Bab 083: Bunga Hijau di Barak Dulu
Waktu berlalu laksana aliran air, namun hidup belum tentu seindah lagu. Masa muda yang pernah membara dengan semangat, tahun-tahun yang pernah menyala oleh darah yang panas, semuanya perlahan-lahan ditutupi debu oleh waktu yang terus berjalan. Wajah-wajah muda dan cerah itu, sorot mata yang memikat dan penuh semangat, sebagian besar akan pudar seiring berlalunya hari, hanya segelintir yang mampu tetap memancarkan pesona seperti dahulu.
Su Rui menyimpan kesan mendalam terhadap Ke Ning. Memang benar, di tengah barak militer yang penuh dengan pria-pria kekar dan kasar, kehadiran seorang gadis cantik seperti Ke Ning sungguh menghebohkan. Tubuhnya semampai, senyumnya cerah, keahlian militernya pun mumpuni. Gadis semacam ini di kesatuan ibarat harta karun, semua pria berlomba mengambil hati, namun seingat Su Rui, tampaknya hanya dia yang benar-benar mendapat perhatian dari Ke Ning.
Selama tiga bulan itu, andai Su Rui menginginkan, hubungan mereka sangat mungkin berkembang melampaui sekadar persahabatan. Namun Su Rui menyadari siapa dirinya, dan status itu tak mengizinkannya terlibat perasaan. Meski pemandangan indah terhampar, ia memilih diam dan melangkah sendiri, tanpa gentar dan tanpa takut.
Jika Qin Ranyang tak mengungkit, mungkin suatu hari nanti Su Rui akan mengingat gadis itu, mungkin hanya sekadar termenung sejenak. Kenangan masa lalu perlahan menghilang seperti asap, Su Rui dan Qin Ranyang kembali bersulang, meneguk habis isi gelas mereka.
“Dia tidak hidup dengan baik?” tanya Su Rui.
“Sepertinya memang tidak baik,” jawab Qin Ranyang dengan nada ragu dan sedih.
“Maksudmu?”
“Ke Ning cantik, tubuhnya bagus, sudah diakui sebagai bunga militer di wilayah kita.” Qin Ranyang meneguk minumannya, lalu berkata, “Karena cantik, mudah menjadi incaran. Ke Ning pun begitu, dia dilirik oleh salah satu pemuda terpandang di ibu kota. Aku memang tak tahu pasti siapa dia, tapi bisa kupastikan, statusnya jauh di atasku.”
“Di atasmu?” Su Rui terkejut mendengarnya. Selama ini ia menganggap Qin Ranyang sudah termasuk sosok kuat di antara para pemuda kaya ibu kota. Jika ada yang lebih tinggi dari Qin Ranyang, tentu statusnya benar-benar luar biasa.
“Aku bukan apa-apa, bahkan tidak bisa masuk ke dalam lingkaran empat pemuda top ibu kota, masih jauh levelku,” kata Qin Ranyang. “Aku tidak tahu pasti siapa orang itu, tapi pengaruhnya sangat besar.”
“Seperti apa?” Su Rui mengangkat alis, sejak dulu ia sangat membenci orang-orang yang suka menindas demi kekuasaan.
“Orang misterius itu entah sejak kapan menaruh perhatian pada Ke Ning, lalu memaksa orang untuk mendekatinya dan menekan agar dia bersedia jadi kekasih. Tapi kau tahu sendiri sifat Ke Ning, dia sama sekali tidak sudi. Satu, dua, tiga kali ditolak, akhirnya membuat orang itu benar-benar marah.”
“Sebenarnya Ke Ning bisa saja diangkat jadi mayor, tapi hanya dengan satu kalimat dari orang itu, dia langsung dipindahkan ke daftar pensiun dini. Cepat dan tegas, tanpa penundaan sedikit pun. Aku sendiri pun tak sanggup melakukan hal seperti itu,” kata Qin Ranyang sambil tersenyum pahit. “Bahkan kalau aku ingin bertindak semaunya, para sesepuh keluarga pun pasti menolak.”
“Lalu apa yang terjadi setelahnya?”
“Ke Ning kembali ke kampung halamannya di Yizhou, tapi hidupnya tetap tak mudah. Tangan orang itu terlalu panjang, seluruh pemerintah Yizhou tak ada satu pun yang berani menanggung risiko dengan membantunya mendapatkan pekerjaan. Padahal sebagai kapten, masa depannya di militer begitu cerah. Tapi sekarang, bahkan untuk jadi pegawai biasa pun ia tak mendapat kesempatan!”
