Dua Belas
Waktu berlalu begitu cepat hingga akhirnya jam pulang sekolah tiba. Aku sudah menyiapkan semua buku dan barang yang diperlukan untuk pulang sejak tadi, tinggal menunggu instruksi guru untuk segera beranjak.
"Pelajaran selesai. Tugas sudah pernah aku jelaskan sebelumnya. Bagi yang belum mengumpulkan tugas hari ini, besok kalau masih belum juga, akan aku beri hukuman."
Begitu guru selesai bicara, aku langsung mengenakan tas dan bersiap pergi.
"Heh, Jian, mau pulang nggak?" Aku bertanya pada Zhang Jian yang berdiri tak jauh di belakangku.
"Aku nanti aja, mau ke warung seberang sama Deng Gou," jawab Zhang Jian.
Mendengar jawabannya, aku pun mengurungkan niat dan berbalik memanggil He Zhe di ujung lain kelas, "Gou Zhe, pulang nggak?"
"Tunggu sebentar, aku salin dulu tugas hari ini," jawab He Zhe santai.
Aku langsung berjalan ke arah He Zhe, membantunya memasukkan barang-barang yang diperlukan ke dalam tas, lalu mendesak, "Cepat, buruan."
He Zhe segera selesai menyalin tugas. Saat itu, aku sudah berdiri di sampingnya sambil membawa tasnya. Ia mengambil tas dari tanganku, memastikan isinya benar, lalu menggendongnya dan berjalan keluar kelas bersamaku.
"Mau ke minimarket seberang nggak?" tanya He Zhe saat kami menuruni tangga.
"Asal kamu yang traktir, aku ikut," jawabku tanpa pikir panjang.
"Kalau gitu, nggak usah," balasnya dengan nada yang sama cepat.
...
Saat itu waktu baru menunjukkan pukul lima kurang sedikit. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi semburat merah di ufuk barat seolah mendesak anak-anak untuk segera pulang.
"Sejak semester ini, sepulang sekolah kamu nggak pernah ke toko roti ataupun warung lagi. Alasannya selalu nggak ada uang. Kamu ada masalah, ya?" tanya He Zhe yang berdiri di sampingku di halte bus.
[Menabung untuk pacar, mana mungkin kamu ngerti.] Sebenarnya aku ingin menjawab begitu, tapi sayangnya, aku tidak bisa.
"Udahlah, jangan nyinyir. Ayahku bukan tipe orang yang kekurangan uang," jawabku sambil menunduk memainkan ponsel.
Kalau diingat-ingat, memang sudah lebih dari sebulan ini aku hampir tidak pernah mengeluarkan uang. Setiap hari, ayah memberiku lima belas ribu. Delapan ribu untuk ongkos pulang-pergi, sisanya untuk sarapan.
Karena sejak kecil hidup pas-pasan, meski sekarang ada uang, aku tetap belum terbiasa sarapan. Biasanya sisa tujuh ribu itu aku simpan untuk beli camilan sepulang sekolah bersama teman. Aku paling suka minuman teh susu lima ribu yang dijual di toko roti depan sekolah. Dulu hampir setiap dua atau tiga hari sekali aku pasti mampir ke situ. Dulu juga Ying Qiu sering mentraktirku, makanya aku bisa mengingatnya.
Sejak kami pacaran, aku hampir tidak pernah lagi ke sana. Uang yang ada kutabung, karena keluargaku tidak kaya dan aku pun tidak suka meminta, jadi aku andalkan uang saku sedikit itu agar bisa terkumpul untuk bertemu dengan Ying Qiu.
"Busku datang, aku pergi dulu," kata He Zhe begitu melihat bus mendekat.
"Sampai jumpa," jawabku sambil melirik bus yang berhenti di depanku.
"Sampai jumpa," balas He Zhe sembari melambaikan tangan, lalu naik ke bus. Aku menatap kepergiannya sampai bus benar-benar menjauh.
"Apakah aku memang terlalu lemah?" aku bergumam dalam hati.
Pernah, secara tidak sengaja, aku mendengar teman-teman Ying Qiu membicarakanku. Detailnya aku sudah lupa, tapi intinya mereka menganggap aku tidak ada apa-apanya, sangat jauh dibanding mantan pacarnya, orang yang sangat kubenci. Aku sering bertanya-tanya, apakah aku pantas untuknya?
