Bab 40: Bukankah Kita Pasangan yang Serasi?

Ahli Forensik yang Menemukan Mayat Perahu Abadi 1869kata 2026-03-04 22:46:34

Jiang Xia melangkah masuk ke rumah hantu. Tak lama kemudian, di ujung koridor, ia menemukan sebuah papan lantai yang terangkat, memperlihatkan anak tangga di bawahnya.

Ia menuruni tangga yang tersembunyi di balik lantai itu hingga ke dasar, dan di hadapannya tampak sebuah ruang bawah tanah yang terang benderang.

Inilah tempat di mana si anak berbakti itu dikurung oleh ibunya.

Pintu ruangan terbuka, samar-samar terdengar suara deduksi dari Conan.

Jiang Xia mendekati ambang pintu, mengintip ke dalam.

Sejajar dengan tengah ruangan, sebaris jeruji besi membagi ruang menjadi sel penjara.

Si anak lelaki duduk di dalam sel, rambutnya awut-awutan, tampak kotor, dan benar saja, di kakinya menempel seekor shikigami.

Di luar jeruji, ada tiga orang—Conan, Ayumi, dan seorang perempuan tua yang sangat kurus dengan rambut putih panjang menjuntai hingga pinggang.

Rambut perak yang tergerai itu membuat jari Jiang Xia refleks bergerak, nyaris ingin menarik helaian rambutnya.

Namun setelah menenangkan diri, ia menyadari bahwa aura membunuh dari perempuan itu sangat tipis, bahkan tidak segar seperti aura pembunuh dari penculik yang ditemuinya sebelumnya.

Bayi hantu itu memandang perempuan tua di depannya, lalu sedikit kecewa setelah terdiam sejenak.

Namun, ia tidak secerwet Jiang Xia. Asal ada aura membunuh untuk disantap, ia sudah puas. Jadi, ia tetap bersemangat melompat ke tanah, siap untuk mengumpulkannya.

Perempuan berambut putih itu memegang sebilah pisau, menatap tajam ke arah Conan dan Ayumi yang meringkuk di pojok, emosinya sangat tidak stabil.

Punggungnya menghadap pintu, jadi ia tak menyadari kehadiran orang baru di sana.

Conan, sebaliknya, melihat kehadiran Jiang Xia. Suaranya saat mendeskripsikan deduksi sempat terhenti sejenak, namun ia segera melanjutkan dengan tenang, meski jelas ia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan emosinya. Suaranya terdengar lebih lantang daripada sebelumnya.

Untung saja kondisi mental perempuan tua itu sedang tidak baik, sehingga ia tak menyadari keanehan pada Conan.

Ayumi menatap Jiang Xia dengan ragu, sama sekali tidak bersuara. Tak jelas apakah ia menjadi lebih cerdas dalam bahaya, atau justru terlalu ketakutan untuk bersuara.

Tentu saja, bisa jadi ia mengalami ilusi umum bagi para penggemar wajah tampan—bahwa kakak laki-laki di ambang pintu itu tidak tampak seperti orang jahat.

...

Conan jelas tipe detektif yang, sekali masuk ke alur deduksi, walau harus mengorbankan nyawa, tetap akan menyelesaikan penjelasannya sebelum mati.

Sebenarnya, sejak awal, nenek berambut putih itu tidak berniat membunuh siapa pun.

Genta dan Mitsuhiko yang tergeletak di halaman pun hanya dibuat pingsan olehnya.

Ia pikir, meski ada anak-anak yang melapor ke polisi, pihak berwajib pun tak akan menanggapi.

Namun, Conan berbeda.

—Conan bukan hanya melihat anak lelaki yang dikurung di ruang bawah tanah, tapi ia juga menebak bahwa anak itu adalah pelaku pembunuhan bertahun-tahun lalu.

“Menyembunyikan gelandangan di rumah hantu” jelas berbeda dengan “menyembunyikan pembunuh buron di rumah hantu”.

