Bab Lima Puluh Dua: Mengembalikan Uang
“Apa rencanamu setelah pulang kali ini?” tanya Jau Jin.
Chen Yang menjawab, “Nenekku dulu menghabiskan seribu yuan untuk membeli ibuku, aku hanya ingin mengembalikan sepuluh kali lipat.”
Sepuluh kali lipat?
Jau Jin memeluk pundaknya, “Jangan lakukan hal bodoh.”
“Tenang saja, Kak Jin, aku masih harus kembali ke Hengdian,” ujar Chen Yang sambil tersenyum dengan mata memerah.
“Benar, aku sama sekali tidak membenci mereka. Aku hanya berpikir, mereka menghabiskan seribu yuan untuk membeli ibuku, sekarang ibuku sudah meninggal, aku harus mengembalikan uang itu.”
Air matanya pun kembali mengalir.
Jau Jin memeluk pundaknya erat-erat, dalam hati ingin memberinya sebutir permen, tapi setelah merogoh saku tidak juga menemukannya.
Keduanya duduk di depan pintu bank seperti dua orang bodoh, Chen Yang menangis, Jau Jin memeluknya.
Satpam bank datang dan mengusir mereka, “Hei, hei, mau nangis cari tempat lain, jangan ganggu urusan kami di sini.”
Jau Jin menatapnya sekilas, “Bank ini milik keluargamu, ya?”
“Hei, kamu kok ngomong begitu sih?!” Satpam lain juga ikut mendekat.
Chen Yang menyeka sudut matanya, menunduk dan membungkuk, “Maaf, maaf, kami akan pergi sekarang.”
Jau Jin masih merasa kesal, kalian tahu apa yang sedang dia alami, kenapa malah mengusir?
Tapi Chen Yang menahannya, “Ayo kita ke stasiun kereta, Kak Jin, kamu harus kembali ke Hengdian, jangan sampai ketinggalan kereta.”
Mereka berjalan ke arah stasiun, Jau Jin berpikir sejenak lalu bertanya, “Kamu tetap mau kembali ke Hengdian?”
“Tentu, aku masih punya utang padamu.”
“Sudahlah, aku akan menemanimu pulang,” ujar Jau Jin dengan nada serius.
Chen Yang tersenyum, “Tidak usah, Kak Jin, kau urus saja urusanmu, aku juga akan segera kembali.”
“Kamu jangan keras kepala, kalau kamu percaya padaku, izinkan aku menemanimu. Terserah kamu mau melakukan apa, aku tidak akan ikut campur.”
“Aku sudah membawamu dari Hengdian sampai ke sini, aku juga harus mengantarmu kembali. Setelah di Hengdian, kamu bebas ke mana pun, aku tak akan mengaturmu.”
Ucapan Jau Jin tegas, tak memberi ruang untuk dibantah.
Chen Yang hanya bisa mengangguk, “Terima kasih, Kak.”
Mereka pergi ke stasiun untuk membeli tiket, tapi tiket langsung ke Yiwu sudah habis terjual untuk beberapa hari ke depan.
Tak ada pilihan lain, mereka harus memilih rute transit. Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya mereka mendapatkan tiket untuk tiga hari ke depan, harus ganti kereta beberapa kali.
Itupun sudah sangat beruntung, mengingat musim mudik di negara sebesar ini sungguh luar biasa padat.
Karena waktu keberangkatan sudah dekat, dua tiket sebelumnya terpaksa hangus.
Chen Yang berkata, “Kak, biar aku yang bayar tiket kali ini, nanti aku pasti ganti.”
Jau Jin menjawab, “Tentu saja, masa aku yang harus bayar lagi.”
Perjalanan setelah itu cukup rumit, kampung halaman Chen Yang terletak di daerah pesisir timur Dongsan, masih jauh dari tempat mereka sekarang.
Kalau dipikir-pikir, daerah pesisir ini cukup terkenal dalam sejarah. Dulu pernah ada seorang pejabat berwajah hitam yang hampir saja membunuh pendiri Dinasti Han di sini.
Mereka naik bus besar, ganti ke bus kecil, lalu ganti mobil minibus, setelah itu naik traktor, dan akhirnya berjalan kaki selama dua hingga tiga jam.
Di tengah perjalanan, mereka sempat menginap semalam di penginapan kecil, kalau tidak mereka akan tiba larut malam.
Jau Jin tak kuasa menahan diri, mengacungkan jempol pada Chen Yang, “Kamu benar-benar hebat bisa lari dari sini sampai ke Hengdian.”
Chen Yang tersenyum, “Sudah dekat, itu desa di depan sudah sampai.”
Terlihat jelas Chen Yang berusaha santai sepanjang perjalanan, namun semakin dekat ke rumah, beban di hatinya semakin berat.
Jau Jin tidak pernah mengalami hal seperti ini, tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa menggenggam lengan Chen Yang erat-erat.
“Laki-laki, kalau sudah memutuskan jangan menyesal.”
“Ya.”
Chen Yang membawa Jau Jin melewati pematang sawah, jalan setapak di antara hutan, hingga akhirnya tiba di rumahnya.
Rumah itu sangat reyot, dindingnya dari tanah liat, supaya tidak roboh disanggah kayu. Jendelanya ditutup kantong plastik putih, pintunya kayu tanpa kunci, di atasnya masih menempel hiasan tahun baru lalu yang warnanya sudah pudar, setengah merah setengah putih.
