Seratus Enam Puluh Satu: Memercayaimu
Melihat ekspresi Gong Yibei yang tampak begitu kekanak-kanakan, Wen Yishu seketika tertawa. "Aku juga tidak tahu mengapa dia datang ke sini untuk menemuiku."
Mendengar penjelasan Wen Yishu, Gong Yibei merasa antara ingin tertawa dan menangis. "Hanya itu saja?"
"Lalu apa lagi? Memangnya kau tidak percaya padaku?" Wen Yishu menaikkan nada suaranya. Ia merasa bahwa tidak perlu menjelaskan apa pun kepada orang yang tidak penting.
Mendengar kalimat itu, suasana hati Gong Yibei langsung terasa jauh lebih lega. "Apa pun yang kau katakan, aku akan tetap mempercayaimu. Nyonya, niat Gong Yilang terhadapmu tidak murni, wajar saja jika aku merasa khawatir."
Suaranya yang tetap berwibawa kini dihiasi sedikit ketenangan, membuat suasana tegang sebelumnya lenyap tak bersuara.
Begitu teringat pada Gong Yilang, sekujur tubuhnya dipenuhi amarah. Pria itu sungguh menyebalkan, apa pun bisa direbut, tetapi mengapa harus berniat merebut wanita miliknya?
Namun, untungnya Gong Yilang bukanlah tipe pria yang disukai oleh Wen Yishu. Memikirkan hal itu, Gong Yibei merasa jauh lebih percaya diri dan menegakkan punggungnya.
Wajah tampannya dipenuhi senyuman, kelembutan di matanya tak mampu disembunyikan dan terpancar secara alami saat ia menatap Wen Yishu. "Tubuhmu sudah jauh lebih baik, kan?"
"Sudah lama pulih. Aku sengaja berbaring lebih lama di rumah karena tidak ingin pergi ke perusahaan."
Hari ini Wen Yishu berniat pergi ke Kota Rong dengan dalih membicarakan urusan bisnis untuk menemui Qin Zheng, guna mencari kejelasan tentang kejadian di masa lalu. Tak disangka, begitu melangkah keluar rumah, ia justru berpapasan dengan Gong Yilang, dan setelah itu ia malah dibawa pergi oleh pria yang ada di hadapannya ini.
"Bagaimana kalau hari ini menemaniku?" Ada secercah antisipasi di wajah pria itu.
Wen Yishu menggelengkan kepala. "Hari ini aku masih punya satu urusan yang harus kudapatkan kejelasannya secara langsung."
"Aku akan menemanimu." Gong Yibei tetap bersikap mendominasi seperti biasanya.
Ekspresi Wen Yishu sedikit berubah. Ia tidak ingin Gong Yibei ikut campur dalam urusan ini. "Aku ingin pergi sendiri untuk mencari tahu kebenaran masa lalu. Aku ingin menanyakannya sendiri."
Gong Yibei langsung mengerti bahwa Wen Yishu hendak menemui Qin Zheng secara pribadi. "Kalau begitu, berhati-hatilah. Hubungi aku segera jika terjadi sesuatu."
Dahulu ia pernah berikrar untuk menghormati Wen Yishu dalam keadaan apa pun, dan jika wanita itu tidak ingin dirinya ikut campur, maka ia tidak akan pernah melanggarnya.
Wen Yishu merasa terkejut dengan sikap Gong Yibei. Jika berdasarkan perilakunya di masa lalu, pria ini pasti sudah merasa kesal, merajuk, dan bahkan memaksanya untuk membiarkan dirinya ikut menemani.
Memandang pria di hadapannya, Wen Yishu tiba-tiba merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Terima kasih karena selalu menemaniku." Wen Yishu sendiri tidak tahu mengapa kalimat itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirnya.
Mendengar kata-kata tersebut, Gong Yibei sontak tertegun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Wen Yishu mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya. Tampaknya segala usaha yang ia curahkan selama ini tidak sia-sia. Memikirkan hal itu, hati Gong Yibei merasa sangat puas.
"Kenapa Nyonya bersikap sungkan begitu?"
Mendengar Gong Yibei yang kembali melontarkan kalimat usil seperti biasa, kali ini Wen Yishu justru tidak merasa marah di dalam hatinya.
"Kita akan segera tiba di Kota Rong. Hati-hatilah, aku ada urusan sebentar dan akan menjemputmu nanti."
Chen Lei mengemudikan mobil dengan hati-hati sambil berusaha agar tidak menimbulkan suara apa pun yang dapat mengganggu kedua orang di kursi belakang. Jarang sekali kedua orang itu terlihat begitu serasi, dan di dalam hatinya ia diam-diam merasa gembira karena bonus bulan ini tampaknya sudah di depan mata.
Dengan rasa penasaran, Wen Yishu bertanya, "Bagaimana kau tahu aku ingin pergi ke Kota Rong? Memangnya kau cacing di dalam perutku?"
Gong Yibei mengangkat alisnya seraya tersenyum, bibirnya yang tipis terkatup rapat. "Gadis bodohku, bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan? Tapi kali ini aku benar-benar tidak sedang menyelidikimu diam-diam."
