Bab Tiga Puluh Tujuh: Membuka Hati
Keluarganya tidak memahami, mengira ia hanya berpura-pura, menuduhnya malas sekolah dan enggan belajar. Ia memikul tekanan itu sendirian, dan sejak saat itu, ia tak lagi mau menceritakan kenyataan pada siapa pun. Para guru hanya bisa melihat lembar ujiannya yang selalu kosong, juga tangan yang kerap bergetar, berusaha menebak apa yang terjadi padanya. Teman-teman sekelasnya pun tak tahu apa-apa. Ia memang penurut dan lemah, tapi paham dunia ini keras, dan sadar jika semua terbongkar, ia bisa dianggap aneh.
Perlakuan dingin yang ia terima saja sudah cukup berat, apalagi jika semuanya terungkap... Perasaan rapuh yang rumit, penderitaan yang perlahan-lahan merayap, pukulan demi pukulan yang ia terima, semuanya diceritakan Mu Qiannian dengan rinci kepada pria itu. Itu adalah kali pertama, dan satu-satunya, ia mengungkapkan seluruh isi hatinya pada seorang pria.
Ia sendiri tak tahu mengapa. Andai orang di hadapannya bukan Gu Liangchuan, mungkin ia akan menganggap dirinya sudah gila.
Gu Liangchuan mengernyit dalam-dalam. Suara lembut gadis itu terdengar menenangkan, senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah ia sedang menceritakan kisah orang lain. Sulit dipercaya, penderitaan yang begitu menyesakkan dan penuh pergolakan itu benar-benar ia tanggung sendiri. Mungkin, hanya beberapa jam lalu, gadis di hadapannya ini masih berjuang menahan luka.
Mu Qiannian bercerita dengan datar. Beberapa hal sudah terlalu lama berlalu baginya, hanya saat membicarakan minggu terakhir ia masih bisa merasakan getirnya. Ulangan yang menegangkan, rumus-rumus penting, buku pelajaran yang nyaris ia lupakan, jadwal belajar yang padat—semua itu sebenarnya bukan masalah, yang jauh lebih berat adalah tekanan mental yang luar biasa, seolah ada tali yang siap menjerat leher kapan saja, dan rasa tak berdaya bahwa sebesar apa pun ia berjuang, tak akan ada yang berubah.
Mu Qiannian tersenyum getir. "Kadang aku berharap benar-benar murid bodoh saja, jadi tidak akan terasa perbedaan yang menyakitkan ini."
Gu Liangchuan kembali mengernyit, bukan karena alasan lain, tapi karena Gu Ning pun pernah berkata hal yang sama.
Ia masih ingat, saat Gu Ning pertama kali datang ke rumahnya, ia menegur Gu Ning karena nilainya yang buruk. Gu Ning diam saja, menahan diri. Ia pun bersikeras, sampai akhirnya Gu Ning membanting sebuah buku latihan di depannya—isinya soal-soal jauh lebih sulit dari ujian biasa, penuh dengan tulisan tangan Gu Ning sendiri.
Waktu itu Gu Ning marah sekali, berteriak, "Kau kira aku tak mau belajar? Aku juga ingin, bahkan aku lebih suka kalau benar-benar bodoh, jadi bisa menerima makian kalian dengan tenang!"
Itu kali pertama ia melihat Gu Ning marah sebesar itu, dan pertama kalinya pula ia tahu soal hambatan psikologis Gu Ning.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini."
Entah kenapa, Gu Liangchuan mengucapkan kata-kata itu. Dulu pun, setelah Gu Ning mengamuk, mata jernihnya penuh keputusasaan—sesuatu yang tak pernah sang paman sanggup lihat. Saat itu, ia pun menepuk bahu Gu Ning dan mengucapkan kalimat yang sama.
Secara bawah sadar, Gu Liangchuan bahkan merasa Mu Qiannian seperti versi perempuan dari Gu Ning—sama keras kepala, sama pantang menyerah, dan sama-sama rapuh.
Mu Qiannian menghapus air mata di matanya yang memerah, hatinya dipenuhi haru dan ketidakpercayaan melihat Gu Liangchuan yang hidup di hadapannya, orang yang barusan menepuk tangannya dengan lembut.
Tanpa sadar, ia teringat kehidupan sebelumnya. Betapa bodohnya dirinya dulu, pikir Mu Qiannian. Dulu pun, jika ia membagi beban hatinya dengan Gu Liangchuan, ia pasti akan mendapatkan ketenangan yang sama—lelaki itu akan menepuk tangannya, menghibur dengan lembut, dan semua rasa sakit akan terasa lebih ringan.
