Bab 31: Pinjamkan Matamu Kepadaku
Nada bicara Jiang Xia berubah, ia memasang raut wajah angkuh seperti yang sering dipamerkan Toru Amuro:
"Benar juga, meskipun pasti tidak akan mendapatkan hasil, setidaknya bisa membuat mereka kesal, biar mereka merasakan betapa menjengkelkannya ketika penjahat ada di depan mata tapi tak bisa ditangkap."
Mata Toru Amuro sedikit berkedut tak terlihat.
...Berani-beraninya meremehkan polisi.
Namun, ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Jiang Xia.
Nilai-nilai seperti itu pasti ditanamkan oleh organisasi.
Organisasi Berpakaian Hitam yang keji, tak pernah melakukan hal baik, meracuni generasi muda dari pagi hingga malam.
Suatu hari nanti, bahaya yang mengancam masa depan negara ini harus diberantas sampai ke akar-akarnya...
Namun, apapun yang dipikirkan Toru Amuro, ia hanya bisa mempertahankan senyum di wajahnya.
Di bawah tatapan Toru Amuro yang tersenyum tapi dingin, Jiang Xia berjalan ke meja, mengumpulkan foto-foto yang tadi berserakan, lalu membawanya keluar ruangan.
Setelah memastikan Jiang Xia benar-benar pergi, Toru Amuro mengunci pintu lagi.
Ia mengirim rincian kasus yang baru saja disebutkan Jiang Xia pada anak buahnya, agar setelah menerima petunjuk dari Jiang Xia, mereka bisa segera berkoordinasi dengan kepolisian Prefektur Gunma—tempat ditemukannya jasad—untuk menyelidiki kasus ini.
...Sudah waktunya meningkatkan kredibilitas polisi di hadapan generasi muda dari Organisasi Berpakaian Hitam, supaya mereka mau meninggalkan jalan gelap menuju cahaya.
Surel pun berhasil terkirim dalam waktu singkat.
Anak buahnya pun segera membalas "Diterima."
Toru Amuro dengan puas menyimpan kembali ponselnya.
Namun tak lama kemudian, ia teringat pada nada meremehkan Jiang Xia ketika membahas polisi, langkahnya terhenti di tengah perjalanan pulang.
Sebenarnya, ia pun sadar, anak buahnya itu memang tidak bisa diandalkan...
Setelah berpikir sejenak, Toru Amuro memutuskan untuk turun tangan sendiri.
Kesempatan pertama ini sangat penting.
Melihat sikap Jiang Xia barusan, jelas sekali ia tak percaya pada kemampuan polisi.
Jika laporan kali ini gagal, Jiang Xia tak akan mau mencoba lagi di lain waktu.
Lagipula, beberapa hari ke depan ia juga tidak punya urusan penting, anggap saja sebagai hiburan...
Dengan pemikiran seperti itu, Toru Amuro mengunci pintu kantor, lalu melangkah cepat ke area parkir.
...
Begitu keluar dari gang, Jiang Xia langsung berhadapan dengan Kantor Kepolisian Metropolitan.
Setelah menyerahkan bukti serta analisa terbarunya, Jiang Xia tidak langsung kembali ke kantor.
Ia khawatir akan mengganggu Toru Amuro yang sedang mengatur anak buahnya.
Jadi, Jiang Xia memutuskan berjalan-jalan di sekitar, memberi cukup waktu bagi Toru Amuro untuk menelepon ke sana-sini.
Saat melewati suatu tempat, bayi arwah yang sejak tadi menempel di bahunya tiba-tiba duduk tegak dan dengan penuh semangat mencolek-colek dirinya.
Jiang Xia tertegun, lalu mengikuti arah telunjuk sang bayi arwah, ia melihat sebuah bangunan tua yang tampak sudah berumur.
—Museum Seni Abad Pertengahan.
...Museum?
Jiang Xia berpikir sejenak, tempat seperti ini memang sering menjadi lokasi kasus kriminal.
