Bab Lima Puluh Enam: Wanita Penggemar Kekayaan
Kedatangan mereka benar-benar tepat waktu.
Tatapan mata Wen Yishu sedikit menajam, ia yang pertama berbicara, “Ayah, sebenarnya kalung milik Kexin yang hilang, tapi barusan sudah ditemukan.”
“Paman, tadi kita semua memang ada di sini, jelas sekali kalung itu dicuri oleh Kakak Wen,” Fang Zilin membela Wen Kexin dengan suara tegas, “Itu perhiasan yang sangat penting bagi Kexin, harganya pun sangat tinggi, apalagi ditemukan di kamarnya sendiri.”
“Benar. Tadi waktu Kexin menaruhnya di laci kamar sendiri, semua orang juga melihat. Saat itu yang ada di tempat kejadian hanya Yishu dan Zilin saja.” Li Wanhua tampak menyesal, menghela napas, seolah kecewa pada Wen Yishu.
Wen Yishu membela diri dengan nada sedih, “Ayah, bukan aku yang mengambilnya. Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di kamarku.”
Saat itu Wen Kexin tiba-tiba berkata, “Tak apa, Ayah, yang penting barangnya sudah ditemukan. Kakak memang hidup di luar negeri dalam kondisi yang tak sebaik keluarga kita, kadang bisa saja bingung, itu wajar. Aku tidak apa-apa.”
…
Wen Yishu merasa mual mendengarnya.
Sekarang, ini seperti adu siapa yang paling pandai berpura-pura suci?
“Sebenarnya bagaimana ini? Chang Geng, kamu yang jelaskan.” Dari telinga kiri Wen Chengzhu mendengar satu cerita, dari telinga kanan lain lagi, akhirnya pandangannya tertuju pada putranya.
Bagi Wen Chengzhu, perkataan Wen Chang Geng tetap yang paling dapat dipercaya.
Wen Chang Geng pun menjawab, “Ayah, aku tidak percaya Yishu yang mencurinya. Dia sebentar lagi akan menikah dengan keluarga Gong, apa yang tidak bisa dia dapatkan? Mungkin Kexin saja yang lupa kapan menaruhnya di kamar Yishu.”
Wen Kexin menggigit bibir, matanya penuh kekesalan tertuju pada Wen Chang Geng.
Kenapa dia begitu percaya pada Wen Yishu?
Dia menarik-narik lengan baju Fang Zilin, memberi isyarat agar ia bicara lagi.
Fang Zilin tentu saja membela sahabatnya, “Paman, tapi sekarang juga tidak ada bukti yang menunjukkan kalau dia benar-benar tidak mengambilnya!”
Wen Chengzhu terdiam dalam pikirannya.
Saat itu Wen Yishu tiba-tiba berdiri, “Ayah, aku baru ingat! Kameraku hari ini sepertinya tidak aku matikan! Sejak pagi sudah menyala, jadi semua kejadian hari ini pasti terekam.”
Rekaman?
Ternyata ada rekaman?
Ucapannya membuat Wen Chang Geng langsung tersenyum lega, “Ada rekaman? Bagus, pasti bisa dapat bukti.”
“Kalau begitu, ambil dan tunjukkan.” Wen Chengzhu pun memutuskan.
“Baik.” Wen Yishu langsung menuju kamar untuk mengambil kamera.
Wen Kexin dan Fang Zilin mulai panik.
“Jangan-jangan benar-benar terekam? Bukankah semuanya bakal ketahuan?” Wen Kexin berbisik di telinga Fang Zilin.
Fang Zilin mengerutkan kening, “Pasti cuma nakut-nakuti saja, mana mungkin kebetulan ada kamera di kamar?”
Apalagi tadi waktu mereka masuk, tidak melihat kamera sama sekali.
Tak lama, Wen Yishu mengambil sebuah kamera dari sudut tempat tidurnya, lalu memasukkan kartu memori ke ponsel dan memutar rekaman itu di hadapan Wen Chengzhu.
Tampak jelas rekaman saat Wen Kexin dan Fang Zilin masuk ke kamar untuk mencari-cari barang, dan saat rekaman menunjukkan Wen Kexin sedang menggeledah laci, Wen Chengzhu dengan mata tajam melihat Wen Kexin yang menaruh kalung itu ke dalam laci.
Wajah Wen Chengzhu berubah muram, ia menatap Wen Kexin dengan marah, “Kexin, jadi kamu sengaja menjebak kakakmu?”
“Ayah… b-bukan seperti itu.” Wen Kexin tertegun.
Bagaimana bisa benar-benar terekam? Kenapa tadi mereka tidak melihat kamera?
