Bab 41: Dalam Hidup, Hal Terpenting Adalah Percaya Diri
"Maaf, maaf..."
Sepertinya aku hanya bisa mengucapkan tiga kata itu.
Hatiku sungguh tertekan, semakin berhati-hati malah semakin banyak berbuat salah.
Melihat wajah Purelian yang penuh rasa tidak suka itu, aku tahu dia tidak salah. Memang sekarang aku adalah pembawa sial.
Mungkin setelah menghabiskan kelopak bunga selama empat puluh sembilan hari aku akan membaik, tapi sekarang kan belum selesai!
Memikirkan itu, aku juga jadi tidak berani terlalu dekat dengan Purelian. Kebetulan bertemu Kak Xiu Li, kami mengobrol sebentar. Orang-orang sangat ramai, dan di seberang jalan, sebuah lapak tas kulit berteriak keras-keras dengan pengeras suara, "Huang He itu bukan manusia, bosnya bajingan, bawa kabur entah siapa, tas kulit yang biasanya jutaan, sekarang cuma dua puluh ribu, dua puluh ribu, semua dua puluh ribu!"
Suaranya benar-benar meracuni telinga!
Bersaing sengit dengan para penari dan penyanyi di panggung sebelah sini, terus-menerus memutar iklan yang membuat otak tumpul!
"Xu Xu, murah sekali!"
Kak Xiu Li berteriak, "Aku harus lihat-lihat!"
"Kak Xiu Li, ayahku bilang orang yang suka ambil untung kecil justru akan rugi besar!"
Melihat banyak orang pasar berdesak-desakan di depan lapak tas, aku terpaksa mengingatkan keras-keras, "Jangan pergi! Mana mungkin ada tas kulit asli dua puluh ribu!"
Pasti bohong!
Bukan cuma kakak iparku pernah beli tas jutaan, ibuku saja beli tas kulit yang bukan merek ternama juga tetap ratusan ribu, aku jadi sedikit paham karena sering melihat.
"Ah, lihat saja dulu, lihat juga nggak rugi!"
Kak Xiu Li tersenyum padaku, lalu ikut berdesakan menyeberang ke lapak tas kulit.
Tak ada jalan lain.
Balik lagi, Bibi Xu masih menonton pertunjukan, Purelian entah ke mana.
Aku juga tak betah, setelah pamit pada Bibi Xu, aku pergi ke toko bunga.
Aku membeli tiga pot bunga persegi panjang, ditambah dengan benih dan pupuk yang dulu sempat aku batalkan.
Soal tanah, di gunung banyak, tinggal gali di bawah pohon saja.
Pemilik toko mengenaliku, bahkan menanyakan kenapa waktu itu aku tergesa-gesa masuk ke gang, aku tak ingin cerita hal yang menyeramkan, jadi aku jawab seadanya, "Salah lihat orang." Dia hanya mengangguk, "Terus, ponsel kakakmu sudah ketemu?"
"Belum."
Menyebut ini saja sudah buatku pusing, "Polisi masih nyari, Kak Xiu Li juga ikut-ikutan stres."
"Mana bisa nggak stres."
Pemilik toko menggeleng, "Nak, pot dan pupuk ini nggak usah kamu bawa sendiri ke gunung. Suamiku, pamanmu, sebentar lagi pulang, pas banget dia sedang nggak sibuk, nanti dia antar pot ke rumah Guru Shen, dia tahu jalannya!"
"Nggak usah, Bibi, aku bisa bawa kok!"
Ketiga pot itu terbuat dari plastik keras, ditumpuk jadi satu gampang dibawa, dua kantong pupuk juga pas dimasukkan dalam pot, lengan ini kuat!
"Sudahlah!"
Pemilik toko melambaikan tangan, "Kamu ini lengan dan kaki kecil, bawa apa-apa juga gampang pegal, waktu itu kakakmu datang beli bunga, kamu mau lihat pot mana, dia yang angkat, kamu nggak boleh sentuh sama sekali. Aku memang nggak tahu kenapa kamu tinggal di rumah Guru Shen, tapi dengar dari Bu Feng, kamu mau jadi murid, aku juga nggak paham kenapa harus belajar beginian, tapi sekali lihat kamu, kelihatan dari kecil nggak pernah kerja berat, keluarga pasti sayang banget, kulitmu juga halus. Sekarang kakakmu sudah pulang, tinggal kamu sendirian di sini, aduh, anakku juga kuliah di luar kota, lihat kamu jadi ingat dia. Nggak gampang, jadi jangan sungkan sama Bibi. Suamiku sering antar bunga, nanti kalau perlu apa-apa telepon saja ke toko, nanti langsung diantar ke tempatmu, praktis!"
"Baik, makasih banyak, Bibi."
Aku benar-benar terharu dengan ucapannya.
Tak menyangka, gosip di kota kecil menyebar secepat ini!
Urusan di pasar saja bisa sampai ke toko bunga!
Kalau dipikir-pikir, wajar juga, tempat kecil, banyak orang masih ada hubungan keluarga.
Belum lagi para bibi di pasar, pemilik toko ini juga kenal Kak Xiu Li dari toko ponsel, jadi dia tahu soal aku, bukan hal aneh.
Aku meninggalkan uang, lalu memperkenalkan diri pada pemilik toko, setelah tahu marganya, aku mengangguk, "Baiklah, Bibi He, aku pamit dulu, nanti kalau mau beli bunga lagi aku telepon ke toko."
Sudah kenal.
Nanti bisa sering beli di sini.
