Bab Dua Puluh Enam: Selamat Hari Anak
Jika tebakan Liu Lang tidak salah, kedua pegawai Dinas Pendidikan tadi sebenarnya sedang mengamati dirinya, hasilnya tentu tidak ada masalah, jadi selanjutnya pasti akan ada pejabat dengan tingkat yang lebih tinggi yang akan turun tangan, dan inilah yang memang diinginkan oleh Liu Lang.
Menjalani hidup untuk kedua kalinya, Liu Lang memahami zaman ini lebih baik dari siapa pun. Jika ia hanya ingin menjadi orang kaya, cukup dengan menangkap beberapa peluang, ia sudah bisa memperoleh kekayaan yang tak akan habis dipakai seumur hidup. Namun, itu bukanlah yang ia inginkan. Cita-citanya adalah membuat negeri ini makmur dan kuat, benar-benar menjadi negara besar. Hal itu tidak bisa hanya diselesaikan dengan uang, tetapi juga membutuhkan teknologi dan pengetahuan. Karena itu, ia harus belajar, mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi paling maju dari luar negeri.
Pengetahuan seperti itu di kehidupannya yang lalu tidak pernah ia pelajari, dan di Kota Fu pun tidak ada ilmu serta teknologi semacam itu.
Maka, ia harus pergi ke ibu kota atau kota besar lainnya, kemudian menjadikan tempat itu batu loncatan untuk berhubungan dengan dunia internasional.
Menurut rencana awal, Liu Lang akan masuk SD di usia tiga tahun, SMP di usia empat tahun, SMA saat lima tahun, dan di usia enam atau tujuh tahun sudah bisa ikut ujian masuk universitas. Anak enam atau tujuh tahun masuk universitas, mungkin di seluruh negeri pun tidak pernah ada. Bukan karena Liu Lang terlalu sombong, melainkan ia benar-benar tidak bisa menunggu!
Menjelang akhir 1980-an dan awal 1990-an, gelombang pertama reformasi besar-besaran pada perusahaan-perusahaan negara akan datang. Itulah momen baginya untuk menunjukkan kemampuan, dan ia sama sekali tidak boleh melewatkan peluang emas tersebut.
Jika memang Wang Kangri datang demi kelas khusus anak-anak berbakat, maka ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mempercepat rencananya sendiri. Namun, Liu Lang juga tidak sepenuhnya memperlihatkan kemampuannya. Ia hanya menampilkan kecerdasan setara anak sepuluh tahun, dan itu saja sudah cukup membuat orang kagum.
Orang tua Liu Lang tentu saja tidak tahu apa tujuan sebenarnya Wang Kangri. Mereka mengira hanya karena kecerdasan Liu Lang yang jauh melebihi teman sebayanya. Meski lomba kali ini tidak mendapatkan hadiah berupa mainan, penampilan Liu Lang membuat kedua orang tua itu merasa sangat bangga. Bahkan pejabat tinggi di dinas pun memandang mereka dengan takjub, sehingga mereka sangat gembira.
“Nak, hari ini Hari Anak-anak, ayo ayah dan ibu ajak kamu jalan-jalan ke Taman Rakyat!”
Bertiga, mereka melawan hembusan angin menuju Taman Rakyat di pusat kota.
Dari Gedung Kesenian Buruh ke Taman Rakyat, cukup mengikuti Jalan Zhonghua. Di kedua sisi jalan inilah kawasan paling ramai di Kota Fu.
Kota Fu tahun 1981 tentu sangat berbeda dengan tiga puluh tahun kemudian. Jalan utama Zhonghua yang membelah pusat kota hanya selebar lima belas meter, dan itu satu-satunya jalan beraspal di kota itu. Gedung tertinggi di pinggir jalan adalah kantor pusat Pertambangan Batu Bara Kota Fu, tapi tingginya hanya empat lantai. Sisanya hanyalah bangunan-bangunan rendah. Jika berdiri di atap kantor pusat pertambangan itu, setengah kota Fu bisa terlihat jelas.
Hari ini angin sangat kencang. Tidak banyak orang bersepeda di Jalan Zhonghua, tetapi cukup banyak kereta kuda. Umumnya ditarik satu ekor kuda, biasanya petani yang datang ke toko serba ada di kota. Ada juga yang memakai dua ekor kuda, biasanya itu kereta pengangkut bahan makanan, membawa sayur, buah, kadang juga batu bara dan lumpur batubara.
Melihat semua kereta kuda itu, Liu Lang teringat masa kecilnya saat berumur tujuh atau delapan tahun. Waktu itu, anak-anak seperti mereka selalu diam-diam mengikuti kereta kuda dari belakang, lalu menempel di papan belakang kereta untuk menumpang gratis. Tapi itu agak berisiko, kalau sampai ketahuan kusir, cambuk di tangannya bisa saja mendarat di badan mereka.
Namun, yang paling berkesan bagi Liu Lang adalah kereta kuda yang sangat “mengerikan”, yaitu kereta tinja milik petugas kebersihan.
Di zaman itu belum ada toilet siram, hanya toilet umum berupa lubang besar yang dikenal orang utara sebagai “rumah buang air”. Jika sudah penuh, petugas kebersihan akan mengurasnya dengan sendok khusus, lalu diangkut dengan kereta kuda ke sawah-sawah yang telah ditentukan.