Jika yang kedua, polisi mungkin benar-benar akan datang.

Karena itu, perempuan berambut putih itu mulai memancarkan aura membunuh saat mendengar deduksi Conan.

Ketika Conan berkata, “Sebenarnya, yang membunuh suamimu adalah anakmu sendiri,” perempuan tua itu akhirnya meledak.

“Diam kau!” Ia langsung mencekik leher Conan, wajahnya berubah garang, pisau dapur pun terangkat tinggi.

Ayumi berteriak kaget, menutup matanya.

Conan pun terpaku.

...Tunggu sebentar.

Mengapa naskahnya berbeda dari yang ia bayangkan?

Tadi jelas ia sudah melihat kehadiran Jiang Xia.

Dalam skenario normal, bukankah seharusnya: Ia mengungkap kebenaran, Jiang Xia secara bersamaan melumpuhkan perempuan tua itu, lalu keduanya saling bertatapan penuh pengertian, diam-diam mengeluarkan ponsel untuk melapor ke polisi?

Mengapa...

Conan yang mulai kehabisan napas, pandangannya berkunang-kunang.

Ia mulai meragukan dirinya sendiri, berusaha memalingkan wajah ke pintu untuk memastikan apakah benar Jiang Xia ada di sana.

Namun perempuan tua itu menghalangi pandangannya.

—Ibu yang marah berteriak keras, memejamkan mata erat-erat, mengayunkan pisau ke bawah. Ia takut hatinya melembut jika membuka mata.

Namun, sebelum pisau itu menancap ke tubuh, tiba-tiba tangannya terasa kosong.

Pisau dapur yang diangkat tinggi itu ditarik seseorang dari belakang.

Hampir bersamaan, sebuah tangan menekan pundaknya.

Saat perempuan tua itu sadar kembali, setengah tubuhnya sudah terasa mati rasa, ia pun terduduk lemas di lantai.

Deru sirene polisi samar-samar terdengar dari luar.

Jiang Xia melirik ke pintu, dalam hati memuji ketepatan waktu polisi dunia ini.

Ia melemparkan pisau yang dirampasnya ke sudut ruangan, lalu tanpa sengaja melihat sebuah gagang pel milik penjaga di dekat kakinya, dan langsung mengambilnya.

Meskipun pintu lorong sudah terbuka, polisi pasti masih butuh waktu untuk menemukan pintu masuk.

Sebelum polisi tiba, sebaiknya segera mengendorkan aura membunuh itu.

Tadi, sebenarnya Jiang Xia bisa saja lebih cepat merebut pisau.

Namun, ia sengaja menunggu, penasaran sampai sejauh mana aura membunuh perempuan tua itu bisa bertambah saat Conan terus berbicara.

Hasilnya sangat memuaskan.

Kemampuan Conan dalam memancing kemarahan patut diacungi jempol.

Perempuan tua berambut putih itu duduk sambil memegangi bahunya, menoleh dengan penuh ketidakrelaan ke arah Jiang Xia yang berdiri sambil menenteng pel.

Tatapan mereka bertemu.

Sesaat kemudian, aura membunuh yang melilit tubuh perempuan tua itu perlahan-lahan mulai mengendur dengan sendirinya.

...Mungkin setelah menimbang kekuatan masing-masing, ia sadar tak mungkin bisa membunuh lagi. Ia pun terpaksa menyerah.

Bayi hantu yang sedari tadi menunggu langsung berlari kecil, menggulung aura membunuh yang rontok seperti kapas gula, lalu membawanya untuk dipersembahkan kepada Jiang Xia.

Jiang Xia berjongkok, mengeluarkan kotak rokok berisi daun mint arwah, merobek segel pembungkusnya, dan membiarkan aura membunuh itu meresap ke dalamnya.

————

[Jam 8.30 pagi] Pembaruan tepat waktu