Bab Lima Puluh Dua: Siapakah Dia Sebenarnya?
Beberapa orang datang, beberapa lagi pergi, dan suasana di ruang rapat pun telah berganti wajah. Dalam pandangan Lin Kecil, kejadian supranatural yang absurd dan sukar dipercaya ini kini berkembang semakin liar!
Ya, setelah melewati berbagai pemeriksaan dari para ahli terkemuka, bermacam alat canggih, analisis, eksperimen, dan kesimpulan, akhirnya rangkaian fenomena yang dipicu oleh siaran langsung Arwah—oh, bukan, Siaran Langsung Roh—mendapat penetapan resmi dan otoritatif!
Fenomena supranatural yang tak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern memang bukan hanya satu ini saja, namun, sejak zaman dahulu hingga kini, di seluruh dunia, belum pernah ada kejadian yang muncul terus-menerus, teratur, dan menyebar luas seperti ini...
Bahkan Lin Kecil pun tahu, kejadian ini telah jauh melampaui sekadar peristiwa supranatural. Bobotnya dapat terlihat dari peningkatan status pangkalan yang pesat, dari sumber daya yang terus mengalir ke sini, serta dari wajah dan sikap tiap orang yang semakin serius dan berat!
Ini adalah peristiwa besar, cukup untuk dicatat dalam sejarah umat manusia!
Pekerjaan Lin Kecil kini menjadi lebih ringan. Sebagai penduduk setempat, ia beruntung bisa tetap berada di pangkalan ini, mengambil bagian dalam koordinasi dan komunikasi eksternal. Setelah personel mencukupi, ia tak perlu lagi lembur tanpa henti. Tidur yang cukup membuatnya bersemangat setiap hari.
Namun, hidup seperti yang ia impikan justru terasa semakin jauh.
Menggantikan rekannya yang bertugas, ia duduk di posnya sendiri, menatap setumpuk dokumen dan alat, lalu mengangkat pandangan ke layar LCD raksasa di tengah ruangan.
Di layar itu, siaran langsung masih dalam "waktu mati". Sang penyiar misterius yang membuat banyak tokoh penting gelisah—Oktober—duduk diam dengan mata terpejam di atas dipan bersulam. Sinar matahari menembus tirai tipis di belakangnya, membiaskan cahaya yang mengubah rupa dan suasana di sekitarnya, membuatnya tampak seperti berada di dalam air. Sosoknya terlihat agak samar, dan sesekali, riak cahaya menari di permukaan tubuhnya, menambah kesan... kesan...
Lin Kecil tak menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan, namun ia takkan lupa suasana saat Oktober pertama kali menunjukkan kemampuannya yang supranatural...
"Lin Kecil, bersiaplah, pergi ke Ruang Rapat Nomor Satu!"
"Oh, sebentar lagi!"
Saat Lin Kecil menjawab, di layar siaran langsung, sang selir muncul. Kamera pun berpindah, tepat menangkap sorotan mata rumit miliknya.
Ada cinta yang membara, ada ketakutan yang tak tahu harus berbuat apa, ada pengamatan yang hati-hati, ada...
"Ada apa?" Oktober membuka mata. Sekilas cahaya perak melintas di matanya, riak cahaya di tubuhnya pun mereda. Meski bukan pertama kali, Lin Kecil tetap menahan napas setiap kali bisa melihat wajahnya dengan jelas!
Siapa dia sebenarnya? Apa identitasnya di dunia nyata?
Apa dia benar-benar menganggap dirinya dewa?
Tiba-tiba ada "perubahan alur", suasana rapat yang muram pun menjadi hidup. Lin Kecil menyiapkan berkas sesuai perintah sambil tetap memperhatikan layar.
"Tuan... Guru, Guru Abadi, ini barang yang Anda minta!"
Sebuah botol keramik hitam sebesar kepalan tangan, tersegel tanah liat, dengan secarik kertas bertuliskan tinta yang mulai pudar. Rekan Lin Kecil pun sibuk, menangkap gambar resolusi tinggi, mengklasifikasi, memberi keterangan, menandai, mengirim, dan mengarsip...
Oktober menggerakkan tangannya dari kejauhan. Dalam seruan kaget sang selir, botol itu terangkat oleh cahaya perak dan mendarat di tangannya.
"Bagaimana persiapannya? Bagaimana kabar dari orang-orang yang kusuruh kau undang?"