Setiap kali kereta tinja lewat, semua orang akan menghindar sejauh mungkin, takut jika kereta berguncang dan “muatannya” tercecer mengenai mereka. Namun, anak-anak umur tujuh atau delapan tahun itu tidak akan melewatkan kesempatan bermain-main dengan kereta tinja. Mereka sering mengumpulkan batu dan melemparkannya ke genangan air kotor yang tanpa penutup itu. Cipratan air dan lumpur kadang mengenai kusir, yang kemudian akan memaki-maki, sementara anak-anak tertawa terbahak-bahak dan berlarian ke segala arah.
Hal seperti itu memang terdengar aneh, tetapi pada masa itu, anak-anak selalu mencari cara untuk bersenang-senang, bahkan jika harus terkena kotoran sekalipun.
Bertiga, mereka berjalan sekitar delapan ratus meter di sepanjang Jalan Zhonghua hingga sampai ke pusat kota, Lapangan Kemerdekaan.
Nama Lapangan Kemerdekaan, Jalan Zhonghua, dan Jalan Rakyat bisa ditemukan di banyak kota, sama seperti nama orang pada masa itu yang sering menggunakan kata-kata seperti Pembangunan, Perlawanan, atau Bantuan Korea sebagai nama anak, yang sangat mencerminkan semangat zaman.
Di sebelah barat lapangan, ada sebuah taman kota kecil dengan bunga, pepohonan, gazebo, dan paviliun, menjadi tempat hiburan bagi warga. Namun, sepuluh tahun kemudian taman ini diubah menjadi lahan kosong yang dilapisi batu dan dibangun air mancur. Katanya untuk memperindah kota, tapi warga tidak merasa demikian. Apa indahnya lahan kosong tanpa pohon? Dua tahun kemudian, pohon-pohon pun kembali ditanam.
Taman kota itu terus berubah-ubah, hingga tiga puluh tahun kemudian menjadi tempat para lanjut usia menari di pagi hari. Namun, patung yang berdiri di sebelahnya tetap tidak berubah.
Sebuah patung tokoh besar setinggi sembilan meter berdiri kokoh di pusat Kota Fu. Patung seperti ini hampir selalu ada di kota-kota pada masa itu. Namun, tiga puluh tahun kemudian, hampir tidak ada lagi kota yang masih memiliki patung tokoh besar, dan Kota Fu adalah salah satu yang tersisa.
Saat melewati patung itu, orang tua Liu Lang sengaja menunjukkannya pada Liu Lang, “Nak, lihat, inilah orang terhebat di negeri ini. Tanpa beliau, kita mungkin masih kelaparan dan tertindas.”
Tatapan penuh rasa kagum terlihat jelas di mata kedua orang tuanya.
Setelah melewati pusat kota dan berjalan hampir satu kilometer lagi, sampailah mereka di taman terbesar di Kota Fu—Taman Rakyat.
Harga tiket masuk taman ini lima sen. Liu Lang, karena masih anak-anak, tidak dipungut biaya. Tiga orang hanya membayar sepuluh sen dan masuk ke taman.
Taman Rakyat sangat luas, hampir seratus hektar. Hari itu Hari Anak-anak, sehingga banyak sekali anak-anak berlarian di dalam taman.
“Nak, ayo kita lihat monyet!”
Liu Lang masih ingat, di kehidupan sebelumnya ia sangat menyukai taman ini, terutama karena banyak binatang di dalamnya. Monyet sudah pasti ada, juga ada singa, jerapah, dan burung bangkai besar. Karena itu pula banyak orang memanggil Taman Rakyat sebagai kebun binatang.
Bahkan tiga puluh tahun kemudian, taman ini masih ada, dan binatang-binatang itu tetap dipelihara dalam kandang, tak berubah dari dulu. Kandang-kandang hewan di tahun 1981 pun masih sama dengan tiga puluh tahun kemudian. Hanya saja saat itu catnya masih cerah, sedangkan tiga puluh tahun kemudian sudah pudar, memperlihatkan kesan tua. Hewan-hewan itu pun telah berkembang biak di dalam kandang selama puluhan tahun, tidak pernah keluar. Mungkin bagi mereka, dunia hanyalah tempat itu: makhluk berkaki dua sering datang ke depan kandang, selalu ingin masuk, tapi rumah mereka kokoh, sehingga tidak pernah berhasil. Kadang-kadang ada orang yang melempar makanan, mencoba membujuk mereka keluar, tapi mereka tidak bodoh. Makanan boleh diambil, tapi untuk keluar? Tidak akan pernah…
Liu Lang sendiri sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan binatang-binatang itu, tapi ia tetap berpura-pura gembira dan berteriak-teriak bersama anak-anak lain, agar kedua orang tuanya merasa bangga. Setelah lebih dari satu jam, mereka bertiga sempat berfoto bersama di dalam taman, namun hasilnya baru bisa diambil tiga hari kemudian di studio foto milik negara.
Hingga lewat pukul tiga sore, barulah mereka pulang, tanpa sempat makan siang. Namun pada masa itu, tidak makan satu kali bukan masalah besar. Liu Lang hanya bisa menahan lapar sambil dalam hati berbisik pada dirinya sendiri: Selamat Hari Anak…