155. Orang yang Tidak Diinginkan
Malam larut, Bar Kowloon!
"Mark-ge, ceritakan pada kami tentang masa-masa kejayaanmu dulu!"
Sung Tse-ho dan Mark duduk bersama sambil menikmati minuman. Di meja sebelah, Lap-chi dan beberapa berandalan baru berkumpul. Sebagai preman yang baru naik daun, Lap-chi sangat mengetahui masa lalu Sung Tse-ho dan Mark. Begitu mengenali mereka, ia langsung mendesak keduanya untuk menceritakan kembali kisah kejayaan mereka di masa lalu.
Di arah lain, di dekat meja bar, Sung Tse-jit duduk sendirian meneguk minumannya dalam diam, sambil mengawasi situasi Sung Tse-ho dan Mark.
"Haha, biarkan Ho-ge saja yang menceritakan kisahnya. Dulu dia jauh lebih hebat dariku!" Mark mengangkat gelasnya. Meskipun tidak bisa dibilang sedang bersemangat tinggi, tetapi dua hari ini suasana hatinya memang cukup baik.
"Kalian berdua sedang membicarakan apa, kok tampak begitu gembira?"
Hui Fei datang membawa gelas minumannya, lalu duduk di sebelah Sung Tse-ho dan Mark.
"Bukan apa-apa, hanya mengobrol santai dan bernostalgia dengan yang lain!" kata Sung Tse-ho sambil tersenyum.
Mark mendentingkan gelasnya dengan gelas Hui Fei dan berkata, "Kemarin kau pergi lebih dulu, hari ini kita harus minum sampai pagi!"
"Tidak masalah!" Hui Fei tertawa lebar. "Malam ini, siapa yang tumbang duluan, dialah yang menjadi makhluk malang itu!"
Usai berkata demikian, Hui Fei membuat gestur kura-kura di atas meja.
"Bagus!"
Sung Tse-jit duduk sendirian di tepi meja bar, menyaksikan Hui Fei, Sung Tse-ho, dan Mark yang sedang bercengkerama dengan akrab. Wajahnya tampak suram, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Brak!
Pada saat itu, Shing Tam datang ke bar bersama anak buahnya.
Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia langsung melangkah menuju meja tempat Sung Tse-ho dan Mark berada.
"Ho-ge, Mark-ge, Tuan Hui!"
Shing Tam saat ini tidak lagi menunjukkan sikap arogan seperti saat pertama kali Hui Fei melihatnya. Sebaliknya, ia sengaja menyamar dan bersikap seperti saat ia masih menjadi anak buah Sung Tse-ho dan Mark dulu.
"Ho-ge, kenapa pulang tidak memberitahuku? Kau benar-benar bukan teman yang baik!"
Shing Tam berinisiatif duduk dan berkata kepada Hui Fei, "Tuan Hui mungkin belum tahu. Dulu sekali, aku, Ho-ge, dan Mark-ge adalah sahabat baik. Bahkan, merekalah berdua yang membimbingku terjun ke dunia hitam!"
"Begitu ya? Itu benar-benar sesuai dengan pepatah lama," kata Hui Fei sambil tersenyum kecil.
Hari ini Shing Tam merendahkan dirinya serendah mungkin, lalu bertanya, "Pepatah lama apa itu?"
"Tiga puluh tahun di timur sungai, tiga puluh tahun di barat sungai. Ah, tidak, jika diterapkan pada Tuan Tam, seharusnya tiga tahun di timur, tiga tahun di barat. Kuduga saat itu Ho-ge dan Mark-ge tidak pernah menyangka bahwa anak buah di sisi mereka sekarang justru telah menjadi bos besar!" ejek Hui Fei ringan.
Shing Tam berkata, "Jika bukan karena bantuan Ho-ge saat itu, bagaimana mungkin aku memiliki status dan kedudukan seperti sekarang!"
Setelah berkata demikian, Shing Tam bahkan menepuk pundak Sung Tse-ho.
Sung Tse-ho memaksakan seulas senyum dan berkata, "Jangan berkata begitu, pencapaianmu hari ini adalah berkat kemampuanmu sendiri."
"Kemampuan apa yang kumiliki, posisi ini diberikan oleh Mark-ge kepadaku!" Setelah mengatakan itu, Shing Tam kembali memasang topeng sebagai saudara yang baik dan berkata kepada Mark, "Mark-ge, jika nanti ada hal yang butuh bantuan, katakan saja padaku!"
*Kalau tidak menyerahkan posisinya padamu, nyawamu mungkin tidak akan selamat,* batin Hui Fei dalam hati.
Mark berkata, "Kita tidak sedang membahas ini, mari minum!"
Ia menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Tepat ketika semua orang mengira ia akan meminumnya, Mark mengangkat kakinya yang buntung ke atas meja, mengangkat gelasnya, dan berkata, "Gelas ini, khusus untuk kakiku yang ini!"
Setelah berkata demikian, ia menuangkan isi gelasnya ke atas kakinya sendiri, lalu menelungkupkan gelas tersebut di atas meja. Jelas sekali, itu adalah isyarat agar tamu tidak diundang itu segera pergi.
Shing Tam melirik Mark tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Ia kemudian berkata kepada Sung Tse-ho, "Ho-ge, jika ada waktu, datanglah menemuiku. Kita ada hal yang perlu dibicarakan!"
"Aku tidak tertarik!" tolak Sung Tse-ho mentah-mentah.