Su Rui merasa dadanya terbakar amarah, ia meletakkan cangkirnya dengan keras di atas meja. “Sungguh keterlaluan!”
“Bukan hanya itu, setelah gagal mendapat pekerjaan melalui jalur militer, Ke Ning pun mencoba mencari pekerjaan sendiri. Tapi setiap kali ia diterima di sebuah perusahaan, perusahaan itu langsung diacak-acak oleh preman. Akhirnya, seluruh Yizhou tak ada lagi yang berani mempekerjakan Ke Ning. Itu semua cara orang itu untuk memaksa Ke Ning menyerah dan tunduk.”
“Sialan!” Su Rui benar-benar murka. Orang yang suka menindas perempuan seperti itu pantas menerima hukuman berat!
“Memang pantas celaka! Ke Ning akhirnya tak tahan lagi tinggal di Yizhou, lalu menghilang entah ke mana. Negeri ini terlalu luas, aku pun belum mendapat kabarnya,” ucap Qin Ranyang getir. “Sayangnya, aku bahkan tidak tahu siapa dalang di balik semua ini.”
Su Rui menghela napas panjang. Bagaimanapun, Ke Ning adalah temannya. Mengalami musibah seperti ini, ia tak mungkin tidak merasa iba dan marah. Seharusnya Ke Ning bisa menikmati masa muda yang indah, memiliki masa depan cerah, namun karena kecantikannya, ia justru dijatuhkan oleh tangan-tangan gelap, dan semua harapannya terputus begitu saja.
“Aku tidak tahu apakah orang itu sudah menyerah pada Ke Ning. Kalau belum, berarti Ke Ning masih dalam bahaya,” Qin Ranyang kembali berucap pelan.
“Mudah-mudahan dia sudah menyerah.” Su Rui meneguk bir, lalu berkata, “Begini saja, soal mencari Ke Ning serahkan padaku. Kalau ada kabar, kita berangkat bersama.”
“Baik.”
Qin Ranyang berkata, “Kakak, setelah urusan kerja sama dengan Bikang di sini selesai, aku akan segera kembali ke ibu kota. Masih banyak urusan yang harus kutangani. Minggu depan aku ke Ninghai untuk menghadiri pertemuan tahunan asosiasi industri. Saat itu kita minum lagi.”
Keduanya makan dan mengobrol, tanpa terasa sudah lewat tengah malam, satu kotak besar bir pun habis tandas. Keadaan Su Rui masih baik, hanya wajahnya agak merah dan perutnya kekenyangan, sedangkan Qin Ranyang sudah mulai mabuk, bicara pun cadel, terus saja menggenggam tangan Su Rui sambil berceloteh tanpa henti.
Mungkin selama bertahun-tahun ini, belum pernah ada yang melihat Tuan Muda Qin dalam kondisi seperti itu!
Di kedai barbeque, lalu lalang mahasiswa masih ramai. Terlihat betapa meriahnya kehidupan malam mahasiswa di kota besar—makan, minum, pulang ke asrama lalu bermain gim bersama, sungguh menyenangkan.
Pada saat itulah, tiba-tiba terjadi keributan di salah satu meja!
Beberapa mahasiswa pria bertubuh besar datang, mengelilingi tiga mahasiswi yang duduk di meja itu.
Keempat pria itu jelas sudah mabuk, wajah mereka merah padam dan tingkah laku mereka kasar! Mereka menarik-narik para gadis!
“Zhang Zhenyang, cukup! Kita sudah putus!” Seorang gadis kecil mungil ditarik pergelangan tangannya sampai menangis kesakitan!
“Itu kan keinginanmu, aku sudah setuju belum? Sudah setuju belum?” Zhang Zhenyang berteriak marah, sangat emosional.
“Zhang Zhenyang, sadar dong! Kalau bukan karena kamu ketahuan menginap dengan cewek lain, kamu pasti tidak akan mengaku. Sudah salah, masih juga menyalahkan Xiaoling, sekarang masih punya muka datang ke sini!” Seorang mahasiswi lain menegur dengan geram.
“Ngapain kau ikut campur, urusan apa sama kamu? Aku cinta dia, kau tahu tidak?” Zhang Zhenyang terus mengamuk.
Gadis itu mencibir, “Kalau kau cinta dia, kenapa perlakukan dia seperti ini? Lihat tuh, Xiaoling sampai menangis kesakitan!”
