Bab 61: Gaun Indah
Namun pada hari upacara kedewasaan itu, seolah segalanya berubah. Mu Qianyan mulai tahu caranya melawan, menyingkirkan polisi, dan hanya dengan beberapa kata saja membuat Xu Lan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tuan tua Mu bukan orang yang sudah pikun, tentu ia bisa melihat semuanya dengan jelas.
Harapan yang sebelumnya telah padam terhadap Mu Qianyan kembali menyala, walau hanya setitik. Maka, ketika ia mendengar Mu Qianyan diduga curang, amarah tuan tua Mu benar-benar tak terbendung, kalau bukan karena paman Fu yang menenangkannya, mungkin ia sudah benar-benar pingsan karena marah.
“Kau tak perlu berterima kasih pada kakek. Asal kau baik-baik saja, kakek pun akan tenang. Sudahlah, pergilah, ibumu dan Chengyan juga sudah datang, temuilah mereka sebentar.”
Tuan tua Mu masih menyimpan ganjalan soal peristiwa di upacara kedewasaan itu, sehingga ia hanya menyebut nama Chengyan, tanpa embel-embel keluarga Mu.
Namun bagaimanapun juga, usia tua selalu membawa keinginan akan keharmonisan keluarga. Tuan tua Mu sungguh berharap Xu Lan dan Mu Qianyan dapat hidup rukun.
“Baik, Kakek. Aku segera ke sana.”
Mu Qianyan tersenyum manis, tanpa sedikit pun rasa enggan, melangkah dengan riang menemui mereka.
Mengamati punggung Mu Qianyan yang lincah bak kupu-kupu, tuan tua Mu menghela napas panjang dan memanggil paman Fu.
“Andaikan semuanya bisa selalu seperti ini, alangkah baiknya,” gumamnya.
Semasa muda, tuan tua Mu adalah raja di dunia bisnis, tak terhitung strategi kejam yang pernah ia gunakan untuk menyingkirkan para pesaing. Semua itu demi membangun kekayaan keluarga Mu seperti sekarang. Namun di usia senja, yang paling ia dambakan hanyalah keluarga yang damai dan utuh.
Paman Fu membungkuk sedikit, menimpali, “Segalanya pasti akan seperti yang tuan harapkan. Nona akan tumbuh dewasa, nyonya pun akan berubah, dan keluarga Mu akan baik-baik saja.”
Mungkin karena kata-kata paman Fu, hati tuan tua Mu menjadi tenang. Ia memejamkan mata sejenak, merasa lega. Di usia seperti ini, yang ia cari hanyalah ketentraman. Ia tahu benar akan segala sesuatu, hanya saja ia sengaja membiarkan cucu-cucunya menentukan jalan hidup masing-masing.
Ada pepatah, anak cucu punya rezeki sendiri, dan tuan tua Mu sangat memahami itu. Selama tidak ada masalah besar di depan matanya, ia tidak terlalu peduli.
Sementara itu, paman Fu memandang ke arah tangga, melihat sosok ragu di sudut sana, dan mengangguk pelan. Akhirnya, nona benar-benar belajar melawan dan semakin dewasa.
Mu Qianyan berjalan ke ujung tangga, menahan rasa sakit yang amat sangat. Saat menjawab kakeknya tadi, ia juga memakai cara Xu Lan yang suka bersandiwara. Sungguh ironis, kini ia harus meniru musuhnya sendiri, bahkan berpura-pura ramah di hadapan orang yang dulu menjadi lawannya.
Ia masih belum tahu trik apa yang sedang direncanakan ibu dan saudara tirinya untuk menjatuhkannya. Mereka selalu ingin membuatnya kehilangan martabat di depan kakeknya. Xu Lan jelas tahu kakek sangat menjunjung tinggi etika, namun tetap saja tidak mencarikan guru tata krama untuknya.
Bahkan, Xu Lan sengaja memaksanya memakai hal-hal yang tidak disukai kakek. Semakin ia mengingat semua perlakuan itu, hatinya semakin penuh dengan kebencian.
Jari-jarinya menggenggam erat hingga memutih, kuku-kuku indahnya menancap ke kulit. Mu Qianyan menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha menenangkan diri.