"Baik, hati-hati ya!"
Bibi He melambaikan tangan.
Tak kusangka, baru keluar pintu sudah terdengar, "Aduh!" Ternyata Bibi He menabrak pohon keberuntungan di dalam rumah!
Pot bunganya pecah berantakan!
Kebetulan pamannya masuk, melihat itu langsung memarahi, "Matamu buat apa, pohon setinggi itu bisa kamu tabrak juga?!"
Tubuhku gemetar, tak berani kembali membantu, aku mempercepat langkah masuk ke gang!
Sampai di tembok tempat kejadian dulu, batu-bata yang pecah masih menonjol di dinding, sepi tak ada orang, aku menghela napas, mengeluarkan seratus ribu, memasukkannya ke dalam amplop merah yang kubeli di supermarket, lalu menyelipkan secarik kertas yang sudah kutulis sebelumnya—
"Maaf, saya tidak sengaja merusak tembok, mohon dimaafkan."
Aku tutup amplop itu.
Aku khawatir benda ini terlalu ringan ditiup angin, jadi aku ikatkan batu, lalu lemparkan ke dalam halaman lewat tembok.
Kupasang telinga.
Tak ada suara.
Kalau nggak ketahuan, gimana dong!
Aku berdeham, "Tolong! Ada orang merusak tembok! Ada orang merusak tembok!!"
"Siapa lagi nih yang ngerusak tembok!!"
Dari dalam tembok terdengar suara laki-laki yang kukenal, aku langsung lari, begitu sampai di tikungan aku bersandar di dinding, menstabilkan napas.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki di gang, aku mengintip diam-diam, Pak Liu memegang amplop merahku dengan wajah bingung, menoleh ke sana kemari, "Tadi ada anak perempuan teriak, di mana dia, ayo keluar! Sudah ngaku salah itu anak baik! Keluar saja! Nggak perlu uang seratus ribu, temboknya cuma rusak sedikit, nggak ambruk kok! Keluar saja!!"
Aku tersenyum kecut.
Hari ini akhirnya bisa melakukan satu hal yang menenangkan hati.
Baru saja mau pergi, terdengar suara lagi dari gang, "Pak Liu!! Masakannya baru setengah jalan udah buru-buru keluar, ayo balik! Wajan udah gosong! Aku kira tabung gas kamu meledak!!"
Mukaku langsung pucat.
Selesai!
Kayaknya harus ganti wajan juga.
Aku menundukkan kepala.
Cepat-cepat aku kabur.
Ke pasar kayu saja aku nggak berani.
Pertama, aku sudah tanya ke Bibi He, kayu bagus itu mahal, uangku tinggal satu juta delapan ratus ribu, takut nggak cukup.
Jujur saja, sekalipun keluargaku bangkrut, aku masih suka boros, mungkin karena aku belum benar-benar merasakan keadaan keluarga, jadi kalau punya uang ya dihabiskan, tapi kalau sudah habis dan harus minta lagi ke rumah, aku agak sungkan. Dalam hati tetap ingin berhemat, paling-paling beli cemilan, pot, benih, semuanya paling cuma seratus ribu, kalau langsung habis sejuta, aku agak berat.
Kedua, karena soal fisikku, aku takut sial kalau keluar.
Merepotkan orang lain rasanya benar-benar bikin menderita.
Penuh rasa bersalah!
Beberapa hal kalau cuma didengar memang tidak terasa apa-apa, setelah mengalaminya satu per satu, makin lama makin tak berdaya.
Dengan pikiran penuh, aku masuk ke toko kaset.
Tak disangka aku bertemu lagi dengan Shen Chunliang di sini.
Orang tua itu datang untuk menyewa kaset.
Dia memakai syal dan topi, pemilik toko pun tidak mengenali wajahnya, setelah memilih kaset beberapa lama, mungkin merasa panas, dia membuka syal dan pemilik toko kaget, "Chunliang, kenapa mukamu begitu?"
"Jangan tanya."
Shen Chunliang melirikku, "Ketemu pembawa sial, sial deh."
"Pembawa sial?"
Pemilik toko bingung, setelah menerima kasetku, dia menoleh ke arah Shen Chunliang, "Eh, bukannya gadis kecil ini tinggal di rumahmu, kalian nggak saling kenal? Ketemu kok nggak saling sapa!"
"Aku sebel sama dia."
Chunliang membalik kaset sambil berkata, "Sapa-sapaan apaan."
"Wah, kalian habis bertengkar ya."
Pemilik toko tertawa, "Chunliang, kamu kan laki-laki, harus ngalah sama adik perempuan, jangan suka nindas..."
Chunliang menengadah, pemilik toko langsung diam, lalu menoleh padaku, "Nak, kamu tega juga ya, Guru Shen nggak bilangin kamu."
Aku menunduk, "Pak, kalau kasetnya nggak apa-apa aku mau pergi, depositnya nggak usah, kalau Chunliang mau sewa kaset apa saja, aku yang bayarin."
"Oh, baik."
Pemilik toko tersenyum pada Chunliang, "Dengar tuh, adik perempuanmu mau bayarin kamu, jadi laki-laki harus besar hati, jangan pendendam!"
Uang memang berkuasa, bisa bikin orang berkata manis.
Melihat Chunliang yang ogah-ogahan ke aku, aku juga nggak mau cari masalah, langsung putar badan mau pergi.
Di toko ada dua anak kecil sedang bermain, aku menghindari mereka, lalu terdengar pemilik toko berteriak, "Kalau kalian berisik lagi keluar saja!!"
