Pendahuluan
Aku berjalan di bawah langit yang sama dengan orang lain, menuju ke tempat yang entah di mana. Aku bertanya pada para orang tua yang berpapasan denganku,
“Kemana seharusnya aku pergi?”
“Terus saja berjalan ke depan.”
“Apa yang ada di depan sana?”
“Pokoknya itu tempat yang baik.”
“Sejauh apa aku harus berjalan?”
“Tidak tahu, yang penting terus melangkah ke depan!”
Aku merasa sangat bosan berjalan seperti ini, jadi aku mencari beberapa teman sebaya. Setiap langkah yang kutempuh terasa berat, mereka pun penasaran akan hal itu. Lalu aku menunduk dan menyadari bahwa jalan di bawah telapak kaki mereka tampak tidak seberlumpur jalanku, dan kaki mereka pun tak sekuat milikku.
Kami telah berjalan jauh, bertemu banyak teman di sepanjang jalan, namun pada akhirnya mereka semua berpisah denganku. Aku tidak mengerti, bukankah harusnya kita cukup terus melangkah ke depan? Maka aku diam-diam memperhatikan mereka; sesekali mereka mengeluarkan peta bertuliskan dua nama, peta itu menandai tujuan dan memberi petunjuk ke arah yang berbeda. Aku pun mencoba mencari-cari di tubuhku, namun yang kutemukan hanya pakaian yang sejak lama melekat di badan.
Aku terus melangkah ke depan, jalan di bawah kakiku semakin hari semakin berlumpur, tapi kakiku pun semakin kuat dari hari ke hari. Namun, puluhan tahun melalui jalan berlumpur ini telah meninggalkan luka lama di kakiku. Aku telah melampaui satu per satu target kecil yang kutetapkan, namun perjalanan tanpa tujuan akhirnya membuatku lelah dan jemu.
Aku mulai menyalahkan segalanya, menyesali tiadanya peta di tanganku, menyesali tidak ada yang membentangkan jalan di bawah kakiku. Aku berpikir, “Mungkin lebih baik aku berbaring saja.”
Maka aku pun merebahkan diri, tanah basah itu mencoba menenggelamkan dan menutupi keberadaanku.
Aku merasa takut.
Aku pun bangkit, melangkah berat ke depan, menahan penyakit lama yang membekas, dan menanggung lelah yang menusuk.
Aku tidak tahu di mana ujung perjalanan ini, tidak ada dorongan untuk maju, pun tidak ada keberanian untuk membiarkan diriku ditelan lumpur.
Mungkin, aku hanya sedang lelah.
--------------------------------------
Namaku Aiqiu – “Ai” dari kata meratapi diri, dan “Qiu” dari musim duka. Tentu saja, kalau ingin membayangkan “Ai” seperti tumbuhan artemisia juga boleh, tapi aku lebih suka bunyi “yi” yang berarti “kenang”. Ini adalah nama yang telah kupakai selama lima tahun, dengan perasaan yang kutuangkan selama belasan tahun, jadi meski pernah ada hal buruk yang bernama sama, aku tak pernah menggantinya. Judul novel ini, “Aisheng”, huruf “Ai” saat menamai kubaca menjadi “Yi”, bermakna “seumur hidup”, dan makna lebih lanjut akan terungkap kemudian. Novel ini, entah layak disebut novel atau bukan, sangat lambat berkembang, ceritanya panjang dan pembaruannya tidak menentu. Jadi jika beruntung kamu bisa menemuiku, mohon bersabarlah menunggu. Jika tertarik, kamu bisa bergabung di grup QQ 780721767 untuk mengobrol denganku. Terima kasih.