Bab 153 Aku Berjanji
"Kau tidak menyuruhku pergi, aku sendiri yang ingin pergi." Su Rui menggelengkan kepalanya dengan senyum penuh cemoohan.
Bukan berarti ia tidak pernah memberi Song Tianxiang kesempatan, hanya saja pria itu sendiri yang tidak menghargainya.
"Kau ingin pergi? Apa kau bisa pergi begitu saja?" kata Song Tianxiang. "Sudah kubilang, hari ini aku harus mendapatkan kejelasan."
Su Rui mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk di bangku. "Kejelasan seperti apa yang kau inginkan?"
Song Tianxiang berkata dengan suara berat, "Sangat sederhana, kau harus menerima hukuman dari hukum."
"Hukum?" Mendengar itu, Su Rui tertegun sejenak, lalu berkata dengan nada mengejek, "Melihatmu sebagai orang yang jujur, aku ingin bertanya, menurutmu mana yang lebih penting, hukum atau moral?"
Song Tianxiang sempat tidak mengerti mengapa Su Rui melontarkan pertanyaan seperti itu, dan ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ia memang bukan orang jahat, ia hanya ingin melampiaskan amarah demi anaknya.
Melihat reaksi Song Tianxiang, Su Rui menggelengkan kepalanya.
"Meskipun usiamu sudah tidak muda lagi, pikiranmu masih cukup jernih. Hukum memang penting, tetapi di saat-saat tertentu, moral adalah tolok ukur yang sebenarnya."
Pancaran mata Song Tianxiang menjadi serius, lalu ia berkata dengan suara berat, "Aku tetap tidak bisa membiarkanmu pergi."
Su Rui merentangkan tangannya. "Kalau begitu, terserah padamu apakah kau mampu menahan
diriku."
Lin Aoxue hanya diam di samping, tetapi tatapannya perlahan-lahan memancarkan hawa dingin yang pekat.
Pada saat itu, empat orang polisi masuk dari luar dan berdiri di sisi Su Rui.
Salah seorang dari mereka telah mengeluarkan borgol yang berkilau, menunjukkan kartu identitas kerjanya, dan berkata dengan tegas, "Kami adalah penyidik dari kepolisian kota Ninghai. Kau terlibat dalam kasus penganiayaan berat dan harus ikut dengan kami untuk pemeriksaan."
Su Rui menoleh kepada Song Tianxiang. "Cara murahan seperti ini terasa terlalu rendah."
Song Tianxiang menggelengkan kepalanya. "Kau salah. Terkadang, cara yang paling murahan justru adalah cara yang paling efektif."
"Sebenarnya, di lubuk hatimu yang paling dalam, kau tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi demi putramu, kau rela menutup mata," kata Su Rui.
Begitu ia selesai berbicara, polisi yang menunjukkan kartu identitas tadi berkata dengan nada tidak sabar, "Banyak omong sekali! Cepat bawa dia pergi!"
Sambil berbicara, polisi di sebelah memborgol pergelangan tangan Su Rui!
Mata Su Rui memancarkan kilatan dingin. "Kalau mau bekerja sama untuk pemeriksaan, mari bekerja sama, tidak perlu sampai harus mengenakan benda ini."
Bagi Su Rui, borgol adalah alat yang sangat merendahkan martabat manusia. Lima tahun lalu, ia juga pernah diborgol, bahkan saat itu bukan hanya tangan yang diborgol, melainkan juga kakinya yang dirantai.
Oleh karena itu, setiap kali melihat benda ini, Su Rui selalu merasakan gejolak psikologis tertentu.
Bagi seseorang dengan ketahanan mental yang luar biasa sepertinya, gejolak psikologis semacam ini sangatlah langka. Sekali gejolak itu muncul, itu menandakan konsekuensi yang sangat buruk.
Polisi yang memimpin itu berkata, "Sebagai tersangka kriminal, kau harus tahu diri! Masih berani mengajukan syarat!"
Namun, Su Rui justru meletakkan kedua tangannya ke belakang punggung dan berkata, "Tadi aku tidak melihat kartu identitasmu dengan jelas, aku tidak tahu apakah kalian polisi sungguhan atau polisi gadungan."
Song Tianxiang berdiri di belakang, mengamati Su Rui dengan cermat. Ia ingin melihat dengan saksama, kartu As apa yang akan digunakan oleh pemuda yang telah membuatnya terpojok ini untuk meloloskan diri.
Wajah polisi itu menampakkan ekspensi garang. Ia tertawa karena geram. "Baiklah, akan kuperlihatkan dengan jelas padamu!"
Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan kartu identitasnya lagi dan mengulurkannya tepat di depan wajah Su Rui!
"Namamu Ma Dongfang," ucap Su Rui membaca nama di kartu itu.
Polisi kriminal bernama Ma Dongfang itu mencemooh, "Sekarang kau bisa ikut dengan kami, kan?"
"Tidak bisa," Su Rui menggelengkan kepala.
"Aku tidak melakukan kejahatan, atas dasar apa aku harus ikut dengan kalian?" Su Rui mengangkat alisnya.