Begitu aku buka pintu, angin dingin masuk, tiba-tiba terdengar, "Brak!"
Aku menoleh, dua anak itu menabrak rak kaset, kaset berhamburan ke lantai, pemilik toko langsung marah, "Sudah kubilang jangan main di toko! Jangan gerak! Kalau kaset pecah, panggil orang tuamu, harus ganti rugi!"
Aku terdiam, dari kejauhan bertatapan dengan Shen Chunliang, dia masih memegang kaset, salah satu matanya menatapku dengan polos tapi penuh ejekan, tanpa suara menggerakkan mulut, "Harusnya kamu yang ganti rugi."
...
"Kakek, Paman Zhou tuh kasetnya pecah sepuluh lebih, dia kira itu gara-gara dua anak kecil tadi nabrak raknya, sekarang lagi cari orang tua mereka buat ganti rugi!"
Saat makan malam, Shen Chunliang masih membahas soal toko kaset, "Padahal semua gara-gara Liang Xuxu bawa sial, harusnya dia yang ganti, Kakek, lihat deh, aku juga jadi kena tusuk sate gulali gara-gara dia! Dia juga ngelap aku pakai tisu, jadi mulutku penuh tisu..."
Aku makan dengan kepala tertunduk.
Nggak ada energi buat membela diri.
Keluar dari toko kaset, aku langsung pulang ke gunung.
Paman datang mengantarkan pot bunga, aku langsung menaruh buku dan mulai menanam bunga.
Menggali tanah, memasukkan ke pot, lalu menurut petunjuk, benih bunga mawar direndam air hangat, baru ditanam.
Bibi He bilang cara ini bisa meningkatkan peluang tumbuh, aku beli benih mawar, coba-coba dulu.
Paman Shen terus berbincang dengan tamu di dalam rumah, setelah tamu pergi, dia keluar ke halaman melihat aku sibuk dengan tanah bunga.
Cukup lama baru dia berkata, "Nggak nyangka kamu benar-benar berbakat jadi tukang kebun, kelihatan serius juga."
Aku tidak menyahut.
Sambil jongkok mengaduk tanah, air mataku menetes deras.
Entah kenapa.
Sejak pulang tadi aku merasa sangat tertekan.
Padahal sedang melakukan hal yang menyenangkan, tapi air mata ini tak bisa kutahan.
Kangen ayah ibu, kangen kakak dan abang, ingin menelpon mereka, tapi tidak tahu harus bicara apa, juga takut mereka khawatir.
Hanya bisa memaksa diri terus melakukan sesuatu, mengalihkan perhatian.
Harus cepat-cepat bahagia lagi.
Pot bunga sudah kutata di dalam rumah, tempatnya sempit, aku tak berani beli terlalu banyak.
Malam hari ruangan ini juga dipakai makan, kalau terlalu penuh nanti Bibi Xu protes.
Sambil sibuk, Paman Shen menontonku dengan penuh minat, melihat aku diam saja, dia mengambil bungkus benih bunga, "Mawar ya, kalau tumbuh subur potmu pasti kurang."
"Aku tahu."
Aku mengisap hidung, "Cuma coba dulu, nanti kalau sudah hangat aku tanam di halaman, sekarang kalau ditanam di luar pasti mati kedinginan, nggak bisa tumbuh."
"Kamu benar-benar sudah siap jangka panjang."
Paman Shen tersenyum tipis, "Kukira kamu akan tiap hari tanya kapan bisa dapat kembali keberuntunganmu."
"Aku memang ingin tanya."
Aku mendongak menatapnya, "Paman Shen, aku ingin tahu, di dunia ini berapa banyak orang seperti aku yang kehilangan keberuntungan, berapa banyak yang bisa mendapatkannya kembali, dan mereka butuh waktu berapa lama."
Siapa sih yang tidak ingin tahu nasib sendiri!
Menunggu itu...
Tanpa harapan, bagaimana bisa menunggu?
Paman Shen menarik napas dalam, seolah-olah aku membuatnya kesal, "Hanya bisa bilang, kamu satu-satunya yang kutemui selama lima puluh tahun berkarir, tentu saja, mungkin kamu bukan satu-satunya, tapi soal yang lain masih hidup atau tidak aku benar-benar tidak tahu, ilmu hitam besar itu, tahu nggak, kamu pernah punya keluarga yang kena penyakit mematikan? Peluangnya kecil kan? Nah, dicuri keberuntungan itu lebih kecil lagi dari itu, aku pernah dengar ada penyakit langka, seluruh tubuh jadi biru, kejang-kejang, bahkan mati muda, tapi itu masih tercatat, dicuri keberuntungan mana bisa tercatat, jadi kamu tanya soal waktu, sama saja dengan tanya ke dinding, yang beruntung hanya kamu, kamu ketemu aku, aku bisa jamin kamu tetap hidup."
Jamin hidup?
Aku tersenyum masam.
Apa ini jualan seafood?
"Paman Shen, hidup begini apa enaknya?"
Kena musibah kelas dunia!
Menjadi penyebar penyakit!
Ke mana-mana bawa sial, lebih parah dari virus flu!
"Oh, mulai putus asa ya?"
Paman Shen melihatku begitu, malah tertawa, "Liang Xuxu harus menenangkan diri dulu sebelum menantang langit lagi."
Aku memalingkan muka, mengembungkan pipi, malas bicara.
"Nggak akan begini terus."