Dan melihat reaksi bayi arwah, kemungkinan kasusnya sedang berlangsung saat ini.
Jiang Xia pun mengelus kepala bayi arwah pembawa kabar itu, hatinya terasa hangat.
Sejak mendapatkan anugerah detektif, hidupnya benar-benar terasa lebih baik.
Segala jerih payah dan kesibukan selama ini tidak sia-sia.
Jiang Xia segera melangkah cepat menuju museum.
...
Setelah membeli tiket masuk, Jiang Xia memperhatikan denah ruangan, dan perlahan mengingat tempat-tempat yang sekiranya menyimpan arwah, atau lebih tepatnya, jasad.
Museum itu sendiri nyaris bangkrut, pengunjungnya sangat sedikit.
Jiang Xia melintasi lorong yang sepi, mengarah ke salah satu ruangan andalan museum—"Ruang Neraka".
Ruang Neraka itu tanpa pencahayaan.
Di depan pintu, ia masih bisa memanfaatkan cahaya redup dari lorong, namun semakin masuk ke dalam, kegelapan pun menelan segalanya.
...Sekalipun hampir bangkrut, seharusnya mereka masih mampu menyalakan lampu. Ini jelas mencurigakan, sangat mencurigakan.
Artinya, bisa jadi memang ada arwah yang bisa dipungut.
Dengan penuh harap, Jiang Xia melangkah ke dalam ruang pameran.
Di dalam ruang itu sangat gelap, Jiang Xia tidak membawa senter, namun itu juga tidak diperlukan.
—Ia menyatukan dua jarinya, menyentuh mata bayi arwah, lalu mengusapkan tangan di depan matanya sendiri.
Sekejap saja, penglihatannya menjadi sangat jelas.
Kaum cenayang memang cenderung sedikit 'berjiwa muda', semua suka memberi nama keren pada kemampuan mereka, termasuk para petinggi.
Maka tak heran, nama-nama kemampuan pun terasa luar biasa meski terdengar rumit.
Kemampuan yang baru saja digunakan Jiang Xia, "Meminjam Mata Arwah", oleh penemunya dinamakan "Mata Hantu: Balik".
Jika ada 'balik', tentu ada 'lurus'.
Versi 'lurus' dari Mata Hantu adalah memindahkan penglihatan cenayang ke tubuh arwah.
Dengan begitu, arwah yang piawai menyelinap dapat digunakan untuk mengintai ke tempat-tempat berbahaya.
Hampir serupa, pendengaran, penciuman, perasa, kekuatan… semua bisa dipindahkan.
Namun, kecuali sangat mendesak, kemampuan versi 'lurus' ini jarang digunakan.
Karena pada tahap awal, kemampuan ini punya kelemahan yang sangat jelas.
—Begitu penglihatan, pendengaran, dan sebagainya dipindahkan ke arwah, tubuh asli cenayang akan kehilangan kemampuan itu.
Artinya, tubuh asli yang sudah lemah akan semakin rapuh.
Baru di tahap lanjut, setelah arwah peliharaan terus berkembang, barulah kemampuan itu bisa digunakan tanpa harus memindahkan kemampuan asli, cukup memperkuat arwah saja.
Bagi Jiang Xia saat ini, masih sangat jauh menuju peningkatan arwah peliharaannya.
Tapi untunglah, sebagai cenayang yang setahun lebih tidak berurusan dengan arwah, Jiang Xia sangat lapang dada.
Setidaknya kini, ia sudah punya arwah.
Naik peringkat bagi arwahnya pun bukan mustahil.
Apalagi, dunia ini relatif damai, bahkan arwah tingkat dasar pun masih cukup untuk bertahan hidup.
Keadaannya sudah jauh lebih baik dibanding setahun lalu.
Seorang cenayang sejati harus belajar bersyukur, lalu diam-diam berkembang, dan mengumpulkan semua arwah satu per satu...