Bab Sembilan Puluh: Sengaja Membuat Sulit
Di lantai teratas Grup Wen, cahaya matahari menyorot masuk secara vertikal melalui jendela besar yang luas, membuat segalanya tampak begitu tenang dan indah.
Sementara itu, di lantai bawah, Wen Yishu terjebak di dalam mobil oleh Gong Yibei, tak mampu bergerak.
Tubuh pria itu condong mendekat, membuat Wen Yishu tak punya jalan untuk melarikan diri.
“Apa yang ingin kau lakukan? Aku hampir terlambat masuk kerja!” serunya cemas.
“Kalau begitu, biarkan saja terlambat,” jawab Gong Yibei sambil menyunggingkan senyum nakal di wajahnya.
Sambil berkata demikian, Gong Yibei menempelkan sebuah kecupan ringan di bibirnya. Seketika tubuh Wen Yishu terasa seperti dialiri listrik, seluruh badannya lemas dan gemetar.
Gong Yibei dengan cepat melepaskannya, namun Wen Yishu justru terdiam karena kehangatan kecupan itu.
“Bagaimana? Satu kecupan saja belum cukup?”
Melihat ekspresi terkesima di wajahnya, Gong Yibei tak kuasa menahan godaan untuk terus mengusiknya.
Ia benar-benar cantik, kecantikan yang tak tercemar oleh dunia, wajah halus dan sempurna hanya dengan sedikit riasan, membuatnya semakin memikat di mata Gong Yibei.
Wanita secantik ini, mana mungkin ia lepaskan begitu saja?
“Tak tahu malu!”
Wajah Wen Yishu memerah, ia melontarkan makian itu dengan marah lalu buru-buru turun dari mobil.
Kecupan tadi begitu mirip dengan kecupan di dalam mimpinya—manis dan indah, tak ada sedikit pun paksaan seperti biasanya dari Gong Yibei.
Ia menyentuh bibirnya, tanpa sadar merasa rindu akan kecupan itu. Ia pasti sudah gila!
Dengan pelan, Wen Yishu menepuk pipinya sendiri, berusaha menenangkan diri.
Pasti karena mimpi itu! Atau jangan-jangan ia memang sedang jatuh cinta? Ia mengusir semua pikiran liar itu dan melangkah masuk ke gedung.
Semua ini salah Gong Yibei yang menyebalkan!
Saat absen, Wen Yishu terlambat sepuluh menit, ini pertama kalinya ia terlambat sejak mulai bekerja.
Tapi hanya karena sekali terlambat, kenapa semua orang menatapnya dengan pandangan aneh seperti itu?
“Maaf, aku akan lebih hati-hati lain kali,” ucap Wen Yishu dengan gugup saat duduk di tempatnya, merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Rekan-rekannya yang suka bergosip awalnya ingin segera mengerubunginya dan menanyakan segalanya, namun begitu Wen Changeng masuk ke kantor, semua langsung diam dan menyembunyikan rasa ingin tahu mereka.
“Malam ini seluruh perusahaan harus lembur,” kata Wen Changeng.
Seruan keluhan pun terdengar di seluruh ruangan, tak ada yang lagi berminat membahas gosip tentang Wen Yishu.
Ia lalu berjalan ke arah Wen Yishu, mengetuk meja di depannya, “Kulihat tadi pagi kau terburu-buru keluar rumah, jadi aku belikan sarapan di bawah.”
“Terima kasih, Kak Changeng!” Wen Yishu tersenyum manis.
Wen Kexin yang melihat itu merasa tak senang, menatap mereka berdua dengan kesal, “Kakak, kau selalu memanjakannya! Aku juga adikmu, kenapa tak pernah belikan aku sarapan?”
Melihat itu, Wen Yishu segera mendorong sarapannya ke depan Wen Kexin, “Kexin, makan saja, aku tidak lapar.”
Dengan bangga, Wen Kexin mendongak, “Hmph, aku juga tidak butuh!”
“Kexin, kenapa kau selalu bersaing dengan Yishu? Saat kerja saja aku jarang lihat kau seantusias ini!”
“Halah, yang mampu harus kerja lebih banyak. Lagi pula, kita semua bekerja untuk perusahaan, siapa pun yang melakukannya sama saja,” jawab Wen Kexin meremehkan.
“Malam ini kau juga tak boleh pulang cepat! Kalau ketahuan, aku akan mengadu pada ayah!”
Wajah Wen Kexin langsung cemberut, menginjak lantai dengan kesal, “Kakak, kau kok begini sih!”
Wen Changeng tak mempedulikan rengekan adiknya, ia berbalik dan pergi.