Beberapa waktu lalu, ketika Wen Yishu mengatakan ingin menyelidiki Qin Zheng secara pribadi dan sempat meminta tolong padanya, secara tidak sengaja ia melihat di dalam berkas bahwa Qin Zheng berada di Kota Rong. Ia menduga hari ini Wen Yishu keluar dengan menggunakan alasan urusan bisnis demi masalah ini.
Begitu Wen Yishu turun dari mobil, senyuman di wajah Gong Yibei langsung memudar. "Kerahasakan orang-orang kita di Kota Rong untuk melindungi Wen Yishu. Sore ini aku harus menjalankan sebuah misi."
Chen Lei segera memasang wajah penurut dan berkata, "Tenang saja! Saat Anda mengucapkan kalimat itu tadi, saya sudah memberikan instruksi!"
Setelah berbicara, Chen Lei memasang ekspresi seolah-olah meminta pujian dan sanjungan, tetapi Gong Yibei bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
"Barang yang kuperintahkan untuk disiapkan, apakah sudah siap?" Chen Lei tentu sangat paham barang apa yang dimaksud oleh Gong Yibei.
"Tentu saja sudah siap. Agar Nona Wen tidak sampai mengetahuinya, saya sudah menyembunyikannya di bawah kursi."
Gong Yibei mengangguk, duduk tegak dengan ekspresi datar, lalu berkata, "Ayo jalan."
Berdasarkan alamat yang tertera pada catatan yang dibawanya, Wen Yishu menemukan sebuah tempat tinggal. Baru saja ia mengetuk pintu, seorang wanita berwajah sangat lembut berjalan keluar menyambutnya.
"Maaf, Nona sedang mencari siapa?"
Dengan sopan Wen Yishu menjawab, "Aku datang untuk mencari Qin Zheng."
Mendengar kata-kata itu, ekspresi wajah wanita tersebut sedikit berubah. "Tuan Qin sudah tidak lagi berpraktik sebagai tabib sejak beberapa tahun lalu, jadi kumohon Nona jangan membuang-buang waktu di sini."
Melihat penampilan wanita di hadapannya, ia bisa menebak bahwa gadis ini pasti datang untuk berobat, tetapi sayangnya tebakannya meleset.
Wen Yishu tersenyum. "Aku bukan datang untuk berobat kepada Tuan Qin. Aku hanya ingin menanyakan suatu masalah, dan setelah itu aku akan langsung pergi."
Wen Yishu merentangkan tangannya dengan senyuman tak bersalah di wajahnya, berhasil menurunkan kewaspadaan wanita yang membukakan pintu itu.
"Silakan masuk dulu."
Dekorasi interior rumah ini tampak sangat klasik. Di saat sebagian besar rumah kini menggunakan gaya dekorasi kebarat-baratan, tempat ini justru bernuansa kuno dengan perabotan kayu murni, lampu gantung berbahan kayu, serta tangga kayu. Dari sana terlihat bahwa pemilik yang tinggal di sini adalah seseorang yang memiliki cita rasa tinggi.
Sesaat kemudian, terdengar suara yang sudah tua berseru, "Gadis muda, kaulah yang datang mencariku?"
Seorang lelaki lanjut usia berjalan mendekat dari arah depan. Dengan patuh Wen Yishu mengangguk. "Tuan Qin, hari ini aku datang untuk menemui Anda karena ada sedikit urusan."
Qin Zheng mengamati gadis di hadapannya dengan cermat dan merasa ada beberapa bagian yang terasa familier. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya, membuat ekspresinya berubah. "Siapa kau?"
"Wen Yishu."
Setelah mendengar nama itu, Qin Zheng semakin serius menanggapi kecurigaan di dalam hatinya dan memahami tujuan kedatangan gadis di hadapannya. "Katakanlah apa pun keperluanmu."
"Tuan Qin, aku ingin menanyakan tentang kejadian di masa lalu. Saat itu, kematian ibuku terasa sangat janggal. Padahal jelas-jelas dokter mengatakan kondisinya akan pulih setelah beberapa waktu, tetapi mengapa ia tiba-tiba meninggal dunia? Aku tidak sengaja mendengar bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab atas perawatan medis ibuku saat itu. Aku yakin Anda pasti tahu betul mengenai masalah ini." Ekspresi di wajah Wen Yishu sulit untuk ditebak.
Qin Zheng merasa sedikit terkejut. Gadis kecil yang tampak begitu rapuh dan mudah ditindas di masa lalu kini memancarkan wibawa yang tak kasat mata, bahkan membuat seorang lelaki tua yang telah hidup setengah abad sepertinya merasa sedikit gentar. Namun, ia bagaimanapun juga adalah seorang sesua, sehingga saat berbicara di hadapan generasi muda, nadanya terdengar jauh lebih tegas.
"Mengenai kejadian masa lalu, aku tidak tahu dan tidak paham apa pun. Kau salah orang. Kematian ibumu saat itu hanyalah sebuah kecelakaan semata. Kondisi ibumu sudah parah pada waktu itu, sehingga sudah tidak tertolong lagi."