Bab Delapan: Membayar Harga
Xu Lan terus menangis dan mengadukan nasibnya, membuat Tuan Besar Mu semakin marah. “Kau benar-benar mengira aku ini sudah buta dan tuli? Xu Lan, dengar baik-baik, jangan kira aku tak tahu apa saja yang telah kau lakukan. Kalau kau merasa tak sanggup lagi tinggal di Keluarga Mu, sekarang juga boleh angkat kaki, bawa barang-barangmu dan pergi!”
Sejak Xu Lan menginjakkan kaki dengan mantap di Perusahaan Mu, Tuan Besar Mu belum pernah berkata sekeras ini padanya. Tubuh Xu Lan langsung menegang.
Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Keluarga Mu dan Perusahaan Mu sekarang? Bertahun-tahun ia menahan diri, semua itu demi mendapatkan Perusahaan Mu, agar bisa memberikan kehidupan mewah bak putri raja untuk Chengyan, menjadikannya seorang putri sejati. Sekarang ia belum mendapatkan semuanya, belum menebus kesalahannya pada putrinya, ia tak boleh pergi.
“Dengar baik-baik, mulai hari ini, Mu Chengyan dihapus dari Keluarga Mu. Tidak seorang pun boleh ikut campur urusannya, entah hidup atau mati, itu sudah nasibnya sendiri! Dan lagi, suruh dia lepaskan marga Mu, dia tidak pantas memilikinya!”
Tuan Besar Mu tak hanya ingin mengusir Chengyan, melarang siapa pun membantunya, bahkan marga pun harus dilepas. Bukankah ini sama saja ingin mengambil nyawa Xu Lan?
Dulu, karena terpaksa, ia menitipkan Chengyan di panti asuhan, hatinya dipenuhi rasa bersalah. Setelah bersusah payah, barulah Mu Guojian setuju ia masuk ke keluarga, bahkan Tuan Besar Mu pun akhirnya mengizinkan Chengyan menyandang marga Mu. Setelah susah payah membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan Chengyan diusir?
Sejak lahir, Chengyan hidup sebagai putri yang selalu dimanjakan. Kini seketika berubah menjadi rakyat jelata, bagaimana mungkin dia sanggup menanggungnya?
“Ayah, Anda tak boleh sekejam ini, Chengyan sudah saya besarkan selama dua puluh tahun, dia juga cucu Anda! Mengapa Anda bisa memperlakukannya seperti ini?”
“Aku hanya punya satu cucu perempuan—Qianyan! Justru aku ingin bertanya padamu, bagaimana kau memperlakukan cucuku? Qianyan adalah darah daging Keluarga Mu, satu-satunya putri terhormat di keluarga ini! Tapi demi seorang asing, kau tega menindasnya. Apa kau kira tak ada lagi yang berkuasa di Keluarga Mu, lantas keluarga Xu bisa semaunya sendiri?”
Tuan Besar Mu bertanya dengan kemarahan membara. Ini adalah kali pertama Mu Qianyan melihat kakeknya begitu murka. Bagaimanapun, Tuan Besar Mu pernah menghadapi berbagai badai kehidupan, sudah jarang ada hal yang benar-benar bisa membuatnya marah.
Amarah Tuan Besar Mu juga bukan sesuatu yang sanggup ditanggung orang biasa. Xu Lan pun tak berani lagi bersuara, suasana di ruangan seolah membeku.
“Pak Fu, adakan konferensi pers untukku, segera umumkan lewat surat kabar bahwa hubungan Keluarga Mu dan Mu Chengyan sudah putus total. Suruh dia kembali ke nama aslinya, mulai sekarang urusannya tak ada sangkut paut lagi dengan keluarga ini!”
Ucapan Tuan Besar Mu sungguh tegas. Xu Lan mendengarnya dengan mata memerah. Setelah peristiwa semalam, reputasi Chengyan sudah hancur total. Jika sekarang ia diusir dari Keluarga Mu, orang-orang rendahan itu pasti akan menindas dan mempermalukannya. Chengyan benar-benar tak punya jalan hidup lagi.
Putri kesayangannya, bagaimana mungkin sanggup menanggung itu? Dia adalah putri yang selalu hidup mewah, mengapa harus jatuh terhina? Dia pasti akan mati.
Tidak, ini tak boleh terjadi!
Plak! Xu Lan yang berlutut di tengah ruang tamu menampar dirinya sendiri dengan keras, lalu menampar pipinya berulang kali. “Semua salahku! Ayah, semua ini salahku, aku yang bersalah pada Qianyan, aku yang gagal mendidik Chengyan. Anda boleh memukul, memaki, atau menghukumku sesuka hati, asalkan jangan usir Chengyan.”
“Anak itu sudah aku besarkan sejak kecil, rasanya sudah seperti putriku sendiri. Ayah, kumohon demi hubungan kita selama bertahun-tahun, lepaskanlah dia! Aku benar-benar tak sanggup kehilangannya, ayah, kumohon!”