Paman Shen seperti bisa membaca pikiranku, "Nanti setelah kamu habiskan kelopak bunga, dan pinjaman lampu juga lunas, kamu keluar, asal kamu nggak bilang, tak ada yang tahu kamu pengemban nasib buruk, berteman pun, meski tak bisa dibilang normal, tak akan banyak rintangan, kalau yang diajak berteman itu orang tuanya bercerai waktu kecil, pernah mengalami luka berat, atau yatim piatu... Semua itu, dalam istilah kami disebut 'pecah', asal orang itu memenuhi syarat 'pecah', kamu tak akan bisa mencelakainya, tapi sebaiknya jangan dekat dengan orang yang nasibnya mulus, walaupun kamu sudah punya lampu, pada dasarnya kamu tetap pengemban nasib buruk, tetap mempengaruhi keberuntungan mereka, tapi dunia ini banyak orang, berteman juga bisa pilih-pilih, kamu main saja sama orang yang sudah 'pecah', nanti akan saling memahami."
Aku mendengar itu langsung merasa lega, "Paman Shen, maksudnya, kalau aku sudah habiskan kelopak bunga aku nggak akan membahayakan orang lain lagi? Kelopak bunga itu sama saja dengan keberuntungan, walaupun pinjaman, aku tetap punya, kan?"
Paman Shen mengangguk.
"Lalu Purelian termasuk orang yang pernah 'pecah'?"
"Menurutmu?"
Paman Shen mengangkat alis, "Tiga orang di rumah ini, mana yang bukan pernah 'pecah'? Kalau hidupnya mulus, siapa yang mau jauh dari keluarga dan tinggal bareng di sini?"
"Kalau begitu aku nggak perlu khawatir."
Aku tersenyum bodoh, "Paman Shen, aku paling takut menyakiti orang lain, asal aku nggak membahayakan orang, aku akan menjalani hidup dengan baik, hidup itu baru berharga kalau bisa menegakkan keadilan, orang baik nggak boleh mati sia-sia!"
Paman Shen geleng-geleng, "Sudah, nggak sedih lagi?"
Aku mengangguk, "Cuma hari ini aku keluar, nggak sengaja bikin Purelian luka di giginya, terus..."
Kuceritakan dari awal sampai akhir, tetap saja terasa berat, "Paman Shen, aku benar-benar merasa bersalah!"
Mulutku langsung mengerucut, suara tangis keluar dari tenggorokan.
Paman Shen tampak berlebihan, "Kereta api naik ke gunung, ya?"
"Puh!"
Aku hampir tertawa, "Paman Shen! Aku nggak kuat lagi! Aku baru dua belas tahun! Berat banget!!"
Paman Shen tak bisa menahan tawa, "Iya, kamu memang berat, Liang Xuxu, tapi kata-kata itu jangan kamu sendiri yang bilang, jadi nggak kena, aku nggak bisa iba."
"Kamu harus iba sama aku!!"
Aku menangis, "Paman Shen, aku nggak mau jadi korban kayak Wen Dazhai!!"
Paman Shen menahan tawa, menyerahkan tisu padaku, "Coba jawab, kamu sengaja menyikut Purelian sampai kena tusuk?"
Aku terima tisu, tentu saja tidak!
"Lalu, kamu sengaja bikin pemilik toko bunga nabrak pot?"
Aku menggeleng keras, "Bukan, waktu itu aku sudah keluar toko, tapi..."
"Lalu kenapa kamu menyalahkan diri sendiri?"
Paman Shen balik bertanya, "Wajan Pak Liu kamu yang bikin gosong? Dua anak itu kamu yang suruh main sampai jatuhin rak?"
"Bukan!"
Kepalaku hampir copot saking kerasnya menggeleng.
"Nah, itu dia!"
Paman Shen tersenyum lelah, "Segala sesuatu harus dilihat dari hakikatnya, bukan karena kamu, sebaliknya, kamu tak bermaksud jahat, dari mana datangnya kejahatan, soal membahayakan, itu cuma memperbesar masalah kecil, jatuh tergelincir itu sial, ditabrak mobil itu musibah, masa kamu cuma menatap seseorang di jalan, lalu orang itu besoknya tertabrak mobil, kamu harus merasa bersalah dan ikut mengganti rugi? Kalau begitu, kamu terlalu hebat, lebih dari Malaikat Maut, pegang kendali hidup mati orang."
"Paman Shen..."
Aku cemberut, "Aku paham logikanya, tapi tetap saja..."
"Kamu tidak membunuh Boren, tapi Boren mati karena kamu?"
Paman Shen tertawa, "Jangan terlalu besar kepala, hal-hal begitu, bahkan orang biasa juga bisa alami, cuma kamu lagi sial, jadi numpuk semua, ingat saja, lakukan yang terbaik, sisanya itu urusan mereka!"
Siapa sih yang hidupnya tanpa masalah? Purelian kena tusuk sate, besok dia pasti ingat, sate gula jangan dimakan berdiri, nanti kena tusuk lagi, pemilik toko bunga juga harus lebih hati-hati, rumah penuh pot, pasti ada yang jatuh lagi, yang kemarin itu hanya pengingat, Pak Liu keluar rumah lupa matikan kompor, besok-besok bisa-bisa rumahnya kebakaran, apalagi membiarkan anak main di toko, jatuhin rak itu kecil, kalau anaknya ketimpa gimana.
