Bab Delapan Puluh Tujuh: Pendapat Para Ahli
“Wakil Perdana Menteri Ding benar, negara kita tidak kekurangan pabrik. Pada masa Rencana Lima Tahun Pertama, berapa banyak pabrik yang didirikan di seluruh negeri? Sampai-sampai tak bisa dihitung jumlahnya. Meski sepuluh tahun terbuang sia-sia, setidaknya kita tidak kekurangan talenta di bidang ini. Mengirim Liu Lang belajar itu sama saja membuang-buang sumber daya!” ujar seseorang.
“Benar! Walaupun sekarang hubungan kita dengan Amerika sudah agak membaik, situasi internasional tetap sangat rumit, ancaman perang masih ada. Menurut saya, Liu Lang memiliki kecerdasan luar biasa, ia seharusnya berkecimpung di bidang industri militer, seperti para ahli kita yang mengembangkan senjata canggih. Itu baru pemanfaatan talenta yang tepat,” tambah yang lain.
“Sekarang negara kita sedang menjalankan reformasi dan keterbukaan, tapi caranya masih jadi perdebatan. Ada yang bilang begini, ada yang bilang begitu, intinya belum ada keputusan jelas. Penyebab utamanya adalah kita kekurangan ekonom handal, belum tahu apakah sebaiknya meniru Barat atau menciptakan teori sendiri. Menurut saya, Liu Lang yang masih muda itu harus belajar ekonomi. Kalau benar ia bisa menciptakan teori ekonomi khas bangsa kita, itu akan menjadi jasa besar bagi negara!” yang lain pun ikut menyampaikan pendapatnya.
Begitulah, berbagai gagasan disampaikan, bermacam-macam, semua tampak masuk akal.
“Tunggu, kenapa hanya kami para pejabat yang berbicara? Kalian para ilmuwan dan cendekiawan kenapa diam saja? Bukankah seharusnya kalian yang jadi ujung tombak? Ayo, sampaikan pendapat kalian!” Tiba-tiba Ding Weichang menyadari bahwa yang bicara hanya para pimpinan departemen, padahal dalam pertemuan ini hadir pula belasan rektor universitas ternama di ibu kota, namun tak satu pun yang angkat suara.
Para rektor itu semuanya sudah berusia lanjut, rambut memutih, ada yang sibuk mengipasi diri pelan-pelan, ada yang meneguk teh dari cangkir bawaan, satu per satu menunduk tanpa menatap, seolah-olah persoalan ini tak ada sangkut pautnya dengan mereka.
“Pak Zhao, Liu Lang kan mendaftar di Universitas Nusantara, bagaimana rencana pembinaannya, bisa Anda jelaskan?” Melihat tak ada yang mau bicara, Ding Weichang langsung menunjuk nama. Yang dipanggil adalah Zhao Tianming, rektor Universitas Nusantara, sejarawan tersohor di negeri ini, karya-karyanya bahkan dikenal luas di mancanegara.
“Wakil Perdana Menteri Ding, para pemimpin sudah memutuskan, kami tinggal menjalankan saja, tak perlu dibahas lagi,” jawab Zhao Tianming sambil mengangkat tangan, menandakan ia tak punya pendapat.
“Tak bisa begitu. Kami ini orang awam, kalianlah para ahlinya. Pembinaan terhadap Liu Lang harus berdasarkan masukan kalian. Silakan, jangan sungkan!” Ding Weichang kembali meminta.
“Saya bukan ahli, para pemimpinlah ahlinya. Kalian putuskan Liu Lang harus belajar apa, kami tinggal menyiapkan pengajarnya, tak ada masalah.” Ia kembali menolak halus.
“Pak Zhao, sikap Anda terkesan asal-asalan. Sekarang kita masih berdiskusi, belum ada keputusan. Kami perlu mendengar pendapat Anda dulu, barulah kami bisa memutuskan,” ujar seorang pejabat lain yang mulai tampak tak senang dengan sikap Zhao Tianming.
“Saya hanya bisa memberi saran kecil. Saya belum pernah bertemu Liu Lang, jadi belum berani mengambil kesimpulan. Tunggu saja sampai ia datang mendaftar ke Universitas Nusantara, saya akan berbicara dengannya, mencari tahu minatnya, lalu membinanya sesuai minat itu. Itulah yang dinamakan pendidikan berbasis karakter. Itu saja pendapat saya.” Zhao Tianming hanya berkata singkat, namun para pejabat merasa seolah-olah apa yang mereka bahas tadi hanyalah sia-sia, seakan-akan mereka tak mengerti prinsip pendidikan berbasis karakter.
