Bab 52 Menimpakan Kesalahan dan Menjebak

A Lenda do Condor: A Partir de Ser Expulso da Ilha da Flor de Pêssego O Lobo Rico de Treze 2403kata 2026-08-03 08:42:18

Pertarungan dan jeritan di lantai atas seketika membuat seluruh penginapan menjadi riuh.

Penculik bunga itu adalah anggota dari Perguruan Yandang yang keberaniannya dilandasi nafsu, sayangnya Niu Wanrou jauh lebih garang daripada langit.

Penculik itu tertangkap basah, sehingga orang-orang Perguruan Yandang tentu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Mereka bahkan sangat ingin segera memutuskan hubungan dan mengganti rugi banyak perak. Kakak Lu tahu bahwa Perguruan Yandang sejak dulu tercerai-berai dan kali ini jumlah mereka sedang banyak, jadi dia tidak memperpanjang masalah. Dia hanya mengakhiri nyawa si penculik dengan satu tusukan tombak ringan, lalu membiarkan mayatnya diurus oleh Perguruan Yandang.

Baru setelah itu penginapan berangsur-angsur tenang. Di dalam seluruh kejadian ini, selain si penculik yang mati secara agak mengenaskan, satu-satunya korban adalah pengantin kabur yang sial itu.

Saat ini, wanita tersebut sedang bersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari penginapan. Tangannya menutupi dada, wajahnya merona kemerahan, dan ia mengatupkan giginya rapat-rapat karena geram.

"Bocah keparat, pencabul, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Urusan kita berdua belum selesai."

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, orang-orang Perguruan Yandang mungkin merasa malu untuk menemui Fang Xiu dan yang lainnya lagi, sehingga mereka sudah berangkat bersama-sama bahkan sebelum fajar menyingsing.

Setelah menikmati sarapan, Fang Xiu dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan.

Tadi malam Fang Xiu mungkin terlalu bersemangat hingga sulit tidur nyenyak. Begitu naik ke kereta, dia malah merasa sangat mengantuk. Entah sudah berapa lama berlalu, dia tiba-tiba dibangunkan oleh He Zhiyu. He Zhiyu menunjuk ke bawah meja kecil, di mana terdapat sebuah bungkusan kecil yang tidak begitu mencolok. Entah kapan benda itu diletakkan di sana, dan tidak satupun dari mereka yang menyadarinya saat naik kereta tadi.

Fang Xiu mengulurkan tangan untuk mengambilnya, dan seketika ia mengerti dalam hatinya—bungkusan itu mengeluarkan aroma milik wanita tersebut.

Ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya adalah sebuah buku dan sebuah token besi.

Buku itu tebalnya sekitar puluhan halaman, dengan judul *Tangan Seribu Mesin* tertulis di sampulnya, disertai sebuah catatan kecil bertuliskan *Warisan Rahasia Ketua Perguruan Yandang*. Setelah membalik-balik isinya, barulah diketahui bahwa ini adalah ilmu bela diri khusus milik Perguruan Yandang. Namanya terdengar cukup hebat, tetapi sebenarnya ini adalah ilmu bela diri yang dikhususkan untuk melatih kedua tangan.

Perguruan Yandang khusus berbisnis kecil-kecilan di jalanan, yang mengutamakan kelenturan tangan dan mata, membungkuk dan merendah, serta tiba-tiba melancarkan serangan saat menyuguhkan teh atau air. Berlatih ilmu ini dapat meningkatkan kelenturan kedua tangan secara drastis, dan di dalamnya juga dilampirkan ilustrasi demonstrasi satu set teknik tangkapan tangkas, yang bisa dianggap sebagai ilmu telapak tangan ofensif untuk pertarungan jarak dekat.

Dengan pemahaman bela diri Fang Xiu yang dangkal, dia pun bisa melihat bahwa buku rahasia ini bukanlah sebuah ilmu silat mahakuasa yang tiada tandingannya. Buku ini juga tidak memiliki fungsi melatih tangan, mata, tubuh, dan kuda-kuda seperti *Ilmu Telapak Tangan Gelombang Giuk* sebagai dasar latihan, melainkan lebih merupakan sebuah keterampilan praktis penggunaan tangan. Jika benda ini berada di mata Huang Yaoshi, ia pasti akan menganggapnya sebagai trik kecil yang tidak layak untuk disebutkan.

