Bab 10: Kematian Lin Ruhai
Di bawah pengaruh alkohol, wajah Nyonya Yang seketika memerah. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tertawa sinis dan berkata, "Apa yang membuatku merasa tidak puas?"
"Aku menikah denganmu saat usiaku tiga belas tahun. Belum genap dua tahun aku menginjakkan kaki di kediaman keluarga Lin, aku sudah melahirkan seorang putra untukmu. Orang-orang memujiku karena menikah dengan seorang peraih peringkat ketiga ujian negara, mereka memuji Nyonya Jia yang bijak dan berbudi luhur, mereka bilang masa depanku pasti akan sangat gemilang..."
"Kala itu... dengan hati seorang gadis muda, aku telah lama menaruh hati padamu dan akhirnya keinginanku tercapai. Aku pun mengira hari-hari bahagiaku telah tiba..."
"Namun, Tuan Besar Lin, kau bertanya apa yang membuatku tidak puas?"
Saat mengucapkannya, air mata menetes deras dari sudut mata Nyonya Yang, jatuh ke dalam piring cuka bunga osmanthus di hadapannya.
"Sejak aku masuk ke rumah ini, kau tidak pernah memanggil nama kecilku, bahkan hingga saat ini kau hanya memanggilku Nyonya Yang! Aku mengira kau menikahiku karena mencintaiku, namun kau justru menganggapku sebagai alat untuk melahirkan keturunan. Selain datang ke kamark di malam hari, kau tidak pernah sudi menatapku lebih lama atau berbincang denganku. Bahkan saat putra kita, Lin'er, meninggal dunia di usia dini, kau hanya datang menjenguk sekilas lalu pergi!"
Nyonya Yang semakin emosional, ia menumpahkan segala keluh kesah dan rasa tidak rela yang dipendamnya selama bertahun-tahun.
"Lin Ruhai, aku pikir jika aku melahirkan satu anak lagi untukmu, kau akan mencintaiku. Aku pikir jika Jia Min mati, kau akan menjadi milikku seutuhnya. Namun, aku tidak menyangka... kau sama sekali tidak memedulikan perasaan selama bertahun-tahun ini. Baru dua hari setelah pemakaman Jia Min selesai, kau mengusirku dari kediaman ini! Kau lebih memilih menjaga rumah kosong ini sendirian daripada menatapku sedikit saja! Mengapa! Mengapa!"
"Lin Ruhai, aku ini manusia! Jika kau tidak ingin menemuiku, mengapa kau tidak melepaskanku saja! Semua orang telah kau ceraikan dan kau lepaskan, hanya menyisakan aku, terjebak di perkebunan terpencil itu seumur hidup!"
Lin Ruhai menatap histeria Nyonya Yang dengan datar, lalu berkata tenang, "Meskipun kau tidak tinggal di kediaman ini, selama bertahun-tahun aku tidak pernah kekurangan dalam memenuhi kebutuhan makan dan pakaianmu. Apa pun yang kau inginkan selalu kuberikan. Hal-hal kotor yang kau lakukan di belakang pun kubiarkan saja, seolah-olah aku tidak melihatnya..."
Nyonya Yang memotong ucapannya, "Jadi, aku harus berterima kasih atas kemurahan hati Tuan Lin? Keluarga asalku memang tidak setara dengan kediaman Adipati Rongguo, namun kami adalah pedagang terkemuka di Jinling. Kapan aku pernah kekurangan kebutuhan seperti itu darimu?!"
Nyonya Yang mengambil surat izin garam kosong di atas meja, menggoyangkannya di depan Lin Ruhai, lalu mencondongkan tubuh ke arahnya dan berbisik, "Kau takut? Ya, memang aku yang melakukannya, lalu kenapa? Siapa bilang aku ingin melarikan diri? Aku justru ingin kalian menemaniku mati bersama. Aku ingin kau melihat dengan mata kepalamu sendiri rumah ini disita dan putrimu yang berharga itu dibuang! Lin Ruhai, kau harus bertahan hidup lebih lama lagi!"
Setelah berkata demikian, Nyonya Yang tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di malam hari, terdengar sangat menyayat hati.
Wajah Lin Ruhai tampak berat. Ia tidak menyangka Nyonya Yang akan senekat itu; demi membalas dendam padanya, ia rela menyeret seluruh keluarga Lin ke dalam kehancuran.
Daiyu menatap ayah dan selirnya dengan bulu kuduk berdiri.
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, tawa Nyonya Yang tiba-tiba terhenti, digantikan oleh kepanikan yang mencekik.
Nyonya Yang mencengkeram perutnya dengan kesakitan, merasa seolah daging kepiting di dalam lambungnya bergejolak menjadi bilah pisau yang menyayat setiap bagian organ dalamnya.
Saat ia berbalik, melalui cermin perunggu di dalam ruangan, ia melihat darah hitam merembes keluar dari sudut bibirnya.
Nyonya Yang mengangkat tangan menunjuk ke arah Lin Ruhai, memaksakan kata yang penuh kebencian, "Kau..." lalu ia jatuh tersungkur ke lantai dan kehilangan napas.
Daiyu dan Jia Lian terlonjak dari tempat duduk mereka. Saat mereka mengalihkan pandangan ke arah Lin Ruhai, mereka mendapati pria itu pun telah berhenti bernapas, dengan darah hitam pekat mengalir dari panca indranya.
Lin Ruhai hanya duduk diam di sana, matanya terbuka menatap Daiyu dengan sisa senyum tipis di sudut bibirnya.
