Bab 126 Menggaruk
Kak Xueqiao tertegun sejenak, lalu tersenyum getir sembari menepuk punggungku. "Xuexi, urusan di rumah sakit sudah beres?"
"Sudah beres."
Aku menghembuskan napas. Hari ini benar-benar penuh debaran; pertama aku dikejutkan oleh Bibi Zhong Lan, lalu dijebak oleh Shen Chunliang, dan di tempat Kak Xueqiao ini...
Menjalani hidup memang sesulit mendaki langit biru.
"Baguslah kalau sudah beres, istirahatlah lebih awal," ujar Kak Xueqiao dengan nada yang tak mampu menyembunyikan kelelahannya. "Aku mau kembali ke kamarmu—ah, maksudku kamarku."
"Jangan dulu, Kak Qiao."
Chunliang melangkah mendekat. "Bukankah malam ini Kakak tidak ada kesibukan lagi? Bagaimana kalau kita bertiga main cangkulan saja, main beberapa ronde sebelum tidur!"
"Kau masih bisa main?"
Kak Xueqiao mengangkat alisnya. "Chunliang, bukankah kau bilang tulang ekormu sakit sampai tidak bisa duduk? Jangan memaksakan diri main kartu."
"Aku baru saja sembuh!"
Chunliang mundur beberapa langkah lalu melakukan gerakan akrobatik. Saat berdiri dengan tangan sebagai tumpuan, ia bahkan sempat bergaya breakdance, lalu melompat dengan satu kaki lurus dan kaki lainnya ditekuk bergantian layaknya orang yang sedang kram sekujur tubuh. "Lihat aku, aku bahkan masih bisa main tali karet! Bola kecil, tendang kaki, bunga mekar dua puluh satu, dua delapan dua lima enam tujuh..."
Kak Xueqiao tertawa kecil. "Baiklah, kalau begitu kita main. Tapi kalau kau kalah, jangan menangis ya."
"Keberuntunganku sedang bagus malam ini! Aku pasti akan dapat dua kartu Joker dan empat kartu dua!"
Chunliang menyingsingkan lengan bajunya sambil memberiku isyarat mata. "Kita buat kejutan, ya kan, Xuexi!"
"Kau bahkan tahu cara membuat kejutan?"
Aku mendengus remeh. "Siapa kemarin yang kebetulan dapat dua Joker tapi terlalu bersemangat, sampai-sampai mengeluarkan kombinasi empat kartu ditambah dua, dan malah membuang kedua Joker itu?"
...
"Bibi, Manajer Xu ini benar-benar sibuk ya. Janji jam lima, tapi tiba-tiba malah ada rapat. Menjadi orang yang bertanggung jawab memang tidak mudah."
Pukul enam sore, aku dan Chunliang duduk di dalam mobil di bawah apartemen Manajer Xu, menunggu dengan tenang kedatangannya untuk bertemu.
Langit senja di akhir musim gugur cepat sekali menggelap. Suasana mulai suram, dan daun-daun yang gugur berputar-putar diterpa angin di luar jendela mobil.
Aku mendengarkan musik instrumental sambil melamun menatap kaca depan. "Cepat atau lambat apa urusannya? Prinsip pelayanan kita adalah pelanggan adalah yang utama."
"Bibi, pemikiranmu sungguh tinggi."
Chunliang tertua. Ia tidak suka musik instrumental, telinganya selalu menancap earphone, duduk di kursi penumpang dengan ekspresi jenaka. "Pelanggan adalah yang utama, tapi apakah pelanggan mau membelikan kita asuransi? Coba bayangkan urusan Manajer Xu ini, katanya ada makhluk halus yang menggelitik telapak kaki putrinya. Lalu bagaimana caramu mengatasinya? Apakah kau harus melepas sepatumu dan menunggu digelitik oleh hantu itu?"
Ucapan itu seketika mengingatkanku...
Memanfaatkan waktu sebelum Manajer Xu kembali, aku menoleh kepadanya. "Putri Manajer Xu tidak ada di rumah, kamarnya sekarang kosong. Jika aku ingin segera menemukan akar masalahnya, aku harus memancingnya. Jika benar-benar butuh seseorang yang berbaring di tempat tidur menunggu untuk digelitik telapak kakinya, nanti kau harus berinisiatif ya. Berbaringlah di sana, jangan hanya berdiri dan bermalas-malasan di samping."
"Tunggu, apa maksudmu?"
Chunliang membuka matanya lebar-lebar. "Kau tidak menyuruhku pergi untuk melakukan perawatan kaki, kan?"
"Memangnya siapa lagi?"
Masih bertanya padahal sudah tahu!
"Shen Xuexi, kau ini seorang peramal profesional!"
Chunliang memasang wajah seolah itu adalah hal yang wajar. "Apa gunanya kalau aku yang digelitik? Aku tidak bisa menangkap makhluk itu!"
"Makanya aku akan duduk di sampingmu."
Aku berkata dengan serius. "Chunliang, aku sedang memberimu peran tambahan. Kalau semua pekerjaan kulakukan sendiri, lalu apa gunanya ada kau? Patuhlah. Kalau di rumah Manajer Xu ternyata tidak ada makhluk halus, aku hanya akan membersihkan rumahnya, lalu kita berdua langsung pulang. Tapi kalau ada makhluk halus, kau harus menjadi garda terdepan dan menyumbangkan telapak kaki berhargamu untuk digelitik. Bibi akan melindungimu di belakang dan menjamin kau tidak akan punya kekhawatiran apa pun."
Rasakan itu!
Siapa suruh kau menjebakku duluan!
Lihat saja bagaimana aku mencari cara untuk membalasnya!