Perguruan Yandang ternyata memang tidak bisa dianggap sebagai sekte silat yang sesungguhnya. Ilmu silat seperti ini bahkan dijadikan sebagai warisan rahasia ketua perguruan.

Adapun token tersebut tentu saja adalah token ketua perguruan. Bentuknya rombus dengan pola awan di bagian tepinya. Di satu sisi tertulis tiga aksara *Gunung Yandang*, disertai beberapa guratan pola pemandangan pegunungan, sementara di sisi lainnya tertulis *Kehadiran Pribadi Ketua*.

Hanya saja, token ini dibuat dari besi murni dengan bahan yang biasa saja, dan pembuatannya pun agak kasar. Benar-benar tidak terlihat seperti layaknya token seorang ketua perguruan.

Fang Xiu menimbang-nimbang token itu di telapak tangannya beberapa kali lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Dalam hatinya ia berpikir, sekte seperti ini begitu kasar dan dangkal, tetapi ternyata masih bisa diwariskan hingga era *The Smiling, Proud Wanderer*. Tampaknya sekte-sekte lapisan bawah terkadang justru memiliki daya tahan hidup yang lebih kuat.

Namun, jika dipikir-pikir kembali, pengantin kabur semalam telah menderita kerugian besar. Awalnya ia hanya berniat mengerjai dan menakut-nakuti Fang Xiu, tetapi sekarang ia menjadi sangat kejam dan langsung menjebak serta melempar kesalahan padanya.

Trik ini bisa dikatakan sangat berbisa dan tanpa ampun. Fang Xiu seketika merasa bahwa bencana besar sedang menimpanya dan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

Token ketua dan buku rahasia dari sebuah sekte silat telah dicuri. Ini setara dengan dendam besar atas hancurnya sebuah keluarga dan perguruan. Sekte mana pun tidak akan tinggal diam dan pasti akan memicu pertumpahan darah.

Meskipun ilmu silat orang-orang Perguruan Yandang tidak terlalu tinggi, tetapi semalam ada sekitar tujuh puluh atau delapan puluh orang dari mereka. Jika mereka semua menyerbu secara bersamaan, Fang Xiu dan rombongannya pasti akan dirugikan.

Bagaimana bisa ia tanpa sengaja memicu masalah sebesar ini? Terutama karena niat awalnya adalah menjadi pahlawan yang menyelamatkan kecantikan, tetapi sandiwara yang bagus ini justru berubah menjadi kekacauan total. Fang Xiu sekarang sangat menyesal hingga ususnya serasa terpilin. Sejak meninggalkan Kabupaten Gushan, perjalanan ini sama sekali tidak pernah berjalan lancar dan penuh dengan krisis di setiap sudut.

Fang Xiu berniat untuk segera melempar benda-benda itu keluar jendela. Sayangnya, dia menyadarinya sudah terlalu terlambat. Tepat pada saat itu, Fang Xiu mendengar orang-orang di depan berisik dan bersitegang. Ketika ia membuka tirai jendela untuk melihat, ternyata mereka adalah para murid Perguruan Yandang yang berangkat pagi-pagi sekali.

Entah mengapa, saat ini mereka terbagi menjadi dua kubu. Mereka saling berdebat dengan suara ribut dan wajah memerah, siap untuk berkelahi kapan saja. Tanpa perlu dikatakan lagi, mereka pasti telah menyadari bahwa pusaka ketua perguruan telah hilang dan sekarang saling melempar tuduhan. Fang Xiu tahu bahwa saat ini sudah terlambat untuk membuang benda-benda yang ada di tangannya.

"Token dan buku rahasia itu hilang saat berada di tangan kalian, jadi kalian harus bertanggung jawab! Jangan ada yang mencoba mengelak!"

"Jangan bermimpi! Jangan-jangan justru kalianlah yang ingin merebut posisi ketua perguruan dan sengaja mencurinya dari kami."

"Kalian melemparkan tuduhan palsu! Atau jangan-jangan kalian sendiri yang menyembunyikannya? Jika ingin menjadi ketua, katakan saja secara terus terang, tidak perlu melakukan hal-hal kotor seperti ini."

"......"

Kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah, berdebat hingga wajah dan leher mereka merah padam. Beberapa orang bahkan menatap dengan tatapan tidak ramah dan telah mencabut pisau mereka. Bahkan ketika Kakak Lu ingin meminta jalan untuk lewat, mereka sama sekali tidak mempedulikan bujuk rayu maupun ancamannya.

Pada saat ini, sebuah suara yang sedikit serak menyela dan berkata, "Orang-orang yang berada di penginapan semalam bukan hanya anggota Perguruan Yandang kita saja. Orang-orang itu juga tinggal di sana dan bahkan sempat berselisih dengan saudara kita. Mungkin merekalah yang mencurinya."

Satu kalimat itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang kepada Fang Xiu dan kawan-kawan. Kakak Niu sekadar mengeluarkan dua gada tembaga bermuka empat, membelalakkan matanya dengan marah, dan berteriak, "Apa yang dimiliki Perguruan Yandang kalian yang layak untuk kami curi? Jangan menuduh orang baik secara sembarangan, kami bukanlah orang-orang yang mudah diusik!"

Orang-orang yang terbiasa berdagang kecil-kecilan sangat pandai membaca situasi dan ekspresi wajah. Mereka tahu betul bahwa Kakak Niu dan rombongannya memang tidak mudah untuk diusik, terutama dengan penampilan Kakak Niu yang bermata bulat besar seperti kepala macan tutup. Serentak mereka menolehkan kepala kembali dan melanjutkan pertengkaran mereka.

Sementara orang yang bersuara serak tadi rupanya sedang mengipasi bara api di antara Perguruan Yandang dan kelompok Fang Xiu, yang langsung menarik perhatian semua orang.

Sosok yang pendek dan bulat itu sama sekali tidak mencolok di tengah kerumunan. Orang-orang di sekitarnya tampaknya juga tidak terlalu akrab dengannya. Fang Xiu menduga bahwa gerombolan ini, meskipun mengaku berasal dari satu perguruan, sebagian besar biasanya bahkan tidak saling mengenal dan hanya berkumpul bersama demi menghadiri pameran kuil, dan mungkin akan langsung saling melupakan begitu berbalik badan.

Namun, tinggi badannya hampir sama persis dengan pengantin kabur semalam. Sekalipun posturnya terlihat membengkak dan kulitnya gelap legam, dengan ketajaman penglihatan Fang Xiu, ia langsung menemukan banyak celah pada diri orang tersebut: kulit di bagian leher dan wajahnya memiliki perbedaan warna hitam dan putih yang kontras, kumisnya ditempel secara asal-asalan, dan bentuk matanya juga sangat mirip dengan wanita semalam.

Yang paling penting adalah aroma di tubuh orang tersebut juga mirip dengan wanita itu. Jelas sekali bahwa itu adalah wanita semalam yang sedang menyamar. Rupanya, kemunculan ilmu penyamaran di dunia persilatan karya Pendekar Jin bukanlah hal yang aneh.

Orang itu melihat bahwa orang-orang Perguruan Yandang sama sekali tidak mempedulikan Fang Xiu dan rombongannya serta tetap asyik bertengkar sendiri, sehingga ia merasa sedikit cemas.

"Apakah kalian sudah lupa? Ilmu andalan Perguruan Yandang, yaitu *Tangan Seribu Mesin*, ikut dicuri bersama dengan token tersebut. Ini menyangkut rahasia perguruan, bagaimana bisa kalian melepaskan orang yang mencurigakan begitu saja?"

Tepat pada saat itu, seorang murid Perguruan Yandang di sebelah tiba-tiba menepuk bahunya. Ketika ia menoleh, ia terkejut melihat sebuah buku *Tangan Seribu Mesin* lainnya disodorkan ke hadapannya.

Murid Perguruan Yandang itu berkata dengan sangat santai dan murah hati, "Saudara baru bergabung dengan Perguruan Yandang kita ya? Buku *Tangan Seribu Mesin* ini hampir dimiliki oleh setiap orang dari kita. Buku yang ada di tangan ketua adalah versi aslinya, jadi sebagai pusaka ketua, benda ini sudah dikuasai oleh semua orang. Jika Saudara belum bisa, ambil saja sendiri untuk dipelajari."