Bab Tiga Puluh Lima: Perbedaan Utara dan Selatan
Kampung Benteng Kuda adalah sebuah nama tempat yang sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Kota Fucheng berdiri. Setiap tanggal satu dan lima belas menurut kalender bulan, para penduduk dari puluhan kilometer sekitar akan datang ke sini dengan kereta kuda untuk berdagang. Lama-kelamaan, tempat ini pun berkembang menjadi sebuah pasar. Setelah berdirinya negara, seiring dengan dihapuskannya seluruh ekonomi swasta, pasar-pasar rakyat seperti ini pun terkena imbas dan dibubarkan oleh pemerintah hingga lenyap. Namun, pada tahun 1982, orang-orang mulai kembali berkumpul di sini, melakukan transaksi secara sembunyi-sembunyi, hingga perlahan terbentuklah pasar bebas hasil bumi.
Di Fucheng, selama bertahun-tahun semua kebutuhan masyarakat dikendalikan oleh negara, dengan sistem ekonomi terencana dan dijual di toko serba ada milik negara. Untuk membeli barang, orang harus menggunakan kupon, namun sering kali, meski sudah punya kupon, barang yang diinginkan tetap saja tidak tersedia. Misalnya kain “Dikeliong”, jika datang terlambat, pasti sudah habis.
Kampung Benteng Kuda bisa dibilang sebagai pasar bebas hasil bumi pertama di Fucheng setelah reformasi dan keterbukaan. Kemunculannya menandai mulai bangkitnya ekonomi swasta. Dinamika perdagangan pasar bebas semacam ini jauh melampaui ekonomi terencana yang kaku milik negara. Bagi Kota Fucheng, ini adalah suatu peristiwa yang sangat besar.
Baru saja pasar bebas ini berdiri, kekuatannya langsung terlihat. Dalam beberapa bulan saja, berbagai barang “langka” bermunculan, seperti celana cutbray, kain “Dikeliong”, kaset-kaset penyanyi Teng Lijun, bahkan radio kaset satu tape, dan lain-lain. Bahkan, ada juga yang memperdagangkan kupon beras, baik kupon daerah maupun nasional.
Barang-barang ini umumnya dibawa oleh sekelompok orang dari selatan. Satu celana cutbray harganya sepuluh yuan, satu meter kain Dikeliong lima yuan, radio kaset satu tape seratus sepuluh yuan, dan seterusnya!
Orang-orang selatan ini bisa dibilang sebagai generasi pertama “pedagang perantara” di negeri ini. Sebagai seseorang yang terlahir kembali, Liu Lang sangat paham situasi negara saat itu.
Tahun ini adalah 1982, reformasi dan keterbukaan sudah berjalan empat tahun. Meski di utara masih terasa stagnan, namun di selatan, angin perubahan sudah sangat terasa, terutama di Guangdong dan daerah Chao-Shan. Meski belum sampai semua orang berdagang, namun sudah banyak pelaku usaha mandiri bermunculan.
Di kehidupan sebelumnya, Liu Lang pernah meneliti perkembangan negara pada era ini secara mendalam. Sekitar tahun 1980, di daerah Wenzhou, Zhejiang dan Jiangsu saja, jumlah pengusaha mandiri sudah melebihi tiga ribu. Di beberapa pasar yang aktivitas perdagangannya sangat hidup, muncul pula bengkel-bengkel produksi khusus. Beberapa yang cukup besar bahkan mendapat julukan seperti “Raja Elektronik”, “Raja Baut”, “Raja Lampu Tambang”, dan “Raja Kumparan”. Aset mereka pada masa itu sudah mencapai puluhan ribu yuan, dan kualitas produk mereka bisa bersaing dengan pabrik milik negara.
Perlu diketahui bahwa barang-barang seperti alat elektronik, baut, dan lampu tambang adalah bahan produksi industri, dengan kandungan teknologi yang jauh lebih tinggi daripada kebutuhan hidup seperti celana, topi, atau kain. Jika bahan produksi industri saja begitu berkembang, apalagi kebutuhan pokok yang dipakai semua orang.
Lalu, dari mana asal barang-barang di selatan itu?
Pertanyaan ini bahkan puluhan tahun kemudian masih dihindari para ahli, meski semua orang sebenarnya tahu jawabannya: penyelundupan. Akumulasi modal abu-abu yang didapat dari penyelundupan inilah yang menjadi pendorong penting tumbuhnya ekonomi lokal di pesisir tenggara pada masa itu.
Liu Lang masih ingat, lebih dari dua puluh tahun kemudian, seorang ahli yang mengalami langsung masa itu menulis sebuah buku: setiap hari, puluhan kapal penyelundup dari Hongkong dan Taiwan berlabuh dan berlayar di perairan Pulau Dongsha, sedangkan kapal penyelundup dari daratan jumlahnya mencapai ratusan. Jam elektronik dan kain nilon masuk ke daratan bagaikan gelombang pasang, sementara emas dan koin perak mengalir keluar seperti air surut. Ribuan orang tergila-gila, di sepanjang pantai kota dan desa bermunculan pasar-pasar barang selundupan yang terkenal...