Chen Yang menarik napas dalam, mendorong pintu masuk.
Di dalam rumah juga berlantaikan tanah, gelap, hanya ada satu meja, dua bangku kayu, di dinding yang kotor menempel gambar anak gemuk memeluk ikan mas besar.
Selain itu, hampir tidak ada apa-apa lagi.
Sejujurnya, Jau Jin tahu keluarga Chen Yang miskin, tapi tak menyangka semiskin ini.
“Siapa itu?” Suara tua dari dapur terdengar.
“Aku,” jawab Chen Yang.
“Yang’er?” Suara terkejut penuh sukacita terdengar.
Seorang nenek berambut kusut dan berwajah kumal berlari tertatih-tatih dari dapur, rambutnya penuh uban, pakaian yang dipakai bertumpuk-tumpuk, anehnya ada yang kebesaran, ada yang kekecilan.
Jau Jin yang jeli langsung melihat sepatu nenek itu, jelas kekecilan, ujungnya robek, menampakkan jari kaki hitam besar—sepertinya peninggalan masa kecil Chen Yang.
“Yang’er, kamu pulang!” Nenek itu memandang Chen Yang nyaris tak percaya.
Pakaian lama Chen Yang sudah dibuang, yang dipakai sekarang semua dibelikan Jau Jin, meski murah tapi lumayan bagus. Ditambah lagi, setelah beberapa bulan di Hengdian, Chen Yang kini punya aura berbeda.
Nenek itu sangat gembira, namun segera sadar ada tamu di pintu, memandang Jau Jin, “Wah, ada tamu, silakan duduk, silakan.”
Lalu tertatih-tatih hendak mengambil bangku.
Chen Yang segera mengambil sendiri, meletakkan di depan pintu, lalu mengelapnya dengan lengan baju, “Kak, duduklah dulu.”
Ia tahu Jau Jin tak ingin masuk.
Sebelum berangkat, Jau Jin sudah berjanji, apapun yang terjadi biar Chen Yang yang mengurus, ia tidak akan ikut campur. Karena itu, ia memilih diam, hanya mengangguk sopan pada nenek, lalu duduk di bangku.
“Aku ambilkan air dulu, ya,” nenek itu hendak kembali ke dapur.
Chen Yang menahannya, membantu duduk di bangku lain. “Sudahlah, jangan repot, ayah di mana?”
“Ayahmu pergi main kartu, sebentar lagi pasti pulang. Yang’er, kau kedinginan? Kau ke mana saja? Hidupmu baik-baik saja di luar?”
Nenek itu terus bertanya, Chen Yang menjawab singkat, “Baik, semuanya baik-baik.”
Jau Jin merasa sangat tak nyaman, duduk di situ benar-benar seperti disiksa.
Nenek itu tampak begitu lembut, kasih sayangnya pada Chen Yang terlihat jelas dari sorot matanya.
Tapi siapa sangka, dia pernah membeli seorang wanita tak bersalah untuk dijadikan menantu.
Penjual manusia memang jahat, tapi para pembeli seperti mereka, bukankah sama jahatnya?
Rumah reyot ini, tampak seperti bisa roboh kapan saja, namun mampu menahan seorang wanita selama delapan belas tahun.
Jau Jin diam-diam menghela napas, kalau jadi dirinya pun, pasti bingung harus bagaimana.
Tidak lama kemudian, seorang pria pincang pulang dengan langkah terseok-seok.
Kepalanya memakai topi bulu hitam, di tangan memegang cangkir teh, wajah kemerahan, di bibir menyelipkan rokok.
Begitu mendekat, tercium bau menusuk dari rokok murah.
Mata keruhnya melirik Jau Jin dengan heran, di desa ini belum pernah ada orang setampan itu, bajunya pun gaya.
Ia pun refleks tersenyum, tampak ingin menyenangkan.
Jau Jin tetap cemberut, lalu berdiri dan keluar rumah.
“Anakku pulang! Yang’er sudah kembali!” teriak nenek itu.
Mendengar teriakan itu, pria itu berjalan cepat, melihat Chen Yang, matanya penuh emosi aneh.
Lalu ia marah besar, “Berani-beraninya kau pulang!”
Sambil berkata ia mencari-cari benda, seolah hendak memukul Chen Yang.
“Mau apa kau? Mau usir Yang’er lagi?” Nenek itu duduk di bangku, membentak dengan tegas.
Pria itu langsung ciut, gelagapan.
Chen Yang menarik napas panjang, mengeluarkan uang sepuluh ribu yuan dari tas, meletakkannya di meja.
“Uang? Ini semua kau yang dapat?” Pria itu sangat gembira, langsung hendak mengambilnya.
Nenek juga sangat senang, tapi menahan pria itu, dan ia sendiri tak mengambilnya, “Yang’er sudah hebat, uangmu simpan saja.”
Chen Yang melirik Jau Jin yang berdiri di pintu, ragu-ragu, tidak tahu harus berkata apa.
Jau Jin berdeham pelan, “Aku keluar sebentar.”
Lalu ia berbalik pergi.
Chen Yang menatap punggung Jau Jin, menggertakkan gigi, mengumpulkan keberanian, “Kalian dulu membeli ibuku dengan seribu yuan, sekarang dia sudah tiada, aku mengembalikan sepuluh kali lipat.”