Bab Lima Puluh Empat: Dunia Bayangan Kedua
Kembali ke dunia nyata, Rael seperti biasa masuk ke ruang obrolan untuk mengobrol santai dengan Taistis. Beberapa hari terakhir, hampir selalu Taistis yang melaporkan perkembangan belajarnya, sedangkan Rael hanya bercerita bahwa ia menemukan beberapa peninggalan. Kebanyakan waktu, memang Taistis yang panjang lebar membahas petualangan sihirnya.
Belajar mantra adalah proses yang sangat panjang, bahkan Taistis yang memiliki kemampuan “Menguasai Segala Mantra” pun tak bisa langsung menguasainya. Ditambah lagi, karena kompleksitasnya, setiap penyihir hanya bisa mengingat jumlah mantra terbatas di otaknya. Maka setiap penyihir membutuhkan sebuah buku sihir untuk membantu mengingat mantra yang pernah dipelajari, dan bisa mengganti mantra yang tersimpan di benaknya sesuai kebutuhan.
Buku sihir tidak mencatat dengan tulisan, melainkan dengan jejak mental, sehingga umumnya buku sihir milik orang lain tak dapat digunakan. Mantra dasar yang sederhana memang masih bisa diajarkan oleh mentor, tapi semakin tinggi tingkatannya, semakin rumit pula mantra yang harus dieksplorasi sendiri. Bimbingan dari penyihir lain pun paling-paling hanya memberi arah.
Biasanya, setelah mencapai tingkat lima, seorang penyihir akan memilih spesialisasi, dan arah penelitiannya pun menjadi tetap, bahkan profesinya ikut berubah. Contohnya, Jijika yang menekuni bidang mantra mental, ketika mencapai tingkat enam, profesinya berubah dari “Penyihir” menjadi “Penyihir Mental”, mendapatkan keahlian khusus “Spesialisasi Mental”.
Hanya ketika seorang penyihir menentukan bidang spesialisasinya dan memperoleh keahlian khusus, barulah dia dianggap benar-benar sampai ke tingkat mahir. Sementara itu, Taistis baru saja memulai perjalanan, masih mencari-cari arah di lautan luas.
“Tuan Pembisik Gila, hari ini aku belajar mantra Api Penyala. Kau sendiri hari ini melakukan apa?”
“Masih sama seperti kemarin, tak ada yang istimewa.”
Gao Wan meninju meja dengan marah.
“Apa?! Masih sama seperti kemarin? Sudah berapa lama dua orang itu bersama? Sialan, aku malah kecolongan! Anak perempuan liar itu, andai dulu kubiarkan saja si kakek mencelakakannya!”
Padahal hari ini selain Api Penyala, dia juga sudah belajar Mantra Penyingkap...
Menahan amarah, Gao Wan mengetik dengan geram hingga seluruh tubuhnya bergetar. Kasihan keyboard mekanis itu, hampir hancur di tengah rintihan pilu.
“Oh, begitu ya? Selain mencari barang peninggalan, kau benar-benar tidak melakukan apa-apa? Mengidentifikasi barang sendirian seharian pasti membosankan, kan?”
Di sisi lain layar, Rael menangkap kejanggalan dari cara bertanya ini. Biasanya, pola pertanyaan seperti ini adalah trik untuk menginterogasi seseorang yang berselingkuh...
“Dia tahu, ya? Tapi, kenapa main game saja harus sampai begini, wanita ini juga agak aneh.”
“Gila seks, posesif, perawan tua,” Rael memberi label pada Taistis di dalam hatinya.
“Hmm, kalau dipikir-pikir memang ada satu hal kecil. Kau tahu pemain baru Mister yang datang beberapa hari lalu? Dia gadis muda dengan sedikit masalah psikologis. Kebetulan profesiku psikolog, jadi aku bantu dia sebentar, selebihnya tidak ada apa-apa.”
Mendengar penjelasan itu, Gao Wan langsung merasa lega, bahkan muncul rasa senang yang aneh.
“Huh! Ternyata cuma bocah bermasalah, berani-beraninya merebut laki-laki dariku...”
“Eh, tunggu. Ini kan teman satu tim! Astaga, apa aku terlalu lama menjomblo sampai mulai ngomong ngawur?”
Padahal, dengan paras dan latar belakang keluarga seperti Gao Wan, seharusnya dia tak mungkin menjomblo.
Tapi semakin tinggi standar seorang wanita, semakin selektif pula dia memilih pasangan: “Harus tampan, jago main game, punya kepribadian baik, ambisius, minimal pendidikannya harus S1 atau lebih...”
Setelah disaring dengan syarat-syarat ini, Gao Wan pun menjomblo lebih dari dua puluh tahun...