Paman Shen menarik napas, "Banyak hal, kamu hanya lihat satu sisi, belum tentu itu kenyataan keseluruhan, memang kamu pengemban nasib buruk, orang lain bisa kena dampaknya, tapi dalam hidup, kadang itu awal yang baik, ada kerugian yang harus dialami, ada kesalahan yang lebih baik terjadi lebih awal, rasa bersalah itu tanda kamu baik hati, tapi jangan sampai terlarut, hidupmu sudah cukup berat, mengorek diri sendiri hanya buang-buang tenaga, capek nggak?"
Aku terdiam, iya, aku tidak keluar rumah untuk berbuat jahat.
Semua niatku baik.
Mau menenangkan Purelian, beli bunga, ganti rugi, kembalikan kaset...
Apa yang terjadi setelahnya di luar kendaliku!
Nasihat Paman Shen sederhana tapi menenangkan, hatiku perlahan tenang.
"Sudah lebih baik?"
Aku menghapus air mata, "Sudah, terima kasih, Paman Shen."
Sejak tinggal di sini, Paman Shen tidak pernah menggurui, sikapnya juga aneh, kadang sangat galak.
Suka sekali berdebat denganku!
Tapi diam-diam, dia mengajariku banyak hal.
Setelah suasana hati membaik, aku mengobrol sebentar lalu ke ruang utama, awalnya mau membaca, tapi melihat sangkar burung di pintu, "Paman Shen, mau pelihara merpati ya?"
Pagi tadi belum ada sangkar itu.
"Untuk direbus sup."
"Hah?"
Aku melihat merpati putih di dalam sangkar, "Paman Shen, itu lucu sekali, tega juga ya."
"Kan ada kamu."
Nada Paman Shen bermakna, "Ayahmu kan koki, biasa potong ayam bebek, kamu pasti bisa."
"Aku nggak bisa!"
Aku langsung geleng-geleng, "Aku di dapur belum pernah lihat yang hidup, kalau mau sup nanti aku tanya ayah resepnya, tapi buat motong lehernya, aku takut nggak kuat, nanti putus, darahnya nggak tuntas, jadi amis dan tak bisa dimakan!"
Jujur saja!
Aku bukan tipe cewek penakut, bukan tak boleh lihat penyembelihan, di kampung setiap pulang selalu disembelihkan ayam.
Pernah sekali aku nekat, eh, leher ayamnya langsung putus!
Ayamnya belum mati, kepalanya masih di tanganku, tubuhnya lari ke mana-mana!
Bikin trauma!
Sejak itu aku tak pernah mau potong hewan hidup lagi!
Terlalu kejam.
Paman Shen tertawa, "Tenang, itu bukan urusanmu, hari ini aku cuma mau tanya, bunga apa yang paling kamu suka? Azalea? Mawar?"
Kenapa tiba-tiba tanya itu?
Aku bingung menatapnya, "Semuanya suka."
"Yang paling kamu suka."
Dia menatap lengan kananku, matanya dalam, "Pikirkan baik-baik, kalau sudah pilih tak bisa diubah lagi."
Maksudnya apa?
Melihat Paman Shen serius, aku berpikir, "Peony deh."
Dalam mimpi, peri pemimpin juga keluar dari bunga peony, waktu beli bunga aku sempat tanya Bibi He soal benih peony, sayang di tokonya belum ada, kalau ada pasti aku coba tanam hari ini!
"Baik."
Paman Shen mengangguk, lalu ke meja, mendorong buku catatan ke arahku, "Aku ingat ayahmu bilang, kamu pernah belajar menggambar, lumayan juga, sekarang coba gambar bunga peony, aku mau lihat."
Aku benar-benar nggak paham maksudnya!
Tapi aku nggak banyak tanya, langsung ambil pena, bunga itu gampang!
Gambarkan saja bulatan-bulatan.
Peony kelopaknya banyak, jadi aku gambar banyak bulatan, tumpuk-tumpuk saja.
Nggak sampai lima detik.
Kutaruh penanya.
Sempurna.
Paman Shen menatap "lukisanku" lama tanpa suara, "Ini peony?"
"Iya."
"Kamu pernah lihat peony?"
"Pernah!"
Aku menunjuk gambar, "Ya kayak gini."
"Aliran ekspresi ya."
Tatapan Paman Shen aneh, "Lalu, waktu kecil... lukisan foto keluarga kalian kayak apa?"
"Oh, itu gampang."
Aku langsung menggambar lima orang, kepala bulat, tubuh batang korek, ibu, kakak perempuan, dan aku berambut panjang, ayah dan kakak laki-laki rambutnya seperti landak, selesai aku letakkan pena, "Paman Shen, ayahku bilang aku sangat berbakat, lukisan itu sampai dibingkai di rumah, cuma aku belajar terlalu banyak, jadi nggak sempat serius belajar melukis."
Paman Shen menahan napas, seperti tersedak, lama kemudian baru bicara, "Liang Xuxu, kamu benar-benar anak kandung ya."
"Paman Shen, gambarku jelek ya?"
Aku mengangguk sendiri, "Memang sekarang mungkin biasa saja, tapi aku belajar waktu umur empat tahun, sudah lama nggak latihan, jadi nggak banyak kemajuan, aku sendiri merasa lumayan, guru di sekolah juga bilang, aku masih punya banyak potensi."
"Percaya diri itu bagus."
Paman Shen menutup buku gambar, seperti matanya sakit, memijit dahi, lalu seolah teringat sesuatu, "Oh ya, ayahmu juga bilang, kamu bisa banyak alat musik, serba bisa, bisa main piano, erhu, seruling, juga suling pendek, benar?"
"Iya."
Aku mengangguk, "Bisa!"
"Bisa main lagu apa di piano?"
Paman Shen mengangkat alis, "Fur Elise?"