"Bagus, kulihat kau memang tidak akan menyerah sebelum melihat peti mati," kata Ma Dongfang. "Setibanya di kantor polisi, kau akan paham sendiri bahwa Tuan Song ini telah menyerahkan seluruh buktinya kepada kami."
Song Tianxiang mengangguk kecil. Ia benar-benar tidak percaya Su Rui dapat melawan institusi kekerasan negara seperti kepolisian. Kecuali ia memiliki koneksi yang begitu kuat hingga menembus langit, bukti-bukti itu sudah lebih dari cukup untuk mengurungnya di penjara selama sepuluh tahun ke depan.
Lin Aoxue melangkah maju, berdiri di antara Su Rui dan Ma Dongfang, dengan suara yang terdengar sangat dingin, "Kalian tidak boleh membawanya pergi."
Ma Dongfang menatap wajah Lin Aoxue, matanya sempat memancarkan keterpanaan sebelum ia berkata dengan nada mencemooh, "Direktur Lin, jangan berpikir bahwa karena kau cantik, kau bisa menghalangi tugas kepolisian. Awas, kalau kau teruskan, aku bisa membawamu kembali sebagai tersangka untuk diperiksa!"
"Apakah aturan terhadap tersangka di tempat kalian memang seperti itu?"
Lin Aoxue hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi ia merasakan Su Rui dengan lembut menariknya ke belakang, lalu berkata kepadanya, "Jangan khawatir, aku tidak akan apa-apa. Tunggu saja kabar dariku di luar."
Lin Aoxue tampak ragu-ragu, lalu mengangguk pelan.
"Satu lagi, selama aku belum keluar, jangan tinggalkan Vila Keluarga Lin sedetik pun," pesan Su Rui.
Melihat tatapan sungguh-sungguh dari Su Rui, Lin Aoxue merasa cemas. "Apakah kau akan berada di dalam untuk waktu yang lama?"
"Tidak lama, mungkin hanya perlu empat atau lima jam," Su Rui tersenyum.
Ekspresi Lin Aoxue sedikit melunak. Ia tahu bahwa ia harus bersiap-siap terlebih dahulu. Jika Su Rui benar-benar mengalami kecelakaan dan ditahan di pusat tahanan sehingga tidak bisa keluar tepat waktu, ia harus menyelamatkannya.
Pria itu telah berbuat terlalu banyak untuknya, kini gilirannya melakukan sesuatu untuk pria itu.
Ma Dongfang mencibir ke arah Su Rui dan berkata, "Sombong sekali."
Sebagai seorang polisi kriminal senior, ia sudah terlalu sering melihat kasus seperti ini. Jika seseorang memang berniat menjatuhkan orang lain, tersangka tidak akan pernah bisa keluar dengan selamat dalam waktu singkat.
Su Rui menatap Ma Dongfang dan tersenyum tipis. "Ayo kita pergi. Kuharap kau tidak menyesal."
"Seharusnya kalimat itu yang kukatakan padamu. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, dan ada beberapa orang yang tidak boleh disinggung," Ma Dongfang menatap Su Rui dengan dingin.
"Oh? Apakah ini peringatan, atau sebuah isyarat? Isyarat tentang siapa yang telah menyinggungku?" Meskipun Su Rui tidak mengatakannya secara terang-terangan, kata-kata itu jelas menunjukkan kecurigaannya terhadap Ma Dongfang dan rekan-rekannya.
"Mengisyaratkanmu? Aku benar-benar tidak punya kerjaan," Ma Dongfang mendorong Su Rui dan berkata dengan nada mengejek, "Borgol tangan si jago omong besar ini, lalu bawa dia pergi."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ma Dongfang melirik sekilas ke arah Song Tianxiang yang duduk di samping. Pria itu mengangguk kecil yang hampir tak terlihat.
Sudut bibir Ma Dongfang terangkat membentuk sebuah lengkungan. Dua jam yang lalu, kartu banknya telah menerima transfer dana yang jumlahnya setara dengan gaji dua tahun kerjanya.
Sebagai seorang polisi, uang tambahan setiap tahun tidaklah banyak, mereka terutama mengandalkan gaji pokok. Meskipun Ma Dongfang bukan polisi yang baik dan selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan kecil, menerima uang sebanyak itu sekaligus adalah pengalaman pertamanya seumur hidup.
Saat pertama kali menerima "isyarat" dari atasannya, Ma Dongfang sempat merasa khawatir. Bagaimanapun juga, meskipun uang itu bukan jumlah yang fantastis, jika diselidiki sungguh-sungguh, akibatnya tetap saja bisa membuatnya berada dalam masalah besar.
Namun, ketika ia melihat bukti-bukti yang sangat meyakinkan itu, Ma Dongfang merasa tenang. Selama ia memproses kasus ini sepenuhnya sesuai prosedur hukum, tidak akan ada masalah apa pun. Perbuatan Su Rui memang telah memenuhi unsur tindak pidana penganiayaan berat, sehingga uang ratusan ribu itu bisa ia terima tanpa rasa khawatir.
