Bab Enam Puluh Enam: Kembali ke Kota Tirai
Mu Jinwei pernah berpikir, mungkinkah tangan di balik semua ini adalah Xiahou Zhan dari masa lalu? Jika Yang Shangni memang dirancang untuk meninggalkan Kota Mu oleh dirinya, mustahil selama bertahun-tahun ini ia tidak mengambil langkah selanjutnya.
Saat Mu Jinwei masih terus diliputi tanda tanya, Asisten Chen mengetuk pintu dan masuk.
“Tuan Mu, ini data tentang Ruobai yang Anda minta.”
Tahun itu, karena urusan keluarga Yang, ia begitu sibuk hingga hanya sempat sekali ke Los Angeles untuk menemui Yang Shangni, setelah itu tidak pernah lagi berkesempatan menemuinya di sana.
Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat video, sedangkan Yang Shangni yang sebentar lagi akan lulus pascasarjana pun sangat sibuk dengan tugas kuliah, laporan riset pasar, dan skripsi, sehingga video call pun menjadi langka.
Namun, Mu Jinwei akhirnya mulai memperhatikan sosok Ruobai.
“Tuan Mu, data tentang Ruobai hanya ada untuk lima tahun terakhir, yakni sejak Nona Yang tiba di Los Angeles. Identitas Ruobai ini sepertinya memang diuruskan oleh Keluarga Yang.
Dalam lima tahun ini Ruobai selalu berada di sisi Nona Yang, menjadi pengawalnya. Setahun yang lalu, ia pernah menahan dua peluru untuk Nona Yang. Saat itu Tuan Mu juga sudah pernah melihat rekaman penyerangan terorisme itu. Meski serangan terjadi di kampus, Tuan Mu pasti menyadari, bidikan penembak jitu memang ditujukan pada Nona Yang, sama sekali bukan aksi teror acak.
Tentang insiden teror yang Anda perintahkan untuk diselidiki itu, kami belum menemukan petunjuk. Kekuatan kita di luar negeri terlalu lemah, apalagi di kalangan bawah tanah, hampir tidak punya jaringan sama sekali,” jelas Chen Shiyu sambil menyerahkan dokumen.
Mu Jinwei membuka berkas itu.
— Ruobai, 24 tahun, berdarah campuran, orang tua tidak diketahui, tinggi 193 cm, berat 75 kg.
Profesinya pengawal.
...
Mu Jinwei tidak melanjutkan membaca, ia segera tahu sisanya hanyalah keterangan fiktif yang dirangkai untuk melengkapi identitas Ruobai.
Chen Shiyu menyerahkan berkas lain.
“Tuan Mu, data tentang Xiahou Che juga sangat minim, hampir kosong sama sekali. Namun kami menemukan satu hal, lima tahun lalu ia pernah memerintahkan bawahannya membawa lebih dari tiga puluh orang memburu seorang pemuda berdarah campuran bernama Xiahou Chenjin yang saat itu berusia 19 tahun.
Xiahou Chenjin, berdarah campuran Tiongkok-Amerika, saat usia 19 tahun tingginya 191 cm, berat 69 kg. Setelah perburuan itu, ia menghilang tanpa jejak, lima tahun tidak terdengar kabarnya. Di usia 15 tahun, ia sudah terlibat dunia hitam di Los Angeles. Di kalangan mereka, ia dijuluki Dewa Kematian yang Tersenyum, juga dikenal sebagai Penuai Nyawa, sebab di usia 16 tahun, ia sendirian menyerbu markas musuh dan dalam setengah jam membunuh lebih dari tiga puluh orang.
Namun, di belakangnya ada kekuatan misterius yang sangat kuat sehingga semua perbuatannya ditutupi, bahkan seluruh kejahatannya sudah ada yang menanggung dan divonis,” Chen Shiyu bergidik saat membaca data pemuda berdarah campuran itu. Memang pantas dijuluki Penuai Nyawa.
“Dewa Kematian yang Tersenyum?” Mu Jinwei tampak tidak begitu menangkap makna julukan itu.
“Ada yang bilang Xiahou Chenjin ini selalu tersenyum, siapa pun tidak akan mengira seorang pemuda cerah seperti dirinya bisa begitu kejam dan haus darah. Detik ini ia masih tersenyum ramah pada seseorang, detik berikutnya bisa saja orang itu kehilangan nyawa di tangannya. Metodenya pun kejam, bukan sekadar membunuh dalam sekali tebas, melainkan seringkali menghabisi korban dengan pukulan bertubi-tubi!” Chen Shiyu memperhatikan Mu Jinwei yang berkerut dahi, lalu berhenti bicara.
“Lanjutkan.”
“Baik, Tuan Mu. Ada yang mengatakan Xiahou Chenjin mengalami trauma karena kehilangan ibu saat kecil, ayahnya pun menjauh, keluarga besar tidak memperdulikannya, sehingga mentalnya menjadi tidak stabil. Ada pula yang bilang ia selalu tersenyum untuk menyenangkan hati ayah dan anggota keluarga besarnya.