Orang tuanya tak pernah mempermasalahkan kebiasaannya bermain game setiap hari. Di zaman sekarang, industri hiburan game justru jauh lebih menjanjikan daripada penelitian ilmiah yang berat dan kurang dihargai. Satu-satunya tuntutan mereka, sebelum usia tiga puluh, dia harus menemukan pria yang pantas dan menuntaskan urusan melanjutkan garis keturunan.
Bagi Gao Wan, kehidupan nyata adalah game dengan tingkat kesulitan tertinggi!
Melanjutkan keturunan, itulah kemenangan sejatinya!
Karakter dalam game, walaupun dipengaruhi ras dan faktor lain, secara umum tetap mencerminkan penampilan aslinya. Yang tampan tetap tampan, yang buruk rupa tetap buruk rupa. Melihat penampilan Rael di dalam game, Gao Wan pun menerawang.
“Psikolog, ya... Rael memang pria mapan berwawasan luas, berbudaya, dan berkarisma... hehehe...”
Cairan aneh pun mulai keluar...
Setelah mengobrol, Rael memutuskan menjaga jarak dari Taistis, agar perempuan itu tidak sampai berkhayal berlebihan tentang dirinya. Dia sudah terlalu sering menghadapi rumitnya pikiran wanita dalam pekerjaannya.
Ketika melewati toko sekitar klinik psikologinya, Rael merasa pengamatannya terhadap barang-barang di dalam menjadi semakin tajam. Kepekaannya tampaknya sedikit meningkat, menjadi lebih cermat dan mendalam.
Meski Rael memakai kacamata berbingkai emas, itu bukan untuk koreksi penglihatan. Matanya sangat sehat, standar seorang pilot tempur. Kacamata itu hanya alat sugesti psikologis semata, untuk memperkuat citra dirinya sebagai profesional medis, bukan sekadar “host” penghibur, sehingga bisa menghindari masalah di kemudian hari.
“Aneh, terakhir kali aku masih sulit membaca huruf kecil di label. Kenapa sekarang bisa jelas? Made in PLT... apa karena tadi aku lebih dekat?”
Dia kembali melirik ke dalam toko, pegawai berambut putih itu sedang menyusun barang di rak, membelakangi dirinya.
Hmm... tubuhnya lumayan juga.
Rael pun memulai hari kerjanya dengan suasana hati yang lumayan baik.
...
Kembali ke dalam game, waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Rael sudah menghabiskan seminggu di dunia game itu, dan hari ini dia berencana keluar dari bawah tanah untuk pertama kali, menjelajah dunia permukaan. Karena masih terlalu pagi dan Mister belum online, Rael memutuskan menyelesaikan satu dungeon peninggalan sebelum berangkat.
Beberapa hari terakhir, seluruh tenaganya terkuras hanya untuk mencari peninggalan. Ia sama sekali tak punya energi untuk menjalani ritual peninggalan, apalagi masuk ke dungeon yang banyak menguras mental. Setelah menjadi “Arkeolog”, kepekaannya terhadap peninggalan sedikit meningkat.
Tentu saja, dengan bakat “Memetik Meme Optimal”, dia memang jauh lebih peka dibanding pemain biasa. Dari belasan barang peninggalan, Rael menemukan sebuah topeng rusak yang memancarkan aura sangat kuat. Rasanya seperti ada suara yang memanggil dari balik ruang dan waktu.
Nama: ???
Kualitas: ??? - Peninggalan
Jenis: Artefak Aneh
Syarat: Mental 30
Efek: ???
Berat: 0,2 kg
Catatan: Barang kuno yang sarat nuansa sejarah. Memakainya mungkin akan membukakan dunia yang berbeda.
Rael mengangkat topeng itu dengan kedua tangan, mulai merasakan ritual yang terukir di topeng tersebut. Sebuah aura kacau, sulit dilacak, perlahan-lahan terkumpul, mengarah ke satu titik.
“Hm? Perasaan ini...”
Dengan mengikuti petunjuk dari topeng, Rael tiba di depan batu bertuliskan “Dendam Penindasan”!
Ketika menempelkan tangan di batu itu, Rael sekali lagi merasakan beban berat yang menekan tubuhnya. Rasa berat itu membuat pikirannya tenggelam, seolah jatuh ke jurang tak berujung.
Saat itu, mantra aneh dan suram tiba-tiba menyelimuti benaknya. Aura dari topeng itu menggelegak, ribuan bisikan lirih menggema di telinganya, seolah menantikan ia memakai topeng dan melafalkan mantra itu.
Tinggal satu langkah lagi, Rael tak ragu-ragu dan langsung melafalkan mantra.
“téras emfanisi...”
Syarat ritual: Atribut mental di atas 30
Bersentuhan dengan media yang dipenuhi keinginan kuat
Memakai peninggalan dan membisikkan mantra Arkma telah terpenuhi
Dungeon peninggalan telah diaktifkan
Sekejap, kesadaran Rael terseret masuk ke dalam ruang tak dikenal...