Bab 157 Tidak Akan Bertemu Lagi Selama-lamanya
Zhu yang datang untuk membawakan kabar ini tampak kebingungan. Dengan ragu-ragu, ia berkata, "Ah, entah bagaimana, mereka... mereka langsung pergi ke rumah sekretaris desa..."
"Guru sedang tidur..." Shen Maoshi berkata dengan sedikit ragu, lalu menatap Lu Huai'an. "Kerabatnya datang, apa aku harus membangunkannya?"
Lu Huai'an mengerutkan kening, menunduk, dan merenung sejenak.
Kejadian ini terasa agak tidak masuk akal.
Berdasarkan pengamatannya dan deskripsi orang lain, hampir seluruh keluarga Master Song telah tiada.
Di Gunung Heishangao, satu keluarga besar mereka telah dimakamkan di sana.
Jika mereka benar-benar kerabat yang terhormat, putra tunggal Master Song telah meninggal, dan peristiwa sebesar itu telah terjadi, setidaknya mereka harus datang untuk melihat, terlepas dari apakah mereka membantu menyelenggarakan pemakaman atau tidak.
Setidaknya untuk kunjungan kemanusiaan dan penghiburan, bukan?
Namun, sama sekali tidak ada.
Bahkan setelah hari ketujuh berlalu, barulah mereka datang.
"Tidak usah dibangunkan." Lu Huai'an mendengus dingin, lalu bangkit berdiri. "Kita ke sana dulu untuk melihat."
Kondisi mental Master Song belakangan ini kurang baik, dan sangat jarang ia bisa tidur dengan puleny, jadi tidak perlu membangunkannya.
Ia memanggil Paman Qian, yang baru saja menemani Guoguo. Mendengar kabar tersebut, Paman Qian keluar dengan ekspresi serius. "Ayo pergi."
Zhu juga merasa yang terbaik adalah mereka pergi untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Karena usianya yang sudah tua, pertimbangannya jauh lebih mendalam. "Orang tua Song tidak pernah menyebutkan tentang kerabat-kerabat ini. Aku khawatir kedatangan mereka bukan untuk berkunjung."
Ucapan itu disampaikan secara tersirat.
Hanya Shen Maoshi yang masih tampak bingung, sementara Lu Huai'an dan Paman Qian langsung memahaminya.
Keduanya saling berpandangan, lalu tersenyum dingin.
Menarik.
Setibanya di rumah sekretaris desa, orang yang memimpin rombongan adalah seorang lelaki tua berjanggut putih, yang mengaku sebagai paman kedua Master Song.
Orang-orang lainnya tampak sangat patuh kepadanya, membiarkan dia berbicara tentang segalanya, seolah-olah maksudnya mewakili maksud mereka semua.
Begitu Lu Huai'an bertanya, barulah ia mengetahui identitas spesifik dari orang-orang tersebut.
Bibi, paman, dan kerabat jauh yang hubungan kekeluargaannya sudah sangat jauh.
"Oh, apakah kalian datang untuk melayat?" Lu Huai'an duduk dengan tanpa ekspresi, tatapannya dingin. "Kalau begitu, kalian terlambat. Pemuda Song sudah dimakamkan."
Kerutan di wajah Paman Kedua Song berkedut, namun sama sekali tidak ada rasa canggung di wajahnya. "Kami sudah pergi ke gunung untuk melihatnya. Kedatangan kami kali ini adalah untuk membahas masalah jaminan hari tua keponakanku ini."
Jaminan hari tua?
"Bagaimana cara membahasnya?"
Ekspresi sekretaris desa tampak sangat buruk. Ia melirik sekilas ke arah Paman Kedua Song, baru kemudian berbisik kepada Lu Huai'an untuk menjelaskan situasinya.
Nafsu makan orang-orang ini tidak kecil. Alasan mengapa mereka tidak masuk ke rumah dan langsung mendatangi sekretaris desa adalah karena mereka sama sekali tidak berniat untuk berunding.
Mereka telah merundingkan semuanya di rumah terlebih dahulu, dan kedatangan mereka hanya bertujuan agar kepala desa dan sekretaris desa membagi harta kekayaan sesuai dengan keinginan mereka.
"Master Song tadinya berasal dari Teluk Song, lalu seluruh keluarganya pindah ke Desa Kengbusuk. Rumah-rumah ini semuanya dibangun olehnya."