Wen Yishu yang melihat Wen Kexin kesal, menepuk pundaknya pelan, “Kalau malam ini kau ada keperluan, kau pulang saja, biar aku yang urus ke Kak Changeng.”
Tapi niat baiknya ditolak mentah-mentah, “Huh, aku tak butuh bantuanmu! Siapa tahu apa yang kau katakan tentangku di depan kakak? Kalau aku tak mau lembur, tak ada yang bisa menahanku!”
Ia berkata dengan sombong, sama sekali tak menganggap Wen Changeng punya kekuasaan atasnya.
Selama ini, meski banyak yang tak suka dengan sikap Wen Kexin, tapi sebagai putri keluarga Wen, ia memang selalu diperlakukan istimewa.
Sebaliknya, Wen Yishu sangat berbeda. Ia tak pernah bersikap manja, selalu masuk dan pulang kerja bersama karyawan lain, dan hasil kerjanya pun sangat baik.
Tak peduli apa pun rumor di luar, semua orang mengakui kemampuan Wen Yishu, nyaris tak ada yang membicarakan hal buruk tentangnya.
“Baiklah,” jawab Wen Yishu pelan.
Wen Kexin melenggang pergi, dan Wen Yishu akhirnya bisa bekerja dengan tenang.
Namun tak lama kemudian, Wen Kexin masuk kembali dengan penuh gaya. Beberapa pria ikut membantunya memindahkan meja yang langsung diletakkan di samping Wen Yishu.
“Karena ayah menyuruhku jadi asisten kakak, tentu aku harus duduk dekat. Tapi aku tak nyaman dengan meja kerja di sini, jadi ku bawa saja mejaku sendiri ke sini,” ucap Wen Kexin dengan nada memerintah, sibuk menata-nata sampai puas.
“Kakak tidak keberatan, kan?” Setelah semuanya diatur, barulah ia pura-pura menanyakan pendapat Wen Yishu.
Apa yang bisa dikatakan Wen Yishu?
“Lakukan saja sesukamu,” jawabnya.
Sikapnya yang penurut seperti itu justru membuatnya cukup disukai di kantor. Saat menuju ruang teh, ia mendengar suara bisik-bisik dari dalam.
“Kau sudah lihat trending topic hari ini?”
“Sudah, Gong Yibei katanya akan mempercepat pesta pertunangannya, dan resmi mengumumkan bahwa Wen Yishu adalah tunangannya. Tak lama lagi mereka akan menikah.”
“Tadi pagi aku lihat Gong Yibei mengantar Wen Yishu ke kantor. Romantis sekali!”
Beberapa orang itu tampak tergila-gila saat membicarakannya.
Sosok seperti Gong Yibei memang terlalu tinggi untuk dijangkau, hanya bisa diidamkan.
Tapi Wen Yishu yang mendengar dari pintu merasa kebingungan. Mengapa ia tak tahu apa-apa soal ini?
“Apa yang romantis?” Wen Kexin yang baru selesai mengambil air ikut masuk dan langsung memotong pembicaraan mereka.
Yang lain sekadar tersenyum canggung dan buru-buru pergi.
Wen Yishu melihat seseorang keluar, ia pun menyingkir ke samping.
Saat masuk, Wen Kexin juga melangkah ke dalam. Entah sengaja atau tidak, saat melewati Wen Yishu, ia pura-pura tersandung, membuat kopi di tangannya tumpah ke kemeja putih Wen Yishu.
Wen Yishu buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan, tapi sudah terlambat, kemejanya sudah kotor hampir seluruhnya.
“Aduh, maaf kak, aku tidak sengaja,” ucap Wen Kexin, pura-pura membantu membersihkan tapi justru membuat noda kopi makin melebar.
Wen Yishu yang menyadari maksudnya, segera mundur dua langkah, “Aku ke kamar mandi dulu untuk membersihkan.”
Wen Kexin tersenyum licik dan ikut masuk ke dalam.
Kemeja putih penuh noda seperti itu tak mungkin dipakai untuk bertemu orang.
Meski sudah dibersihkan, tetap tak bisa hilang. Jelas Wen Kexin sengaja ingin mempersulitnya.
Saat itu, Wen Kexin masuk ke dalam kamar mandi.
“Kak, aku punya gaun cadangan, mau pakai dulu?”
Kebaikan hati seperti ini sulit dipercaya bagi Wen Yishu.
“Tak perlu, aku bawa jaket,” jawabnya.
Untung ia cukup tahan banting.
Segera setelah itu, Wen Kexin mendesah, matanya menunjukkan sedikit rasa iri, “Kak, malam ini kau pasti punya kencan dengan Tuan Gong, kan? Tak heran, bajuku pasti kau anggap tak layak. Lagi pula, sebentar lagi kau akan benar-benar jadi nyonya muda keluarga Gong.”