“Pak Zhao, ucapan Anda kurang tepat. Anak kecil tahu apa? Yang mereka sukai hanyalah bermain. Apakah kita harus membuat jurusan khusus ‘Bermain’? Itu konyol!” Seorang pejabat langsung membantah.
“Saya memang sudah tua, pikiran saya sudah tak setajam dulu, mohon dimaklumi kalau ada kekurangan,” Zhao Tianming membalas dengan sopan.
“Jangan sungkan, Pak Zhao. Ada benarnya juga yang Anda katakan. Bagaimana dengan yang lain, ada pendapat?” kata Ding Weichang, lalu beralih pada rektor lain, “Pak Zhou, Anda rektor Universitas Teknologi Nasional, universitas pertama yang membuka kelas khusus untuk anak berbakat. Anda pasti paling paham urusan pendidikan anak, silakan sampaikan pendapat Anda!”
Zhou Shouxin, rektor Universitas Teknologi Nasional, masih lebih muda, sekitar enam puluh tahun, tersenyum dan menggeleng, “Saya? Ah, Wakil Perdana Menteri Ding, saya masih muda, biar para senior dulu yang bicara.”
“Wah, kalian ini bagaimana? Kalian semua ilmuwan besar, kenapa hari ini diam seribu bahasa? Apakah kehadiran saya membuat kalian sungkan? Kalau begitu, saya lebih baik pergi saja!” Nada suara Ding Weichang mulai terdengar kesal, jelas ia merasa tidak dihargai.
“Pak Zhou, Anda paling berpengalaman dalam pendidikan anak. Jangan pelit ilmu, silakan bicara!” Seorang rektor lain mencoba meredakan suasana.
Zhou Shouxin menatap sekeliling, berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk.
“Baik, kalau memang diminta bicara, saya akan sampaikan. Jika ada yang kurang berkenan, mohon para pemimpin maklum.”
“Pak Zhou, silakan bicara. Sekarang bukan zamannya lagi harus menahan diri, semua bebas berpendapat,” Ding Weichang melihat Zhou Shouxin tampak ragu.
“Baik, kalau begitu saya tak akan sungkan. Tahun tujuh delapan, Universitas Teknologi Nasional membuka kelas khusus anak jenius, menerima belasan siswa, salah satunya Ning Bai, yang dikenal sebagai anak ajaib. Ada juga Xie Yan dan Chen Yu, terutama Xie Yan yang usianya bahkan lebih muda, baru sebelas tahun waktu itu, dua tahun di bawah Ning Bai. Anak-anak ini memang luar biasa cerdas. Apa yang saya pelajari dalam setahun, mereka bisa kuasai dalam tiga atau empat bulan. Bakat seperti ini memang sulit ditandingi... Tapi saya ingin menekankan satu hal, ada kekurangan karakter pada anak-anak seperti mereka: sulit berkomunikasi, kemampuan hidup mandiri hampir nol...”
“Pak Zhou, karakter dan kemandirian bisa dilatih seiring waktu, itu bukan masalah besar,” sela seorang pejabat.
“Baik, memang bisa dilatih... Tapi tetap ada satu persoalan: apa sebenarnya yang harus mereka pelajari? Persis seperti yang kita bahas barusan. Saya ambil contoh Ning Bai, ia dulu belajar fisika teoretis, tapi setahun kemudian ingin pindah ke astronomi. Permintaan itu ditolak, akibatnya ia jadi murung cukup lama, bahkan tahun lalu tidak ikut seleksi magister. Meski sekarang ia jadi asisten dosen di kampus kami, saya bisa lihat ia tidak menyukai bidangnya, hanya menjalankan tugas seadanya. Walau ia sangat cerdas, jika tidak menyukai pekerjaannya, mungkinkah ia akan sukses? Tidak mungkin! Kalau terus begini, saya tidak yakin akan masa depan Ning Bai.”
Zhou Shouxin baru mulai bicara, tapi langsung melemparkan pernyataan yang cukup mengguncang.