"Gunung dan tanah pertanian akan dimasukkan ke dalam aset marga, dan hasilnya akan menjadi milik keluarga besar untuk digunakan sebagai biaya pemeliharaan hari tua Master Song. Masing-masing dari mereka harus mendapatkan satu rumah, dan..."
Sekretaris desa dengan susah payah menahan amarahnya sebelum menyelesaikan ucapannya. "Dan katanya rumah-rumah itu tetap disewakan kepada kita, tetapi uang sewanya harus diserahkan kepada mereka."
Lelucon apa ini? Begitu uang sewa itu diserahkan, dikhawatirkan rumah-rumah ini pada akhirnya akan jatuh ke tangan mereka juga.
Paman Qian tersenyum dingin dan berkata dengan nada meremehkan, "Oh, rupanya kalian datang untuk merampas harta keluarga yang tidak memiliki pewaris."
Begitu istilah merampas harta tanpa pewaris itu diucapkan, ekspresi wajah keluarga Song langsung merosot.
"Siapa kau? Cara bicara macam apa itu!" Seorang wanita tua melonjak-lonjak sambil memaki. "Urusan keluarga diurus oleh keluarga sendiri, aku tidak mengenalmu dan kau bukan siapa-siapa!"
Orang-orang lainnya pun ikut-ikutan menimpali.
Lu Huai'an mengangkat tangannya dan berkata dengan dingin, "Hal-hal yang kalian bicarakan itu kesampingkan dulu. Aku ingin tahu, bagaimana rencana kalian mengenai perawatan hari tua Master Song?"
Mendengar pertanyaan itu, Paman Kedua Song mengerutkan kening. "Perawatan hari tua apanya lagi, ya diberi makan, diberi pakaian, dan diberi tempat tidur!"
"Saat ini pun ia sudah diberi makan, diberi pakaian, dan memiliki tempat tidur."
Semua orang langsung gaduh. "Mana bisa disamakan!"
"Betul!" Paman Kedua Song melotot dengan mata membelalak dan marah. "Daun yang gugur harus kembali ke akarnya. Tinggal di Desa Kengbusuk itu namanya apa? Harus kembali ke rumah leluhur!"
Mereka terus meributkan hal itu dan bersikeras tidak mau mengalah.
Bahkan pekerjaan menyetir milik Master Song telah mereka atur. Putra bungsu Paman Kedua Song kebetulan sedang menganggur, dan sangat cocok untuk menggantikan posisi tersebut.
Pengaturan ini benar-benar dipikirkan dengan sangat matang.
Paman Qian menurunkan pandangannya dan tiba-tiba teringat pada Li Jiuying.
Ia tidak punya kebiasaan memukul wanita, itulah sebabnya ia tidak menghajarnya saat itu.
Namun, karena merasa sangat geram, ia pun membongkar masalah keluarga Li yang tidak memiliki pewaris laki-laki.
Di daerah wanita itu pasti ada praktik merampas harta keluarga tanpa pewaris seperti ini, dan situasinya mungkin tidak lebih sederhana dari sekarang.
Bukan karena ia tidak pernah memperingatkan ibu Li Jiuying bahwa putrinya tidak bisa memiliki keturunan lagi dan menyarankannya untuk membujuknya.
Namun, wanita itu justru membalas memaki dan menuduhnya telah menelantarkan Li Jiuying, serta menuduhnya sengaja menciptakan tipu muslihat yang merugikan karena tidak mau bercerai.
Belakangan, dengan perasaan hancur dan putus asa, ia menyetujui perceraian tersebut. Demi kakak laki-lakinya, ia membiarkan Guoguo tetap tinggal dengan harapan meninggalkan keturunan bagi keluarga Li...
Tanpa diduga, hal itu hampir mencelakai Guoguo.
Perasaan yang tak terlukiskan melonjak di dalam hatinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali kondisi mengenaskan Guoguo di masa lalu, dan dalam hatinya ia membatin dengan kejam: Pantas diterima!
Saat ia sadar kembali, Lu Huai'an tengah memberondong lawan-lawannya habis-habisan.
Lu Huai'an menyipitkan matanya dan mengangkat alis. "Kalian punya rumah leluhur, kalau begitu pasti ada makam leluhur juga, ya?"
"Tentu saja! Makam leluhur kami itu baru direnovasi tahun lalu, sangat megah!"
Makam leluhur pun dibanggakan dengan sebutan megah. Orang yang masih hidup saja bahkan tidak bisa makan sampai kenyang, masih sempat-sempatnya mengurus urusan orang mati.
