Bab 19: Konflik Jalanan yang Dipicu oleh Sebuah Lagu
"Siapa namamu, Tuan?"
Chen Luo akhirnya mengembuskan napas lega setelah melewati ambang pintu Hongxiu Zhao. Akhirnya dia bisa lepas dari sana!
Pemuda yang berjalan di sampingnya segera menangkupkan tangan dan berkata, "Jangan sungkan, panggil saja saya Qian Duoduo. Saya pelayan di Zui Hongyan, kedai di seberang sana. Tuan Chen, lagu yang Anda nyanyikan tadi benar-benar... luar biasa!"
Chen Luo tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu menengadah menatap seberang jalan. Sekitar enam puluh atau tujuh puluh meter jauhnya, berdiri sebuah bangunan yang mirip dengan paviliun tempatnya berada. Meski hari sudah gelap, lentera merah besar di kedua sisi pintu masuknya membuat tulisan 'Zui Hongyan' tampak jelas.
Karena di Hongxiu Zhao sudah tidak ada harapan, pergi ke Zui Hongyan pun tidak masalah. Dalam ingatan pemilik tubuh aslinya, latar belakang Zui Hongyan juga cukup kuat. Konon, pemilik di balik layar kedai tersebut sama dengan Zui Honglou, tempat di mana Tuan Keenam, Yun Yi, mengalami insiden.
Saat keduanya hendak melangkah turun dari anak tangga, seorang wanita cantik mencegat mereka di tengah jalan. Qian Duoduo yang hendak memprotes tiba-tiba membungkuk sedikit dan berkata dengan wajah penuh senyum, "Nyonya Wu? Mengapa Anda ada di sini?"
"Siapa yang bernyanyi tadi? Seluruh penghuni Zui Hongyan seolah jiwanya tersedot oleh lagu itu. Kalau bukan karena aku yang menahan mereka, pasti mereka sudah menyerbu ke Hongxiu Zhao untuk merebut orangnya!" Wanita cantik itu menjulurkan kepala, melongok ke dalam Hongxiu Zhao.
Qian Duoduo berkata dengan gembira, "Nyonya Wu, coba tebak?"
"Tebak kepalamu!"
Qian Duoduo tidak marah, dia tertawa lebar, lalu menarik lengan Chen Luo dan memperkenalkannya kepada Nyonya Wu, "Jauh di mata, dekat di hati. Orang yang bernyanyi tadi adalah Tuan Chen ini!"
"Apa?"
Nyonya Wu tertegun. Ia mengamati Chen Luo dari atas ke bawah. Melihat Chen Luo tampak tampan, ia memperhatikan lebih saksama lagi, lalu menarik napas panjang dan berkata, "Kau putranya Chen Jingnan?"
Chen Luo sedikit terkejut. Ingatan Nyonya Wu ini luar biasa sekali, bukan? Dalam ingatan pemilik tubuh aslinya, dia hanya pernah bertemu dengan Nyonya Wu sekali. Tak disangka, saat bertemu lagi, wanita itu masih bisa langsung mengenali. Hebat!
"Salam, Nyonya Wu!" Chen Luo membungkuk hormat.
Nyonya Wu kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Qian Duoduo menarik Chen Luo sambil berjalan menuju Zui Hongyan dan menjelaskan semuanya. Setelah Qian Duoduo selesai menjelaskan, Nyonya Wu segera berkata, "Sialan, akhirnya kita bisa mengundang seseorang yang mampu menandingi Su Zimo. Tuan Chen, kenapa sebelumnya Anda tidak mencoba jalur ini? Jika Anda sudah turun gunung, mana ada tempat lagi bagi Su Zimo?"
"Nyonya Wu terlalu memuji!"
Meski Chen Luo berkata demikian, hatinya merasa sangat lega. Akhirnya ada orang yang mengerti kualitas!
Saat waktunya tiba, dia bisa meminjam uang dengan menawarkan satu lagu emas per hari sebagai bunga. Dia yakin wanita itu pasti akan tertarik.
Nyonya Wu merasa seperti mendapatkan harta karun, "Tuan Chen, Anda dulu bekerja sebagai pengawas di Kementerian Kehakiman, sungguh menyia-nyiakan bakat! Ayo, silakan masuk! Di Zui Hongyan, nyanyikan lagi lagu yang tadi... 'Janji', bukan? Nyanyikan lagi! Anda tidak tahu betapa orang-orang di sini sudah heboh tadi!"
"Baik!" Chen Luo mengangguk. Senang rasanya memiliki pendengar!
Pada saat yang sama, di koridor lantai dua Hongxiu Zhao, Zhang Sirou menangis hingga tubuhnya lemas, lalu tiba-tiba ia tersentak dan jatuh pingsan di koridor. Penjaga yang berada di sampingnya terkejut setengah mati. Sambil memanggil orang untuk mengantar Zhang Sirou pulang, ia menatap ke arah Chen Luo yang baru saja melangkah keluar pintu.
Tujuan mereka datang adalah untuk memberi pelajaran pada Chen Luo. Namun sekarang, nona muda mereka pingsan karena menangis, dan Chen Luo justru pergi? Jika mereka pulang, bukankah Menteri akan menguliti mereka hidup-hidup?
Pemimpin penjaga segera berteriak kepada tiga puluh lebih penjaga lainnya di aula lantai satu, "Jangan biarkan dia pergi!"
