Seratus Lima Puluh: Qixi (Bagian Kedua)
“Sepupu ipar, menurutmu sepupu perempuanku sangat peduli pada Kakak Ketiga tidak?” Mumu mengerling ke arah Zhang He yang duduk di seberangnya.
Zhang He menoleh sekilas ke arah Mu Jinchen, lalu mengangguk tanpa berniat menyahut.
Mumu merasa bosu lalu menunduk. Sejak kapan orang-orang ini menjadi begitu membosankan?
“Ada apa?” Melihat Mumu menggembungkan pipinya, Zheng Yanhao mengangkat istri kecilnya itu dan mendudukkannya di pangkuannya. Tanpa mempedulikan pandangan orang lain, ia mencolek hidung Mumu dengan jarinya.
Ia selalu merasa dirinya terlalu kaku. Mumu sembilan tahun lebih muda darinya, berada di usia yang lincah, aktif, dan gemar bermain. Ia selalu khawatir Mumu akan merasa bosan hidup bersamanya.
Mumu menggelengkan kepala dalam dekapan suaminya. “Aku sudah kenyang.”
Zheng Yanhao menunduk dan mengecup bibir Mumu sekilas, bagaikan sentuhan sayap kupu-kupu, namun tetap berhasil membuat wajah Mumu merona malu.
Jun Mo menyaksikan pemandangan itu dengan sedikit rasa iri. Kapan ia bisa memperlakukan Zheng Ting seperti pasangan normal pada umumnya? Mu Jinwei melirik pasangan itu dari sudut matanya; mengatakan ia tidak iri tentu saja bohong, sebab istri kecilnya selalu bersikap dingin kepadanya.
“Dilarang pamer kemesraan!” Zhang He berkata dengan suara nyaring sambil tersenyum menatap keduanya.
“Kalian lanjutkan saja makannya.” Zheng Yanhao menggendong Mumu keluar dari ruang makan.
Setibanya di ruang keluarga, keduanya bermanja-manja sejenak. Zheng Yanhao terus mendekap Mumu erat di pelukannya. “Bosan tinggal di rumah terus?”
Meski telah tinggal bersama selama setengah tahun dan bahkan telah memiliki anak, interaksi fisik paling berani di antara mereka berdua selama enam bulan ini hanyalah berciuman. Zheng Yanhao begitu menghargai dan menyayangi istri kecilnya itu.
Setiap kali Mumu menatap matanya, gadis itu selalu tersipu malu. Zheng Yanhao melihat gadis muda di pelukannya itu mengangguk dengan pipi merona.
Ini baru awal liburan musim panas. Semula ia berencana membawa Mumu pergi berjalan-jalan beberapa waktu kemudian, namun tampaknya rencana itu harus dimajukan. “Kalau begitu, besok kita pergi berlibur saja. Biarkan Ibu yang menjaga Xiao Zhe.”
Ia sama sekali tidak ingin momen dunia berdua mereka diganggu oleh si lampu kecil. Xiao Zhe sudah berusia tiga tahun dan kini semakin mengerti banyak hal. Setiap kali ia menunjukkan keintiman kepada Mumu, Xiao Zhe pasti akan berkomentar bahwa Papanya tidak senonoh dan suka memanfaatkan Mamanya, entah dari mana anak zaman sekarang belajar hal seperti itu.
“Benarkah?” Mumu langsung bersemangat, kedua lengannya melingkar erat di leher Zheng Yanhao.
“Benar, apa aku pernah membohongimu?”
“Wah, asyik sekali! Suamiku yang terbaik!” Sama seperti Yang Shangni, Mumu jarang memanggil suaminya dengan sebutan “suami”. Panggilan sayang itu membuat Zheng Yanhao menyesal mengapa ia tidak mengajak Mumu pergi berlibur lebih awal.
“Aduh, kalian ini sedang memamerkan kemesraan apa sih?” Anggota keluarga lainnya yang telah selesai makan turut keluar ruangan dan melihat Mumu yang tengah memeluk Zheng Yanhao dengan penuh semangat hingga hampir melompat. Zhang He tersenyum lebar melihat pasangan itu; meskipun terpaut usia yang cukup jauh, mereka justru menjadi pasangan yang paling lengket.
“Siapa yang bisa menandingi kemesraan Sepupu Ipar!” Mumu bangkit dari pangkuan Zheng Yanhao.
