Bab 060 Matahari dan Dirimu Hadir Bersama
“Aku serius, di sini tak ada yang mengenalmu, jadi kau juga tak perlu selalu menjaga sikap. Mungkin itu sudah menjadi naluri tubuhmu, tapi sesekali membiarkan diri bebas, apa salahnya? Kau lupa apa yang pernah kukatakan padamu? Kosongkan pikiranmu, kosongkan dirimu. Sepertinya kau masih belum benar-benar memahaminya.”
Su Rui bicara panjang lebar, layaknya seorang pengkhotbah, namun Lin Aoxue tak membantah sedikit pun. Padahal, wanita cantik berwajah sedingin es ini bahkan tak pernah peduli pada nasihat ayahnya sekalipun!
“Aoxue, kalau perkataanku barusan tidak bisa menyentuh hatimu, silakan saja berdiri di situ dan lihat aku berjemur. Biasanya aku tidur siang sangat lama, lho!” ujar Su Rui, lalu ia langsung memejamkan mata, menyilangkan kaki, tampak begitu santai.
Lin Aoxue berdiri di sampingnya selama dua menit. Melihat betapa nyamannya Su Rui, ia diam-diam merasa sedikit iri, meski itu tak terlihat dari raut wajahnya. Setelah ragu sejenak, ia pun melangkah mendekat, merapikan pakaian, lalu duduk di samping Su Rui dengan anggun, kaki rapat dan sikap elegan.
Begitu Lin Aoxue duduk, Su Rui yang tadinya pura-pura tidur diam-diam mengintip. Ia jelas-jelas melihat lekuk tubuh Lin Aoxue yang dibalut gaun, membentuk garis pinggul yang menawan. Wanita ini benar-benar tiada tanding, pikir Su Rui, jika bisa membimbingnya mulai sekarang, kelak pasti akan ada banyak keseruan.
Sepertinya, Su Rui harus segera membuat rencana pelatihan secara detail!
Su Rui pun bertumpu pada rumput dengan kedua sikunya, setengah duduk, membiarkan cahaya matahari yang tersaring dedaunan jatuh di wajahnya yang tersenyum.
“Berbaring saja, duduk seperti itu sebentar tak apa, tapi kalau lama pasti tidak nyaman. Aku bisa lihat, lehermu juga sepertinya tidak terlalu sehat.”
Lin Aoxue menatap Su Rui dengan kaget, agak terkejut mendengarnya. Memang, bertahun-tahun bekerja membungkuk di meja membuat lehernya menanggung beban besar. Penyakit leher pun makin parah, kadang-kadang lehernya sakit hingga aliran darah ke otak terganggu dan kepala sering terasa pusing.
Lin Aoxue mengangguk pelan, lalu menirukan gaya Su Rui, berbaring sambil meletakkan kedua tangan di bawah kepala.
Dari sudut pandangnya, Su Rui dengan jelas melihat lekuk dada Lin Aoxue yang menonjol tidak menjadi kendor walau ia berbaring, menandakan elastisitas yang luar biasa.
Di momen yang penuh makna seperti ini, Su Rui merasa seharusnya ia tidak memikirkan hal-hal yang bisa merusak suasana. Namun pesona Lin Aoxue memang luar biasa, ia benar-benar tak bisa menahan diri.
“Sungguh luar biasa indahnya,” gumam Su Rui tanpa sadar.
“Apa yang kau bilang?” tanya Lin Aoxue, ternyata ia mendengar ucapan Su Rui barusan.
“Tak ada apa-apa, lebih baik kau pejamkan matamu dan tidur. Di sini hangat, tak perlu khawatir masuk angin. Tenang saja, selama aku di sini, tak ada seorang pun yang bisa mendekatimu, tak akan ada yang berani mengganggumu.”
Dalam hati Su Rui bersorak senang, “Bisa puas-puasin cuci mata nih!”
Mendengar ucapan Su Rui, Lin Aoxue tentu saja tidak curiga. Ia sudah pernah merasakan sendiri kemampuan bertarung Su Rui. Ia teringat kembali kejadian di bandara, ketika ia menendang pria itu dengan lututnya, kenapa dia tidak membalas waktu itu ya?
Lin Aoxue memejamkan mata. Ia merasakan hangatnya matahari menembus seluruh tubuh, kelopak matanya dipenuhi cahaya jingga yang temaram, dan seluruh tubuhnya menjadi hangat.