Sayangnya, dulu ia tak pernah menghargai Gu Liangchuan yang baik, malah mengharapkan Gu Zhitian yang selalu menolaknya.
Mu Qiannian tersenyum kecil. Benar-benar penyesalan yang dalam.
Setelah semua rahasia hati itu terungkap, suasana menjadi lebih ringan. Gu Liangchuan, dalam banyak hal, seperti kakak yang siap menerima segala kekurangan Mu Qiannian.
Gu Liangchuan pun terkejut, gadis yang baru berusia delapan belas tahun ini menilai sesuatu begitu tajam dan jelas.
Kalau awal pertemuan mereka karena Gu Ning, maka pembicaraan setelahnya sepenuhnya untuk dirinya sendiri. Gadis sederhana di hadapannya ini seolah menyimpan banyak hal yang ia sendiri tak mampu mengerti.
Bahkan, gadis ini mampu membuatnya berbicara tanpa tujuan tertentu, suasana percakapan pun semakin akrab—pengalaman baru bagi mereka berdua.
Mereka berbincang panjang, tentang masa lalu, kini, hingga masa depan yang rasanya sulit dijangkau. Gu Liangchuan tak menyebut soal perusahaan, Mu Qiannian pun tak menyinggung keluarganya. Semua topik ringan dan menyenangkan.
Selesai makan, hubungan keduanya tampak lebih dekat. Mu Qiannian pergi dengan hati lega, Gu Liangchuan juga merasa lebih tenang.
Namun, selama itu Gu Ning sudah lama pergi. Zhang Yun tak sanggup menahannya, hanya bisa menunggu di luar ruang makan untuk meminta maaf. Untungnya, hari ini tuan mudanya sedang dalam suasana hati yang baik, sehingga Zhang Yun pun selamat.
Hari itu, sepulangnya, Mu Qiannian meninggalkan tumpukan soal dan buku yang selama ini selalu ia perjuangkan. Ia mengambil ponselnya, melihat foto Gu Liangchuan yang diam-diam ia ambil, dan menatapnya berulang kali...
Ujian yang menegangkan pun tiba seperti yang dijadwalkan. Di kelas tiga SMA, suasana ujian terasa seperti medan perang. Nilai menentukan segalanya, pengaturan tempat duduk pun sangat ketat, setiap kursi dan nomor ujian ditata dengan cermat, menunjukkan betapa seriusnya pihak sekolah.
Hanya ada dua orang yang punya perasaan rumit terhadap ujian kali ini. Mu Qiannian sadar akan hambatan psikologisnya sendiri. Ia sudah berjuang selama seminggu, bolak-balik, namun hasilnya nihil. Kini ujian benar-benar tiba, ia tak tahu harus bersikap seperti apa.
Sementara itu, Gu Ning dihantui kebingungan. Semalam pamannya tiba-tiba mengajaknya bicara, membahas banyak hal, termasuk ujian dan hambatan mentalnya, menganalisis semua dengan serius, sampai ia pun sulit tidur.
Gu Ning menertawakan diri sendiri—apa gunanya bicara sebanyak itu? Setiap ujian, hasilnya tetap sama. Sudah lama ia tak bisa ujian dengan baik. Soal alasan, bahkan semalam Gu Liangchuan sempat menanyakan, tapi sudah terlalu lama berlalu hingga ia sendiri lupa.
Di balik itu, yang membuatnya lebih heran adalah mengapa Gu Liangchuan menyinggung hal itu—jangan-jangan ada hubungannya dengan teman sebangkunya yang payah itu?
Gu Ning melirik diam-diam, gadis itu masih saja sibuk menghafal. Padahal ujian sebentar lagi, apa pun yang dihafal sudah tak ada gunanya.
Bodoh!
Gu Ning menggerutu dalam hati. Menurutnya, Mu Qiannian adalah murid bodoh yang tak akan pernah naik peringkat, tak peduli sekeras apa pun belajar, hasilnya tetap sama buruknya.
Ia sendiri tidak belajar, tidak menulis apa pun, tapi Mu Qiannian bahkan lebih buruk—sudah belajar serius pun tetap tak bisa menulis apa-apa.
Terpikir kejadian kemarin, saat pamannya berbicara dengan teman sebangkunya yang payah itu, benar-benar tak paham kenapa pamannya bisa tertarik pada gadis seperti itu. Selain wajah, tak ada yang istimewa. Tapi ya sudahlah, pria setua pamannya memang biasanya suka tipe seperti itu.