertama, dia naksir gadis pendek di asramamu itu. Dia memintaku membantunya mengirim surat cinta. Aku bermaksud menyelipkan surat itu ke dalam tasnya, tapi karena saat itu ada tumpukan tas di bawah pohon, aku salah ambil... jadi, aku malah menyelipkannya ke dalam tasmu. Lalu, saat aku berniat mengambilnya kembali, aku malah tertangkap basah olehmu. Dalam keadaan panik... yah, begitulah kejadiannya."
Liu Nian segera menimpali, "Benar, benar! Semua yang dikatakan Lao Lin itu jujur. Dia benar-benar hanya membantuku mengirim surat cinta!"
Setelah mendengar penjelasan mereka berdua, Jiang Mianqin terdiam beberapa detik, lalu bertanya, "Jadi, itu hanya kesalahpahaman?"
"Tentu saja hanya kesalahpahaman, dan memang harusnya hanya kesalahpahaman, oke? Aku benar-benar bukan orang aneh!" Lin Guanqi menunjukkan senyum pahit yang canggung. "Lagipula, aku sudah berulang kali menjelaskan padamu, tapi kau sama sekali tidak mau mendengarkan!"
Mendengar itu, wajah putih bersih Jiang Mianqin merona kemerahan karena malu.
Dari jarak sedekat ini, Lin Guanqi bisa melihat rona merah itu dengan jelas. Ia merasa terkejut, karena ini adalah kali pertama ia melihat ekspresi hangat di wajah Jiang Mianqin yang biasanya sedingin es. Setelah melihat Jiang Mianqin tersipu, Lin Guanqi tiba-tiba merasa wanita ini ternyata tidak sekejam yang ia bayangkan, bahkan sedikit lucu.
Memikirkan hal itu, Lin Guanqi merasa dirinya mungkin sudah gila. Hanya karena tahu Jiang Mianqin adalah pacar dunia mayanya, dia mulai memandang wanita itu dengan kacamata yang berbeda.
Jiang Mianqin mengangkat matanya yang indah, lalu bertanya lagi, "Lalu, bagaimana dengan ucapanmu yang menjelek-jelekkanku di kantin siang tadi?"
"Eh... ini... itu..." Lin Guanqi memerah, dengan canggung ia berkata, "Jika aku bilang itu juga sebuah kesalahpahaman, apakah kau percaya?"
"..."
Jiang Mianqin terdiam selama beberapa detik setelah mendengar jawaban Lin Guanqi.
Dalam keheningan beberapa detik itu, Lin Guanqi mengira Jiang Mianqin tidak mempercayainya. Ia membatin, "Baiklah, wanita cerdas ini memang tidak mudah dibohongi."
Namun faktanya, beberapa detik keheningan itu digunakan Jiang Mianqin untuk berpikir, "Wajahnya saat memerah... ternyata cukup menarik."
Entah karena kesalahpahaman telah terurai, atau karena ia tahu Lin Guanqi adalah pacar dunia mayanya, Jiang Mianqin entah bagaimana mulai memiliki sedikit... perasaan khusus padanya?
"Percaya!"
Setelah terdiam beberapa detik, Jiang Mianqin tiba-tiba menjawab. Jawaban kali ini benar-benar di luar dugaan Lin Guanqi.
Ia menatap Jiang Mianqin yang berdiri di hadapannya, bahkan sempat curiga apakah wanita itu sedang dirasuki sesuatu malam ini. Wanita yang biasanya begitu sulit diajak bicara, malam ini justru menjadi sangat mudah berkomunikasi. Apa sebenarnya yang memengaruhinya?
Lin Guanqi bertanya, "Jadi... apakah kesalahpahaman kita sudah dianggap selesai?"
Jiang Mianqin menjawab tanpa ragu, "Ya."
Jawabannya lugas, tegas, dan singkat. Begitu singkat seolah ia tidak ingin mengobrol lebih lanjut. Hal ini membuat Lin Guanqi tidak tahu harus menyahut apa lagi. Keduanya saling berpandangan, dan suasana kembali terjebak dalam kecanggungan.
Saat ini, di dalam hati Lin Guanqi berpikir: "Kenapa dia belum pergi juga?"
Sementara di dalam hati Jiang Mianqin berpikir: "Apakah sebaiknya aku memberitahunya malam ini saja?"
...
Lin Guanqi memecah suasana canggung itu terlebih dahulu, "Eh, kalau begitu, apakah ada hal lain lagi?"
"Kau... aku... eh..."
Bibir Jiang Mianqin bergetar, beberapa kali ia ingin bicara namun tertahan.
Pada akhirnya, ia hanya menggelengkan kepala dan berbisik, "Tidak ada lagi, sampai jumpa besok."