“Suami, aku juga mau cium.” Zhang He tiba-tiba beralih pada Mu Jinchen. Mu Jinchen yang biasanya kaku di hadapan orang banyak, tanpa sadar langsung mundur perlahan.
Zhang He mencengkeram lengan Mu Jinchen erat-erat tanpa mau melepaskannya. Mu Jinchen berbadan sangat tinggi, dan karena pria itu enggan menunduk, Zhang He bahkan harus berjinjit pun tetap tidak bisa mencapai bibirnya.
Zhang He merasa kesal. Mumu bisa mendapatkan apa saja dari Zheng Yanhao, sementara Mu Jinchen selalu bersikap seperti sebatang kayu.
Yang Shangni tidak sanggup melihatnya; sahabat baiknya itu benar-benar sangat berani.
Zheng Yanhao memerintahkan pelayan untuk menyalakan kembang api di halaman. Perhatian beberapa orang itu langsung tersedot oleh kembang api yang semarak di luar jendela. Zhang He memeluk Mu Jinchen dan melompat ke tubuh pria itu, yang dengan sigap menopangnya agar ia tidak terjatuh.
Zhang He berhasil menggapai bibir pria itu dan mematuknya sekilas, namun ia belum puas. Sebagai hukuman atas ketidakpedulian pria itu sebelumnya, Zhang He melumat seluruh bibir Mu Jinchen dengan kuat.
Setelah bertahun-tahun bersama, Zhang He tetap tidak pernah merasa bosan dengan pria itu. Sebaliknya, Mu Jinchen selalu merasa canggung di tempat umum. Di hadapan begitu banyak orang, meskipun tidak ada yang sedang memperhatikan mereka, ia tetap merasa tegang seperti sedang melakukan perbuatan salah.
Melihat pintu kamar tamu tidak terkunci, Mu Jinchen membawa Zhang He masuk ke dalam kamar tersebut. “Keberanianmu semakin besar saja. Kalau tidak memberimu pelajaran, lain kali kau pasti akan bertindak lebih keterlaluan!”
Mu Jinchen menatap wanita nakal di dalam pelukannya itu dan mendaratkan sebuah tepukan ringan di pantatnya.
“Mohon Tetua sudi menjinakkan diriku!” Zhang He sama sekali tidak gentar menghadapi pria di hadapannya ini.
“Paman memukul perempuan, tidak malukah Paman!” Xiao Zhe berdiri di belakang mereka, membuat Mu Jinchen terkejut hingga hampir menjatuhkan Zhang He.
“Xiao Zhe, kenapa kau ada di sini?” Zhang He turun dan menatap anak itu.
“Dua anak kecil itu terlalu bising!” Xiao Zhe merasa risih karena Chen Chen terlalu banyak berulah, sehingga ia memilih bersembunyi sendirian di kamar tamu untuk bermain. Mu Jinchen tiba-tiba menggendong Zhang He masuk dan menutup pintu, membuat Xiao Zhe tertegun berdiri di belakang mereka.
“Papa, Papa, Paman memukul Bibi! Cepat tolong Bibi.” Xiao Zhe membuka pintu dan berteriak ke arah luar.
Orang-orang di luar tertegun sejenak. Baru saja kedua orang itu tampak baik-baik saja, bagaimana bisa mereka mendadak berkelahi?
“Xiao Zhe, jangan berteriak sembarangan.” Mu Jinchen menurunkan Zhang He dan mengangkat tubuh Xiao Zhe yang hendak berlari keluar.
“Papa, Papa tolong, Paman bukan cuma memukul perempuan tapi juga melakukan kekerasan terhadap anak!” Xiao Zhe meronta-ronta dengan putus asa, membuat Mu Jinchen mengelus dada.
Melihat wajah Zhang He yang memerah, orang-orang di luar akhirnya mengerti bahwa itu hanyalah aksi bermesraan pasangan muda yang tidak sengaja tertangkap basah oleh Xiao Zhe.
Zheng Yanhao tersenyum geli sambil mengambil alih Xiao Zhe. Anak kecil ini sepanjang hari selalu bertingkah seperti orang dewasa. “Laki-laki tidak boleh menindas perempuan ya!”
Dalam gendongan sang ayah, Xiao Zhe tidak lupa memperingatkan Mu Jinchen, yang kontan memancing gelak tawa dari semua orang.
