Bab Delapan: Sisi Lain Dunia
"Lepaskan aku sekarang juga!"
Ditekan ke tanah dengan tubuh orang lain di atasnya, meski tahu lawannya juga seorang perempuan, Gwen tetap merasa malu dan marah, berjuang sekuat tenaga sambil menggertakkan gigi.
Orang yang sedang duduk di atas tubuhnya, Xinian, kini merasa kebingungan.
Tadi, Gwen yang lebih dulu menyerang. Demi mencegah dirinya terluka dan agar wajah aslinya tidak terlihat, ia terpaksa melakukan perlawanan. Namun kini, meski sudah berhasil menaklukkan lawan, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Melepaskan sang Wanita Laba-laba?
Belum lagi soal apakah lawan akan menyerang lagi atau tidak, dalam jarak sedekat ini, sekali saja ia melepaskan genggaman, cukup menoleh ke belakang dan wajahnya akan terlihat jelas!
Xinian sama sekali tidak ingin identitas aslinya terbongkar. Kemampuannya sekarang sepenuhnya berasal dari bibi kecilnya, bukan bakat alami yang ia miliki sendiri. Barangkali hanya malam ini saja ia bisa seperti ini, dan besok pagi ia akan kembali menjadi manusia biasa.
Tapi menahan terus pun jelas mustahil, tidak mungkin mereka bertahan dalam posisi seperti ini semalaman.
"Bagaimana kalau kubuat dia pingsan saja?"
Tatapan Xinian tampak ragu, takut bila ia terlalu keras hingga membahayakan lawannya.
Saat ia masih memikirkan cara membuat Wanita Laba-laba itu tak berdaya untuk sementara waktu, tubuh lawannya tiba-tiba melengkung, mengangkat satu-satunya kaki yang belum terikat, dan kaki mungil bersepatu hijau khusus itu melingkar seperti kait di leher Xinian.
"Hmm?!"
Tenggorokan Xinian dicekik erat oleh telapak kaki yang kecil dan lincah itu, tubuhnya tanpa sadar terdorong ke belakang.
Menyadari niat Gwen untuk melepaskan diri, Xinian menahan napas, tangan kirinya tetap mencengkeram pergelangan kaki kiri lawan, sementara telapak tangan kanan mempererat genggaman di pergelangan tangan Gwen, tak memberi celah sedikit pun.
Krak krak krak!
Suara tulang beradu terdengar nyaring seperti kacang digoreng.
Tubuh keduanya, yang nyaris bersentuhan tanpa jarak, seperti sedang bertarung dalam adu kekuatan dan daya tahan!
Gwen yang berada di bawah, tubuhnya membungkuk hampir membentuk bulan sabit, pinggangnya yang ramping seolah siap patah kapan saja. Sementara Xinian yang duduk di atas, menempel ketat dengan seragam laba-laba, merasakan jelas betapa luar biasa kelenturan dan kekuatan tubuh di bawahnya.
"Lepaskan kakimu!" Xinian ingin sekali berteriak.
Namun Gwen lebih dulu berteriak, "Cepat lepaskan tanganku!"
Kaki kecilnya yang mencengkeram leher Xinian ditarik sekuat tenaga, tubuh mungilnya terus meliuk dan meronta.
!!!
Mata Xinian tiba-tiba terbelalak.
Karena kaki Gwen yang terus menariknya ke belakang dan tubuhnya yang terus berjuang, posisi Xinian pun ikut bergeser ke belakang. Semula ia hanya duduk di punggung Gwen, kini posisinya berubah menjadi… bangku empuk kelas satu.
Xinian kalut. Ia baru sadar dirinya mengenakan rok pendek saat ini.
Gwen sama sekali tidak menyadari hal itu. Ketika ia merasakan tubuh Xinian sedikit kaku, ia mengira lawannya sudah kehabisan tenaga dan makin beringas meronta.
Kualitas seragam tempur laba-laba tentu tak perlu diragukan. Namun karena dirancang untuk aktivitas luar ruangan, sirkulasi udara dan fleksibilitas, ketebalannya bahkan lebih tipis dari jaket atau celana jeans biasa, sehingga tidak mampu menutupi lekukan indah itu.
Terlebih, aksi pemakainya yang terlalu heboh…
"Sial," Xinian mengumpat dalam hati, tak tahu harus menganggap ini sebagai kenikmatan atau siksaan, darah panas di tubuhnya mulai mengalir ke bawah.
"Apa ini?"
Akhirnya Gwen merasakan ada sesuatu yang aneh. Dari balik rok, ada sesuatu yang menekan dirinya, meski terhalang seragam laba-laba.
Xinian langsung melepaskan cengkeraman di pergelangan kaki kiri lawan, menarik sisa jaring laba-laba putih di samping, menggulung kedua tangan Gwen seperti tali, dan sekalian melilitkan kaki kecil itu di lehernya.