"Ah, itu nggak bisa!"
Aku langsung jawab, "Aku bisa main lagu Aku Tukang Cat, pernah tampil di acara tahun baru sekolah, dapat penghargaan partisipasi terbaik!"
Pipi Paman Shen tampak bergetar, "Seruling? Bisa lagu apa?"
"Aku Tukang Cat juga!"
"... Eh hem."
Paman Shen membersihkan tenggorokan, "Erhu, jangan-jangan..."
"Erhu aku bisa main lagu Perpisahan!"
Aku jawab, "Itu diajarkan kakek di kampung, kalau ada erhu di sini aku bisa mainkan!"
"Nggak usah, nggak usah..."
Shen Wantong langsung geleng kepala, "Di rumah cuma ada suling pendek."
Aku merasa dia meragukan kemampuanku, "Suling pendek juga bisa, aku jago mainnya, kakek yang mengajariku bilang aku sudah dapat intinya, dengar saja pasti terharu!"
Dari sekian banyak alat musik, suling pendek memang rajanya.
Begitu musiknya terdengar, semua orang terdiam!
Liriknya juga aku hafal!
"Benarkah?"
Paman Shen agak ragu, berdiri mengambil suling pendek dari lemari, memberikannya padaku, "Coba, lihat bisa bikin aku terharu nggak?"
"Oke."
Aku terima, aku lap dulu, suasana aku siapkan, begitu siap langsung aku tiup, belum lama nada berkumandang, Shen Wantong langsung membelalak, "Liang Xuxu! Itu lagu penguburan, upacara kematian!!"
"Oh."
Aku berhenti, "Paman Shen, sabar, nanti juga bisa nangis, aku saja kadang main lagu ini jadi nangis sendiri."
"Pergi, pergi!"
Shen Wantong langsung mengangkat penggaris mau mengusirku, "Kamu mau kubawa pergi sekalian!!"
Aku langsung berhenti pamer, letakkan suling, lalu kabur sambil tertawa, "Paman Shen, aku cuma bercanda!"
Kakek yang mengajariku memang khusus main di pemakaman, dia selalu berkata, "Pertama dengar tak paham makna suling, dua kali dengar sudah jadi orang di peti, di jalan arwah tubuh makin kurus, di menara kenangan terbayang masa lalu."
"Paman Shen! Kalau mau aku mainkan lagu Tukang Cat saja, itu lagu bahagia!"
"Pergi!!"
"Paman Shen, gambarku memang biasa, tapi ayahku bilang, yang penting itu percaya diri, asal aku merasa gambarku bagus, yang bilang jelek itu cuma nggak bisa menghargai!"
"Pergi! A Ming, tolong!"
Paman Shen sampai ingin mengusirku dari dunia.
Aku tertawa lepas, setelah berulah, suasana hatiku jadi jauh lebih baik.
Sampai akhirnya Bibi Xu dan Purelian pulang.
Saat makan Purelian mengungkit lagi soal aku, aku jadi tertekan lagi.
Luka itu...
Ditusuk pasti sakit.
"Purelian, laki-laki sejati, masa segitu pendendam?"
Paman Shen meliriknya, "Nggak usah bahas Liang Xuxu salah atau benar, dia sudah minta maaf dengan tulus, hari ini juga dia benar-benar tak sengaja, kamu terus-terusan mengungkit, malah bikin orang kesal."
"Kakek!"
Purelian cemberut, "Minta maaf doang, meja aku juga rusak gara-gara dia!"
"Maaf."
Aku menunduk minta maaf lagi, sebelum makan aku memang sudah menemui Paman Shen, meski sayang, aku tetap ingin menunjukkan niat baik, memberinya sejuta, tapi Paman Shen menolak, katanya niatku sudah cukup, lagi pula meja Purelian itu dari kayu mahal, uangku nggak cukup, jadi aku nggak memaksa.
"Bagaimanapun juga, niat baik Liang Xuxu sudah ada."
Paman Shen menegaskan pada Purelian, "Dia sudah berusaha menyenangkanmu, bahkan mentraktir kamu, kalau kamu masih nggak tahu diri, aku hukum kamu."
"Kakek, kamu berubah!!"
Purelian berdiri marah, "Sejak dia datang, kakek berubah! Tak lagi baik padaku! Aku ini cucumu! Dia cuma pembawa sial! Kamu bantu dia juga bakal sial!"
'Plaak!!'
Aku terkejut, memandang, ternyata Paman Shen menampar Purelian, "Dasar bocah! Sepuluh tahun aku besarkan kamu hanya untuk jadi sepicik ini? Kalau tahu begini, dulu seharusnya aku nggak mengadopsimu! Biar kamu mati di jalan!"
Purelian langsung menangis, tubuhnya kaku menatap Paman Shen, lama menahan emosi lalu mengangguk, "Baiklah! Biar aku mati saja! Toh aku cuma anak nakal!!"
Setelah itu dia lari.
"Eh!"
Melihat Purelian keluar halaman aku jadi cemas, "Paman Shen, di luar sudah gelap, dia..."
"Biarkan saja."
Bibi Xu makan sambil berkata, "Anak itu tiga hari nggak dipukul, pasti berulah, tadi malam juga, nonton drama Korea, maunya si ini si itu paling ganteng, padahal kalau tanya aku, Dao Ming Si paling ganteng, gaya rambutnya keren."
Aku, "..."
Aku menoleh ke Paman Shen, dia tetap makan seolah tak terjadi apa-apa, suasana pun jadi mencekam, aku tak berani banyak bicara.
