Bab 89: Pengakuan Tuan Muda Qi
Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan dengan kasar menarik laki-laki itu, sehingga sang pria terlempar jatuh dari ranjang, tergeletak di lantai dengan tangan dan kaki terbuka lebar, tetap saja tertidur pulas. Semua orang yang melihatnya langsung mengenali siapa dia: kawan sekelas mereka, putra sulung dari pejabat tinggi, Qi Langyu.
Kerumunan itu pun terkejut bukan main, ekspresi di wajah mereka sangat beragam dan penuh warna. Tuan Muda Qi ini memang terkenal suka menindas para murid miskin di Akademi Nasional, tak sedikit yang pernah merasakan ulahnya. Melihat ia kini dipermalukan habis-habisan, bahkan mungkin bakal berurusan dengan hukum, sungguh membuat hati mereka amat puas.
Tak ada yang menahan diri menikmati tontonan. Mereka pun riuh-rendah berseru, “Bukankah itu Tuan Muda Qi?”
“Jadi bukan pengawal rahasia istana yang katanya, ternyata Tuan Muda Qi sedang memperkosa nenek tua umur delapan puluh tahun!”
“Benar, pasti ia mabuk, mungkin di tengah perbuatannya sudah tidak kuat lagi, akhirnya tertidur.”
“Menurutku dia cuma pura-pura tidur. Begitu banyak orang di sini, masih bisa nyenyak seperti itu? Jelas dia pura-pura karena malu, sudah berbuat sehina itu, mana berani lagi menampakkan wajah di hadapan kita.”
“Cih! Tak tahu malu! Memalukan sekali sebagai seorang pelajar!”
“Benar, bagaimana mungkin Akademi Nasional membiarkan orang semacam ini berkeliaran? Hanya merusak nama baik kaum terpelajar!”
Para murid yang hadir saling bersahutan, mengeluarkan cacian tanpa henti, seolah meludahi tubuh Tuan Muda Qi yang masih terbaring telentang di lantai.
Jing Dahan menutupi wajah, bangkit dari lantai, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia melirik ke arah Bo Cong, lalu pada Tuan Muda Qi yang masih tertidur pulas di lantai, barulah ia sepertinya mulai paham, lalu menunjuk Bo Cong dan berkata, “Kau... kau yang melakukannya?”
Bo Cong menarik kerah bajunya, mengangkatnya ke atas, lalu berkata dingin, “Tuan Muda Jing, kau selalu suka berbuat ulah, suatu hari kau akan celaka sendiri.”
Seketika sebuah tinju mendarat tepat di batang hidungnya.
Darah pun mengucur, Jing Dahan mengaduh kesakitan.
Bo Cong pun melemparnya ke tanah.
Jing Dahan tahu kali ini masalah besar telah menimpanya. Sambil menutupi hidung yang berdarah, ia berkata pada hadirin, “Sudah, tidak ada apa-apa, semua silakan bubar, jangan berkerumun di sini, cepat pergi.”
Namun begitu banyak orang tentu tak bisa dibubarkan hanya dengan kata-katanya, apalagi tontonan belum selesai.
Jing Dahan hendak memanggil pelayan untuk mengusir orang-orang, berusaha menenangkan keadaan secepatnya.
Namun tiba-tiba, dari luar terdengar suara gaduh, banyak orang menerobos masuk, ternyata para pengawal rahasia istana. Belum juga sampai di dalam, mereka sudah berteriak, “Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Mau memberontak, hah?”
Para murid segera memberi jalan, dan Meng Xiaomei pun masuk bersama rombongannya.
Bo Cong melihat pakaian yang tadi dilempar ke bawah ranjang, buru-buru maju dan menendang pakaian itu hingga melayang dan mendarat tepat di bagian bawah tubuh Tuan Muda Qi yang masih terbaring telentang, menutupi bagian pribadinya.
Nenek tua itu pun menarik selimut menutupi tubuh keriputnya, lalu meringkuk dengan wajah penuh penderitaan, menangis terisak-isak sembari mencaci, “Celaka benar bajingan itu! Aku hanya masuk untuk melayaninya, tapi dia malah menarikku ke ranjang, merobek pakaianku, hendak menodai aku. Ia bahkan berkata akan menikahiku, menjadikanku selirnya. Cih! Aku ini mungkin lebih tua dari neneknya sendiri, tapi ia tega berbuat hal sehina itu kepada orang setua ini. Aku tak tahu malu lagi hidup di dunia ini.”
Sambil berkata demikian, ia membenturkan kepalanya ke kepala ranjang.
