Bab 8: Sungguh Iri... Eh, Maksudku, Sungguh Keterlaluan
Setelah turun dari mobil, Jiang Xia menoleh ke sekeliling lalu melangkah masuk ke sebuah gang kecil.
Ia memasukkan permen yang diberikan Youko Kinoshita ke dalam saku, lalu mengeluarkan sebuah alat elektronik kecil dari sakunya.
Itu adalah alat penyadap berkekuatan baterai. Bukan dia yang menaruhnya, alat itu sudah ada sejak awal, tersembunyi di bawah bantalan kursi mobil Youko Kinoshita.
Jiang Xia menduga ini adalah ulah penguntit. Begitu naik ke mobil tadi, ia langsung menggunakan alat yang dibawanya sendiri untuk menghalangi sinyal. Setelah menemukan alat penyadap itu, ia diam-diam mengambilnya.
Namun, setelah diperhatikan, sebenarnya sinyal pun tak harus diblokir—alat penyadap ini adalah tipe penyimpanan, tidak otomatis mengirimkan data keluar. Penguntit yang ingin mendapatkan isinya harus mengambil alat itu lebih dulu.
Jiang Xia bukan tipe yang suka menguping, jadi ia langsung merusak alat itu. Begitu membuang pecahannya ke dalam ransel, tiba-tiba seseorang muncul dari persimpangan depan—si pemuda pirang yang tadi “mengejar” Jiang Xia, berjalan mendekat sambil membawa tongkat bisbol.
Begitu melihat Jiang Xia, pemuda itu langsung berhenti, memasang wajah garang dan mendekat dengan penuh semangat… lalu dengan ramah langsung memeluknya.
Sebagai idola yang tengah naik daun dalam beberapa tahun terakhir, Youko Kinoshita disukai semua kalangan—laki-laki, perempuan, muda, tua—dan di lingkaran pemuda nakal yang mayoritas laki-laki, popularitasnya sangat tinggi.
Maka, beberapa hari lalu, ketika Jiang Xia mengusulkan, “Ayo cari alasan untuk minta tanda tangan Nona Youko,” ia langsung mendapat sambutan meriah.
Sekelompok orang lalu mengikuti arahan Jiang Xia, menyamar menjadi para preman yang mengejarnya.
Walau mereka sendiri tak paham betul apa hubungan antara “mengejar Jiang Xia” dan “meminta tanda tangan Nona Youko”… tapi kalau ketua sudah bilang, pasti benar! Tinggal ikuti rencananya saja.
Dan benar saja, tak lama kemudian, mereka melihat sang ketua duduk di dalam mobil Nona Youko.
Betapa mereka iri.
Si pirang menoleh ke sekeliling dengan waspada, lalu mendekat ke Jiang Xia dengan gerak-gerik mencurigakan, bertanya penuh harap:
“Dapat tanda tangan nggak? Tadi aku sempat ngintip ke dalam lewat jendela waktu lewat, haha, Nona Youko aslinya lebih cantik daripada di poster… eh?”
Belum selesai bicara, matanya tak sengaja melirik ke tangan kanan Jiang Xia, melihat memar biru yang menyeramkan, langsung terkejut.
Beberapa saat kemudian, tatapan si pirang berubah menjadi iri yang aneh, “Nona Youko memukulmu? Dia yang sendiri yang melakukannya?”
Jiang Xia hanya terdiam.
Si pirang sadar di bawah tatapan sayu Jiang Xia, lalu buru-buru berdeham, memaksakan wajah marah, “Maksudku, itu… keterlaluan banget! Nggak dikasih tanda tangan saja sudah, masa sampai mukul segala!”
Sementara itu, beberapa “saingan paparazi” lain yang tadi mengikuti mobil Youko Kinoshita dari kejauhan, kini mulai mendekat dan bergabung dengan Jiang Xia.
Dari jauh mereka mendengar si pirang berteriak, langsung bersemangat, mengelilingi Jiang Xia dengan senjata seadanya, siap bertindak.
Ketua mereka benar-benar dipukuli dua perempuan cantik di dalam mobil? Mana bisa dibiarkan?
Tentu tidak!
Mereka harus membalaskan dendam sang ketua!
Jiang Xia, yang jadi pusat perhatian mereka, merasa anak buahnya ini semakin aneh.
Ia menghela napas lelah, “Nggak ada yang mukul aku, ini luka beberapa hari lalu.” Ia mengangkat tangan, “Kalau baru kena pukul, nggak mungkin warnanya begini.”
Jiang Xia sungguh tak ingin besok muncul berita aneh seperti, “Mengejutkan! Sekelompok remaja nakal menyerbu kantor agensi artis.”
Anak buahnya tampak kecewa. “Oh, iya juga.”
Mereka memang pelupa dan tak pernah memperhatikan tangan orang lain, jadi tak ingat seperti apa tangan Jiang Xia beberapa hari lalu, tertipu begitu saja.