Karena penyelundupan, kota-kota pesisir berkembang pesat. Terdengar kurang terhormat memang, dan banyak pengusaha swasta yang kemudian menjadi pengusaha ternama enggan menyebut masa lalu ini, seolah-olah itu adalah dosa asal yang tak pernah bisa mereka hapus.
Tapi menurut Liu Lang, hal itu bukanlah dosa besar. Jika negara sudah membuka diri dan mereformasi, maka membuka pasar adalah sebuah keharusan. Penyelundupan itu sebenarnya adalah salah satu bentuk keterbukaan, hanya saja hukum negara belum berkembang secepat pasar, tidak mampu mengikuti laju reformasi. Ini adalah tanggung jawab negara, bukan tanggung jawab para pengusaha itu. Bahkan setelah belasan atau puluhan tahun kemudian, hukum dan peraturan negara masih saja belum sempurna. Inilah akar dari banyak konflik dan masalah. Dalam menghadapi pasar bebas, kebijakan negara selalu tertinggal, ini adalah persoalan dunia, bukan hanya masalah lokal.
Bisa dikatakan, di kota-kota pesisir selatan sekarang, celana cutbray, kain Dikeliong, kaset Teng Lijun, dan radio kaset satu tape, kalaupun tidak semua orang punya, setidaknya bukan lagi barang langka. Tapi di kota-kota utara yang tertutup, barang-barang itu masih sangat jarang. Banyak orang selatan melihat peluang ini, membeli barang-barang itu di daerahnya dan menjualnya ke utara, dengan keuntungan hampir dua hingga tiga kali lipat, sementara biaya hanya sebatas tiket kereta dan makan di perjalanan. Seseorang yang membawa berbagai barang dagangan dari selatan ke utara sekali jalan paling sedikit bisa mendapat untung ratusan yuan, yang banyak bahkan sampai seribuan atau beberapa ribu yuan. Dalam setahun, hanya dengan berdagang barang kecil seperti ini, mereka sudah bisa menjadi orang kaya dengan pendapatan puluhan ribu yuan, setara dengan penghasilan buruh selama bertahun-tahun.
Kedatangan orang-orang selatan ini mengguncang pasar terencana yang monoton di Fucheng. Dalam satu dua bulan saja, celana Dikeliong sudah menjadi barang umum. Di jalan-jalan, kadang terdengar lagu manis Teng Lijun, “Manis sekali senyummu, seperti bunga bermekaran di musim semi, bermekaran di musim semi, di mana? Di mana aku pernah melihatmu, senyummu begitu akrab, aku sejenak tak ingat, ah! Dalam mimpiku...”
Nada-nada “menggoda” mulai terdengar di Fucheng, membuat para pemuda seperti orang tua Liu Lang terpesona, namun membuat banyak orang tua tak senang.
“Apa-apaan sih barang-barang tidak berguna ini?”
Kakek Liu Lang di rumah mereka, menatap radio kaset satu tape yang sedang memutar lagu Teng Lijun di atas dipan, lalu berseru dengan suara keras.
Radio itu dibeli ayah Liu Lang seharga seratus lima belas yuan. Jumlah uang itu setara hampir setengah tahun gaji Liu Donglai. Meski sekarang dia sudah menikah dan mengatur keuangan sendiri, tindakan “boros” seperti itu tetap saja membuat kakek Liu Lang sangat tidak puas.
“Ayah, dengarkan lagunya, bagus sekali! Kok bisa bilang itu barang tak guna?”
Ayah Liu Lang menjawab sambil tersenyum.
“Kalian ini, anak-anak manja! Seratus lebih hanya untuk beli beginian, memangnya radio ini bisa dimakan atau dipakai?”
Kakek Liu Lang benar-benar kesal. Baginya, makanan dan pakaian adalah hal utama, membeli lagu mahal seperti itu sama sekali tidak sepadan.
“Ayah, zaman sekarang sudah berubah, koran saja bilang kita harus reformasi dan membuka diri. Barang-barang seperti ini bagian dari reformasi, kita juga harus mendukung!”
Liu Donglai berusaha membela diri dengan dalih reformasi.
“Reformasi bukan berarti seperti ini, ini namanya spekulasi dan penimbunan. Sepuluh tahun lalu, orang seperti itu pasti sudah dipermalukan di muka umum.”
Tentu saja kakek Liu Lang tidak mau kalah.
“Kalaupun dipermalukan, tidak akan sampai ke kita. Semua barang ini juga dari orang selatan, tidak ada hubungannya dengan kita.”
Liu Donglai sama sekali tidak peduli.
“Huh, orang-orang selatan itu, berkumpul di Benteng Kuda, tiap hari kelihatan mencurigakan, jelas bukan orang beres. Suatu saat mereka pasti kena batunya... Nak, kamu nanti kalau besar jangan seperti mereka, yang penting cari pekerjaan yang benar. Jadi pedagang kecil itu bukan jalan hidup.”
Kakek Liu Lang menatap Liu Lang yang duduk di dipan.
“Ayah, Liu Lang tidak akan begitu. Dia nanti pasti kuliah, setelah kuliah jadi tenaga ahli negara. Negara akan langsung menempatkan kerja, siapa yang mau jadi wiraswasta?”
Ayah Liu Lang menimpali.
Liu Lang hanya tersenyum kepada ayah dan kakeknya, tanpa berkata apa-apa.