Meng Xiaomei melirik Bo Cong, melihat ekspresi aneh di wajahnya, langsung mengerti pasti ini ulahnya. Ia menahan tawa, lalu melambaikan tangan, “Tangkap Qi Langyu, penjahat yang memperkosa perempuan baik-baik itu, bawa ke kantor untuk diinterogasi.”
Lalu pada nenek yang masih membentur-benturkan kepala di ranjang, ia berkata, “Nenek, mohon ikut kami ke kantor istana untuk menjadi saksi.”
Nenek itu segera mengiyakan dan mulai mengenakan pakaian.
Meng Xiaomei kembali berkata pada para murid Akademi Nasional di tempat itu, “Mohon kalian juga ikut ke kantor istana untuk memberikan keterangan, jadi saksi atas kejadian hari ini.”
Para murid yang biasanya suntuk belajar, tentu saja senang bisa ikut menyaksikan keramaian, mereka serempak menjawab, “Tidak masalah, kami melihatnya sendiri, pasti akan bersaksi.”
Meng Xiaomei menoleh ke arah Jing Dahan, “Tuan Muda Jing, sepertinya Anda juga harus ikut kami ke kantor istana. Sebenarnya apa yang terjadi? Anda harus menjelaskannya dengan gamblang.”
Jing Dahan memelas, benar-benar kehilangan akal, tak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya seluruh rombongan dibawa ke kantor istana, sementara Tuan Muda Qi dibawa ke ruang interogasi, Bo Cong sendiri yang memeriksa.
Bo Cong membangunkan Tuan Muda Qi, lalu memanggil nenek dan beberapa murid untuk masuk, menjadi saksi bahwa Tuan Muda Qi telah memperkosa nenek itu.
Sebenarnya Tuan Muda Qi sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Saat ia sedang buang air kecil di tempat gelap, Bo Cong mendekat dari belakang dan membekap mulutnya dengan eter hingga pingsan, lalu membawanya ke kamar. Sebelumnya Bo Cong hanya pura-pura mabuk, padahal sedikit alkohol saja tak mungkin melumpuhkan dirinya yang sudah terbiasa minum minuman keras di zaman modern.
Saat Jing Dahan dan Qi Langyu keluar, Bo Cong juga cepat-cepat mengikuti Tuan Muda Qi, lalu membekuk dan membawanya kembali ke kamar, menelanjanginya dan menyelimutinya, lalu menunggu tontonan seru dimulai.
Begitu Jing Dahan membawa orang-orang masuk, barulah ia berpura-pura masuk dengan langkah sempoyongan, memerankan adegan sebelumnya.
Tuan Muda Qi sendiri sejak buang air kecil sudah pingsan dan sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
Kini, mendengar tuduhan teman-teman sekelasnya bahwa ia telah memperkosa nenek tua berumur tujuh puluh atau delapan puluh tahun, lalu melihat nenek itu yang penuh keriput dan flek usia, punggung bungkuk, tubuh kerempeng, dan gigi hampir habis, ia hampir saja memuntahkan makanan yang ia makan kemarin.
Sambil merintih, ia berkata pada Bo Cong, “Saudara Bo, pasti ada yang menjebak aku. Mana mungkin aku mencari nenek tua seperti itu? Di rumahku banyak wanita cantik, bahkan primadona di rumah bordir pun harus yang terbaik baru menarik perhatianku. Mana mungkin aku tertarik pada nenek setua itu? Dikasih uang pun aku tak mau, apalagi sampai memperkosanya, sungguh fitnah!”
Mendengar lawannya berkata setega itu, nenek tua itu makin marah, hampir saja ingin mencabik tubuh sang tuan muda.
Ia pun duduk di lantai, meraung sambil menangis, membeberkan detail kejadian yang katanya dilakukan Tuan Muda Qi, menyampaikannya dengan sangat dramatis dan menyayat hati, menjelaskan setiap rincian dengan sangat gamblang.
Para murid yang mendengar malah semakin tertarik, memandang Tuan Muda Qi dengan heran dan bergumam diam-diam, menghadapi “barang” seperti itu, Tuan Muda Qi ternyata masih bisa berbuat hal-hal aneh, sungguh mencengangkan.
Tuan Muda Qi awalnya ingin membantah dengan suara keras, tapi para pengawal memberinya beberapa tamparan keras hingga ia hanya bisa diam, tak berani berkata atau bergerak sembarangan.
Setelah serangkaian tuduhan, Tuan Muda Qi akhirnya sadar akan nasib buruknya, apalagi beberapa teman sekelas juga bersaksi bahwa mereka sendiri melihatnya telanjang di atas tubuh nenek itu. Ia pun tahu tak mungkin bisa membela diri.