Tapi tidak ada foto dirinya, orang yang pernah melihat dia selain dari keluarga besarnya, kebanyakan kini sudah mati. Konon penampilannya sangat cerah dan tampan, sama sekali tak terlihat seperti seorang pembunuh berdarah dingin.”
Mu Jinwei berpikir sejenak, akhirnya bertanya, “Menurutmu, mungkin tidak Ruobai dan Xiahou Chenjin adalah orang yang sama?” Mu Jinwei menekuk telunjuknya, menggosok dada dengan buku jarinya.
Ruobai memang selalu tersenyum tampak ramah, tapi setelah Mu Jinwei berkali-kali menonton rekaman penyerangan di kampus itu, semakin yakin saat Ruobai menyadari ada senjata mengarah ke Yang Shangni, ia spontan memasang tubuhnya sebagai perisai. Itu bukan reaksi pengawal biasa. Orang ini bukan cuma kejam pada diri sendiri, ia pasti pernah melewati banyak pertarungan hidup-mati.
Pikiran Mu Jinwei semakin kacau, sebenarnya apa hubungan Xiahou Chenjin dan Xiahou Che? Di dalam negeri saja marga Xiahou sangat jarang, apalagi di Los Angeles, bahkan ada satu lagi Xiahou Zhan yang belum pernah muncul.
Mu Jinwei mulai berandai, mungkin saja ketiganya berasal dari satu keluarga besar? Lantas, hubungan macam apa di antara mereka? Apa tujuan Xiahou Che dan Xiahou Chenjin yang mendekati mereka, baik sengaja maupun tidak?
Lima tahun ini, Mu Jinwei seolah menjadi legenda di dunia bisnis. Siapa pun menyebut nama Mu Jinwei, pasti memanggilnya Tuan Muda Mu kedua dengan penuh hormat.
Namun, pengaruhnya di luar negeri tetap membatasi ruang geraknya.
Seandainya semua terjadi di Kota Mu, pasti sudah terungkap seluruhnya.
8 Juli.
Malam itu, Mu Jinwei berulang tahun. Jun Mo mengatur perayaan di Tak Pernah Malam. Tepat pukul dua belas, ia menerima pesan dari Yang Shangni yang mengucapkan selamat ulang tahun. Katanya, ia sedang sibuk menyiapkan skripsi dan sidang, jadi tidak bisa melakukan video call dengannya. Mu Jinwei pun kehilangan minat pada hari ulang tahunnya.
Ini adalah ulang tahun kelima tanpa kehadiran Yang Shangni. Padahal sebentar lagi ia akan menuntaskan studinya dan kembali ke Kota Mu, tetap saja Mu Jinwei merasa kehilangan.
Pada waktu yang sama di Bandara Kota Mu, pesawat Yang Shangni mendarat. Ia menelpon Mu Mu.
“Kak Su Yi.” Mu Mu sangat terharu, sudah lama sekali tidak mendengar suara Yang Shangni. Saat Yang Shangni berkata “Ini aku, Su Yi,” Mu Mu hampir meneteskan air mata.
“Mu Mu, aku sudah sampai di Kota Mu. Kau bersama Kak Kedua?” Yang Shangni ingin memberi kejutan pada Mu Jinwei, jadi ia sengaja merahasiakan kepulangannya di hari ulang tahun Mu Jinwei.
“Kak Su Yi, Kak Kedua sedang rayakan ulang tahun di Tak Pernah Malam bersama Kakak Sulung dan Kakak Ketiga, aku tidak diajak. Kau di mana sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.”
“Aku ingin memberi kejutan pada Kak Kedua, kau mau ikut?”
“Tentu, aku tahu mereka di ruangan mana. Kak Su Yi, kau di mana? Biar aku jemput.”
“Aku baru saja keluar dari bandara, kau tunggu aku di salah satu ruang privat Tak Pernah Malam, jangan sampai mereka tahu aku sudah pulang. Kalau aku sudah sampai depan, akan kuhubungi.”
“Baik, aku tunggu, Kak Su Yi.”
Dalam perjalanan, Yang Shangni duduk di mobil sambil memandang pemandangan kota lewat jendela. Di era elektronik yang berubah begitu cepat ini, Kota Mu dalam lima tahun telah berubah total.
Yang Shangni tahu tahun lalu jembatan laut Kota Mu sudah dibuka, dulu dari Kota Mu ke bandara harus menempuh jalan tol pesisir hampir satu jam, sekarang lewat jembatan laut cukup setengah jam sudah sampai ke pusat kota.
Saat sedang melamun, ia melihat jembatan laut yang megah membentang seperti naga raksasa melingkari teluk. Apalagi malam hari, lampu LED di jembatan berubah warna-warni, langit malam ini cerah, tak ada kabut, lautan malam tampak dalam dan penuh misteri.
Di tengah jembatan, Yang Shangni sudah melihat gedung-gedung pencakar langit menjulang di pusat kota, semua berhias LED dengan pola indah. Pemandangan di depan mata sungguh berbeda dari saat ia pergi dulu.
Ia membuka jendela, angin laut menghembus kencang, lalu jendela ia tutup kembali, menghirup aroma khas angin laut Kota Mu yang sangat ia rindukan.
