Bab 7 Bertindak
Fang Xiu menggertakkan gigi rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Tangannya yang memegang tongkat kayu mulai gemetar. Beberapa hari terakhir ini berjalan terlalu mulus hingga ia hampir lupa bahwa ini adalah dunia persilatan. Di dunia ini, hukum rimba berlaku; bagi orang-orang di kasta terendah seperti dirinya, nyawa tidak ada harganya.
Ia menajamkan pendengaran. Hanya terdengar suara Pak Tua Mo dan satu orang lainnya. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan A Ku.
Secara naluriah, ia ingin berbalik dan pergi. Krisis hidup dan mati saat baru tiba di dunia ini sudah terlewati. Pak Tua Mo dan A Ku sebenarnya sudah tidak berguna baginya; mereka justru akan menjadi beban di masa depan. Ia sudah menemukan cara untuk bertahan hidup, dan tanpa mereka, hidupnya justru akan jauh lebih ringan. Begitu kembali ke Gusu, ia bisa hidup tenang dan nyaman.
Fang Xiu sama sekali tidak perlu mengambil risiko demi Pak Tua Mo dan A Ku, meskipun mereka pernah menyelamatkan nyawanya dan meskipun A Ku membuatnya merasa sangat iba.
Namun, kakinya terpaku kuat di tanah. Meski batinnya berkecamuk hebat, ia tidak mampu melangkahkan kaki untuk melarikan diri.
Batas toleransi orang dewasa mungkin bisa sangat rendah, tetapi pada akhirnya, tetap ada garis batas yang tidak bisa dilanggar.
Saat ini, suara pertarungan perlahan mereda. Di dalam rumah reyot itu hanya terdengar rintihan Pak Tua Mo dan tawa terbahak-bahak orang asing.
Fang Xiu meletakkan bungkusan daun teratai yang dibawanya, mengangkat tongkat kayu, lalu melangkah perlahan dengan sangat hati-hati mendekati rumah tersebut.
"Tua bangka bau, tidak kusangka kau sempat berlatih bela diri. Gara-gara lengah sedikit, salah satu saudaraku malah kau habisi."
"Gadis kecil itu sudah kami bawa pergi. Kami sengaja menunggu di sini untuk bocah yang satunya lagi."
"Kuil Qingyu sedang terburu-buru membutuhkan barang dagangan, kalau tidak, kami tidak akan sudi melirik gadis sakit-sakitan dan bocah pincang sepertimu."
Fang Xiu mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Ia segera sadar bahwa orang yang menyerang adalah anggota Kelompok Pengemis yang ditemuinya kemarin. Jadi, "barang" yang diinginkan Kuil Qingyu ternyata adalah A Ku dan dirinya sendiri, atau mungkin para anggota Kelompok Pengemis ini hanyalah sekelompok pedagang manusia.
Fang Xiu tidak perlu membayangkan apa yang akan terjadi pada anak-anak yang jatuh ke tangan pedagang manusia. Di masyarakat feodal ini, dijual sebagai budak sudah dianggap keberuntungan. Ia tidak berani memikirkan nasib A Ku, dan yang terpenting, dirinya sendiri pun menjadi target mereka.
"Cepat katakan, ke mana bocah itu pergi? Jika kau bicara, aku akan membiarkanmu mati dengan utuh. Jika tidak, tidak masalah. Seberapa luas sih Kabupaten Gushan ini? Dengan kaki pincang seperti itu, dia tidak akan bisa lari jauh."
Mendengar itu, Fang Xiu tanpa sadar memejamkan mata. Setelah menarik napas dua kali, ia membukanya kembali. Tatapannya kini jauh lebih teguh.
Anggota Kelompok Pengemis itu benar, Fang Xiu tidak akan bisa lari. Karena tidak bisa lari, setidaknya Fang Xiu harus membuat lawannya merasakan akibatnya.
Ia mendekat tanpa suara hingga sampai di depan pintu. Mengandalkan indra penciuman dan pendengaran yang kini jauh melampaui orang biasa, serta intuisi yang tajam, sebuah peta tiga dimensi tentang situasi di dalam rumah terbentuk di benaknya.
Tata letak ruangan sudah ia pahami. Selain tumpukan rumput tempat mereka tidur dan api unggun di tengah, hanya ada tempayan air rusak di sudut dinding serta botol-botol milik Pak Tua Mo.
Ada dua titik bau darah. Satu sangat pekat, kemungkinan besar darah dari rekan lawan yang dibunuh Pak Tua Mo; posisinya berada di tumpukan rumput tempat Fang Xiu tidur, dan detak jantungnya sudah hilang—dikonfirmasi tewas.
Titik darah lainnya lebih samar, bercampur dengan bau tubuh Pak Tua Mo. Napasnya kini melemah, tinggal menunggu ajal, tergeletak di dekat api unggun.
Bau tubuh A Ku sudah hilang, hanya menyisakan sedikit jejak di tumpukan rumput tempat ia biasanya tidur. Gadis itu pasti sudah dibawa pergi.
Selain itu, tidak ada detak jantung orang ketiga di tempat itu. Lawan yang tersisa sedang menghadap ke arah Pak Tua Mo, membelakangi pintu.
