Bab 23: Istri dari Kehidupan Sebelumnya
Tak lama kemudian, giliran kelompok tempat Liu Lang berada pun tiba. Begitu aba-aba dari petugas terdengar, tujuh anak termasuk Liu Lang ditempatkan di atas karpet.
“Nak, kalau kamu suka sesuatu, ambillah sendiri!”
Ayah Liu Lang sama sekali tidak mempermasalahkan ini. Baginya, lomba seperti ini tak ubahnya angin lalu bagi anaknya.
“Ya!”
Liu Lang mengangguk, lalu melangkah ke seberang dengan langkah mantap seperti orang dewasa. Hanya beberapa langkah saja, ia sudah sampai di sisi seberang dan bersiap mengambil sebuah mainan untuk segera mengakhiri lomba yang membosankan ini.
“Gadis kecil, cepat ke mari!”
Suara yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar di telinganya. Liu Lang mendongak dan merasa kepalanya sedikit pusing. Bukankah itu ayah mertuanya dua puluh tahun kemudian?
Istri Liu Lang bernama Hong Yu. Mereka adalah teman sekelas saat SMA, namun ketika itu hampir tidak ada interaksi di antara mereka, bahkan jarang berbicara. Setelah lulus, Liu Lang diterima di sebuah universitas di ibu kota provinsi—meski bukan universitas unggulan nasional, setidaknya universitas negeri—dan mengambil jurusan arsitektur. Sementara nilai Hong Yu jauh lebih baik, ia diterima di universitas ternama di ibu kota negara dan mempelajari jurusan komputer yang sedang sangat diminati.
Setelah lulus, Liu Lang bekerja di sebuah perusahaan properti terkenal. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia berhasil menjadi seorang kepala bagian yang lumayan, bertugas berurusan dengan instansi pemerintah. Meski gajinya tidak rendah, selama masa itu hampir setiap hari ia harus menghadiri jamuan, melontarkan kata-kata pujian yang terkadang membuatnya sendiri merasa geli. Interaksi sosial yang padat membuat tubuh dan jiwanya lelah, bahkan kesehatannya mulai menurun. Pada saat itulah, ibunya menjalani operasi dan membutuhkan perawatan. Liu Lang pun memutuskan untuk mengundurkan diri, pulang ke Fu Cheng, dan kemudian berhasil menjadi pegawai negeri di sana. Hidupnya pun berubah menjadi rutinitas delapan sampai lima sore yang datar dan tanpa gairah.
Pada sebuah reuni teman sekolah, ia kembali bertemu dengan Hong Yu yang saat itu sudah menjadi seorang programmer di perusahaan internet, memimpin tim beranggotakan empat atau lima orang mengembangkan sebuah program. Pada tahun 2005, Hong Yu sudah berpenghasilan lebih dari sepuluh ribu yuan per bulan—benar-benar seorang profesional muda yang sukses.
Dalam acara reuni itu, Liu Lang yang biasanya pendiam justru menarik perhatian Hong Yu. Mereka pun akhirnya saling berbincang lebih dalam dan saling memberi kesan baik. Hubungan pun terjalin.
Namun, Liu Lang bekerja di Fu Cheng sementara Hong Yu di ibu kota negara. Hubungan jarak jauh jarang berakhir bahagia.
Yang tak disangka Liu Lang, setelah hubungan mereka resmi, Hong Yu tanpa ragu meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan dan dalam waktu setengah tahun diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu perguruan tinggi di Fu Cheng. Kinerjanya yang luar biasa membuatnya dengan mulus menjadi dosen setelah dua tahun lulus. Saat itu, mereka pun sudah menikah.
Kemudian, Liu Lang pernah bertanya pada istrinya mengapa ia mau meninggalkan pekerjaan dengan gaji puluhan juta demi kembali ke Fu Cheng dan menerima penghasilan bulanan yang hanya sedikit di atas tiga juta.
Jawaban istrinya sederhana: Ia melihat rasa tanggung jawab yang besar dalam diri Liu Lang, sebuah rasa tanggung jawab terhadap dunia.
“Rasa tanggung jawab terhadap dunia?”
Liu Lang menyadari memang ia memiliki rasa tanggung jawab itu, tapi, apa gunanya?
Sebesar apa pun rasa tanggung jawab yang dimiliki, tetap saja harus bekerja keras demi hidup; sebesar apa pun rasa tanggung jawab, tetap harus tunduk pada aturan masyarakat; sebesar apa pun rasa tanggung jawab, kalau tak mampu diwujudkan, itu hanya akan menjadi mimpi belaka—mimpi semacam itu tak berarti apa-apa di hadapan kenyataan.
