Bab 51: Tiba di Tanah Kutub Utara
Zoe pun mencabut pedang iblis yang sebenarnya tidak ingin ia gunakan, lalu berkata, “Konon katanya ular berkepala sembilan tak akan mati selama salah satu kepalanya masih utuh. Maka hari ini, aku terpaksa harus mengusirmu dengan cara yang kasar. Mohon maklum!”
Setelah berkata demikian, wajahnya yang semula tersenyum berubah menjadi sangat serius. Hal ini membuat semua orang yang melihatnya merasa tidak biasa. Wajah Zoe saat marah memang sangat menakutkan, tapi tatapan serius yang ia tunjukkan kali ini bahkan lebih mengerikan daripada saat ia marah hingga mata dan rambutnya berubah dari hitam menjadi putih.
Tepat ketika Zoe bersiap untuk bertarung, Tina dengan baik hati mengingatkannya, “Kau berniat bertarung di sini? Tidak ingin melihat kondisi kapal dulu?”
Barulah Zoe menoleh ke sekeliling setelah mendengar ucapan Tina, dan ia pun menyadari... geladak kapal sudah tidak berbentuk seperti kapal lagi... Jika pertarungan ini diteruskan, tidak lama lagi kapal pasti akan tenggelam. Terpaksa Zoe memindahkan arena pertempuran ke tepi sungai, dan ular berkepala sembilan pun dengan kooperatif menyerbu ke arahnya. Ular itu sudah dibuat sangat marah oleh Zoe, sehingga sama sekali tidak memperdulikan orang lain...
Semua orang melihat Zoe berlari menuju tepi sungai, ingin menghentikannya, tapi pertama, mereka tidak memiliki ilmu meringankan tubuh seperti Zoe, dan kedua, mereka sudah kehabisan tenaga. Sementara Tina sama sekali tidak peduli pada hidup-matinya Zoe, sehingga mereka hanya bisa menyaksikan Zoe dan ular berkepala sembilan bertarung dari kejauhan, sementara kapal terus melaju semakin jauh, meninggalkan arena pertarungan mereka di belakang.
Begitu Zoe menjejakkan kaki di tepi sungai, ia langsung berhenti dan menatap dingin ke arah ular berkepala sembilan. Tatapan itu membuat kemarahan ular yang tadinya berniat segera membunuh Zoe lenyap seketika, berganti dengan perasaan takut yang samar. Bukan takut pada kekuatan Zoe, melainkan pada aura yang ia pancarkan, yang perlahan-lahan meningkat hingga setara dengan seorang kesatria suci.
Meski aura bukanlah segalanya, firasat keenam si ular berkepala sembilan berkata bahwa keadaan ini sangat tidak menguntungkan baginya.
Ia tidak tahu mengapa aura Zoe kini sangat berbeda dari saat bertarung sebelumnya, namun ia sadar Zoe yang sekarang bukanlah lawan yang bisa ia kalahkan. Nalurinya ingin melarikan diri, namun kesombongannya menahannya, sehingga ia tetap bertahan menatap Zoe.
Sementara itu, begitu sampai di tepi sungai, Zoe telah mengambil keputusan dan mengaktifkan jurus terlarang dari seni bela diri bayangan. Ini adalah satu-satunya cara untuk tidak membunuh ular berkepala sembilan, namun cukup membuatnya ketakutan hingga melarikan diri. Setelah memikirkan itu, Zoe mulai melancarkan bagian pembuka dari jurus terlarang itu, tentu saja dengan meningkatkan auranya. Jika aura itu cukup untuk menakuti ular berkepala sembilan hingga lari, itu yang terbaik; jika tidak, setidaknya bisa membuatnya gentar.
Orang-orang di atas kapal merasakan aura itu dan sangat terkejut, bahkan Tina pun merasa sesak napas, meski segera dapat mengendalikannya. Sementara Elena merasa sedikit cemas, seolah-olah Zoe akan menghadapi bahaya besar. Beberapa kali ia hampir ingin berlari membantu Zoe, namun demi melindungi sepuluh bayangan dan Rodman yang sudah tidak berdaya, semua orang harus bertahan di atas kapal dan hanya bisa menunggu tanpa daya.
Tiba-tiba, tekanan setara kesatria suci itu lenyap, berganti dengan ketenangan yang sunyi tanpa suara... selain Tina, tak seorang pun di kapal tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi...
Setelah auranya mencapai puncak, Zoe perlahan mengangkat pedang iblis di tangannya. Ular berkepala sembilan sudah meningkatkan kewaspadaannya ketika melihat Zoe mengangkat pedang, namun apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaannya.
Dalam pertarungan sebelumnya, ular berkepala sembilan sudah mengetahui kira-kira seberapa cepat gerakan Zoe. Meski ia sendiri tak mampu mengimbanginya, ia tidak sampai kehilangan kendali. Namun kali ini sangat berbeda, Zoe menghilang dari tempatnya dalam sekejap, bahkan bayangannya pun tidak sempat mengikuti. Dalam waktu kurang dari satu detik, Zoe sudah muncul di hadapan delapan kepala ular itu secara bersamaan, artinya Zoe telah membagi dirinya menjadi tujuh bayangan angin.
