Bab Tiga Puluh: Menara Langit
Pintu kedai teh ditutup rapat oleh Tien Yi sendiri, ia menghela napas panjang dan berat.
"Semoga suatu hari nanti aku bisa kembali dan membuka kedai teh ini lagi," ucapnya sambil menepuk papan pintu.
Orang-orang di sekitar melihatnya dengan rasa ingin tahu. Dalam ingatan mereka, kedai teh ini tak pernah sekalipun tutup.
Ada yang sejak kecil tumbuh besar dengan teh racikan Tien Yi, mendengar dari orang tua mereka bahwa pemilik kedai ini tak pernah berganti, bahkan hingga generasi mereka, orangnya tetap sama. Semuanya tahu bahwa pemilik kedai teh ini bukanlah orang biasa.
Hari ini, tiba-tiba melihat sang pemilik menutup pintu, mereka sedikit kebingungan dan belum bisa membiasakan diri.
"Bos Teh, hari ini tidak buka ya? Baru kali ini kulihat kau menutup pintu kedai," tanya seorang yang lewat, setelah melihat Tien Yi menutup pintu.
Setiap hari ia melewati kedai teh itu, dan kadang masuk untuk menikmati secangkir teh.
Tien Yi menunjuk ke arah Sang Resi lalu berkata kepada orang itu, "Ini, sahabat lama datang berkunjung dan aku harus bepergian jauh, maka kututup saja kedai ini. Mungkin butuh waktu lama sebelum bisa kubuka kembali."
Orang itu tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, nanti aku akan datang lagi saat kau pulang, toh aku ini juga tumbuh besar dengan teh buatamu."
"Tentu, nanti kalau aku kembali kalian akan kuundang minum teh gratis."
"Orang tua, kita harus berangkat sekarang, kalau tidak nanti kau sendiri yang berat meninggalkannya," Sang Resi menepuk bahu Tien Yi.
Melihat Tien Yi yang tampak enggan berpisah, Sang Resi pun mengingatkannya, khawatir Tien Yi akhirnya berubah pikiran dan memilih untuk tetap tinggal.
"Ayo, aku juga masih penasaran pada dua anak itu. Dunia ini akan segera berubah, aku tak mungkin selamanya di sini membuka kedai teh, bukan?" Tien Yi menatap Sang Resi dengan tenang.
"Jadi kau juga tahu dunia ini akan segera kacau, ya?"
"Zelan takkan mampu melewati bencana ini, itu sudah takdir. Jangan lupa asal muasal kalimat itu," Tien Yi berkata dengan suara pelan.
Kalimat ramalan itu adalah hasil perhitungan para leluhur Bintang Tianji dengan taruhan nyawa, sehingga Tien Yi selalu mengingatnya dengan jelas.
"Benar, 'Zelan jatuh, ranah bintang kacau; Ranah Makam menembus dinding langit; ribuan kehidupan hanya untuk bertahan.' Untuk mencari harapan, carilah langit terlebih dahulu," Sang Resi menggelengkan kepala. Sampai sekarang ia pun belum tahu apa arti ranah Makam itu.
"Ayo, jangan terlalu banyak berkeluh kesah di sini," kata Tien Yi pada Sang Resi.
"Ada kabar bahwa Istana Sembilan Naga telah bersekutu dengan beberapa kekuatan lain dan berniat menyerang Zelan dalam setengah bulan ke depan. Sebagai Aliansi Antar Bintang, bukankah kita seharusnya mencegahnya? Aku khawatir tragedi lima tahun lalu di Ranah Bintang Qianlong akan terulang," kata Wakil Ketua Aliansi, Hu Cheng, kepada Pemimpin Wilayah.
Hu Cheng tidak berasal dari kekuatan manapun, dan posisinya sebagai wakil ketua juga didapat karena kebetulan.
Pemimpin Wilayah sangat tidak suka sifat “malaikat” Hu Cheng itu; dalam hati ia ingin berkata keras-keras, “Kita ini hanya aliansi kosong, tak punya kekuatan nyata untuk menahan Istana Sembilan Naga.”
Namun, tentu saja ia tak akan mengatakannya. Saat ini, Hu Cheng yang mau berdiri di pihak Aliansi untuk menghentikan Istana Sembilan Naga saja sudah membuatnya bahagia.
"Kau saja yang urus, sebarkan saja secara luas di jaringan Starlink, dan kirim orang untuk mengawasi setiap gerakan Istana Sembilan Naga," perintah Pemimpin Wilayah pada Hu Cheng.