Aku pernah membaca banyak cerita di mana tokoh utama pria merasa dirinya tidak layak, lalu memilih mundur dan meninggalkan sang gadis. Aku tidak peduli apakah itu benar atau salah, menurutku itu keputusan orang lemah.
Mungkin saat ini aku hanyalah anak miskin yang bahkan belum jujur pada diri sendiri, mungkin saat ini aku benar-benar belum pantas untuk gadis yang kusayangi. Tapi aku percaya, suatu saat aku tidak akan seperti ini. Ying Qiu memberiku harapan dalam hidup, maka aku juga harus punya keberanian untuk menghadapi masa depan. Aku tidak akan membiarkannya menangis sedih seperti para gadis dalam kisah "tangan yang terputus" itu. Aku pasti bisa melewati rintangan apa pun, dan pantas untuknya.
Setidaknya, saat ini aku benar-benar percaya hal itu...
...
Baru saja selesai makan malam, aku duduk di depan meja belajar. Sebenarnya aku tidak terbiasa mengerjakan PR terlalu awal, tapi karena nanti mau bertemu dengan Ying Qiu, lebih baik aku selesaikan sebagian dulu.
Perasaanku saat itu tidak tenang, seperti anak kecil yang menanti hadiah dari orang tuanya, antara senang dan gugup. Aku memilih menyalin tugas dulu, tapi baru menulis beberapa baris, ponselku sudah berdering.
[Ying Qiu: Aku hampir sampai di pintu samping kompleksmu.]
Melihat pesan itu, aku mengambil jaket tipis dari lemari, berpamitan pada keluarga, lalu keluar rumah.
[Aku: Aku turun sekarang.]
...
Matahari baru saja tenggelam, tapi panasnya masih terasa di permukaan jalan. Aku berlari kecil menuju pintu samping, hingga akhirnya sosok Ying Qiu muncul di pandanganku.
Melihat gadis itu tersenyum kepadaku, debar di dadaku perlahan mereda. Aku mengecek jam di ponsel sambil bertanya, "Ini baru setengah tujuh, bukannya kelasmu selesai lebih malam? Sudah makan malam, belum?"
"Sudah, dong! Kalau belum, mana bisa namanya jalan-jalan setelah makan?" jawabnya dengan senyuman yang makin lebar.
"Mau jalan-jalan ke mana? Cuma di dalam kompleks ini?"
"Iya, kalau jalan terlalu jauh nanti ada yang kenal, repot deh."
"Ya sudah, mari."
Tanpa sadar, kami sudah menggenggam tangan satu sama lain, berjalan pelan di jalanan yang entah sudah berapa kali kami lewati. Tapi kali ini rasanya berbeda.
Biasanya aku berjalan cepat, sampai guru pun sering bercanda kalau aku berjalan seperti dikejar angin. Tapi kali ini, aku ingin memperlambat setiap langkahku.
Di bawah cahaya bulan yang redup, kami mengobrol panjang lebar, layaknya pasangan muda pada umumnya. Merasakan hangatnya tangan dan mendengar suara merdunya di sisiku, aku belum pernah merasa hidup sedemikian nyata seperti sekarang.
Setelah sekitar setengah jam berjalan, kami duduk di sebuah bangku taman.
(draft yang belum selesai berikutnya)
Ketika angin sepoi-sepoi yang menyejukkan berhembus, aku baru benar-benar sadar bahwa musim gugur akan tiba.
Manusia baru merindukan kehangatan ketika merasa kedinginan. Musim panas terlalu panas, musim dingin terlalu menusuk, dan musim semi memang hangat tapi tak ada semilir sejuknya. Hanya pada musim gugur, sinar matahari terasa paling nikmat; tidak terlalu panas, tidak juga terlalu dingin. Dua hal itu saling melengkapi, menjadikan musim gugur begitu nyaman.
Hanya saja... waktunya terlalu singkat...
Namun mungkin karena singkat itulah, aku jadi begitu sulit melupakannya...
Melihat gadis itu perlahan menjauh, kata "gugur" seolah diberi makna yang jauh lebih dalam.