Bab 68: Barang Langka di Toko Kelontong
“Ayah, kita sudah hampir sampai!”
Liu Lang menarik ujung baju ayahnya untuk mengingatkan.
“Ya, baik! Baik!” Liu Donglai mengangguk, matanya masih memandangi orang-orang itu.
“Sungguh orang-orang yang sangat bodoh!” Liu Lang tak henti-hentinya mengeluh.
Tentu saja, dia melihat zaman ini dari sudut pandang seseorang yang telah mengalami hidup kedua. Segala macam ilmu tenaga dalam yang katanya hebat itu, beberapa tahun ke depan tidak ada satu pun yang bertahan. Kenyataannya, hal-hal seperti “mengambil benda dari kejauhan” atau “tubuh memancarkan aroma aneh”, semuanya masuk kategori sulap. Kalau hanya satu-dua orang, bahkan puluhan atau ratusan orang tertipu mungkin masih bisa dimaklumi, tapi ketika jutaan, bahkan hampir sepuluh juta rakyat tertipu, termasuk beberapa ilmuwan yang ikut-ikutan percaya pada “sulap” ini, itu benar-benar menakutkan.
Akar masalahnya adalah, masyarakat zaman ini masih terlalu “bodoh”. Selama puluhan tahun sebelumnya, pemahaman mereka terhadap ilmu pengetahuan sangat minim. Setelah reformasi dan keterbukaan, gempuran teknologi dari luar negeri membuat masyarakat merasa rendah diri. Dari perasaan rendah diri itu, mereka justru tertarik pada berbagai budaya “mistis” dalam tradisi sendiri, merasa bahwa walau kalah dalam teknologi, tapi dalam hal “penjelajahan tubuh” yang lebih mendalam, mereka jauh lebih unggul dari orang asing. Ditambah lagi dengan pertunjukan para pesulap kelas dunia, masyarakat langsung menyerah dan ramai-ramai ikut-ikutan.
Aduh, kenapa mereka tak berpikir? Kalau para “master” itu memang benar-benar sakti, saat negara dulu dalam bahaya kenapa tak muncul? Sekarang mereka muncul hanya karena tergiur uang di dompet kalian.
“Sudah sampai di Gang Xitiao, yang turun di Gang Xitiao silakan bersiap!” Suara kondektur membuat Liu Lang lega.
“Ayah, kita sudah sampai, ayo turun!”
Liu Donglai dan Wang Kangri meski masih sedikit enggan, tetap turun sesuai tujuan.
“Apa benar tenaga dalam sehebat itu? Kalau ada waktu aku juga ingin belajar!” Liu Donglai masih penasaran, bahkan ingin mencoba mempelajari.
“Belajar apanya!” Liu Lang langsung memotong kasar.
“Ayah, semua tenaga dalam itu bohong!”
“Bohong? Tapi orang-orang ibu kota saja banyak yang berlatih, mana mungkin bohong?”
“Kalau orang ibu kota ikut, berarti tidak bohong? Kalau dulu ada orang seperti itu, kenapa saat perang melawan penjajah kita bisa kalah telak? Semua tenaga dalam itu cuma sulap. Kalau ayah mau belajar, aku pun bisa mengajarkan. Nanti kalau ada waktu, aku ajari ayah.”
“Apa? Sulap? Kamu juga bisa?” Liu Donglai sangat penasaran.
“Tentu saja bisa. Pokoknya jangan percaya omong kosong orang-orang itu. Kalau ayah benar-benar ikut latihan, aku akan marah.”
Liu Lang benar-benar kesal.
“Baik, baik, tenang saja, Ayah tidak akan belajar dari mereka, tapi belajar dari kamu!”
Di mata Liu Donglai, anaknya memang anak yang “ajaib”. Bahkan dia sempat berpikir, jangan-jangan anaknya itulah “master” yang dimaksud orang-orang?
Kantor Dinas Pendidikan Nasional memang berada di Gang Xitiao. Meski disebut gang, tapi sangat berbeda dengan gang tempat tinggal keluarga Liu Lang. Gang mereka hanyalah perkampungan sempit yang dihuni belasan keluarga. Di ibu kota, setiap gang punya sejarahnya sendiri, bahkan umur sejarah tiap gang jauh lebih tua dibanding usia Kota Fucheng.
Gang Xitiao sangat lebar, jalan aspalnya saja lebih dari sepuluh meter. Di kedua sisi jalan berdiri rumah-rumah rendah yang meski sudah tua dan lusuh, tapi jelas terlihat sudah berumur. Beberapa rumah masih berstruktur kayu, di salah satu sisi pintu terpasang ornamen pintu, menandakan dulu pernah menjadi kediaman keluarga pejabat istana.
Beberapa bangunan menarik perhatian Liu Donglai dan kawan-kawan.
“Toko kelontong? Hahaha, di sini ternyata ada juga toko kelontong!”
Toko kelontong itu sebenarnya adalah toko, hanya saja di masa ekonomi terencana, semua toko dikelola negara. Namun setelah lima tahun reformasi, di kota besar seperti ibu kota, restoran dan toko swasta sudah bermunculan, jumlahnya bertambah cepat, dan masyarakat pun sudah terbiasa dengan pemilik usaha swasta.
“Toko kelontong! Sudah belasan tahun aku tak melihatnya. Yuk, kita masuk lihat-lihat!”
Di dalam toko kecil itu barangnya tak banyak, hanya rokok, minuman, permen dan teh paling sederhana. Tapi bagi Wang Kangri, itu sudah sangat menggembirakan.
“Kawan, berapa harga rokok merek Zhonghua?”
