Melintasi zaman kacau, memikul dendam keluarga, untungnya sebuah pernikahan gaib memberinya istri muda yang manis, dan membuatnya berjuang mati-matian demi melindungi keluarganya agar tetap hidup. "Chen An, kalau berperang, lindungilah dirimu baik-baik." "Jenderal, kau telah menghancurkan markas musuh?" "Yang Mulia, apakah aku sudah menjadi permaisuri?" Aku memandang negeri ini yang penuh luka dan kehancuran, lebih baik aku merebutnya sendiri!
Larut malam, di ruang duka kediaman Adipati Yong'an, sebuah peti mati terletak di tengah ruangan. Di dalam peti itu, terbujur putri Adipati Yong'an, Li Wei'er. Alisnya melengkung indah, hidungnya mungil, benar-benar gadis cantik yang memikat.
Namun, wajah ovalnya pucat tanpa darah, seputih mayat, tanpa napas sedikit pun. Beberapa hari lalu, ia meninggal dunia karena tenggelam, masa mudanya sirna begitu saja.
Anehnya, di dalam peti bukan hanya dirinya. Dari celah yang memancarkan sedikit cahaya, terlihat seorang pemuda terbaring di sisinya, menatapnya lurus dengan dahi mengernyit.
Chen An merasa gusar.
Sudah nasibnya terlempar ke masa lalu, ia malah terbangun di dalam peti mati, ditemani jenazah seorang gadis.
Awal-awal, Chen An menggigil ketakutan berbagi peti dengan mayat perempuan, tetapi setelah sadar tak bisa mengubah keadaan, ia mulai menerima nasib, bahkan merasa Li Wei'er punya wajah yang menarik...
Kenapa ia bisa terbaring di sini? Semua bermula dari beberapa hari lalu.
Pasukan besi kerajaan Jin menyerbu gerbang pertama Kota Datong, menjarah Desa Keluarga Chen. Ayahnya, seorang mantan prajurit, berjuang sampai titik darah penghabisan namun gagal lolos, seluruh desa dibantai.
Dalam kekacauan, Chen An menyeret jasad ayahnya masuk ke Kota Datong, tapi ia bahkan tak punya uang untuk pemakaman. Di sanalah ia menawarkan dirinya di jalanan demi biaya menguburkan ayah.
Kebetulan, saat itu putri Adipati Yong'an meninggal karena tenggelam dan belum menikah. Pemikiran kuno zaman itu meyakini sese