Keempat wanita itu berkumpul untuk mengobrol bersama, sementara para pria duduk di sisi lain. Tiba-tiba Zheng Yanhao bertanya kepada Mu Jinwei, “Bagaimana hubunganmu dengan Suy?”
Mu Jinwei memasang ekspresi datar, sementara hatinya merasa tak berdaya.
“Tidak ada masalah di antara suami istri yang tidak bisa diselesaikan di atas ranjang.” Untuk pertama kalinya Zheng Yanhao mengucapkan kalimat seperti itu.
Mu Jinwei jatuh dalam lamunan. Ketika obrolan para wanita itu usai, Mu Jinwei mengajak Yang Shangni kembali ke vila mereka.
Sepanjang malam Mu Jinwei bolak-balik tidak bisa tidur, terus memikirkan perkataan Zheng Yanhao. Dengan hati-hati ia mengulurkan tangan, menarik Yang Shangni ke dalam pelukannya, lalu membalikkan badan hingga berada di atas tubuh wanita itu.
“Apa yang kaulakukan?” Di dalam kamar yang remang-remang, wanita itu masih bisa melihat sepasang mata suaminya yang bersinar terang menatap lurus ke arahnya.
“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri.” Mu Jinwei menunduk dan mengecup bibir istrinya sekilas.
Tubuh Yang Shangni langsung tegang. Ia memalingkan wajah ke samping, tidak berani melakukan kontak mata, karena ia tentu sangat mengerti apa maksud pria itu. Ia bahkan sudah bisa merasakan bagian tubuh suaminya yang mengeras menekan pahanya.
Ia sama sekali tidak berniat melayani suaminya sebagai pasangan suami istri. Dalam hatinya, ia sangat sadar bahwa mereka terikat perjanjian untuk menjalani pernikahan normal selama satu tahun, dan malam seperti ini cepat atau lambat pasti akan tiba.
Ia dapat merasakan napas suaminya yang mulai memburu. Sebuah sentuhan basah meluncur turun di lehernya. Tangannya terulur untuk mendorong pria itu, namun pergelangan tangannya langsung dicekal dan ditekan ke atas kepala. “Istriku, aku sangat merindukanmu. Jangan dorong aku, jangan tolak aku!”
Napas sang pria terdengar tidak beraturan, suara serak itu meresap ke dalam pendengaran Yang Shangni bagaikan sebuah mantra yang berhasil melumpuhkannya.
Di bawah bujukan dan sentuhan bertubi-tubi dari sang suami, kesadaran Yang Shangni perlahan-lahan mulai mengabur. Tiba-tiba ia merasakan tubuh pria yang menindaknya itu sedikit memberi jarak.
Pria itu menghujbkan diri ke depan, dengan mudah menerobos pertahanan terakhirnya. Hingga akhirnya Yang Shangni dibawa terbang melayang ke puncak kenikmatan oleh sang suami, ia baru menyadari bahwa tubuh mereka ternyata begitu menyatu dan saling melengkapi dengan sempurna.
Ketika pria itu akhirnya berguling turun dan berbaring dengan puas di sisinya, Yang Shangni merasakan saat itulah suaminya berada dalam kondisi paling lengah. Tangannya bergerak meraba belati yang sebelumnya ia sembunyikan di bawah kasur.
Dengan satu gerakan cepat, ia membalikkan badan dan menikam Mu Jinwei.
Mu Jinwei serta-merta membuka sepasang matanya yang sedingin es, namun pandangan itu seketika melunak penuh kasih saat melihat wajah istrinya.
Bilah belati itu menancap lurus ke dada kiri suaminya, logam dingin itu membenam danging. Sepucuk senyuman tersungging di sudut bibirnya tanpa sedikit pun kernyihan di dahi. Pria itu tetap menatap Yang Shangni dengan penuh kelembutan. “Apa pun yang kauinginkan, akan kuberikan.”
Hati Yang Shangni terasa begitu ngilu hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bagai tersengat aliran listrik, ia langsung melepaskan genggamannya pada belati itu. Padahal baru saja pria tersebut punya kesempatan untuk menghindar atau menangkis tangannya, namun ia memilih untuk tidak bergerak sama sekali.
Ia selalu mengira dirinya membenci pria itu. Pria yang telah merampas perusahaannya, mengkhianatinya, membuatnya jatuh ke sungai hingga nyaris kehilangan nyawa, dan merenggut buah hati mereka.
Ia seharusnya membenci pria itu.