Bo Cong lalu meminta nenek dan para murid menandatangani serta membubuhkan cap jari pada berkas kesaksian, lalu mempersilakan mereka keluar.
Bo Cong mendekat ke Tuan Muda Qi yang terikat pada tiang, menepuk pipinya, “Sekarang kau sudah paham keadaanmu? Akuilah perbuatanmu baik-baik, atau nanti kau akan merasakan semua siksaan kejam di kantor istana.”
Tuan Muda Qi yang panik tiba-tiba membulatkan tekad dan berteriak, “Bo, aku tahu ini semua jebakanmu! Jangan harap aku mengakui satu kata pun! Aku tidak melakukannya, aku dijebak! Ayahku pejabat tinggi, ia orang kepercayaan Perdana Menteri Qin, pasti akan membebaskanku. Dendam hari ini pasti akan kubalas, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!”
Bo Cong bertepuk tangan, “Sudah jatuh ke tangan kami, melakukan kejahatan sebesar ini, masih berani mengancam? Aku benar-benar kagum dengan keberanianmu. Karena itu, biar kau benar-benar tahu, akan kuperlihatkan padamu siksaan kejam kantor istana.”
“Pengawal, mulai!”
Bo Cong sendiri hanya pernah mendengar dari Meng Xiaomei tentang kejamnya siksaan kantor istana, belum pernah menyaksikannya langsung. Kali ini ia pun ingin melihat sendiri betapa mengerikannya.
Begitu melihatnya, bahkan Bo Cong sendiri merinding. Tuan Muda Qi yang tubuhnya besar dan kuat, baru saja menjalani siksaan pertama sudah meraung meminta ampun.
Tak lama kemudian, pengakuan pun keluar, Bo Cong merasa sangat puas.
Ia lalu berkata, “Kau tak lupa kan apa yang kusebut di jamuan tadi? Bagaimana kau membunuh Kuang Youfeng?”
Soal memperkosa nenek tua, Tuan Muda Qi akhirnya mengaku karena merasa tidak bersalah, yakin ayah dan Perdana Menteri Qin akan membebaskannya. Ia tahu dirinya tak berbuat seperti itu.
Namun saat Bo Cong menyinggung soal pembunuhan Kuang Youfeng, tubuhnya jadi tegang. Ia memang melakukannya, tapi mana mungkin ia mengaku, karena itu kejahatan yang bisa dihukum mati.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Bukankah kau tadi bilang hanya bercanda?”
Bo Cong menampar wajahnya, “Kau kira aku punya banyak waktu untuk bercanda denganmu? Jawab! Mau mengaku atau tidak? Kalau tidak, akan kucoba semua siksaan.”
Tuan Muda Qi memang sangat takut pada siksaan, tapi lebih takut mati, sehingga tetap menggigit bibir, “Aku tidak, aku tidak membunuhnya.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bo Cong memberi isyarat pada pengawal, “Lanjutkan! Biarkan dia merasakan semua siksaan kantor istana!”
Siksaan kedua langsung dijalankan. Jeritan Tuan Muda Qi begitu memilukan hingga hampir memekakkan telinga. Tak sampai dua jam, ia tak sanggup lagi, merintih minta ampun, bersedia mengaku.
“Ayo, ceritakan secara jelas bagaimana kau membunuh Kuang Youfeng, dari awal sampai akhir. Jangan coba-coba berbohong.”
Dengan lemas, Tuan Muda Qi mulai mengaku, “Hari itu aku sebenarnya tak berniat membunuhnya, hanya saja karena kalah judi, hatiku kesal dan ingin melampiaskan amarah. Aku mengajak Tuan Muda Gao dan Tuan Muda Niu, menunggu Kuang Youfeng di jalan. Saat dia pulang dari kelas menuju asrama, hari sudah gelap. Kami membawanya ke kamarku, lalu memukulinya habis-habisan. Tapi supaya tak meninggalkan bekas luka, kami selalu memukuli dengan bantal atau buku, biar sakit tapi tak terlihat bekasnya.
Entah mengapa, hari itu Kuang Youfeng tidak seperti biasanya, ia malah memaki-maki kami, menyebutku pengecut, hanya berani menindas yang lemah, bukan laki-laki sejati. Aku yang sedang kesal karena kalah judi, mendengar itu langsung naik pitam. Aku bilang akan kubuktikan siapa aku sebenarnya, apakah aku pengecut atau tidak.
Aku mengeluarkan pisau, menarik rambutnya, lalu menggoreskan pisau itu ke lehernya dengan keras...”