Lin Aoxue belum pernah mengalami perasaan seperti ini. Tanpa sadar, senyum tipis pun muncul di wajahnya. Dalam pandangan Su Rui, senyum itu begitu indah hingga membuat jantungnya bergetar.
Setidaknya, Su Rui yang sedang memandangi dari samping merasa napasnya jadi lebih berat.
Satu tangan Lin Aoxue menjadi bantal, sedangkan tangan satunya menutupi mata dari sinar matahari yang menyilaukan, agar bisa lebih mudah terlelap.
Saat itu, ia merasakan tangannya ditarik pelan, lalu sebuah benda menutupi matanya, menghalangi cahaya jingga yang menembus kelopak matanya.
Su Rui memetik sehelai daun magnolia besar dan menutupkan dengan lembut ke mata Lin Aoxue.
Lin Aoxue tidak membuka matanya, ia seolah tahu apa yang dilakukan Su Rui padanya.
Siang yang tenang, hamparan rumput, teduhnya naungan pohon, dan sehelai daun ini akan menjadi kenangan abadi dalam hati Lin Aoxue.
Biasanya tidur Lin Aoxue tidak pernah nyenyak, namun kali ini ia justru tidur dengan sangat lelap, lebih dari dua jam lamanya. Saat ia terbangun dengan mata setengah terpejam, ia melihat Su Rui duduk di sampingnya, tersenyum.
Bangun di bawah sinar matahari yang hangat, lalu melihat seseorang tersenyum padamu—rasanya sungguh luar biasa.
Lin Aoxue bukan tipe wanita yang sentimental, ia pun tidak berusaha mencari tahu dari mana munculnya perasaan aneh ini, atau kata apa yang paling tepat untuk menggambarkannya. Ia hanya tahu, melihat Su Rui tersenyum membuat hatinya menjadi sangat baik.
Setelah terdiam sejenak, Su Rui bertanya, “Kita pulang naik taksi atau naik bus?”
Su Rui mengira setelah pengalaman naik bus dua jam kemarin, Lin Aoxue pasti kapok. Tapi tak disangka, Lin Aoxue justru mengangguk dan berkata, “Naik bus saja.”
Su Rui sedikit terkejut. Sepertinya gadis ini telah mengalami perubahan yang menggembirakan!
Mereka pun bangkit, Lin Aoxue merapikan pakaiannya, hendak pergi, dan melihat sehelai daun magnolia yang tergeletak di kakinya.
Ia memandangi rumput dan naungan pohon itu sekali lagi, memperhatikan kilauan cahaya matahari, lalu berjongkok, memungut daun itu, dan dengan hati-hati memasukkannya ke dalam tas.
Karena belum masuk jam pulang kerja, suasana di bus tidak seramai pagi tadi. Setelah naik, mereka menemukan dua kursi kosong yang bersebelahan.
Su Rui memberi isyarat, lalu Lin Aoxue duduk di dekat jendela, dan Su Rui duduk di sampingnya. Tangan mereka saling bersentuhan sebentar, lalu langsung menjauh.
Su Rui bersenandung pelan, dalam hati merasa puas. Tak bisa dipungkiri, kursi bus yang sempit memang tempat terbaik untuk menciptakan suasana romantis.
Lin Aoxue memandangi pemandangan yang berlalu di luar jendela, sepanjang jalan tak berkata apa-apa. Sementara Su Rui menikmati suasana, mengamati para penumpang yang naik turun, merasa sangat nyaman.
Hidup memang selalu terasa tergesa-gesa. Jarang sekali ada waktu untuk benar-benar menikmati saat-saat santai seperti ini.
Jika hidup hanya berisi tujuan dan ambisi diri, berjalan terlalu cepat, akan banyak pemandangan indah yang terlewatkan. Tanpa perlu Su Rui mengatakannya, Lin Aoxue sendiri sudah merasakannya. Dari tatapannya yang menerawang ke luar jendela, Su Rui bisa memahaminya.
Setelah turun dari bus, mereka berjalan berdampingan kembali ke rumah keluarga Lin. Ketika para satpam di luar melihat nona besar Lin kembali dengan berjalan kaki, mereka pun tertegun.
Biasanya, nona mereka selalu dijemput dan diantar dengan mobil, mustahil ia berjalan kaki sendiri. Hari ini ada apa?