Aku hanya makan dengan tertekan, setelah selesai Paman Shen langsung ke kamar utama untuk istirahat.
Bibi Xu beres-beres meja lalu masuk kamar menonton Dao Ming Si.
Tak satu pun keluar mencari Purelian.
Aku bilang ke diri sendiri, tidak apa-apa.
Kalau mereka saja santai, kenapa aku harus panik?
Tapi di kamar, aku jadi sering menengok ke halaman, entah kenapa jadi gelisah.
Waktu berlalu, hampir tengah malam, Purelian belum juga pulang.
Aku tak bisa tidur, lalu membuka kain merah di atas azalea, "Azalea kecil, menurutmu Purelian itu aneh nggak sih? Dia cucu Paman Shen, meski bukan kandung sudah sepuluh tahun dipelihara, kenapa terus bersaing denganku, kalaupun aku nggak ada, apa dia yakin Paman Shen tak akan punya cucu lain?"
Tak ada yang cari dia, itu salah sendiri!
Hatinya sekecil lubang jarum.
"Aku bisa mengerti dia."
Azalea kecil menjawab lembut, "Kak Xu Xu, kamu punya orang tua, kakak, abang, kamu tak kekurangan kasih sayang, kamu tak tahu rasanya hanya punya satu orang yang peduli, seperti aku, cuma kamu yang merawatku, aku takut nanti kamu punya bunga lain kesayangan, punya peony, mawar... Saat itu, aku pasti ingin kamu lebih memperhatikanku, lebih peduli, kalau kurang tepat mengungkapkan, jadinya seperti cemburu, memang cemburu, tapi bukan berarti aku tak bisa menerima bunga lain, hanya takut kamu melupakan aku."
"Azalea kecil, tidak akan!"
Aku menyentuh kelopaknya, "Meski aku tanam banyak bunga, hanya kamu satu-satunya azalea kecilku!"
"Aku tahu..."
Azalea kecil suaranya jadi malu, "Kak Xu Xu, Purelian juga ingin Paman Shen berkata begitu padanya, tapi Paman Shen tidak mengatakannya, mungkin karena dia orang tua, dalam hati sama saja, tapi ucapan beda, tapi aku yakin, Paman Shen sangat peduli Purelian, Kak Xu Xu, sebaiknya kamu cari Purelian, aku cium dia tak jauh, masih di gunung, mungkin dia memang menunggu keluarganya mencari, kalau tak dicari, dia akan sangat sedih."
Iya juga.
Aku menghela napas, "Aku akan ajak Paman Shen keluar cari Purelian, nanti aku mau bicara baik-baik, aku akan lebih baik padanya, supaya dia merasa ada yang peduli."
"Benar, Kak Xu Xu, kamu kakak terbaik!"
Aku tersipu, menutup azalea dengan kain merah, lalu pergi ke kamar utama, mengetuk pintu, "Paman Shen, sudah tidur?"
"Sudah tidur."
??
Aku berdiri di luar tak bergerak, "Paman Shen, ayo temani aku cari Purelian, gimana kalau dia ketemu binatang buas? Ketemu hantu?"
"Biarin!"
Paman Shen dari dalam kamar menjawab lantang, "Ketemu binatang ya dimakan, ketemu hantu lihat aja dia bisa ngomong buat ngerjain setan nggak! Sepuluh tahun ikut aku, kalau hantu kelas rendahan saja tak bisa diatasi, pasti tetap mati! Nggak punya otak nggak pantas jadi ahli! Nggak bisa adaptasi itu omong kosong!!"
Aku jadi bingung.
Ini marahin siapa sih?
"Liang Xuxu, kamu kan juga sebel sama dia? Aku ini bantu kamu melampiaskan! Sudah, tidur sana!"
"Begitu ya..."
Tak ada jalan lain, aku ke kamar Bibi Xu, dia belum tidur, sedang merajut di tempat tidur, saat aku bilang tengah malam malah tertawa, "Liang, kamu ingatkan aku, sudah lewat jam dua belas, sudah tanggal satu, Purelian pasti kambuh, pas banget, biar dia semalaman main sama setan, kalau rohnya diambil, aku juga lega, tak perlu rawat dia lagi!"
"Bibi Xu..."
"Apa?"
Bibi Xu melotot, "Kenapa Paman Shen menampar Purelian? Itu demi kamu, kalau berani cari sendiri, keluar rumah saja takut, sok baik!"
"Aku..."
Bikin aku sebal!
Dua orang tua ini hatinya besar banget!
Bagaimanapun aku dan Purelian ada masalah, tapi masa dibiarkan saja di luar rumah?
Kalau aku kabur dari rumah, apa ayah ibuku...
Sudahlah.
Nggak bisa dibandingkan!
Setelah lama menahan, aku bawa jimat pelindung pemberian Paman Shen, menghela napas dalam-dalam di halaman, lalu berteriak ke dua kamar yang masih menyala, "Aku cari sendiri ya! Kalau ada apa-apa aku pakai mantra! Paman Shen! Kamu harus..."
Klik~
Dua kamar itu kompak mematikan lampu.
Eh!
Sengaja nih.
Aku mulai curiga Paman Shen sengaja biar aku cari Purelian, supaya kami jadi akrab?
Aku merenung, memberanikan diri keluar halaman, jujur saja, sejak ketemu gadis yang berubah jadi kucing itu, siang hari saja aku tegang, selalu waspada, sedikit suara langsung siapkan jimat ke mulut, sekarang kalau minum air juga sekali teguk, makan juga langsung habis, latihan tenggorokan demi bisa cepat bertindak kalau ada bahaya!