Lantas mengapa saat ia benar-benar bisa membunuhnya, ia sama sekali tidak merasa senang? Yang ia rasakan justru nyeri di dada, bahkan ada cairan hangat yang tanpa sadar tumpah membasahi pipinya.
Mu Jinwei menyalakan lampu tidur, dengan susah payah mengangkat tangannya untuk mengusap pipi istrinya, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata Yang Shangni. “Jangan menangis. Aku tidak akan mati.”
Yang Shangni merutuki pria keparat di dalam hatinya. Pria itu pasti sengaja melakukannya; ia sebenarnya bisa menghindar, namun sengaja membiarkan dirinya terkena tusukan demi mendapatkan rasa iba.
Melihat bercak darah bagaikan kobaran api yang merekah terang di atas seprai, Yang Shangni dengan cepat mengenakan baju tidurnya, menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuh Mu Jinwei, lalu melompat turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. “Paman Luan, cepat panggil dokter! Telepon ambulans!”
“Ada apa dengan Tuan Muda?” Pelayan Kepala Luan melihat Yang Shangni berdiri di ambang pintu kamar utama. Mengingat wanita itu tidak mungkin memanggil dokter dan ambulans untuk ayahnya, dan kondisinya sendiri tampak baik-baik saja, satu-satunya kemungkinan adalah sesuatu telah terjadi pada tuan muda mereka.
Paman Luan dengan panik memerintahkan pelayan lain untuk mencari dokter pribadi sementara ia sendiri segera menghubungi layanan darurat. Setelah itu, ia bergegas menuju pintu kamar utama dan mengetuknya. “Tuan Muda, Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?!”
Dalam situasi mendesak, Paman Luan langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ia mendapati Mu Jinwei terbaring di atas ranjang dengan tubuh bersimbah darah. “Tuan Muda!”
“Keluar!” Dua patah kata terucap dari suara berat Mu Jinwei dengan atmosfer yang begitu kelam. Paman Luan melangkah tergesa-gesa menuruni tangga menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan dokter pribadi. Gerakannya begitu sigap hingga sama sekali tidak mencerminkan usianya yang telah menginjak kepala enam.
“Xiao Liu, cepat! Cepat!” Begitu melihat dokter pribadi itu memasuki gerbang halaman, Paman Luan langsung menariknya masuk ke dalam vila.
“Paman Luan, jangan terburu-buru. Sebenarnya apa yang terjadi?” Xiao Liu yang berlari sepanjang jalan tampak tersengal-sengal.
“Tuan Muda, Tuan Muda terluka.”
Mendengar bahwa Mu Jinwei yang terluka, Xiao Liu menarik napas dalam-dalam. Sambil menyandang kotak P3K, ia nyaris berlari terbang menaiki tangga mengikuti Paman Luan.
Keduanya bahkan tidak sempat mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk ke kamar utama. Di sana, Yang Shangni tampak panik berusaha menghentikan pendarahan Mu Jinwei.
Xiao Liu meletakkan kotak obatnya dan melihat sebuah belati masih tertancap di dada Mu Jinwei. Tanpa bisa memastikan seberapa dalam bilah pisau itu menembus, ia melihat wajah tuannya tampak sangat pucat dengan bibir kehilangan warna akibat terlalu banyak kehilangan darah.
Xiao Liu adalah seorang ahli dalam menangani luka luar. Tanpa banyak bicara, ia mengenakan sarung tangan putih dan langsung mencabut belati tersebut sebelum sigap merawat lukanya.
Mu Jinwei terus menggenggam tangan Yang Shangni dengan erat.
Pria itu sempat jatuh pingsan sejenak. Tepat pada detik belati itu dicabut dan darah segar menyembur keluar, Mu Jinwei mengeluarkan sebuah deheman tertahan. Suara itu menghujam telak ke lubuk hati Yang Shangni.
Rasa sakitnya membuat ia nyaris tidak bisa bernapas, bagaikan ribuan anak panah yang menusuk dan mencabik-cabik hatinya. Seluruh jiwanya seolah tercerabut, membuatnya merosot lemas di lantai bagaikan sehelai bulu. Apakah ia benar-benar telah berbuat salah?
Ia kini diliputi ketakutan luar biasa, takut pria itu benar-benar akan mati. Namun pria yang selama ini paling peduli dan menyayanginya itu justru terbaring tak berdaya dan tidak bisa bangkit untuk memeluk serta menenangkannya.