Bab Tujuh Puluh Lima: Kegundahan Hati Mumu
Yang Shangni bangkit lalu berjalan ke sisi Zheng Yanhao. “Kakak, aku ingin makan cumi kecil panggang buatanmu.”
Zheng Yanhao menyerahkan cumi kecil panggang yang sudah matang kepada Yang Shangni.
“Kakak, menurutmu nanti Mumu kita akan mencari pacar seperti apa?” Yang Shangni bertanya seakan-akan mengobrol santai, lagipula Mumu yang paling kecil, semua orang memang sangat memerhatikannya.
Zheng Yanhao sempat terkejut sampai hampir saja tangannya kepanasan. Hati Yang Shangni juga ikut mencelos. Reaksi ini jelas menunjukkan bahwa sang kakak enggan membicarakan soal Mumu punya pacar, atau mungkin sedang menghindari topik itu.
Saat Yang Shangni mengira Zheng Yanhao tidak akan merespon, ternyata ia mendengar suara Zheng Yanhao.
“Mumu masih kecil, memikirkan hal seperti itu rasanya terlalu dini,” ujar Zheng Yanhao dengan nada yang tampak tenang, tetapi intonasi suaranya justru membocorkan perasaannya. Yang Shangni dapat jelas merasakan nada cemburu di sana.
Yang Shangni kembali duduk di tempatnya, menatap dua orang itu. Ia merasa keduanya memang tidak cocok, jelas-jelas masing-masing sedang menyimpan sesuatu di hati, saling berpura-pura acuh, padahal sama-sama peduli.
Begitu masalah ini terbongkar, belum lagi soal perbedaan usia hampir sepuluh tahun yang pasti akan ditentang keluarga Mu, hubungan baik kedua keluarga pun tak akan cukup. Bisnis keluarga Zheng yang melibatkan banyak risiko, membuat keluarga Mu tak akan sudi menikahkan putrinya untuk menanggung beban itu.
“Ada apa? Apa yang dibicarakan Hao padamu?” Mu Jinwei melihat Yang Shangni kembali melamun, lalu menarik-nariknya. Gadis ini hari ini kenapa seperti pikirannya melayang terus.
“Tidak apa-apa. Kakak kedua, menurutmu kakak tertua suka perempuan seperti apa?” tanya Yang Shangni tiba-tiba.
Mu Jinwei tertegun, “Ngapain ngurusin orang lain? Urus saja dirimu sendiri!”
Mu Jinwei mana mungkin tidak menyadari, sejak Mumu belasan tahun saja, ia sudah melihat tatapan Zheng Yanhao pada Mumu mirip dengan tatapannya sendiri pada Yang Shangni. Hanya saja, meski mereka bersaudara, Zheng Yanhao bukanlah calon ipar yang baik, bahkan justru pilihan terburuk. Kalau harus menikah dengan orang dalam lingkaran sendiri, Mu Jinwei lebih rela menikahkan adiknya dengan Jun Mo daripada Zheng Yanhao.
Lagi pula, melihat kondisi Mumu saat ini… sosok Zheng Yanhao yang sangat maskulin itu pasti sulit menerima.
Tujuh orang itu makan dan minum hingga kenyang, kemudian berbaring di pantai menikmati pemandangan malam di tepi laut.
Lautan tenggelam dalam gelap malam, sepotong bulan sabit perak menggantung di sudut cakrawala yang seolah menyatu dengan lautan, langit bertabur bintang di tepi pantai tampak begitu dalam, diiringi deburan ombak yang memecah suasana, seolah mereka sedang berada di dunia ajaib yang misterius.
“Bulan sabit seperti ini indah sekali!” seru Yang Shangni, saat sekilas awan tipis melintas di samping bulan sabit yang melengkung, menambah keindahan malam itu.
“Seindah apa?” tanya Zhang He, lalu tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, ia berbalik menghadap Yang Shangni, tampak menemukan rahasia besar. “Bagaimana kalau nanti anak kalian diberi nama Bulan Sabit?”
Yang Shangni menatap Zhang He yang tampak sangat antusias dengan bingung. Kenapa semua orang suka menyinggung soal anak padanya? Dirinya saja merasa masih seperti anak-anak.
“Tidak mau, lebih baik anakmu saja yang diberi nama Bulan Sabit,” jawab Mu Jinwei, tak disangka ia yang menanggapi.
“Tidak apa-apa, Kakak sepupu, anak kami bisa diberi nama Bintang!” Mu Jinzhen yang hari ini juga sedang ceria ikut bercanda.
Semua orang tertawa, terutama Jun Mo yang paling heboh. “Kalau begitu, nanti anak yang lahir dari Mumu harus diberi nama Awan! Keluarga kalian jadi lengkap! Hahaha!”
Mata Mumu membelalak, wajahnya memucat. Ia tidak tahu kapan takdirnya berubah drastis tanpa diketahui siapa pun. Semua orang tenggelam dalam gelap malam sehingga tak seorang pun menyadari keganjilan itu.