Wang Kangri adalah perokok, rata-rata sehari sebungkus. Di Fucheng dia biasa membeli rokok Dazhongchan, harganya dua puluh dua sen sebungkus. Sudah lama dia mendengar nama besar rokok Zhonghua, tapi di Fucheng tidak dijual. Sebenarnya dia juga sudah berencana kalau sempat di ibu kota ingin membeli beberapa bungkus. Sekarang kebetulan ada di toko kelontong ini.
“Zhonghua? Sembilan puluh sembilan sen!”
“Wah, mahal sekali!”
Bagi Wang Kangri, harga sembilan puluh sembilan sen memang tidak murah, meskipun dia pejabat eselon, gajinya sebulan juga hanya tiga puluh sekian yuan. Sembilan puluh sembilan sen sama dengan penghasilan satu hari.
“Baiklah, ambil satu bungkus!”
Setelah berpikir sejenak, Wang Kangri mengeluarkan uang satu yuan dan menyerahkannya. Walaupun mahal, toh hanya beli satu bungkus. Lagi pula, perjalanan kali ini pemerintah kota memberinya uang perjalanan enam ratus yuan, asal tidak melebihi anggaran tidak masalah.
“Nih, rokok dan kembaliannya!”
Penjual itu tampak senang melihat dia membeli rokok Zhonghua.
“Donglai, Wenxiu, kalian jangan cuma lihat-lihat, mau beli apa? Biar aku yang traktir!”
Wang Kangri sudah beli “barang mewah” dengan uang dinas, tentu ingin juga membelikan sesuatu untuk pasangan Liu Donglai.
“Wang, kami tidak usah dulu, nanti saja setelah urusan Liu Lang selesai.”
Keduanya menggeleng.
“Aku mau itu!”
Liu Lang tiba-tiba menunjuk sesuatu.
Ketiganya mengikuti arah telunjuknya dan melihat sebuah kaleng besi berwarna merah bertuliskan “Kekao Kele”.
“Itu apa?”
Mereka semua tak tahu.
“Itu minuman soda dari Amerika, enak sekali! Enam puluh sen satu kaleng!”
Penjual tersenyum.
“Satu botol minuman soda enam puluh sen? Mahal banget!”
Mata Liu Donglai membelalak. Di Fucheng juga ada minuman soda, harganya cuma sepuluh sen sebotol, ukurannya lebih besar dari kaleng ini, bahkan dua botol kosong bisa ditukar satu botol baru, harganya sama sekali tak sebanding!
“Itu produk luar negeri, hanya ada di ibu kota. Sehari saya hanya punya lima kaleng, sekarang sudah terjual dua, kalau tidak cepat beli nanti habis.”
“Ayah, belikan satu botol cola, ya!” Liu Lang menarik baju ayahnya memohon.
“Kawan, saya beli satu kaleng cola itu!”
Wang Kangri sebenarnya juga merasa kaleng itu mahal, tapi dia sendiri sudah beli rokok sembilan puluh sembilan sen, masa untuk Liu Lang tidak dibelikan. Maka dia mengeluarkan enam puluh sen dan menyerahkan ke penjual.
“Baik, satu kaleng cola, silakan ambil!”
Penjual menyerahkan kaleng itu pada Wang Kangri.
“Nih, biar aku bukakan...”
Wang Kangri mencoba membuka minuman itu, tapi lama mencari tak menemukan mulut botol.
“Lho, ini cara bukanya bagaimana?”
Dia bingung.
“Biar aku saja!”
Liu Lang segera menerima minuman itu, memandangi kaleng itu dengan penuh perasaan. Coca Cola sudah masuk ke Tiongkok sejak tahun delapan satu, pertama kali membangun pabrik di Kota Shenzhen, lalu tahun delapan dua membangun pabrik kedua di ibu kota, dalam sehari bisa memproduksi dua ratus ton cola. Saat itu pemerintah melarang minuman ini dijual di luar Shenzhen dan ibu kota, sama sekali tak boleh tersebar ke kota lain. Banyak orang tua memandang rendah minuman ini, menganggap rasanya lebih jelek dari ramuan obat tradisional.
Tapi anak muda berbeda, mereka menganggap minum cola itu gaya, bahkan ada yang setelah minum menggantungkan kaleng kosong di sepeda, berjalan di jalan menarik perhatian, katanya sepeda merek cola.
Di kehidupan sebelumnya, Liu Lang sering minum cola sampai usia tiga puluhan. Tapi setelah umur tiga puluh, kalau sering minum badan jadi gemuk, jadi dia berusaha menghentikan kebiasaan buruk itu, paling seminggu cuma minum satu botol. Setelah hidup kembali di masa ini, sudah lebih dari tiga tahun dia tak merasakan cola, jadi hari ini tak ingin melewatkan kesempatan.
Wang Kangri tak berhasil membuka kaleng itu. Liu Lang mengambilnya, lalu dengan sedikit tenaga “psst”, kaleng terbuka, gas langsung menyembur.
“Liu Lang, bagaimana kamu membukanya?”
Wang Kangri bahkan tak sempat melihat apa yang terjadi barusan.
Maklum saja, saat itu di seluruh Tiongkok hanya Coca Cola yang punya kaleng mudah buka, tidak ada industri minuman dalam negeri yang bisa membuatnya.
Liu Lang meneguk besar, cola masuk ke perut, sensasi karbon dioksida yang meletup dari soda menimbulkan rasa penuh yang sudah lama dirindukan.
“Ah, segar sekali!”
Liu Lang benar-benar menikmati, teringat kembali suasana hidupnya di masa lalu.