Belum sempat suaranya hilang, ia sudah menggandeng lengan sahabatnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Saat berbalik, gaunnya berkibar, membawa serta aroma samar yang dingin. Aroma itu terasa seperti bunga plum putih yang mekar setelah salju, dingin namun menyisakan jejak manis yang tak kasat mata, membuat Lin Guanqi tertegun sejenak.
Setelah ia sadar, sosok ramping itu sudah menjauh di bawah senja. Ujung gaunnya bergoyang lembut mengikuti langkah kakinya, membentuk lengkungan yang kian menjauh di ujung koridor, memicu imajinasi yang tak berujung.
"Sampai jumpa besok?"
Lin Guanqi mengulangi ucapan Jiang Mianqin dalam hati, alisnya berkerut.
"Apa maksud dari sampai jumpa besok?"
"Apakah dia tahu aku akan bertemu langsung dengannya besok?"
"Tidak, tidak, tidak mungkin. Dia seharusnya belum tahu bahwa aku adalah pacar dunia mayanya. Jika dia sudah tahu lebih awal, dengan sifat dan tempramennya, malam ini pasti sikapnya tidak akan seperti ini..."
"Kalimat 'sampai jumpa besok' ini mungkin maksudnya sampai jumpa di kelas besok, kan? Tapi... kenapa rasanya dia seperti menyembunyikan sesuatu?"
Lin Guanqi merasa bingung. Ia mengambil ponselnya, memeriksa riwayat obrolannya dengan [Mianmian], namun ia yakin bahwa identitasnya belum terbongkar.
Belum sempat Lin Guanqi berpikir lebih dalam, tiga teman sekamarnya yang sedari tadi hanya menjadi penonton langsung menyerbu, menarik lengan dan mencengkeramnya layaknya sedang menangkap buronan.
Liu Nian: "Bukan begitu, bocah! Apa yang kau bicarakan dengan sang dewi kampus? Aku baru saja melihatnya tersipu!"
Wang Qiang: "Lao Lin, kau tidak setia kawan ya. Jangan-jangan kau diam-diam sudah berteman dengan dewi kampus?"
Liang Xinwei: "Aku tidak mendengar jelas bagian awalnya, tapi apa maksud dari ucapan 'sampai jumpa besok' yang dia katakan tadi? Jujurlah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Harus diakui, otak Liang Xinwei memang berputar cepat. Di antara ketiganya, dialah yang pertama kali menangkap poin pentingnya. Begitu ucapan itu keluar, dua lainnya pun serentak menatap ke arah Lin Guanqi.
"Jangan menatapku, aku juga tidak tahu!"
Lin Guanqi mengangkat bahu dengan ekspresi bingung, lalu berbalik dan kembali ke asrama.
Sementara itu, Jiang Mianqin yang hampir sampai di asrama putri juga belum menyadari bahwa Lin Guanqi sebenarnya sudah mengetahui identitasnya. Jiang Mianqin dengan polosnya mengira hanya dirinyalah yang telah mengetahui identitas Lin Guanqi lebih dulu.
Saat ini ia diam-diam merasa bangga, seolah memegang kendali penuh. Ia sengaja tidak membongkar hubungan pacaran dunia maya mereka saat ini, karena ia berencana untuk mengerjai Lin Guanqi habis-habisan besok.
Memikirkan hal itu, sudut bibir Jiang Mianqin terangkat tanpa sadar. Wajah yang biasanya sedingin es itu kini memancarkan senyum samar, seperti sinar matahari hangat yang tiba-tiba menembus musim dingin, sekilas namun nyata adanya.
"Mianmian," Meng Tong memiringkan kepalanya menatap Jiang Mianqin, "Kau baru saja tersenyum!"
"Hah?" Jiang Mianqin memasang wajah polos, "Kau salah lihat, aku tidak tersenyum."
Meng Tong mengerutkan kening, "Kau tersenyum, aku baru saja melihatnya dengan jelas!"
"Kau salah lihat," jawab Jiang Mianqin datar.
"Aku tidak salah lihat!"
"Kau salah lihat."
Meng Tong menatap wajah Jiang Mianqin selama dua detik, lalu bertanya dengan sangat spontan, "Jangan-jangan kau jatuh cinta pada Lin Guanqi?"
"Jangan bicara sembarangan," Jiang Mianqin tampak sedikit gugup, "Aku ini orang yang sudah punya pacar, jangan menyebarkan rumor tentangku!"
Meng Tong tidak memedulikannya dan bergumam asal, "Melihat tingkah lakumu yang aneh malam ini, jangan-jangan pacar dunia mayamu selama empat tahun itu adalah Lin Guanqi?"
Mendengar ucapan Meng Tong, Jiang Mianqin langsung keceplosan, "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Jadi benar ya!" Meng Tong yang mendengar kabar itu langsung membelalakkan mata, mulutnya terbuka lebar karena terkejut.
"Gawat!"
Sadar telah membocorkan rahasianya sendiri, Jiang Mianqin segera menutup mulutnya, namun sudah terlambat.