Mobil pun tiba di depan Tak Pernah Malam, Yang Shangni turun. Malam musim panas di Kota Mu sangat nyaman, suasana di Tak Pernah Malam pun glamour dan gemerlap.
Ia menelpon Mu Mu, tak disangka Mu Mu sudah menunggu di depan pintu.
“Kak Su Yi!” Mu Mu melambaikan tangan.
Yang Shangni melihat Mu Mu yang memakai gaun hitam pendek, tampak seperti hendak ke pesta, terlihat lebih dewasa dari usianya.
“Mu Mu.” Yang Shangni memeluk Mu Mu erat-erat, seolah memeluk kembali masa kecil dan kampung halamannya.
“Ayo, Kak Su Yi, aku antar kau ke kakakku.” Mu Mu menggandeng Yang Shangni yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan ramping. Sebelum naik pesawat tadi, Yang Shangni baru saja menghadiri seminar ilmiah, selesai acara langsung berangkat ke bandara, belum sempat ganti pakaian. Setelan formal itu pun tampak santai di tubuhnya.
Rambut lurus yang dulu kini berubah menjadi ikal besar, menambah kesan manis sekaligus dewasa. Rambut panjang hingga pinggang masih terawat cantik, siapa pun yang melihat pasti iri.
Saat itu Mu Mu baru sadar di belakang Yang Shangni ada seorang pria asing yang lebih tinggi dari kakak keduanya. Saat menoleh, ia terperangah. Pria itu memiliki wajah yang sedikit eksotis, mata agak cekung membuat fitur wajahnya sangat tegas, sepasang mata abu-abu kecokelatan yang dalam, kulitnya putih bersih seperti perempuan.
“Ini Ruobai,” kata Yang Shangni, memperkenalkan pria itu dengan singkat.
Mu Mu mengangguk ramah pada Ruobai.
Ruobai membalas dengan senyum begitu menawan, bahkan kata “senyum seindah bunga” pantas disematkan padanya. Mu Mu sempat terpana.
“Kak Su Yi, siapa dia?” tanya Mu Mu penasaran.
Yang Shangni tidak menyangka Mu Mu akan terus menanyai sosok yang baginya tidak penting itu.
“Pengawal,” jawab Yang Shangni, lalu menambahkan, “juga teman.”
Senyum Ruobai makin cerah. Ia senang mendengar Yang Shangni memperkenalkan dirinya sebagai teman.
Sepanjang jalan, baik pelayan, sekuriti, maupun manajer semua menyapa Mu Mu dengan hormat, tapi kebanyakan tidak mengenal Yang Shangni. Lima tahun sudah berlalu, banyak orang telah berganti, apalagi dunia hiburan yang sangat mengandalkan usia muda.
Dulu Yang Shangni tidak terlalu suka datang ke tempat Jun Mo karena terlalu ramai, tapi malam ini ia justru merasa ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan.
Mu Mu membawa Yang Shangni langsung ke ruang privat milik Jun Mo. Dua tahun lalu Tak Pernah Malam direnovasi ulang, Jun Mo meninggalkan satu suite mewah untuk dirinya sendiri, biasanya hanya menerima Mu Jinwei dan Zheng Yan Hao.
Kalau Yang Shangni datang sendiri, ia tak mungkin menemukan ruangan ini. Staf pun tak mengenalinya, ia pun tak akan bisa mencari tahu.
“Kak Meng Sen!” Mu Mu melihat Meng Sen, anak buah Zheng Yan Hao, berjaga di luar ruang privat Jun Mo, makin yakin kakak-kakaknya ada di dalam.
“Nona Mu.” Meng Sen yang tadi duduk santai di sofa luar, begitu melihat Mu Mu, langsung melompat berdiri dan berdiri di depan pintu dengan wajah penuh rasa hormat.
“Nona Yang... Anda sudah pulang?” Meng Sen melihat Yang Shangni di belakang Mu Mu, sampai gugup dan terbata-bata.
“Kak Meng Sen, kakakku di dalam?” sapa Yang Shangni.
“Ada... eh, tidak, tidak ada...” Meng Sen tergagap, matanya gelisah dan gugup, lelaki yang biasanya tegas itu kini kelabakan.
Yang Shangni mengernyit, merasa ada yang aneh.
“Kak Meng Sen, kenapa? Lihat Kak Su Yi sampai segitunya?” Mu Mu berkata sambil tertawa, lalu berusaha mendorong pintu.
“Nona Mu, Tuan Kedua tidak ada di dalam.” Meng Sen berusaha tenang.
“Kakaku tidak ada? Lalu kenapa kau di sini?” Mu Mu pun mulai curiga.
“Tuan Zheng ada di dalam,” kata Meng Sen, tetap tidak mau memberi jalan.
“Hari ini ulang tahun kakakku, Kakak Sulung juga ada, masa kakakku tidak ada?” Mu Mu cukup cerdas, di hadapan dua perempuan ini, Meng Sen yang bertubuh kekar tapi polos jelas kalah lihai.
“Kalau begitu, aku masuk menyapa Kakak Sulung ya!” kata Yang Shangni sambil melangkah hendak membuka pintu.