Saat delapan Zoe muncul di depan delapan kepala ular, dalam kecepatan luar biasa, Zoe menebas delapan kepala sekaligus. Dalam sekejap itu, ular berkepala sembilan sama sekali tidak sempat bereaksi, dan ketika ia menyadarinya, semuanya sudah terlambat.
Saat itu, ular berkepala sembilan benar-benar merasakan betapa mengerikannya Zoe. Untungnya, setelah menebas delapan kepala, Zoe tidak melanjutkan serangan dan hanya menatap dingin ke arah kepala terakhirnya.
Karena Zoe tidak bergerak, ular berkepala sembilan pun tak peduli lagi pada harga dirinya, ia segera melarikan diri dan dalam sekejap telah lenyap dari hadapan Zoe. Zoe akhirnya bisa menghela napas lega, lalu dengan sisa tenaganya kembali ke kapal, bahkan kali ini ia berlari di atas permukaan air. Jika ada yang melihat, pasti akan sangat terkesima, asalkan mereka bisa mengikuti kecepatan Zoe dan memang ada yang melihatnya.
Saat orang-orang di atas kapal kembali melihat Zoe, ia sudah berada di atas kapal. Namun ketika semua merasa lega, Zoe tiba-tiba ambruk dan kulitnya terus mengeluarkan darah segar. Pemandangan ini membuat semua orang di kapal tidak akan pernah melupakannya, bahkan Tina yang angkuh pun tidak bisa melupakan kejadian itu...
Penyebab Zoe menjadi seperti itu adalah karena ia menggunakan jurus terlarang ‘Transendensi’ dari seni bela diri bayangan untuk meningkatkan kemampuannya melampaui batas tubuhnya sendiri. Sebenarnya Zoe bisa saja mengalahkan ular berkepala sembilan dalam keadaan normal, tetapi pada akhirnya ular itu pasti akan mati kehabisan tenaga, bukan lari ketakutan. Hanya dengan kemenangan telak ia bisa membuat ular berkepala sembilan merasa benar-benar tak berdaya. Karena itulah, setelah menaklukkan ular itu dan kembali ke kapal, Zoe sudah mengalami luka yang sangat parah.
Dengan kekuatan yang jauh melampaui batas manusia, angin yang diam saja bagai bilah pisau mengoyak kulit Zoe, kekuatan yang cukup untuk menebas sisik keras ular berkepala sembilan menghancurkan otot-otot tubuhnya dalam sekejap. Jika ia bisa beristirahat dengan tenang selama setengah tahun, mungkin ia bisa pulih kembali... itulah pikiran terakhir Zoe sebelum akhirnya jatuh pingsan...
Begitu Zoe jatuh, semua orang—kecuali yang benar-benar tidak bisa bergerak—bergegas menghampirinya, memeriksa apakah Zoe masih bernapas. Setelah tahu ia hanya pingsan, semua akhirnya bisa bernapas lega. Walaupun mereka tidak tahu apa penyebab Zoe mengalami kondisi aneh itu, mau tak mau mereka hanya bisa menunggu hingga Zoe sadar untuk mengetahui jawabannya.
Untuk pertama kalinya, Tina menaruh hormat pada Zoe. Seseorang yang rela mempertaruhkan nyawa demi bawahannya adalah orang yang paling layak dihormati, meskipun menurutnya agak bodoh...
Selama Zoe belum sadar, Elena dan Xiao Ruan tidak pernah beranjak dari sisinya. Semua orang merasa wajar jika Elena selalu menemani Zoe, tapi bagaimana dengan Xiao Ruan? Ia seekor binatang primordial, kenapa ia melakukan hal yang tak bisa dijelaskan ini? Itulah pertanyaan yang tak terpecahkan bagi sepuluh bayangan dan Elena, namun akhirnya mereka hanya membiarkannya.
Saat Zoe terbangun, rombongan mereka hampir tiba di Tanah Kutub Utara, udara sangat dingin, untung saja Zoe sudah bersiap sebelumnya, jika tidak ia pasti sudah membeku seperti manusia salju.
Zoe pun menceritakan kejadian pertarungannya dengan ular berkepala sembilan dan sebab ia terluka, kecuali ia menyembunyikan hubungan pribadi antara dirinya dan ular itu. Meskipun semua orang merasa sangat penasaran, setiap kali mereka bertanya, Zoe selalu mengalihkan pembicaraan, jelas ia tidak ingin orang lain tahu. Karena Zoe tidak mengizinkan mereka mengetahui lebih banyak, akhirnya mereka hanya bisa menahan rasa penasaran itu.
Sesampainya di Tanah Kutub Utara, barulah mereka tahu apa arti kata ‘dingin’. Karena sepanjang tahun tanah itu tertutup es dan suhunya sangat rendah, Zoe yang tubuhnya masih lemah harus berjalan dengan ditopang orang lain.
Semua orang berdiri di geladak, menatap hamparan salju putih yang luas di Tanah Kutub Utara, pemandangan yang sangat menakjubkan. Melihat semua orang tertegun menatap pemandangan di depan mata, Zoe pun akhirnya memanggil mereka agar sadar.
Saat itu barulah mereka tersadar dari keterpakuan, turun dari kapal, namun tetap saja sesekali memuji keindahan pemandangan yang ada di depan mereka.