Entah bagaimana, Fang Xiu bisa mengetahui dengan jelas tinggi dan perawakan orang itu, serta pisau pendek yang diayunkan di tangan kanannya.
Seorang pria dengan tinggi kurang dari 170 sentimeter, sedikit gemuk, pernah berlatih bela diri dan mungkin pernah membunuh orang. Di era ini, ia bisa dianggap cukup tangguh.
"Kakek, Kakek! Lihat apa yang kudapatkan hari ini!"
Saat pria itu hendak menghabisi Pak Tua Mo, tiba-tiba terdengar suara riang seorang remaja yang polos dari balik punggungnya.
Fang Xiu masuk dengan bertumpu pada tongkatnya. Meski kakinya pincang, ia tampak sangat gembira.
Pria itu menoleh dan beradu pandang dengan Fang Xiu yang wajahnya berseri-seri.
Selanjutnya, terdengar teriakan kaget dari Fang Xiu, "Kakek, apa yang terjadi padamu? Dasar penjahat, apakah kau yang memukul kakekku? Penjahat, aku akan melawannmu!"
Tubuh Fang Xiu yang ringkih dengan langkah tertatih mengayunkan tongkat kayunya ke arah pria itu, benar-benar tampak seperti anak kecil yang impulsif dan tidak tahu diri.
Pria itu menyeringai kejam. Ia sama sekali tidak peduli pada ayunan tongkat kayu yang tidak bertenaga itu. Dengan tangan kanan memegang pisau, tangan kirinya menyambar leher Fang Xiu.
Tepat pada saat itu, kepalan tangan kanan Fang Xiu terbuka, menyebarkan segenggam pasir halus ke arah mata lawan.
Namun, gerakan itu tidak membuahkan hasil. Pria itu kemungkinan hanyalah murid rendahan dari Kelompok Pengemis. Meski bela dirinya tidak tinggi, ia terbiasa dengan perkelahian jalanan, sehingga reaksi ototnya terhadap trik seperti lemparan debu sudah terbentuk.
Tangan kirinya dengan cepat menepis pasir tersebut, sementara pisaunya terangkat untuk memotong tongkat kayu Fang Xiu, sambil memaki, "Bocah ingusan, berani bermain kotor denganku? Kau masih terlalu hijau!"
Wajah Fang Xiu kini tidak lagi terlihat polos. Matanya menyipit dengan tatapan dingin. Meski lemparan pasirnya gagal, ia tidak panik. Menahan rasa sakit di kaki kirinya, ia melangkah dua kali ke sisi kanan lawan, menghindari jangkauan pisau, lalu menyodokkan tongkatnya.
Ia tahu, sebagai anak sepuluh tahun, sekuat apa pun ia memukul, ia tidak akan bisa melukai pria itu dan tongkatnya justru bisa patah.
Karena itu, ia menyodokkan tongkat tepat ke arah urat saraf di siku lawan. Namun, ini hanyalah tipuan, begitu pula dengan lemparan pasir tadi.
Tangan kanannya yang tadi melempar pasir belum kembali. Telapak tangannya terbuka dan menyentakkan sesuatu. Meski tinggi badannya tidak cukup untuk menjangkau wajah lawan, sebuah bayangan abu-abu melesat cepat dari tangannya.
Pria itu tidak menyangka Fang Xiu menyembunyikan sesuatu di telapak tangannya. Kali ini bukan pasir halus, melainkan belasan kerikil seukuran kacang tanah. Kecepatannya sangat tinggi hingga pria itu tidak sempat bereaksi. Kerikil itu menghantam matanya, menyebabkan darah menyembur seketika.
Inilah modal keberanian Fang Xiu untuk bertaruh nyawa. Meski dirinya di abad ke-21 tidak pernah berlatih bela diri, ia sering berkelahi saat remaja. Sebagai orang Shandong, ia tidak pernah kekurangan keberanian. Yang terpenting, meski Fang Xiu tidak bisa bela diri, Wu Mianfeng bisa.
Sejak ingatan Wu Mianfeng menyatu sepenuhnya dengan Fang Xiu tadi malam, segala kemampuan yang dimiliki Wu Mianfeng telah diwarisinya, terutama bela diri yang telah dilatihnya selama enam atau tujuh tahun.
Keluarga Wu adalah keluarga praktisi bela diri. Sejak usia tiga tahun, anggota keluarga sudah berlatih kuda-kuda dan mempelajari Tinju Yanqing warisan keluarga.
Setelah pindah ke Pulau Bunga Persik bersama Feng Heng, ia berlatih bela diri Pulau Bunga Persik selama lima tahun.
Bakatnya biasa saja, jauh tertinggal dari kakak-kakak seperguruannya. Ia tidak dipedulikan oleh Huang Yaoshi, sehingga dalam lima tahun hanya mempelajari dasar-dasar bela diri Pulau Bunga Persik: Ilmu Hati Gelombang Biru dan Ilmu Telapak Gelombang Biru.
Selama bertahun-tahun, Wu Mianfeng berlatih dengan tekun. Meski kemajuannya lambat, fondasi bela dirinya tertanam dengan sangat kuat.