Bab 029: Gadis Cantik dari Selatan
Mendengar itu, Cao Tianping di sampingnya langsung berdeham dua kali dengan keras. Su Rui ini benar-benar sedang menambah musuh untuk dirinya sendiri.
"Hei, Su! Aku akan melapor pada direktur bahwa kau merusak hubungan antar rekan kerja dan mengganggu suasana perusahaan!" bentak Chen Leigang dengan marah.
"Silakan, laporkan saja, kalau bisa sekalian langsung ke ketua dewan. Siapa yang tidak berani melapor dialah pengecut," Su Rui benar-benar berbicara dengan cara yang sangat menyebalkan. Ia duduk santai, menyilangkan kaki, dan menunggu pertunjukan selanjutnya dari Chen Leigang.
Chen Leigang tahu, di perusahaan besar yang mengutamakan hasil, manajemen tidak akan pernah mempersulit seorang tenaga penjualan yang mampu mencetak angka penjualan dua puluh juta hanya dalam satu transaksi. Ia hanya bisa melampiaskan kemarahan lewat kata-kata, tidak berani benar-benar melapor ke direktur.
"Aku malas berdebat lagi denganmu," Su Rui tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berdiri dan berkata, "Aku harus ke bagian keuangan menemui Wakil Direktur Zhou Anke untuk mengambil komisi."
Semua orang yang mendengar itu memandang Su Rui dengan iri. Itu komisi dua juta! Di pinggiran Ninghai, uang sebanyak itu sudah bisa membeli dua rumah.
Su Rui berjalan santai menuju bagian keuangan, dan tiba-tiba telinganya disambut suara jeritan tajam!
Hu Qianqian yang melihat Su Rui masuk, seperti melihat seorang idola. Ia berteriak kegirangan, sementara setumpuk map di tangannya jatuh berantakan ke lantai.
"Hu Qianqian, kau sedang kenapa sih?"
"Iya, kalau mau tergila-gila juga jangan sekarang dong. Tapi memang, dia lumayan tampan juga."
Hu Qianqian menunjuk Su Rui yang tersenyum masam, lalu berkata, "Lihat, inilah orang yang kemarin mendapatkan transaksi dua puluh juta itu!"
Mendengar itu, para gadis muda di bagian keuangan langsung mengeluarkan suara kagum. Transaksi sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka semua penasaran seperti apa wujud sales jenius itu. Dan ketika melihat Su Rui hari ini, ternyata memang tidak mengecewakan!
Tampan, kaya, dan berkemampuan. Siapa yang tidak suka pria seperti ini!
"Kakak tampan, traktir makan dong!"
"Kakak tampan, kami mau tanda tangan!"
Bagian keuangan memang didominasi perempuan, dan para akuntan muda itu pun mulai melemparkan lirikan genit pada Su Rui.
Meski Su Rui terkenal tebal muka, tetap saja ia kewalahan menghadapi serangan manis sebanyak itu. Ia hanya tersenyum pada semua orang, lalu berjalan ke samping Hu Qianqian dan berkata, "Sekretaris Hu, aku ingin bertemu Direktur Zhou Anke."
"Kau mau menemui Bu Zhou?" Mata Hu Qianqian berkilat, langsung paham maksud Su Rui, lalu tersenyum, "Memang, bonus sebesar itu harus ditandatangani Bu Zhou dulu. Ayo, aku antar."
Di depan pintu kantor Zhou Anke, Hu Qianqian mengetuk pelan. Dari dalam terdengar suara lembut dan merdu, "Silakan masuk."
Begitu mendengar suara itu, tubuh Su Rui langsung merasakan kenyamanan luar biasa. Hanya dari suara saja sudah bisa membuat orang merasa seperti itu, benar-benar ajaib. Ia bahkan merasa pita suara pemiliknya seperti telah direndam dalam susu.
Dengan suara seindah itu, semoga wujud aslinya tidak mengecewakan.
Hu Qianqian membawa Su Rui masuk ke dalam, lalu berkata, "Bu Zhou, inilah Su Rui yang kemarin berhasil mencetak penjualan dua puluh juta itu."
Begitu melihat sosok di balik meja kerja, Su Rui merasa seolah matanya langsung disinari cahaya terang.