Xu Lan terus menampar dirinya sampai sudut bibirnya berdarah, lalu berlutut dan membenturkan kepala ke lantai dengan suara keras, hingga dahinya pecah. “Demi semua pengorbananku selama bertahun-tahun di Perusahaan Mu, demi pengabdianku tanpa keluhan di keluarga ini, ayah, mohon tunjukkan belas kasihan.”
Raungan Xu Lan dipenuhi keputusasaan. Kedua tangannya terkepal, kuku-kuku panjangnya menancap ke daging. Rasa terhina ini persis seperti saat ia masih menjadi wanita panggilan, dipermalukan para tamu bejat.
Sejak hari Mu Guojian membawanya masuk ke rumah, ia sudah bersumpah akan menginjak semua orang yang pernah menghinanya hingga tak bersisa. Bertahun-tahun ia hidup mulus, tak pernah menyangka akan hancur di tangan seorang gadis remaja baru berusia delapan belas tahun.
Bunyi kepalanya membentur lantai terdengar jelas, bukan hanya demi Mu Chengyan, melainkan juga karena dendam membara di hatinya.
Hari ini, lutut ini, tamparan-tamparan ini, semuanya akan ia ingat. Ia bersumpah akan membuat Tuan Besar Mu dan Mu Qianyan yang hina itu membayar mahal!
Darah mengalir di wajah Xu Lan, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri. Inilah wanita yang hebat, dengan kecakapan bisnisnya berhasil merangkak naik hingga menjadi Wakil Direktur di Perusahaan Mu, Ratu Keluarga Mu. Siapa sangka, kini ia harus menundukkan kepala.
Di mata orang lain, mungkin ini terlihat menyedihkan. Namun bagi Mu Qianyan, semua ini masih jauh dari cukup.
Dibandingkan penghinaan dan penderitaan yang pernah mereka timpakan di kehidupan sebelumnya, ini belum seberapa.
Ia memandang Xu Lan dengan dingin, mata tajam berkilauan seperti es.
Di kehidupan lalu, saat masih kecil, ia pernah berusaha keras mengambil hati ibu tirinya ini—bersikap manis, selalu juara kelas—namun yang didapat hanya pukulan dan tendangan Xu Lan. Nilai ulangannya disobek, dan ia hampir dicekik sampai mati, lalu diancam untuk tak memberitahu Tuan Besar Mu, kalau tidak akan dihabisi.
Wajah kejam Xu Lan membekas seperti setan di ingatannya. Ia masih ingat jelas peringatan layaknya iblis, “Jangan pernah nilaimu lebih baik dari kakakmu. Kalau berani lebih pintar darinya sedikit saja, aku akan membuatmu cacat!”
Saat itu, ia benar-benar hampir mati dicekik. Ia tak pernah mengerti, mengapa ia yang anak kandung, tapi ayah dan ibu sama sekali tak menyayanginya, justru hanya mencintai kakak angkatnya.
Ia dianiaya, dihina, berkali-kali menangis melihat ayah dan ibu pergi bersama sang kakak yang cantik, sementara ia hanya bisa meringkuk di kamar, menangisi tubuhnya yang babak belur.
Tapi ia tak berani bersuara. Kalau sampai terdengar ayahnya, bisa-bisa ia malah dianggap mengganggu dan kembali dipukuli habis-habisan.
Di usia enam tahun, ia bahkan tak punya hak untuk menangis.
Mu Qianyan memandang dingin Xu Lan yang berlutut dan membenturkan kepala, lebih memilih merendahkan diri demi menyelamatkan anak hasil perselingkuhannya. Kebencian di hatinya hanya semakin dalam.
Tuan Besar Mu tak tahan lagi, membentak keras, “Apa yang kau lakukan? Berdiri sekarang juga!”
Wajah Xu Lan berlumuran darah, rambut kusut menempel di pipi, matanya memerah menatap sang Tuan Besar. “Kalau Anda tak setuju, saya tak akan bangkit! Hubungan saya dan Chengyan sudah seperti ibu dan anak kandung...”
“Justru karena kau membiarkannya, makanya dia tumbuh jadi seperti ini—tak tahu sopan santun, malu pun tidak. Tak usah berakting di depanku, hari ini aku tegaskan, siapa pun yang berani ikut campur urusan Chengyan, akan kuusir bersama dia dari Keluarga Mu!” Selesai bicara, Tuan Besar Mu langsung berdiri dan pergi.
Xu Lan merangkak, memeluk kakinya erat-erat, “Ayah, jangan lakukan ini, mohon beri belas kasihan... Asal Anda mau menolong Chengyan, apa pun akan saya lakukan... Tolong jangan usir dia dari keluarga, ayah, kumohon...”
Mu Qianyan merasa cukup merekam semuanya, lalu dengan sengaja memotret Xu Lan sebagai pengingat.
Xu Lan menyadari kilatan lampu kamera, tertegun menatap Mu Qianyan yang tersenyum sinis padanya lalu kembali menunduk menatap ponsel.
Xu Lan menggertakkan gigi, memaki dalam hati. Anak haram ini berani merekam dan memotret dirinya di saat paling hina. Ia tak akan pernah memaafkannya, tidak akan pernah!