Daiyu terpekik ketakutan melihat pemandangan mengerikan itu. Melihat ayahnya pergi begitu saja, air matanya tumpah layaknya bendungan yang jebol, mengalir deras tanpa henti.
Jia Lian secara naluriah bereaksi, ia melangkah ke belakang Daiyu dan segera membekap mulutnya, lalu berbisik di telinganya, "Adik, peristiwa ini mencurigakan, jangan sampai membuat orang lain di kediaman ini curiga..."
Daiyu yang dikendalikan oleh Jia Lian tidak dapat meluapkan kesedihan yang mendalam itu. Ia hanya bisa menahannya di dalam dada, tubuhnya gemetar hebat hingga perlahan ambruk ke lantai.
Jia Lian ikut duduk perlahan di samping Daiyu. Ia menyodorkan bahunya agar Daiyu bisa bersandar, memberikan dukungan semampunya. Saat ini, hanya dia satu-satunya tempat bersandar bagi sang adik.
"Adik, tenanglah," ucap Jia Lian sembari menepuk lengan Daiyu dengan tangan lainnya.
Daiyu memaksa dirinya untuk tenang sedikit demi sedikit. Segalanya terjadi terlalu mendadak; sang ayah yang baru saja berpesan agar ia hidup dengan baik kini telah tewas di depan matanya; sang selir yang berjanji akan membalas dendam dan meminta ayahnya hidup lebih lama, kini juga tergeletak menjadi sesosok tubuh dingin.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan menoleh ke arah Chen Shouyi yang berdiri di samping. Ia berharap pria itu bisa memberinya jawaban.
Chen Shouyi memasuki ruangan dalam, mengambil sehelai kain bersih, lalu menghampiri Lin Ruhai dan menyeka noda di wajah tuannya hingga bersih. Setelah itu, ia mundur selangkah dan bersujud di lantai. Setelah melakukan sembilan kali sujud, ia berbalik dan berkata kepada Daiyu, "Nona, jangan salahkan saya."
Daiyu menatap Chen Shouyi yang bersujud di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Sejak kedatangannya di kediaman Lin, kepala pelayan ini telah memberikan banyak bantuan. Di mata Daiyu, pria itu selalu menampilkan senyum ramah dan bekerja dengan cekatan.
Dalam lamunannya, ia teringat malam pertama saat tiba di kediaman Lin, kepala pelayan tua ini bersumpah dengan sungguh-sungguh, "Selama tulang tua ini masih ada, saya pasti akan melindungi Nona."
Orang yang begitu ia percayai, justru meracuni ayahnya sendiri.
Ia tidak percaya.
Di tengah ribuan pikiran, ia hanya mampu bertanya tiga kata: "Mengapa?"
"Nona, ini adalah kehendak Tuan... Meskipun stempel resmi itu palsu, namun keberadaan Nyonya Yang yang masih hidup adalah bukti yang memberatkan. Jika seseorang ingin menjatuhkan hukuman, alasan akan selalu ada, apalagi surat izin garam itu memang keluar dari tangannya... Jadi, Nyonya Yang tidak boleh dibiarkan hidup. Namun... Tuan sendiri juga memakan cuka itu... Saya khawatir..." Chen Shouyi tidak melanjutkan kata-katanya.
Setelah mendengarnya, Daiyu menunduk dan terisak tanpa henti.
Ia tentu tahu alasannya: dengan kematian Nyonya Yang, masalah surat izin garam untuk sementara tidak memiliki bukti, namun mereka yang ingin menjebak ayahnya pasti akan mencari alasan untuk menyelidiki penyebab kematian Nyonya Yang. Saat itu tiba, masalah surat izin garam pasti akan terseret kembali.
Meskipun stempelnya palsu, kemungkinan untuk terseret tetap tidak bisa dihindari. Kebenaran pada akhirnya akan terungkap.
Dan kematian ayahnya memberikan alasan yang sempurna: Pengawas Garam meninggal karena penyakit parah, dan selirnya, Nyonya Yang, melakukan bunuh diri karena kesedihan yang mendalam...
Ternyata sejak awal, ayahnya sudah berencana mengorbankan nyawanya demi melindunginya.
Ayah, sungguh hati yang kejam.
Demi menjaga cinta pada istrinya, ia mengurung kehidupan wanita lain selamanya; demi menjaga masa depan putrinya, ia bahkan sanggup meracuni dirinya sendiri.
Namun, posisi dan alasan apa yang ia miliki untuk menyalahkan ayahnya?
Daiyu menatap ayah dan selir ayahnya. Ia teringat kalimat dalam naskah drama: Di langit maupun di bumi, manusia takkan pernah luput dari takdir reinkarnasi.
Dua orang yang mengira tidak akan pernah bertemu lagi di dunia ini, justru tewas di malam yang sama. Di kediaman keluarga Lin ini, Nyonya Yang akhirnya kembali melewati pintu utama dengan terang-terangan.
"Kakak kedua..." Daiyu menghela napas panjang, menekan emosinya, lalu berbisik, "Lepaskan aku."
Mendengar itu, Jia Lian perlahan melepaskan tangannya dari Daiyu dan menenangkan, "Adik, bersabarlah, jangan sampai menyia-nyiakan pengorbanan Tuan Lin..."
"Kepala Pelayan Chen, bukalah pintunya..." Daiyu bangkit perlahan dan berkata kepada Chen Shouyi, "Ayah meninggal karena sakit, dan selir Nyonya Yang bunuh diri karena sedih. Atur pemakaman mereka sesuai dengan tata cara yang berlaku..."