"Oh, kalau begitu mengapa keluarga Master Song tidak kembali ke akar mereka dan dipindahkan ke makam leluhur?"
"Ah, ini, ini..."
Tentu saja ada cerita yang tidak enak diungkapkan di balik semua itu.
Melihat mereka tersipu malu dengan urat leher menegang sambil berdebat kusir, Lu Huai'an tidak mendesak lebih jauh dan mengganti topik pembicaraan. "Kalau begitu, kalian bilang bukan datang untuk merampas harta dan kalian adalah orang yang masuk akal, nah, harta-harta ini juga bukan milik sekretaris desa, kalian seharusnya berunding dengan Master Song, untuk apa meributkannya dengan sekretaris desa?"
Paman Kedua Song mengerutkan kening dan melambaikan tangannya dengan tidak sabar. "Untuk apa mencarinya? Setiap keluarga punya aturan keluarga, dan akulah yang paling berkuasa di keluarga ini, semuanya harus mendengarkanku! Pak Sekretaris, ubahlah nama di surat tanah dan ladang ini, ah, rumah-rumah itu juga, tanda tangani dokumen baru..."
Sekretaris desa mengabaikannya dan sama sekali tidak menanggapinya.
"Memaksa sekretaris desa dalam masalah ini sama sekali tidak ada gunanya." Lu Huai'an tersenyum sambil mengetukkan jarinya di atas meja. "Urusan perubahan hak milik seperti ini semuanya harus dihadiri oleh pemiliknya langsung. Sebelum aturan keluarga, ada undang-undang negara terlebih dahulu. Dalam melakukan segala sesuatu, kita harus mematuhi aturan!"
Aturan apa jadinya!
Apa yang mereka pahami tentang undang-undang negara!?
Melihat pihak mereka bersikeras tidak mau memanggil Master Song dan tampak sedikit ketakutan, Lu Huai'an memberi isyarat kepada Shen Maoshi untuk pergi dan melihat apakah Master Song sudah bangun.
Perdebatan ini tidak akan ada habisnya, yang terbaik adalah menanyakan langsung pendapat dari Master Song sendiri.
Tanpa diduga, begitu Shen Maoshi membuka pintu, ia melihat Master Song berdiri dengan ekspresi penuh kemarahan.
Ia telah mengganti pakaiannya dan berdandan dengan sangat rapi.
Alis dan matanya tajam bagaikan bilah pisau. Saat ia menyapu pandangannya yang dingin ke arah mereka saat itu, suaranya sekilas bagaikan pedang yang baru keluar dari sarungnya, membuat orang tidak berani menatap langsung.
Tanpa diduga ia akan datang, Paman Kedua Song merasakan kepanikan sesaat. "Dehui, kau sudah datang!"
"Betul, Paman Kedua." Song Dehui menatapnya dengan dingin, lalu berucap satu patah kata demi satu patah kata. "Kau mau mati?"
Bulu kuduk Paman Kedua Song meremang sekadar mendengarnya. "Omong kosong apa yang kau ucapkan!"
"Sudah kubilang sejak dulu, kita tidak akan saling bertemu sampai salah satu dari kita mati." Song Dehui mendengus dingin, melangkah masuk dengan mantap, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Kalian datang menemuiku sekarang, ada apa, apakah seluruh marga kalian mau mati?"
Wah, kata-kata seperti itu saja sudah pernah diucapkan, tampaknya dendam ini bukan dendam biasa.
Paman Qian dan Lu Huai'an saling berpandangan, lalu dengan cepat mengosongkan posisi utama dan mempersilakan Master Song duduk.
Begitu Master Song datang, keluarga Song sama sekali bukan tandingannya.
Mereka terus-menerus terdesak mundur.
Namun ketika membahas tentang properti, rumah, serta tanah pertanian dan pegunungan, keluarga Song menunjukkan kekompakan yang luar biasa. "Tidak bisa, tanah dan ladang ini harus dikembalikan ke marga. Masalah-masalah di masa lalu... semuanya tidak usah diperhitungkan lagi. Usiamu juga sudah tua, sebaiknya pindah kembali ke rumah leluhur."
"Aku tidak akan kembali." Song Dehui berdiri tegak dengan penuh wibawa dan membusungkan dadanya. "Kalian tidak akan bisa mendapatkan sehelai rumput pun dari semua harta milikku ini. Tanah dan pegunungan itu akan ku jual, jadi tidak perlu merepotkan kalian. Aku akan menyisihkan uang untuk jaminan hari tualu, dan sisanya akan ku sumbangkan."