Namun, istrinya juga pernah berkata, di zaman yang penuh kepalsuan seperti sekarang, orang yang masih menyimpan rasa tanggung jawab seperti itu dalam hatinya sudah sangat langka. Orang yang memiliki rasa tanggung jawab seperti itu pasti memiliki sifat yang tak dimiliki kebanyakan orang: kebaikan dan kesetiaan. Itulah alasan utama Hong Yu memilih Liu Lang.
Karena itulah, Liu Lang selalu merasa dirinya tak pantas untuk istrinya—seorang wanita luar biasa yang rela meninggalkan masa depan cemerlang demi kualitas yang ia miliki, memilih hidup sederhana bersamanya di kota kecil. Jika posisi mereka tertukar, Liu Lang belum tentu mampu melakukan hal yang sama, sehingga ia merasa kualitas istrinya jauh melampauinya.
“Xiao Yu, cepat, cepat!”
Lamunan Liu Lang buyar oleh panggilan itu. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang anak kecil berjalan perlahan ke arahnya. Meski langkahnya kurang mantap, ia masih lebih baik daripada kebanyakan anak lain.
Benar, anak kecil itu adalah Hong Yu—istri Liu Lang dua puluh tahun kemudian.
“Tak disangka istriku pun pernah ikut lomba seperti ini, bahkan satu kelompok denganku. Bukankah ini berarti kami benar-benar sudah berjodoh sejak kecil?”
Di kehidupan sebelumnya, Liu Lang sama sekali tak pernah mendengar Hong Yu menyebutkan kejadian ini, bahkan mertuanya pun tidak pernah bercerita. Sepertinya waktu itu memang tak meraih hasil apapun, bahkan piagam pun tidak didapatkan. Tapi kali ini berbeda, jika ia dan Hong Yu bisa berfoto bersama, suatu saat nanti ketika mereka menikah, foto itu pasti akan membuat banyak orang kagum.
Di kehidupan sebelumnya, Hong Yu rela mengorbankan masa depannya demi bersama Liu Lang. Kali ini, Liu Lang bertekad tak akan membiarkan Hong Yu kehilangan apapun. Ia ingin menggantikan semua yang dulu hilang.
Liu Lang pun berdiri menunggu Hong Yu perlahan mendekat. Mereka ingin melangkah bersama.
Namun, tiba-tiba seorang anak laki-laki yang lebih tinggi setengah kepala dari Hong Yu mengejar dari belakang. Anak itu sangat nakal, ia mendorong Hong Yu dengan keras dari belakang.
“Duk!”
Hong Yu pun terjatuh dengan posisi tengkurap seperti orang tersandung. Bibirnya langsung mencebik dan ia pun menangis.
“Xiao Yu, tidak apa-apa, cepat bangun!”
Ayah dan ibu Hong Yu menyemangati putrinya dengan suara lantang. Namun, mana mungkin anak berusia setahun lebih mengerti kata-kata penyemangat? Ia hanya tahu dirinya diperlakukan tidak adil, dan satu-satunya cara mengungkapkan perasaan itu adalah dengan menangis.
“Astaga! Anak sekecil ini sudah suka membully? Dan kebetulan yang kena istriku pula... Baiklah, kau akan dapat balasannya!”
Tanpa berkata apapun, Liu Lang langsung berjalan ke arah anak laki-laki itu dan menabraknya.
Sejak usia satu bulan lebih, Liu Lang sudah tumbuh gigi, dua bulan lebih sudah mulai makan makanan pokok. Kini, di usia satu tahun lebih, ia makan jauh lebih banyak dari teman-teman sebayanya yang masih minum susu. Tubuhnya pun lebih tinggi dan kekar. Anak laki-laki di depannya memang sudah besar, tapi dibanding Liu Lang masih terpaut dua-tiga sentimeter. Koordinasi anak kecil seusia itu mana mungkin menandingi Liu Lang? Sekali ditabrak, anak itu langsung jatuh duduk, lalu terbaring di atas karpet.
“Waa... waa... waa!”
Anak yang ditabrak Liu Lang langsung menangis keras, sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, merengek manja.
Liu Lang tentu saja tidak peduli. Ia pun berjalan mendekati Hong Yu, lalu berjongkok di depannya.
“Kakak, biar aku bantu bangun!”
Hong Yu memang dua bulan lebih tua dari Liu Lang. Bahkan setelah menikah nanti, di rumah Liu Lang pun kerap memanggil istrinya ‘kakak’.
Hong Yu kecil mengangkat kepala, memandang Liu Lang dengan mata bening yang masih berbalut air mata. Ia tersenyum pada anak di depannya, lalu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Liu Lang dan bangkit berdiri.
Keduanya pun berjalan bersama menuju garis akhir.