Krisis pun berlalu.
Anak buahnya kembali ke topik semula dengan riang, “Nona Youko manis banget! Eh, ketua, gimana caranya kau bisa naik ke mobilnya? Ajari dong.”
Jiang Xia menjawab santai, “Aku edit nilai rapornya jadi nol, ancam dia kalau nggak mau kasih tanda tangan, bakal kuunggah nilainya ke publik biar orang tahu dia bodoh. Akhirnya dia panggil aku ke mobil, sepanjang jalan cuma ceramah soal kejujuran.”
Sambil bicara, Jiang Xia merogoh saku dan mengeluarkan permen, “Aslinya terlalu imut, aku malah lupa minta tanda tangan. Sebelum turun, dia kasih permen. Nih, kalian bagi-bagi saja.”
“Oh!” Para remaja nakal itu senang bukan main. Bagi mereka, permen manis jauh lebih istimewa daripada tanda tangan formalitas.
Seketika, permen itu sudah habis dibagi.
Hanya Jiang Xia yang masih menyimpan satu butir di sakunya.
Tapi ia tak berniat memakannya.
Permen itu membawa aroma Youko Kinoshita, bisa disimpan sebagai kenang-kenangan, siapa tahu nanti bisa digunakan untuk membujuk si arwah bayi.
Hari ini sebenarnya Jiang Xia datang memang untuk arwah bayi itu.
Tapi dari interaksi tadi, terlihat jelas arwah bayi itu punya obsesi yang sangat kuat, tidak bisa dengan mudah diajak pergi.
Saat bersentuhan tadi, Jiang Xia menyadari, keinginan arwah bayi itu ternyata sederhana—ia hanya ingin melihat ayah dan ibunya hidup rukun bersama.
Mungkin karena selama ini ikut terus bersama Youko Kinoshita, kebanyakan menonton drama-drama manis.
Jiang Xia sendiri tak kenal mantan pacar Youko Kinoshita, tapi ia tidak berminat jadi mak comblang.
Untuk membawa pergi arwah bayi berobsesi kuat seperti itu, harus membuat obsesi mereka jadi luntur.
Selain mengabulkan keinginannya, sebenarnya ada cara lain—membiarkan arwah bayi itu menerima kenyataan pahit, menyadari apa yang ia harapkan tak mungkin terwujud.
Dengan “kemampuan meramal” palsunya, Jiang Xia segera punya rencana kasar.
Tapi tak bisa langsung bertindak, perlu persiapan dulu.
Selain itu, anak buah yang membantunya tadi juga tak bisa langsung ditinggal, malam ini harus diajak jalan-jalan ke arcade atau keliling kota.
Baru besok, setelah pulang sekolah dan semua alat siap, ia akan membantu Youko Kinoshita menangkap penguntit, dan memikirkan cara membawa pulang arwah bayi itu.
...
Keesokan harinya, saat mencuci muka di depan cermin, Jiang Xia menemukan seluruh punggung tangannya membiru, untungnya tidak bengkak.
Arwah bayi ini memang tak bisa melukai jiwanya, tapi bisa menyiksa tubuhnya… terutama karena tubuh ini belum pernah benar-benar bersentuhan dengan arwah bayi, jadi begitu kena, langsung bereaksi alergi.
Namun, kerusakan yang bisa ditimbulkan arwah bayi pada Jiang Xia, paling hanya sebatas itu.
Kalau lebih parah, Jiang Xia pasti tak akan berani langsung menyentuhnya.
Ia menggoyang-goyangkan pergelangan tangan, ternyata tidak sakit dan tak mengganggu aktivitas, jadi ia tak peduli lagi, bersiap untuk pergi ke sekolah.
Jiang Xia biasanya hanya masuk sekolah saat ada ulangan, selebihnya selalu izin sakit.
Namun, berkat daya ingat dan pemahamannya yang luar biasa, nilainya tetap bagus.
Meski di kelasnya ada seorang bernama Shinichi Kudo, Jiang Xia tak yakin apakah Shinichi Kudo akan berubah menjadi Conan, atau waktu akan terus berjalan lebih lama… jadi ujian masuk sekolah tetap jadi bagian dari rencana hidupnya.
Toh ia belajar tak perlu usaha keras, cukup lihat sekilas sudah hapal.
Kalau waktu tak berulang, nanti bisa masuk universitas bagus, menyusup ke laboratorium organisasi, itu jauh lebih menjamin keselamatan daripada jadi anggota luar yang kerjaannya hanya berkelahi.
————————
Pembaruan tepat waktu pukul 08.30
Baca yang asli di aplikasi Qidian~ Kolom komentar di bab ini penuh orang berbakat, katanya nonton video bisa dapat koin gratis o(* ̄▽ ̄*)ブ