"Tidak perlu kirim armada untuk membantu Zelan?" tanya Hu Cheng ragu.
Pemimpin Wilayah hanya meliriknya dan berkata, "Kalau mau, kau sendiri yang atur. Tapi jangan lupa, di Dewan Sesepuh Aliansi juga ada orang-orang dari Istana Sembilan Naga."
Setelah berkata demikian, ia menatap Hu Cheng dengan dalam. Sampai di situ, tak mungkin Hu Cheng masih belum paham maksudnya.
"Kalau begitu, aku akan segera memberi kabar dan pergi sendiri ke Zelan. Semoga tidak terjadi lagi seperti tragedi lima tahun lalu di Ranah Bintang Qianlong," ucap Hu Cheng, walau masih ragu.
Hu Cheng tahu di Dewan Sesepuh banyak orang dari Istana Sembilan Naga dan kekuatan lain, tapi ia percaya pasti masih ada yang mau ikut dengannya ke Zelan untuk mencegah tragedi.
Ia tak ingin seluruh penghuni bawah langit kecewa dan menganggap Aliansi Bintang hanya kumpulan orang tak berguna.
Melihat Hu Cheng pergi, Pemimpin Wilayah hanya terdiam. Ia tahu, Hu Cheng takkan bisa mengajak banyak orang; bahkan jika ada yang ikut, boleh jadi mereka akan berbalik mendukung Istana Sembilan Naga.
"Kalau memang ia mau pergi mencari maut, biarlah. Setelah sekian lama bekerja bersama, kalau kau celaka, aku masih akan berusaha mengurus jenazahmu," gumam Pemimpin Wilayah.
"Guru, ini sudah Kota Biru Paling Utara ya? Menara tinggi itu namanya apa?" tanya Dan Youbai pada Tian Miao, sambil menunjuk menara yang menjulang menembus awan di tengah kota.
Tian Miao menatap menara itu lalu tersenyum, "Itu Menara Langit Biru, bangunan terkenal di Ranah Bintang Zelan, warisan para leluhur dari zaman lampau. Nanti, setelah bertemu Kepala Menara, akan kuperkenalkan agar kau bisa mencoba masuk dan menaklukkan menara itu."
Menara Langit memiliki empat puluh sembilan lantai, setiap lantai merupakan ruang tersendiri yang terpisah dari dunia luar.
Tiap ruang adalah sebuah ujian; menaklukkan setiap lantai bisa melatih kekuatan mental, atau mendapatkan ilmu serta teknik rahasia.
Dan Youbai segera memalingkan perhatian dari Menara Langit Biru. Setelah setiap hari berkutat dengan mesin dingin di Kota Shenji, kini tiba-tiba berada di kota ramai dan asing membuatnya sangat penasaran pada lingkungan sekitar.
"Ayo, akan kubawa kau menemui Pemimpin Wilayah Zelan," Tian Miao berkata pada Dan Youbai yang masih menoleh ke sana ke mari.
Dan Youbai pun menahan rasa penasarannya dan berjalan patuh di belakang Tian Miao. Ia tak ingin terlihat seperti anak kampung yang tak pernah melihat dunia luar.
"Bibik, masih punya uang tidak? Boleh pinjam sebentar? Aku ingin beli gaun itu," tanya Qin Qingxue sedikit malu, menunjuk gaun biru panjang pada Bibi Li.
Bibi Li mengambil gaun itu dan menyesuaikan pada tubuh Qin Qingxue, merasa ukurannya pas.
"Sudah, ini bibi saja yang belikan. Satu baju saja tak seberapa harganya," kata Bibi Li sambil membawakan gaun itu ke kasir.
Bibi Li tidak memberitahu Qin Qingxue berapa harga gaun itu, hanya menyelipkan bungkusan gaun ke tangan Qin Qingxue.
Qin Qingxue hampir menangis memegang gaun itu. Sudah lima tahun, baru kali ini ada orang lain yang membelikannya pakaian.
Paman Hei duduk di depan toko, melihat kedua perempuan itu keluar dari toko pakaian wanita, dalam hati ia membatin, lain kali sebaiknya jangan ikut-ikut belanja bersama perempuan lagi.
Itu pun setelah berkeliling dua jalan penuh, baru membeli satu baju, dan yang didatangi hanya toko pakaian wanita—ia pun sungkan untuk ikut masuk.