Saat itu ponsel Yang Shangni berdering, sebuah lagu waltz. Ia melihat nama Ruobai yang muncul, lalu mengangkatnya.
“Halo, Ruobai? Kamu di mana?”
“Aku di rumah kakak keduamu, kalian ke mana?” Ruobai sudah keluar seharian, dan saat kembali ke vila Mu Jinwei, ternyata mereka belum juga pulang.
“Kami di Teluk Longsha, malam ini menginap di sini. Mau ikut?”
Kalau bukan Ruobai yang menelepon, mungkin Yang Shangni sudah lupa padanya.
“Tidak usah, aku capek. Kalian saja yang bersenang-senang,” jawab Ruobai dengan nada kurang semangat.
“Kalau begitu, istirahatlah lebih awal. Sampai jumpa!”
Telepon pun ditutup, hanya suara ‘tut tut’ yang tersisa.
“Ringtone milikmu bikin aku ingin menari,” ujar Zhang He sambil mengeluarkan ponsel dan memutar lagu waltz, lalu menarik Mu Jinzhen berdiri.
Walaupun tampak kaku, Mu Jinzhen memang sering menghadiri berbagai pesta, jadi menari tentu sudah biasa. Hanya saja, menari di atas pasir adalah pengalaman pertama baginya, tapi ia tak ingin merusak suasana hati Zhang He.
Mendengar lagu waltz itu, Mu Jinwei teringat hari pesta pertunangannya, saat ia yang cemburu memilih bersembunyi di pojok sambil minum, membiarkan Yang Shangni berdiri sendirian. Lagu pembukanya adalah waltz favorit Yang Shangni, namun yang menari dengannya justru Yang Zhenyu.
Keduanya saling berpandangan, sama-sama mengingat pesta pertunangan itu. Mu Jinwei pun duduk lalu mengulurkan tangan besarnya ke arah Yang Shangni.
Yang Shangni menyambut tangan itu, lalu mereka berdiri dan mulai berputar menari. Meski di atas pasir, gerakan Yang Shangni tetap anggun dan ringan. Keduanya bergerak begitu selaras, seolah aliran air yang mengalir lembut.
“Kelima, mau tidak kakak ketiga menari bersamamu?” tanya Jun Mo, melihat kedua gadis lain sudah ditemani menari, ia tidak ingin Mumu merasa terabaikan.
“Aku ingin menari dengan kakak tertua!” ujar Mumu lalu berdiri dan melangkah ke arah Zheng Yanhao yang sedang berbaring di pantai, menatapnya dari atas. Ucapannya terdengar lebih seperti perintah daripada pertanyaan.
Jun Mo menatap Zheng Yanhao dengan penuh minat. Ia sempat mengira Zheng Yanhao pasti akan menolak, karena biasanya ia paling tidak suka menari. Mengajaknya bertarung mungkin iya, menari benar-benar bukan gayanya.
Namun Zheng Yanhao tetap duduk, berusaha menenangkan nada suaranya. “Aku tidak bisa.”
“Aku bisa mengajarimu!” jawab Mumu dengan sungguh-sungguh, lalu mengulurkan tangan kecil yang putih dan lembut ke arah Zheng Yanhao.
Entah kenapa, Zheng Yanhao pun meraih tangan Mumu. Lembut tak bertulang, dingin menyegarkan seolah air meresap ke dalam telapak tangannya sendiri. Ia sempat tertegun, lupa untuk berdiri.
Mumu merasakan di telapak tangan Zheng Yanhao ada kapalan-kapalan halus, kering dan hangat. Tangan kecilnya dibalut erat oleh telapak tangan besar itu, membuatnya merasa aman.
Tiba-tiba Mumu ingin terus digandeng seperti ini, dilindungi dengan erat di telapak tangan Zheng Yanhao.
Jun Mo melihat pasangan-pasangan di sekitarnya dan merasa suasananya agak aneh, ia memilih kembali ke vila sendirian untuk tidur.
“Aku capek, tidak jadi menari,” ujar Mumu lalu menarik kembali tangannya.
Jelas terlihat Zheng Yanhao jadi sedikit murung.
“Kakak, aku malas jalan!” Mata besar Mumu yang bening berputar-putar, cahayanya menyaingi bintang di langit malam itu.
“Gendong aku pulang, ya? Seperti waktu kecil dulu,” rayu Mumu, teringat dulu tiap kali keluar bermain bersama para kakaknya dan Kak Shangni, ia yang paling kecil selalu paling cepat lelah, dan akhirnya selalu merengek minta digendong kakak tertua, tak mau beristirahat duluan.
Zheng Yanhao tersenyum tipis yang hampir tak terlihat, lalu berdiri dan menggendong Mumu. Berat Mumu tak sampai lima puluh kilogram, tak terasa beban di punggungnya.