Angin malam menderu.
Dahan pohon berderak-derak.
Aku pegang senter, menoleh ke sana kemari, siang lihat hutan biasa saja, malam gelap jadi menyeramkan, sering salah lihat batang pohon seperti orang berdiri, benar-benar bikin merinding!
"Purelian, Purelian..."
Aku terus turun gunung sambil memanggil, lama-lama sendiri takut, mirip memanggil arwah!
"Shen Purelian!!"
Aku tambah keras, "Cepat keluar!! Paman Shen suruh kamu pulang! Purelian!!!"
Tengah malam begini, memanggil pun terasa aneh!
Kalau sudah tahu ilmu, jadi sadar banyak pantangan itu bukan tanpa alasan, katanya kalau jalan malam dipanggil jangan disahut.
Takut arwah memanggil.
Kalau dipikir, zaman dulu banyak pembunuh bayaran, asal kamu sahut, langsung tahu identitasmu, bisa dibunuh.
Lainnya juga begitu, kaca tak boleh menghadap tempat tidur, bangun tidur lihat diri sendiri juga serem.
Sepatu habis dipakai jangan menghadap ke tempat tidur, nanti susah dipakai.
Rumah lama kosong, sebelum tidur pindahkan tempat tidur, katanya takut arwah nempel, sebenarnya sih biar tahu rumah sudah ditempati lagi.
Kalau rumah kosong lama, siapa tahu ada orang ngumpet.
Pindahkan perabot, sambil bersih-bersih sekalian cek, kalau ada orang di kolong kasur, bisa berbahaya.
Kelihatannya mitos, tapi banyak filosofi hidup masyarakat.
Nenek moyang kita memang luar biasa.
Aku melamun, mengalihkan perhatian, sambil terus memanggil Purelian.
Sampai di percabangan jalan, terdengar suara gesekan, aku langsung berputar menyorot senter, "Siapa!!"
Sebuah bayangan hitam bersembunyi di balik semak berduri, begitu tersorot, dia menutup wajah, "Pergi!!"
Purelian?
Baru kali ini aku bisa bernapas lega.
Aku lari menghampiri, menyingkirkan ranting, "Ngapain di sini, bikin takut orang saja, cepat keluar!"
"Nggak usah urusi aku!"
Shen Purelian jongkok di tanah, suaranya parau, "Kamu pura-pura baik! Kamu bikin kakek nggak suka aku lagi!"
"Siapa yang bikin..."
Baru mau marah, tapi sadar ini nggak ada ujungnya!
Dia mirip benih dendam kecil, aku apapun tetap dibantah!
"Purelian, aku ke sini mau minta maaf, Paman Shen yang suruh aku minta maaf, dia juga belum setuju terima aku jadi murid, jadi di rumahmu aku tamu, tamu harus lebih banyak mengalah, makanya dia lebih baik ke aku, kamu kan cucunya, keluarga, makanya dia langsung terus terang, Purelian, Paman Shen menamparmu itu tanda sayang, kata orang tua, dipukul itu sayang, dimaki itu cinta, ditampar itu sayang banget!"
Aduh!
Aku sendiri nggak percaya.
"Benarkah?"
Syukurlah dia percaya!
Purelian mengusap hidung menatapku, habis lama di luar pasti kedinginan, gemetar berdiri, "Kakek yang suruh kamu cari aku?"
"Kalau bukan?"
Aku berekspresi berlebihan, "Paman Shen panik banget, suruh aku cepat cari kamu, kalau nggak ketemu aku juga nggak boleh pulang! Bibi Xu juga, dia bilang kalau kamu nggak pulang dia nggak bisa tidur! Katanya Dao Ming Si paling ganteng! Purelian, ayo kita pulang!"
Angin berdesir—
Lingkungan terlalu seram.
"Sudah kuduga."
Purelian tersenyum dengan pipi merah karena dingin, "Kakek tetap sayang aku, kamu nggak bisa menyaingi."
"Iya, aku nggak bisa saingi."
Aku membujuk, membantunya keluar dari semak, menarik lengannya, "Purelian, kamu makan tadi juga nggak habis, pasti lapar, Bibi Xu nyisihin roti buat kamu, masih hangat di panci..."
"Itu apa?"
Purelian baru melangkah, tiba-tiba menatap jalan kecil, aku ikut menoleh, langsung merinding!
Tiba-tiba di jalan kecil yang tadi sepi, ada sebuah warung, mirip warung sarapan, di atas meja ada kukusan, sepasang kakek nenek sedang sibuk, tapi sekali lihat, mereka dan warungnya bersinar kehijauan!
Penuh aura menyeramkan.
Pasti bukan manusia!
"Purelian, jangan lihat, ayo pergi..."
Meski aku sudah cukup 'berpengalaman', tetap saja kaki gemetar, kutarik Purelian ingin kabur.
Kalau tidak diganggu, aku juga tak perlu ribut, mending kabur saja!
"Eh! Jangan urusi aku!!"
Purelian mendorongku, tenaganya besar sekali, "Ada makanan!!"
"Itu bukan!!"
Aku terdorong hampir jatuh, melihat kakek nenek itu menatap dan tersenyum, hatiku makin ciut, kugigit bibir dan berbisik, "Kamu bodoh ya, ayo pergi..."
"Sini, sini."
Kakek nenek itu melambai, gerakannya kaku dan aneh, "Dingin, ayo minum bubur dulu."