"Kau pasti akan tertarik!" ucap Shing Tam dengan penuh percaya diri. "Baiklah, aku pergi dulu!"
Usai berkata demikian, Shing Tam bangkit berdiri dan berkata kepada Hui Fei sebagai salam perpisahan, "Tuan Hui, jika ada waktu mari kita duduk berdua saja. Mungkin di antara kita berdua akan ada kerja sama yang terjalin!"
Hui Fei tersenyum tipis. "Baguslah, aku justru ingin melihat kebaikan apa yang bisa kau tawarkan kepadaku."
Shing Tam tersenyum, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Begitu Shing Tam pergi, Sung Tse-jit langsung melangkah mendekat.
Ia melirik Hui Fei yang duduk di sana, lalu berkata langsung kepada Sung Tse-ho, "Keluarlah bersamaku! Aku ingin tahu apa yang baru saja dibicarakan Shing Tam dengan kalian!"
Wajah tenang Sung Tse-ho seketika memudar, menyisakan ekspresi penuh kepedihan saat ia bangkit dan berjalan keluar bersama Sung Tse-jit. Melihat hal itu, Mark pun ikut beranjak mengikuti mereka.
"Ge-ge, siapa pemuda itu? Sombong sekali? Bahkan lebih angkuh daripada Bos Tam tadi?"
Lap-chi bertanya dengan rasa penasaran.
Hui Fei menatap Lap-chi sambil tersenyum. "Kukira kau tidak akan datang lagi ke Bar Kowloon milikku ini!"
Lap-chi tersenyum canggung. "Mana mungkin!"
"Orang itu bernama Sung Tse-jit. Dia seorang polisi, sekaligus adik kandung Ho-ge!"
"Apa? Adik kandung Ho-ge ternyata seorang polisi?" tanya Lap-chi terkejut.
Hui Fei mengangguk. "Kau tidak datang kemarin. Kalau kemarin kau datang, kau pasti sudah tahu."
Setelah berkata demikian, Hui Fei bangkit tanpa mempedulikan Lap-chi lagi dan kembali ke meja bar.
"Menurutmu, kemana perginya kedua saudara itu?" Selena bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepada Hui Fei.
"Kenapa tidak kau ikuti saja sendiri supaya tahu?" Hui Fei melirik Selena sekilas dan berkata sambil tersenyum, "Tak kusangka kau punya bakat menjadi seorang penggosip!"
"Menyebalkan, apa yang kau bicarakan! Bukannya karena setiap hari menjaga bar ini sangat membosankan!" kata Selena dengan nada bosan.
"Bagaimana, ingin jalan-jalan keluar?" tanya Hui Fei penasaran.
Dulu, saat Selena bekerja sebagai sekretaris Chu Tao, ia sering bepergian ke seluruh penjuru Hong Kong. Sekarang, setelah tinggal di Bar Kowloon ditambah ancaman bahwa seseorang bisa saja membunuhnya kapan saja di luar sana, tentu saja ia tidak bisa lagi pergi sembarangan.
Karena itulah Hui Fei menduga Selena merasa bosan tinggal di bar selama beberapa hari ini.
Namun, Selena menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Sebenarnya di sini cukup menyenangkan, setiap hari bisa melihat banyak orang di bar dan mendengarkan begitu banyak cerita menarik, jadi aku tidak merasa bosan. Hanya saja, sudah lama sekali aku tidak berbelanja!"
Ketika menyebut kata berbelanja, Selena menunjukkan ekspresi penuh kerinduan.
Hui Fei tersenyum. "Mau berbelanja bukanlah hal yang sulit. Besok aku akan menemanimu!"
"Benarkah?" tanya Selena terkejut dan gembira.
"Tentu saja."
Namun, raut wajah Selena kembali berubah murung. "Tapi rekeningku masih dibekukan oleh pihak kepolisian..."
Sebagai mantan sekretaris Chu Tao, kasus Chu Tao saat ini belum sepenuhnya selesai, sehingga kepolisian masih menerapkan kebijakan pembekuan terhadap rekening pribadi Selena.
Oleh karena itu, Selena saat ini sebenarnya adalah seorang perempuan miskin tanpa sepeser pun uang!
Hui Fei tersenyum ringan. "Tidak apa-apa, aku bisa meminjamkannya padamu dulu. Bayar saja nanti kalau kau sudah punya uang."
"Kalau begitu kita sepakat ya!" Mendengar perkataan Hui Fei, Selena langsung memeluk lengan Hui Fei dengan penuh semangat dan berseru gembira.
Hui Fei mengangguk. "Sebenarnya tidak dibayar pun tidak apa-apa, asal nanti dibayar dengan tubuhmu saja."
Selena melirik Hui Fei dengan jengkel. "Mimpi saja!"
"Haha, banyak hal di dunia ini yang harus dibayangkan dulu baru bisa diwujudkan!" kata Hui Fei penuh percaya diri sambil tersenyum.
*Kring, kring!*
Ponsel bata milik Hui Fei berdering.
Setelah diangkat, ternyata telepon itu dari Karl. Hui Fei Semula mengira Karl menelepon untuk membicarakan urusan Chu Tao, tetapi ternyata Karl mengajaknya untuk ikut menonton perlombaan seluncur es keesokan harinya.
Mengingat Selena sedang merasa bosan saat ini, Hui Fei pun menyampaikan hal itu padanya, dan Selena tentu saja sangat antusias ingin ikut.
"Besok kami akan datang tepat waktu!" Hui Fei menerima undangan Karl sambil tersenyum.