“Gadis kecil, kamu terlalu kurus, nanti harus makan lebih banyak,” ujar Zheng Yanhao sambil memperlambat langkahnya tanpa sadar, seolah tidak ingin cepat-cepat tiba di vila.
Mumu menempelkan wajahnya ke punggung Zheng Yanhao, menjawab pelan, “Hmm.” Entah kenapa, matanya terasa panas dan basah.
“Kakak, nanti kamu akan menikah juga, kan?”
Zheng Yanhao tidak menyangka Mumu akan bertanya demikian. Ia berpikir sejenak lalu menjawab, “Sepertinya iya.”
Baik bisa bersama orang yang ia cintai maupun tidak, pada akhirnya pernikahan tetap harus dijalani. Sekarang keluarganya terus mendesak, orang tua ingin segera melihatnya memiliki anak sendiri. Kalau tidak bisa bersama orang yang ia cintai, siapa pun calon istrinya kelak tidak terlalu penting. Mungkin beberapa tahun lagi, keluarga akan menjodohkannya dengan seseorang, dan ia pun tak bisa menolak.
“Lalu, apakah kakak sudah punya gadis yang disukai?” Mumu bertanya lagi, perasaannya tak nyaman.
Zheng Yanhao tak tahu harus menjawab apa, juga tidak tahu apakah ia harus memberitahu Mumu bahwa ia memang menyukai seseorang, dan orang itu adalah dirinya. Dulu ia mengira Jun Mo menyukai Mumu, maka ia selalu menahan diri, tidak ingin bersaing dengan saudara sendiri, apalagi orang itu adalah adik kandung sahabatnya sendiri. Ia tidak ingin merusak hubungan persahabatan belasan tahun itu, sehingga perasaannya ia pendam dalam-dalam.
Sekarang ia tahu Jun Mo tidak menyukai Mumu, tapi ia pun tidak berani berharap banyak. Perbedaan usia terlalu besar, dan urusan keluarga mereka yang penuh rahasia hitam itu juga ada di tangannya. Ia merasa tidak bisa menjanjikan kehidupan damai bagi Mumu.
Melihat Zheng Yanhao lama tak menjawab, Mumu pun tidak bertanya lagi. Ia sebenarnya ingin mendengar jawaban ‘tidak ada’, agar bisa berkata, “Kalau kakak belum punya gadis yang disukai, biarkan Mumu selalu menemani kakak, boleh?”
Tiba-tiba punggung Zheng Yanhao menegang, ketika ia merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di punggungnya, tidak juga beranjak. Sampai akhirnya tiba di vila, ternyata Mumu sudah tertidur di punggungnya.
“Mumu sudah tidur?” Jun Mo yang duduk di ruang tamu vila melihat Mumu tertidur tenang di punggung Zheng Yanhao, lalu membantu menurunkannya.
“Gadis kecil ini, kalau tidur mirip sekali dengan Xiao Zhe, benar-benar masih anak-anak!” Jun Mo menerima Mumu lalu Zheng Yanhao mengangkatnya dengan kedua tangan.
Ia pun teringat pada bocah laki-laki dua tahun yang memanggilnya Paman Besar itu, dengan sepasang mata bulat besar yang selalu berputar jenaka, sangat menggemaskan.
“Kakak tahu tidak, Wei punya anak laki-laki?” tanya Zheng Yanhao dengan dahi berkerut.
“Mana aku tahu! Sepertinya belum tahu, kalau tahu, mana mungkin semudah itu melepas Wei. Kalau Shangni tahu Wei punya anak di luar nikah, pasti hidup Wei setengah mati!” Jun Mo juga sangat suka Xiao Zhe. Baru berusia dua tahun sudah seperti orang dewasa kecil, bicaranya manis, setiap kali bertemu pasti memanggilnya Paman Kecil. Yang paling mengesankan, dia berani menegur Zheng Yanhao agar tidak merokok. Zheng Yanhao selalu menuruti kemauannya. Walaupun Xiao Zhe anak di luar nikah, ia sangat imut dan menggemaskan, semua orang menyukainya, semua berputar di sekeliling bocah kecil itu.
Hanya saja, Jun Mo tak habis pikir bagaimana Wei yang begitu memanjakan Yang Shangni bisa membawa pulang anak di luar nikah. Xiao Zhe berdiri saja sudah seperti salinan kecil Mu Jinwei, tak perlu tes DNA pun semua orang tahu.
Jun Mo benar-benar kagum pada keberanian Wei. Walaupun di kalangan orang kaya anak di luar nikah sudah hal biasa, tapi di antara empat keluarga mereka, ini benar-benar hal yang belum pernah terjadi. Xiao Zhe jadi yang pertama.
Yang jadi masalah, Jun Mo tak berani membayangkan bagaimana reaksi Yang Shangni saat bertemu anak itu. Ia yakin, hanya ada dua kemungkinan: entah ia akan menggigit Mu Jinwei sampai habis, atau mereka akan bermusuhan selamanya.