“Baiklah, kau sudah sampai rumah dengan selamat, aku juga harus pulang. Aku tak akan memaksa ikut makan malam di rumahmu,” ujar Su Rui dengan nada jenaka, “Tapi kalau kau memaksa aku tinggal, aku sih tidak akan menolak.”
Lin Aoxue menatap Su Rui, raut wajahnya sedikit lebih lembut, meski perubahan itu hampir tak terlihat. “Baiklah, aku tidak akan menahanmu. Pulanglah sendiri,” ucapnya, lalu berbalik dan langsung melangkah menuju vila.
“Dasar Lin Aoxue!”
Su Rui melompat-lompat kesal di tempat. Gadis ini benar-benar keterlaluan, ia sudah menemaninya seharian, setidaknya patut dapat ucapan terima kasih, bukan? Sudah begitu lama memberi nasihat, tapi satu kalimat terima kasih pun tak ada. Ia hanya bercanda saja, eh, benar-benar tak ditahan makan malam. Segitu dinginnya kah?
Walau merasa sebal, Su Rui tetap tak punya muka untuk memaksa masuk ke vila dan ikut makan malam. Melihat perubahan Lin Aoxue hari ini saja sudah membuatnya sangat puas.
“Ibu, aku pulang,” ucap Lin Aoxue begitu masuk ke dalam vila dan melihat ibunya sedang menonton televisi. Ia pun, untuk pertama kalinya, membuka suara lebih dulu.
Ibunya sampai terheran-heran mendengarnya. Selama ini anak perempuannya itu selalu dingin, di kantor jarang bicara, di rumah pun langsung mengunci diri di kamar, benar-benar seperti tempurung tertutup. Hari ini, ada apa, sampai-sampai pulang langsung melapor?
Sementara itu, Su Rui yang sedang gabut memutuskan untuk berjalan-jalan, lalu melihat ada sebuah toko IKEA di dekat situ dan langsung masuk.
Su Rui memang suka dengan show unit di IKEA. Meski tak luas dan perabotnya sederhana, suasananya terasa hangat dan nyaman. Ia memang tak menuntut banyak soal tempat tinggal, tapi rasanya manusia tetap butuh sedikit cita rasa hidup, bukan?
Selain itu, Su Rui juga sangat suka bakso Swedia di restoran IKEA. Setiap ke sana pasti ia makan sepiring besar, murah dan rasanya otentik. Begitulah nasib para pecinta makanan, ke mana pun pergi pasti urusan perut dulu yang dipikirkan.
Orang yang tak pernah menyewa atau membeli rumah di kota besar sulit memahami nikmatnya jalan-jalan di IKEA. Su Rui menikmati setiap show unit, kadang duduk di sofa, kadang meraba kasur, sungguh nyaman. Kalau bisa, ia ingin saja duduk main ponsel di sana seharian, tanpa ada yang mengganggu, tenang dan damai.
“Tempat ini benar-benar bagus,” gumamnya. Ia membatin, lain kali harus mengajak Lin Aoxue ke sini, biar ia merasakan hidup di hunian kecil ala kota besar.
“Keluarga Lin bisa punya tanah luas di kota semahal ini, benar-benar sultan. Tidak bisa dibiarkan, aku harus buat gadis kelas borjuis ini merasakan hidup ala rakyat biasa!”
Su Rui pun menuju restoran IKEA, memesan sepotong kue keju, sepiring bakso Swedia, dan segelas jus cranberry. Ia memilih duduk dekat jendela, menikmati pemandangan sambil makan pelan-pelan.
Biasanya Su Rui makan sangat cepat, seperti angin badai, jarang sekali ia menikmati makanan dengan perlahan seperti ini.
Semua makanannya tak sampai empat puluh ribu, setara harga makanan cepat saji. Banyak orang memang sengaja ke IKEA hanya untuk makan di restorannya.
Namun, saat Su Rui hendak menyuapkan bakso ke mulut, tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
ps: Ketika terbangun, sinar matahari dan kau ada di sisiku—itulah masa depan yang kuinginkan.
Setelah sibuk seharian, pulang-pulang ternyata perolehan tiket bulanan sudah disalip, persaingan makin sengit karena besok sudah akhir bulan. Pembaruan malam tetap akan diunggah sekitar jam sembilan.