“Biar saja, salah sendiri dia mutusin aku! Aku hanya mau putusin orang, tidak mau diputusin!” Zhang Zhenyang membentak sambil menghembuskan bau alkohol ke mana-mana.
“Kau bilang cinta padaku, beginikah caramu mencintaiku?” Xiaoling tak bisa menahan rasa takutnya. Ia benar-benar ketakutan melihat wajah mantan pacarnya yang beringas.
“Benar! Zhang Zhenyang, lepaskan Xiaoling!” Teman gadis itu berusaha menarik tangan Zhang Zhenyang.
“Bukan urusanmu, pergi sana!”
Zhang Zhenyang yang bertubuh kekar menampar gadis yang mencoba melerai itu sampai jatuh ke lantai! Pipi gadis itu langsung membengkak!
Qin Ranyang dan Su Rui yang baru saja membicarakan Ke Ning sudah cukup marah, kini melihat Zhang Zhenyang berani-beraninya menyakiti perempuan, benar-benar membuat mereka naik pitam!
“Bajingan!”
Qin Ranyang menepuk meja, berdiri sambil membentak, “Lepaskan gadis itu sekarang juga!”
Zhang Zhenyang tertegun, lalu berteriak, “Kau siapa berani-beraninya ikut campur? Aku lagi menertibkan pacarku, urusan apa sama kamu! Kawan-kawan, hajar dia!”
Keempat pria itu, yang sudah mabuk, langsung maju menyerang!
Sifat pemberani Qin Ranyang langsung bangkit, apalagi dia memang sedang kesal, tanpa pikir panjang, ia langsung membalikkan meja!
“Kakak, bagaimana kalau malam ini kita berkelahi?” Qin Ranyang menarik keras kerah bajunya sampai dua kancing terlepas.
“Setuju,” angguk Su Rui. Zhang Zhenyang ini memang sangat menyebalkan!
“Kakak, kau tak perlu turun tangan, aku sendiri saja cukup menghadapi mereka semua!”
Selesai berkata, Qin Ranyang langsung mengangkat bangku dan mengayunkannya ke bawah! Serangan itu sangat keras, pria yang paling depan langsung tersungkur ke lantai, darah mengucur deras dari kepalanya, lebih dramatis dari film!
Menghadapi para pemuda yang belum dewasa tapi gemar berkelahi seperti ini, Tuan Muda Qin benar-benar tidak menahan diri. Satu tendangan keras, pria kedua pun terlempar beberapa meter dan menghantam dinding!
Kedua pria ini benar-benar sedang butuh pelampiasan, para mahasiswa itu benar-benar apes bertemu mereka!
Melihat situasi memburuk, Zhang Zhenyang dan satu temannya hendak melarikan diri.
“Mau lari? Mau mati rupanya! Tiarap di sana!”
Qin Ranyang mengambil kursi, melemparkannya ke punggung Zhang Zhenyang!
Terdengar suara keras!
Entah kursinya yang patah, atau tulang punggungnya yang retak!
Pria yang tadi begitu arogan kini terkapar di lantai, tak bergerak sedikit pun!
“Ja... jangan pukul aku, jangan!” Satu-satunya pria yang belum terluka berjongkok gemetar, benar-benar ketakutan melihat cara Su Rui dan Qin Ranyang bertindak. Ia tak ingin bernasib sama seperti teman-temannya!
Untuk urusan remeh seperti ini, Su Rui tak perlu repot turun tangan, Qin Ranyang sendiri sudah cukup.
“Kau minta aku jangan memukulmu? Menurutmu mungkin?” Qin Ranyang mencibir, “Kalau aku yang memohon padamu seperti ini, kau pasti akan menertawakanku dan menghajarku, bukan?”
“Tidak... bu... bukan begitu...”
Belum sempat selesai, Qin Ranyang sudah mengangkat bangku dan menghantamkan ke punggung pria itu!
Bug!
Pria itu pun langsung ambruk ke lantai, matanya terbalik, pingsan seketika!
Qin Ranyang melemparkan bangku, lalu menyeringai, “Hehe, ternyata memukul orang pakai bangku itu asyik juga.”
Para gadis itu benar-benar ketakutan, mereka belum pernah melihat perkelahian seganas itu. Meskipun Su Rui dan Qin Ranyang membela mereka, para gadis itu masih shock dan belum berani mengucap terima kasih.
“Asyik apanya.” Su Rui melirik mobil polisi yang terparkir tak jauh, lalu berkata agak kesal, “Sepertinya lain kali sebelum berkelahi harus lihat-lihat dulu, soalnya polisi sedang makan malam di sini.”