Sekelompok penjaga dari kediaman Menteri itu segera berlari keluar dari Hongxiu Zhao dan tak lama kemudian berhasil menyusul Chen Luo yang baru sampai di tengah jalan. Mereka mengepung Chen Luo, Nyonya Wu, dan Qian Duoduo.
Nyonya Wu adalah orang yang sudah makan asam garam. Begitu melihat situasi ini, ia segera melindungi Chen Luo di belakang punggungnya dan memaki para pria berbadan kekar yang mengepung mereka, "Bajingan mata keranjang mana ini? Berani-beraninya menghalangi jalan Nyonya Wu?"
Seorang penjaga berkata, "Minggir, ini tidak ada urusannya denganmu! Kami mencari dia!" katanya sambil menunjuk Chen Luo.
Qian Duoduo segera berdiri di depan Chen Luo, "Dia adalah tamu terhormat Zui Hongyan kami. Hari ini, jangan harap ada yang berani menyentuh sehelai rambutnya!"
Nyonya Wu kembali memaki, "Enyah kalian!"
Penjaga itu tidak mau minggir. Melihat Nyonya Wu mencoba mendorong, ia langsung mendorong Nyonya Wu hingga terhuyung. Melihat Nyonya Wu diserang, Qian Duoduo berteriak dengan panik ke arah Zui Hongyan, "Chai San! Chai San! Ada yang memukul Nyonya Wu, cepat keluar, sialan!"
Mereka bertiga sudah sampai di tengah jalan, jaraknya memang tidak jauh dari Zui Hongyan. Beberapa orang di sana pun baru saja hendak keluar untuk melihat keributan. Mendengar teriakan Qian Duoduo, suara kursi yang terseret di lantai Zui Hongyan terdengar bersahutan.
Kurang dari tiga napas, tiga puluh pria kekar berlari keluar dari Zui Hongyan, masing-masing membawa tongkat kayu dengan wajah yang tampak sangat buas. Begitu orang-orang ini sampai di jalan, kerumunan penonton segera bubar seperti air pasang, takut terkena percikan darah.
Chai San yang membawa tongkat menghampiri Nyonya Wu dan dengan garang bertanya kepada para penjaga kediaman Menteri, "Anjing mana tadi yang menyentuh Nyonya Wu?"
Para penjaga kediaman Menteri itu pun tampak bingung melihat kemunculan sekelompok orang ini secara tiba-tiba.
Nyonya Wu menunjuk orang yang tadi mendorongnya, "Si anak haram itu!"
Chai San melangkah maju, tangan kirinya mencengkeram kerah baju pria itu, sementara tangan kanannya melayangkan tamparan keras. Penjaga dari kediaman Menteri itu seketika mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Nyonya Wu pun berani kau pukul?" Chai San membelalakkan matanya.
Para penjaga kediaman Menteri yang tadinya panik, kini justru terpancing amarahnya setelah Chai San melakukan kekerasan. Sialan, kapan penjaga kediaman Menteri pernah diperlakukan seperti ini? Kedua belah pihak pun mulai saling dorong.
Saat itu, Hua Jie dari Hongxiu Zhao sudah berlari ke pintu. Melihat situasi di depan semakin kacau, ia segera berteriak, "Li Si, cepat bantu! Jangan biarkan pihak seberang membawa pergi Chen Luo!"
Pria kekar yang dipanggil Li Si itu pun mengambil tongkat dan membawa beberapa orang untuk menyerbu keluar dari Hongxiu Zhao. Begitu kelompok ini keluar, tekanan yang dirasakan para penjaga kediaman Menteri berkurang drastis.
Nyonya Wu berbalik menatap Hua Jie yang berdiri di pintu Hongxiu Zhao, lalu mendengus, "Bagaimana? Dasar wanita jalang, Tuan Chen diusir oleh kalian, sekarang menyesal? Mau mengundangnya kembali?"
Hua Jie turun dari tangga menuju jalanan. "Nyonya Wu, kedua kedai kita selama ini tidak pernah saling mengusik. Hari ini, tolong beri aku muka, jangan campuri urusan ini!"
Nyonya Wu menggenggam tangan Chen Luo erat-erat, menatap lurus ke arah Hua Jie, "Heh! Hari ini aku justru akan mencampurinya. Kau punya pendukung, aku pun punya. Kalau perlu, kita lihat saja siapa yang pendukungnya lebih kuat!"
Wajah Hua Jie tampak semakin masam. Masalah yang berkembang sampai titik ini sudah di luar dugaannya. Ia hanya bisa berkata, "Li Si, bawa Tuan Chen kembali ke Hongxiu Zhao. Siapa pun yang berani menghalangi, hajar dengan tongkat!"
"Baik, Hua Jie!" Li Si menjawab dan mulai mendekati Chen Luo.
Nyonya Wu pun ikut naik pitam dan berteriak, "Chai San, hari ini siapa pun yang berani menyentuh sehelai baju Tuan Chen, hajar dia sampai mati!"
"Baik, Nyonya Wu!"
Chai San mengambil tongkat dari anak buahnya dan berjaga di samping Chen Luo. Suasana di Gang Lipstik menjadi sangat tegang. Hongxiu Zhao dan Zui Hongyan, sebagai dua kedai ternama di gang tersebut, biasanya selalu menahan diri meski ada gesekan. Namun hari ini berbeda, seolah mereka harus bertarung sampai mati.