Donatur mereka tentu saja adalah Direktur Song dari Grup Tianxiang.
Meskipun tersangka ini terlihat licik dan merepotkan, Ma Dongfang telah menemui orang-orang seperti ini berkali-kali selama bertahun-tahun. Begitu dibawa kembali ke ruang interogasi, sekeras apa pun tulang mereka, dijamin dalam waktu dua jam mereka pasti akan mengaku!
"Benar-benar bajingan yang saling mendukung, tikus dan kucing dalam satu lubang." Su Rui menangkap basah ekspresi wajah keduanya dan langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tersenyum dingin dan melangkah maju untuk pergi.
Namun, tepat sebelum melangkah, Su Rui berbalik dan berkata kepada Song Tianxiang dengan sangat serius, "Jangan jadi orang bodoh yang dimanfaatkan sebagai senjata oleh orang lain."
Song Tianxiang menggelengkan kepalanya. "Kurasa aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Suatu hari nanti kau akan mengerti," kata Su Rui penuh makna.
"Sudah kubilang, borgol dia!" Ma Dongfang berteriak kepada bawahannya!
Sikap "angkuh" Su Rui benar-benar telah membuatnya geram! Sebagai polisi senior, ia merasa harga dirinya diinjak-injak! Awalnya, demi suasana hati yang sedang bagus berkat uang ratusan ribu itu, ia sempat meladeni beberapa patah kata dengan Su Rui, tetapi tidak disangka pria itu justru semakin menjadi-jadi!
Bukan hanya menjadi-jadi, pria itu bahkan menginjak-injak harga diri mereka hingga babak belur!
Polisi di samping hendak memborgol Su Rui, tetapi tiba-tiba pria itu berbalik dan menatap tajam ke arah Ma Dongfang, matanya memancarkan sorot cahaya yang sulit diartikan.
"Tunggu apa lagi? Cepat borgol!" bentak Ma Dongfang lagi!
Su Rui tidak lagi melawan. Ia mengulurkan kedua tangannya, membiarkan borgol yang berkilau itu kembali melingkari pergelangan tangannya.
Ya, sekali lagi.
Su Rui menyipitkan matanya, seolah sengatan cahaya dingin itu menusuk saraf retinanya.
Naga memiliki sisik di bagian bawah lehernya yang jika disentuh akan memancing kemurkaan. Namun, selalu saja ada orang yang secara sengaja maupun tidak sengaja menyentuh sisik itu. Dalam situasi seperti itu, apakah seseorang harus memilih untuk menelan ludah dan pura-pura tidak tahu, atau justru melangkah maju dan menghancurkan wajah arogan itu dengan kepalan tangan?
"Ma Dongfang, kau adalah adik dari Ma Donglai, kan?" tiba-tiba Su Rui bertanya.
"Apa maksudmu?" Ma Dongfang sempat tidak mengerti mengapa Su Rui tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu!
Ma Dongfang memang adik dari Ma Donglai. Dan Ma Donglai inilah yang beberapa waktu lalu, atas perintah Wakil Kepala Kepolisian Zhang Yuanxing, berniat memaksakan pengakuan dari Su Rui di ruang interogasi, tetapi akhirnya justru ditikam dengan belati oleh Su Rui hingga menempel di dinding dan dipukuli hingga terluka parah hanya dalam beberapa jurus!
Masalahnya, Zhang Yuanxing, Ma Donglai, dan kawan-kawan dipukuli begitu parah di wilayah kekuasaan mereka sendiri tanpa bisa mengadu ke mana-mana. Saat mereka dirawat di rumah sakit, Komisi Inspeksi Disiplin Kota Ninghai bahkan telah mengirimkan tim khusus untuk menyelidiki kasus tersebut, membuat kedua bajingan di dunia kepolisian itu berada di ambang kehancuran.
Lucunya, setelah sang kakak diusir, kini sang adik yang datang menggantikan. Dunia ini benar-benar penuh dengan kebetulan yang tak terduga.
Su Rui mendekati Ma Dongfang, matanya menyipit, lalu berbisik kepadanya, "Yang ingin kukatakan kepadamu adalah, jangan mengira bahwa kejahatan yang telah kau perbuat tidak diketahui oleh siapa pun. Dunia ini sangat adil. Bukan karena tidak ada pembalasan, melainkan waktunya yang belum tiba. Begitu waktunya tiba, balasan setimpal pasti akan datang."
Entah mengapa, mendengar kata-kata Su Rui, Ma Dongfang mendadak bergidik ngeri!
Rasa ngeri itu berasal dari hawa dingin yang merayap keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam!
Melihat reaksi pria itu, Su Rui mencibir, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan pribadi tersebut.
Lin Aoxue menyaksikan kepergian Su Rui dengan tatapan yang rumit, lalu membalikkan badan, sementara wajahnya kembali membeku dalam waktu kurang dari satu detik.
Ia menatap Song Tianxiang yang masih duduk di kursinya, lalu berkata dengan sangat serius dan dingin, "Mulai sekarang, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menghancurkan Grup Tianxiang. Aku berjanji."