"...Sudah kuundang, mereka tak berani menolak... hanya saja, apa maksud semua ini?"
"Itu bukan pertanyaanmu. Kalau tak ada hal lain, pergilah. Jangan ganggu aku berlatih!"
Mungkin karena nada Oktober terlalu dingin, sang selir menggigit bibir, matanya memerah, "Apa yang kau lakukan padaku semalam? Pengasuh bilang kau mengutukku. Kau... kau juga akan mengutuk mereka?"
Oktober tak menjawab, hanya menatap botol keramik di tangannya dengan ekspresi aneh.
"Tidak peduli kau apa, dewa, monster, atau roh jahat, semua resiko biar aku yang tanggung... jangan kutuk mereka, jangan!"
Mungkin orang lain tak mengerti, tapi Lin Kecil dapat mendengar perasaan mendalam dalam suara itu. Namun hati Oktober seolah baja:
"Jangan bicara sembarangan. Nanti juga kau mengerti, setelah malam ini. Sekarang segera pergi, jangan buang waktuku!"
Tak ada penegasan, tak ada penolakan, tapi itu sudah cukup memberi harapan dan hiburan bagi sang selir, "Baik, baik..." Sambil berlinang air mata ia mengangguk, "Hati-hati, beberapa hal... tidak perlu buru-buru!" Tatapannya jatuh pada botol keramik, wajahnya merona, lalu ia menunduk, berbalik, dan hendak pergi dengan hati puas.
"Ada seorang dayang bernama Xiu'er di sekitarmu... awasi dia!"
Sang selir menoleh, kini tak tampak lagi kelembutan tadi, tak ada lagi perasaan cinta yang rumit, "Kenapa? Apa perempuan jalang itu berbuat sesuatu?"
Oktober tetap diam.
Diam adalah jawaban terbaik. Kini, lebih baik salah membunuh seribu daripada membiarkan satu lolos.
"Tenang saja, sebelum malam ini, seekor nyamuk pun takkan bisa keluar!"
Oktober kembali memejamkan mata, riak cahaya menutupi dirinya.
Keraguan yang dulu ada telah digantikan oleh kenyataan yang menakjubkan. Lin Kecil mengerti apa yang sedang dan akan terjadi, perasaannya pun campur aduk. Ini bukanlah drama televisi. Barusan ia iba pada nasib sang selir, namun sekejap kemudian ia melihat sisi kejam dan dinginnya.
Siaran langsung pun masuk ke waktu mati lagi. Lin Kecil segera membawa berkas-berkas yang telah disusun keluar dari ruang utama.
Di ruang rapat kecil, para ilmuwan dan ahli dari berbagai bidang berkumpul, mendiskusikan sesuatu dengan suara lirih di depan layar kecil.
Lin Kecil duduk di tempatnya, membuka komputer, masuk, mengetik kata sandi...
"...Sudahlah, mari kita buat satu dokumen, sarankan atasan segera mengendalikan penyebaran program arwah, waktu mendesak, harus berani bertindak, aksi online dan offline harus digencarkan, tegas..."
"Tidak, tim kami menolak. Rumput liar tak habis dibakar, musim semi tumbuh kembali. Tanpa mengetahui prinsip penyebarannya dan menemukan cara efektif menahannya, itu hanya akan membuat mereka waspada, sekaligus menempatkan kita sebagai musuh. Itu sembrono dan sangat berbahaya!"
"Selain itu, jika mereka sudah waspada, mereka akan bergerak di bawah tanah, dan penyebaran klien arwah sangat tersembunyi dan mudah..."
"Lalu apa? Tak mungkin kita diam saja!"
"Satu-satunya cara adalah segera menemukan Oktober, secepatnya!"
"Mudah diucapkan, seluruh Xiangzhou ada lebih dari dua puluh juta jiwa, usia 14 hingga 35 tahun, kalian tahu berapa banyak orangnya? Tak ada ciri khas yang jelas, bagaimana mencarinya?"
"Kita bisa menganalisis kemungkinan identitasnya, lapisan masyarakatnya, penghasilannya, minat dan hobi, lalu memantau pesan-pesan mencurigakan, mempersempit lingkupnya..."
Perdebatan pun terus berlanjut. Lin Kecil sudah sering mendengarnya. Toh pada akhirnya, kesepakatan tak pernah tercapai, keputusan tetap di tangan atasan.
Tapi siapa sebenarnya Oktober itu?