Meski mengenakan setelan kerja berwarna krem, ia adalah gambaran wanita khas dari kampung air di selatan Sungai Yangtze. Rambutnya panjang dan lembut menjuntai, kulitnya seputih salju, wajahnya indah, matanya bening bagaikan danau di musim gugur yang berombak lembut, seluruh dirinya memancarkan ketenangan, seakan baru saja melangkah keluar dari lukisan tinta klasik.
Dialah Wakil Direktur Keuangan Grup Bikang, Zhou Anke.
Bisa mencapai posisi setinggi itu di usia muda, jelas sekali betapa hebat kemampuannya.
"Halo, Bu Zhou." Su Rui tersenyum dan menjabat tangan Zhou Anke. Tangannya terasa halus, namun Su Rui tidak seperti pria usil yang enggan melepas genggaman. Ia punya strategi berbeda untuk setiap tipe perempuan, tidak mungkin wajahnya selalu tampak genit.
"Panggil aku Ann saja," ujar Zhou Anke sambil tersenyum. Itulah nama Inggrisnya, ia merasa aneh jika dipanggil Bu Zhou.
Zhou Anke sudah sering mendengar tentang Su Rui: membuat Yin Xiumei pingsan, mempermainkan Chen Leigang, bahkan dikabarkan sebagai pacar Lin Aoxue. Semuanya kisah yang luar biasa, dan meski belum lama bergabung, Su Rui sudah menjadi sosok paling menarik di Bikang.
Zhou Anke mengulurkan selembar cek, "Ini komisi dari transaksi kemarin, ditambah bonus perusahaan dua ratus ribu, total dua juta dua ratus ribu. Ini adalah rekor bonus terbesar dalam sejarah Bikang. Selamat ya."
"Terima kasih, Ann." Su Rui menerima cek itu dan menghadiahi Zhou Anke sebuah senyuman yang menurutnya sendiri lembut dan berwibawa.
Setelah tersenyum, wajahnya terasa agak kaku. Ia berpikir, “Aslinya aku ini kan bandit, jangan-jangan gayaku barusan malah terlihat sok keren?”
Zhou Anke tampak ramah dan bercanda, "Sama-sama. Setelah dapat bonus sebesar itu, kapan kau mau mentraktir seluruh tim keuangan makan bersama?"
Su Rui tergelak, "Bagian keuangan dipenuhi gadis cantik, bisa makan bersama kalian saja aku sudah senang bukan main."
Su Rui tahu sebaiknya ia tidak berlama-lama di kantor Zhou Anke. Meski ingin berbincang lebih banyak dengan gadis yang seperti keluar dari lukisan tinta itu, ia takut justru membuat kesan buruk. Perempuan seperti ini berbeda dengan Lin Aoxue yang dingin, jika sudah meninggalkan kesan jelek, memperbaikinya nanti akan sulit.
Saat Su Rui hendak pamit, matanya terpaku pada sebuah kaligrafi di dinding bertuliskan “Ketenangan Membawa Jauh”, bertanda tangan “Tahun Wu Yin – Zhou Anke”.
Ternyata ini karya baru tahun ini, dan ditulis sendiri oleh Zhou Anke.
Benar-benar gadis dari kampung air selatan, empat kata itu sepenuhnya menggambarkan suasana hatinya, sangat serasi dengan aura tenangnya.
Su Rui tampak terkejut, "Ann, kamu juga bisa menulis kaligrafi?"
Zhou Anke tersenyum, "Dulu waktu kecil sempat belajar beberapa tahun, menurutmu bagaimana?"
Sebenarnya, ini karya yang paling disukainya, makanya ia pajang di dinding. Biasanya orang yang melihat hanya sekadar memuji, Zhou Anke pun tidak berharap Su Rui akan mengomentari lebih jauh, hanya basa-basi saja.
Tapi di luar dugaan, Su Rui benar-benar berdiri sambil menyilangkan tangan, tampak serius mengamati.
Zhou Anke sempat curiga, jangan-jangan Su Rui hanya pura-pura. Namun melihat ekspresi seriusnya, ia pun membantah prasangkanya sendiri.
Sejak bekerja di Ninghai, Zhou Anke tak pernah menemui teman sebaya yang mengerti seni kaligrafi. Melihat Su Rui diam selama satu menit, hatinya mulai diam-diam menaruh harapan.