Wen Chang Geng menghela napas, menarik Wen Yishu ke belakang tubuhnya, lalu memandang Wen Kexin dengan sangat kecewa, “Kexin, akhir-akhir ini perbuatanmu benar-benar keterlaluan. Aku tahu sejak Yishu pulang kamu jadi tidak nyaman, tapi aku tak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal sehina ini.”
Sudah kesal, apalagi melihat Fang Zilin di sampingnya, Wen Chengzhu semakin merasa malu, “Kamu benar-benar tidak tahu diri. Setiap hari hanya membuat malu keluarga. Yishu itu kakakmu, kenapa kamu begitu egois?”
“Ayah… aku tahu aku salah, tidak akan mengulanginya lagi.” Wen Kexin benar-benar panik. Ini pertama kalinya ia melihat Wen Chengzhu sebegitu marah.
Andai tadi ia lebih teliti, mana mungkin Wen Yishu bisa membalikkan keadaan?
Wen Yishu bersembunyi di belakang Wen Chang Geng, bibirnya melengkung tipis.
Setitik keringat dingin menetes di dahi Fang Zilin—ia bersyukur tak menuruti permintaan Wen Kexin untuk menaruh kalung itu sendiri, kalau tidak, sekarang pasti dia yang kena omelan.
Situasinya tidak cocok untuk orang luar, Wen Chang Geng segera meminta Fang Zilin keluar, Wen Yishu pun ikut pergi.
Wen Chengzhu sudah sangat murka, sebuah tamparan mendarat di pipi Wen Kexin.
Li Wanhua yang melihatnya merasa pilu, ingin mencegah tapi tak mampu.
“Mulai sekarang kamu berdiam diri di kamar, merenung atas perbuatanmu! Tanpa izinku, kamu tidak boleh keluar!” Wen Chengzhu menutup pintu, mengurung Wen Kexin di kamar.
Hukuman seperti ini masih bisa diterima Wen Yishu.
Beberapa hari berikutnya, tanpa suara gaduh Wen Kexin, dunia terasa jauh lebih tenang.
Wen Chengzhu kali ini benar-benar marah, bahkan urusan kantor pun tidak membiarkan Wen Kexin ikut, ia dikurung di kamar selama beberapa hari lamanya. Baru setelah Li Wanhua memohon, akhirnya Wen Kexin dibebaskan.
Hari pertama Wen Kexin keluar, keluarga Wen mendapat undangan menghadiri sebuah pesta.
Kali ini seluruh keluarga hadir. Begitu memasuki aula, Wen Yishu langsung menyadari bahwa tatapan-tatapan yang diarahkan padanya terasa kurang bersahabat.
Terutama dari kalangan perempuan.
Sepertinya lagi-lagi karena para pengagum Gong Yibei.
Pengalaman sebelumnya membuatnya lebih berhati-hati, ia menghindari para perempuan yang menyukai Gong Yibei atau Gong Yilang, lalu memilih berdiam di sudut untuk menghabiskan waktu.
Namun tetap saja, beberapa bisik-bisik sampai ke telinganya.
“Itu kan Wen Yishu? Kenapa duduk sendirian? Aku mau sapa sebentar.”
“Kamu ngapain? Dia kan perempuan matre, buat apa disapa?”
Orang yang ditahan bertanya bingung, “Perempuan matre? Memangnya dia benar-benar matre? Setahuku dia tunangan Gong Yibei, kalau bisa berteman, siapa tahu keluarga Gong jadi ramah pada kita.”
Lalu ada yang menjelaskan, “Dia itu memang matre! Menikah dengan keluarga Gong juga cuma demi uang. Kasihan Gong Yibei dan Gong Yilang, dua-duanya tergila-gila padanya.”
“Kudengar di rumah sendiri pun dia suka mencuri barang, apalagi yang mahal-mahal.”
“Pulang dari luar negeri pasti belum pernah lihat barang mahal, menjijikkan.”
Sejak kapan ia jadi perempuan matre?
Wen Yishu malas merespons. Perempuan kalau sedang bosan memang suka berkhayal yang tidak-tidak, apalagi kini ia benar-benar jadi musuh bersama.
Maklum saja, ia telah berhasil merebut dua putra terbaik keluarga Gong.
Tapi akhir-akhir ini, Gong Yibei sepertinya tidak datang menemuinya?
Jangan-jangan akhirnya ia sadar diri, merasa bersalah karena kejadian waktu itu?
Dari kejauhan, Wen Kexin tampak bercengkerama akrab dengan beberapa perempuan yang sebelumnya menggunjingnya, sesekali Wen Yishu mendengar beberapa kata lewat keramaian, bahkan namanya sendiri sempat terdengar.