Ia mendorong pintu kamar di atas, mendapati Chengyan dan Xu Lan sudah menunggu. Mu Guojian, ayahnya, sibuk bekerja dan biasanya baru datang saat waktu makan hampir tiba. Beberapa kerabat lain pun akan segera hadir.
“Qianyan, kau sudah datang! Cepat, kemarilah! Ibu sudah lama menunggumu. Akhir-akhir ini kau selalu di sekolah, Ibu tak sempat bertemu. Tentang kejadian kemarin, Ibu minta maaf, maukah kau memaafkan Ibu?”
Xu Lan tersenyum dengan wajah penuh keramahan, nada bicaranya lembut seperti seorang ibu yang penuh kasih. Mu Qianyan menatap tanpa ekspresi, padahal hatinya bergolak ingin muntah. Ia benar-benar tidak mengerti dari mana Xu Lan punya muka setebal itu, bisa berkata seolah-olah tak pernah berbuat salah.
“Selain itu, dalam ujian kali ini, kau mendapat nilai sangat bagus. Ibu sudah memikirkan hadiah untukmu. Ayo, lihat sini!”
Melihat Mu Qianyan tak bereaksi, Xu Lan kembali melambai-lambaikan tangan, lalu mengeluarkan sebuah kotak indah yang tampak berat, sampai harus dipegang bersama dengan Chengyan.
Mu Qianyan hanya ragu sejenak, kemudian melangkah maju. Bagaimanapun juga, Xu Lan sudah menyiapkan hadiah itu sendiri, ia tetap harus memberikan muka.
Mu Qianyan menatap kotak itu, lalu membukanya di bawah tatapan penuh harap Xu Lan dan Chengyan. Di dalamnya, terdapat sebuah gaun rancangan khusus, dengan potongan yang anggun dan jahitan yang sangat rapi. Hal paling menonjol adalah desainnya yang sangat cocok untuk usia Mu Qianyan, menonjolkan keindahan tanpa terlihat terlalu terbuka, berada di antara gaya konservatif dan seksi. Sangat menawan.
Seketika, mata Mu Qianyan pun sempat memancarkan kekaguman. Gaun itu benar-benar indah, modelnya sopan dan sangat sesuai untuk acara hari ini. Bahkan, kakek pun pasti akan memujinya.
Ada apa ini? Mu Qianyan bertanya-tanya dalam hati. Xu Lan sebelumnya tak pernah seperti ini. Dulu, semua yang diberikannya memang mahal, tapi modelnya kuno atau berat, membuatnya tampak bodoh dan kaku.
Sialnya, Xu Lan selalu punya alasan. Jika ada yang bertanya, ia selalu bilang itu selera Mu Qianyan sendiri, semuanya barang bagus dan mahal. Orang luar hanya memuji Xu Lan sebagai ibu yang baik, siapa yang tahu niat busuknya.
“Bagus, kan? Ayo, coba kenakan. Ibu sudah pesan sesuai ukurannmu. Ibu ingin sekali melihatmu mengenakan gaun ini. Qianyan pasti cantik sekali. Ayo, coba dulu ya.”
Xu Lan mengulurkan gaun itu dengan wajah penuh harap, bersikap sangat rendah hati, membuat Mu Qianyan sulit menolak. Jika ia menolak, pasti akan dianggap sebagai anak yang tak tahu diri, apalagi Xu Lan adalah orang tuanya.
“Baik, terima kasih, Ibu. Aku benar-benar suka gaun ini, sangat indah. Aku akan langsung mencobanya.”
Mu Qianyan langsung memeluk kotak di tangan Xu Lan, wajahnya tampak bahagia.
“Tunggu, Kakak juga sudah menyiapkan hadiah untukmu, mau lihat?” kata Chengyan, sambil mengangkat kotak indah lain yang tampaknya berisi sepatu.
“Benarkah?” Mu Qianyan terus tersenyum, matanya berbinar-binar seolah sangat menantikan hadiah dari Chengyan.
“Baik, biar Kakak bukakan. Aku yakin kau pasti suka,” ucap Chengyan sambil membuka kotak itu di hadapan Mu Qianyan. Di dalamnya, terdapat sepasang sepatu olahraga keluaran terbaru dari sebuah merek mewah, dihiasi sulaman dan permata yang berkilau. Desainnya tidak seperti sepatu olahraga biasa, sangat menarik dan pasti akan disukai oleh gadis seusia mereka.