"Terus terang, aku sendiri tidak bisa menulis kaligrafi," kata Su Rui, membuat Zhou Anke sedikit kecewa.
"Memang sekarang sudah jarang ada yang mempelajari kaligrafi," suara Zhou Anke jadi lebih tenang, harapannya pupus.
"Tapi, aku bisa menangkap suasana hatimu dari tulisan itu," lanjut Su Rui dengan senyum tipis. "Ketenangan Membawa Jauh, itu adalah rasa damai, tenteram. Tenang itu bukan hambar, apalagi membosankan, melainkan kedalaman yang menenangkan jiwa."
Tangan Zhou Anke bergetar halus. Ia bukan tipe yang haus pujian. Setiap orang yang melihat karyanya hanya bisa memuji, tapi tidak tahu di mana letak istimewanya. Su Rui justru mengambil sudut pandang berbeda, dan itu adalah apa yang ia cari selama ini.
Di dunia ini, sahabat sejati sulit ditemukan, dan kedamaian hati adalah ketenangan abadi.
"Aku rasa, idiom 'tenang laksana dara' itu tepat untuk menggambarkan dirimu," ucap Su Rui pelan. Dalam suasana seperti ini, pujian itu terdengar alami, tidak dibuat-buat apalagi menjijikkan, malah terasa sangat nyaman.
"Belum pernah aku merasa sebuah idiom begitu cocok untuk seseorang. Kau yang pertama."
Memang benar, sekarang ini para gadis makin mudah gelisah dan mengejar kemewahan. Sosok seperti Zhou Anke, bagai wanita dari lukisan tinta, sudah sangat langka.
Zhou Anke tersipu, "Su Rui, pujianmu kelewat tinggi."
"Baiklah, aku tidak memujimu lagi. Tadi aku belum selesai bicara soal kaligrafi ini," kata Su Rui sambil tersenyum.
"Oh? Kau masih punya pendapat lain tentang karya ini?" Zhou Anke semakin tertarik. Ia merasa Su Rui makin menarik, membawa suasana baru yang berbeda.
Melihat Su Rui serius mengamati kaligrafi, Zhou Anke benar-benar sulit mengaitkannya dengan citra pacar bos yang katanya sombong dan keras kepala itu.
"Benar, soal gaya tulisannya," ujar Su Rui sambil tersenyum. "Tulisan ini memakai gaya semi-kai yang sederhana. Walau sederhana, justru di situlah terlihat keahlian dan teknik."
Zhou Anke mendengarkan dengan saksama.
"Mungkin karena pembawaanmu, tulisan ini terasa agak lembut. Jika beberapa goresan sedikit diperkuat, hasilnya pasti berbeda."
"Begitu? Menurutmu, apa bagian yang harus diubah?"
Zhou Anke terlihat tercengang. Jika tadi perkataan Su Rui masih terasa sedikit pamer, sekarang ia benar-benar menyinggung inti persoalan!
"Coba bayangkan, jika garis vertikal pada kata 'tenang' dibuat sedikit melengkung, dan bagian 'jauh' dibuat lebih tegas, bukankah seluruh karya ini akan terasa beda auranya?"
Alis indah Zhou Anke berkerut halus, ia merenung mengikuti saran Su Rui. Perlahan kerutan di dahinya menghilang, dan matanya pun semakin berkilau.
"Benar kan? Kesan lembutnya jadi berkurang, malah muncul sedikit pesona bebas?" tanya Su Rui, dalam hati ia memuji dirinya sendiri.
Rui, kau memang hebat!
"Benar! Ternyata memang begitu!" seru Zhou Anke dengan antusias. Ia tak pernah menyangka, hanya dengan mengubah dua goresan saja, seluruh aura tulisan bisa berubah drastis!
Jika sebelumnya kaligrafi itu tampak lembut dan mengundang simpati, kini menjadi begitu gagah dan berwibawa!
"Kamu benar-benar hebat," kata Zhou Anke tulus.
Dipujian oleh wanita secantik itu, Su Rui jadi sedikit besar kepala. Ia berkedip nakal, "Sebenarnya, kehebatanku yang sesungguhnya baru akan terlihat nanti."