Semuanya ia lakukan dengan cepat.
Xinian melompat bangkit dari tubuh Gwen, mencabut pedang panjang klasik yang tertancap di pintu besi, lalu tanpa menoleh lagi ia melesat ke gedung tinggi di seberang jalan.
Entah karena keberuntungan, atau mungkin serangkaian kejadian malam ini membuatnya makin terbiasa dengan kekuatan luar biasa.
Kali ini, Xinian benar-benar dapat mengendalikan kekuatannya dengan baik, melompat setinggi dua puluh meter dan mendarat tepat di atas menara air gedung seberang. Ia kemudian berlari dan melompat beberapa kali lagi, sosoknya yang membawa tameng bundar itu lenyap di balik malam kota yang makin deras diguyur salju.
Sepuluh detik berlalu.
"Dasar bajingan, aku akan membunuhmu!"
"Hei! Kemana kau?! Keluar dan hadapilah aku!"
Setelah membersihkan sisa jaring laba-laba di tubuhnya, wajah gadis di balik topeng tampak merah padam karena malu dan marah. Seragam tempur hitam putihnya seolah berapi-api, ia mulai meluncur liar di antara gedung-gedung tinggi.
Dari jarak setengah blok, Xinian masih bisa mendengar teriakan marah gadis itu.
"Itu bukan salahku," Xinian tersenyum pahit, menunduk memandang rok yang menonjol, lalu mencari sudut tersembunyi di atap gedung.
Beberapa saat kemudian, Wanita Laba-laba melintas di dekatnya dengan ayunan jaring, lalu menghilang jauh.
"Kali ini, semoga aku benar-benar bisa pulang," Xinian menghela napas lega, memperbaiki rok, lalu berjalan keluar dari balik bayangan gedung sambil membawa pedang.
Ia meneliti sekeliling.
Berdasarkan bangunan-bangunan ikonik di sekitar, Xinian segera menyadari dirinya berada di kawasan perbatasan kota Washington, lebih dari sepuluh kilometer dari pusat kota—tempat rumahnya berada.
Entah bagaimana ia bisa sampai ke sini.
"Haruskah aku melompat kembali?" Xinian menghela napas, tapi tak ada pilihan lain. Saat ia hendak kembali ke arah rumah, sesuatu yang tak terduga terjadi!
Duk!
Gedung tempat Xinian berdiri tiba-tiba bergetar.
"Apa tadi itu?" Awalnya ia mengira hanya perasaannya saja, tapi detik berikutnya, getaran jelas terasa lagi.
Xinian segera waspada, memandang sekeliling.
Bukan hanya gedung tempatnya berdiri, gedung-gedung tinggi di sekitar pun ikut bergetar!
Gempa bumi?
Baru muncul di benaknya, ia langsung menepis dugaan itu.
Tidak. Dengan pancaindra dan kesadaran yang kini jauh melampaui manusia biasa, ia bisa merasakan hal-hal yang tak mampu dideteksi manusia. Sumber getarannya sepertinya bukan dari bawah tanah kota, melainkan dari satu titik di permukaan kota sekitar!
Duk! Duk! Duk!
Setiap satu atau beberapa detik, bumi dan bangunan di sekitar bergetar, seolah ada palu raksasa yang menghantam tanah dengan sangat keras!
"Jaraknya tidak terlalu jauh," gumam Xinian. Ia berdiri di atap, menatap ke satu titik di jalanan kota di bawah sana.
Seakan hendak membuktikan insting dan kepekaannya.
BRAK!!
Di kejauhan, sekitar dua-tiga kilometer dari tempatnya, sebuah gedung tinggi tiba-tiba runtuh dengan suara menggelegar!
Kedamaian dan ketenangan malam musim dingin yang menyelimuti kota, seketika hancur oleh sesuatu yang mengerikan dan tidak diketahui!
Dan itu, baru awalnya saja.
BAM! BAM! BAM!
DERU! DERU! DERU!
Suara tembakan dan ledakan bertubi-tubi langsung menyusul, rapat tanpa jeda, seperti guntur di tengah hujan badai musim panas, meledak dari pusat reruntuhan gedung itu!
Kobaran api membubung tinggi, menjalar cepat ke segala arah, membakar jalan-jalan utama dan langit kota.
"Aaarghhh—!"
Dari dalam neraka kecil di sudut kota itu, terdengar raungan mengerikan yang sama sekali bukan suara manusia atau makhluk mana pun, menenggelamkan suara bom dan peluru modern!
"Mahluk apakah itu?" Mata Xinian membelalak, memandang ke pusat api dan asap, menyaksikan sekilas bayangan hijau raksasa yang melintas—seolah ia baru saja mengintip sisi sejati dunia ini!