"Menyumbangkannya lagi!?"
Paman Kedua Song sangat marah hingga memukul meja, lalu menunjuk ke hidung Song Dehui sambil memaki. "Otakmu benar-benar sudah berkarat! Begitu banyak uang, asal kau bilang mau menyumbangkan maka kau sumbangkan, tanah dan gunung ini juga mau kau sumbangkan? Kau mau membuatku mati karena marah!"
"Kalau kau bisa mati karena marah, itu justru yang paling bagus." Song Dehui sama sekali tidak memberikan muka, ucapannya begitu telak. "Pokoknya, kalian jangan harap bisa mendapatkan satu peser pun uangku. Jika kalian berani membual sepatah kata lagi, aku bahkan akan menyumbangkan jenazahku."
Sungguh orang yang kejam.
Paman Kedua Song sangat marah hingga megap-megap.
Sayangnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa padanya, karena apa yang ia ucapkan benar-benar akan ia lakukan.
Beberapa orang mulai menangis dan memohon dengan lembut. Sayangnya Song Dehui sama sekali tidak mempan dengan cara itu, bahkan ia mengejek dan menyindir agar mereka menghemat tenaga saja dan meratap nanti setelah Paman Kedua Song mati.
Karena terdesak, Paman Kedua Song bangkit berdiri sambil menggebrak meja. "Keluargamu sudah tidak memiliki pewaris! Semuanya sudah mati! Apa gunanya kau mempertahankan barang-barang ini!"
Begitu ucapan itu terlontar, bahkan Lu Huai'an pun tidak dapat menahan diri lagi. "Percaya atau tidak, keparat kalian akan kuusir keluar!"
"Aku tidak berkata salah!" Paman Kedua Song menatap mata Song Dehui yang tiba-tiba meredup, lalu semakin menjadi-jadi dengan penuh kemenangan. "Memiliki banyak keturunan dan rumpun keluarga yang subur adalah fondasi dasar untuk mendirikan sebuah keluarga dan marga. Jika sudah tidak memiliki pewaris, harta benda harus dibagikan kepada anggota marga agar marga kita bisa semakin makmur..."
Orang-orang lainnya ikut menimpali, dan ruangan itu mendadak menjadi gaduh.
Tidak ada pewaris, tidak ada pewaris, tidak ada pewaris, tidak ada pewaris...
Shen Maoshi mengamati gurunya dan mendapati bahwa meskipun punggungnya tegap, tangannya sedikit bergetar.
Ia merasa sangat iba.
"Hanya kau saja yang bisa menggebrak meja?" Shen Maoshi benar-benar tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dengan bentakan keras, ia juga memukul meja dengan sangat kuat. "Siapa bilang keluarga Song tidak memiliki pewaris? Masih ada aku!"
Seluruh ruangan mendadak terdiam sunyi.
Paman Kedua Song membutuhkan waktu beberapa saat lamanya sebelum ia bisa sadar kembali, lalu menunjuk ke arahnya. "Kau, kau, kau siapa?"
"Ini adalah guruku, sekaligus ayah angkatku!" Shen Maoshi berdiri di samping Song Dehui, api kemarahan menyala-nyala di dalam matanya. "Aku yang mengantar kakakku ke tempat peristirahatannya yang terakhir, dan aku juga yang akan merawat ayah angkatku! Kami tidak butuh kepalsuan dari kalian! Selama aku ada di sini, tidak seorang pun boleh merundung ayah angkatku!"
Sekretaris desa menepuk pahanya sambil berseru. "Benar juga! Pemakaman itu juga dia yang mengurusnya!"
Mulai dari membanting kendi hingga memegang papan arwah, semuanya dilakukan oleh pemuda itu.
Jika dipikir-pikir demikian, Shen Maoshi benar-benar kandidat yang paling tepat.
Mendengar hal itu, keluarga Song menjadi semakin panik.
Mau tidak mau mereka semua menoleh menatap Paman Kedua Song, mendesaknya dengan ribut agar mengatakan sesuatu.
"Apakah ini benar?" Paman Kedua Song menatap Song Dehui dengan tidak percaya. "Kau tidak bersedia membiarkan Xiao Liu diadopsi, tetapi justru membiarkan orang luar menjadi putramu?"