Bab 100: Penampakan
Ketika Long Zhibin masih penasaran kenapa Long Xinming tak kunjung bisa dihubungi, alat komunikasi bintangnya tiba-tiba berdering.
Long Zhibin buru-buru melirik layar, ternyata Long Xinming yang menghubunginya lebih dulu.
“Ada urusan apa sehingga Penatua Kedua terus mencoba menghubungi saya?” Suara dingin Long Xinming terdengar dari alat komunikasi itu.
Long Zhibin merasa nada bicara Long Xinming aneh, tanpa sedikit pun emosi yang tercampur di dalamnya.
Meski merasa aneh, Long Zhibin tetap bersemangat dan berkata, “Penatua Agung, urusan di Sektor Bintang Ze Lan sudah selesai dengan sempurna. Hasil kali ini bahkan lebih banyak dari saat di Sektor Bintang Qian Long. Sekarang kami bersiap untuk pulang, jadi bagaimana kalau nanti Penatua Agung menyiapkan pesta perayaan untuk kami?”
Setelah berkata begitu, Long Zhibin masih sangat bersemangat.
Namun suara dingin Long Xinming kembali terdengar, “Pesta perayaan akan saya siapkan.”
Nada bicaranya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan atau kegembiraan, seolah-olah apa yang Long Zhibin katakan itu hal sepele.
“Penatua Agung, kenapa Anda tampak sama sekali tidak bersemangat?” tanya Long Zhibin penasaran mendengar nada bicara yang sedingin itu.
Dulu, setiap kali ada kabar baik seperti ini, Penatua Agung pasti sangat gembira. Namun sekarang ia justru luar biasa dingin.
“Tidak apa-apa. Segeralah kembali.” Setelah berkata demikian, Long Xinming langsung memutuskan sambungan. Ia harus segera melapor pada Xie Mei tentang kabar ini.
Dengan kembalinya Long Zhibin, Xie Mei akan memperoleh sekelompok pelayan jahat baru.
Long Xinming kemudian berbalik masuk ke dalam gua.
Pada saat itu, Xie Mei sudah selesai berpakaian. Ia menatap Long Xinming dan bertanya, “Urusan sudah selesai?”
Long Xinming menjawab dengan gembira, “Sudah selesai. Orang-orang yang dikirim ke Sektor Bintang Ze Lan akan tiba di Kota Sembilan Naga dalam beberapa hari. Saat itu, Tuan akan mendapat tambahan pelayan jahat.”
Di depan Xie Mei, Long Xinming tak lagi menunjukkan sikap dinginnya, bahkan terlihat sangat bahagia.
“Tunggu sampai mereka tiba, baru mulai bertindak,” ujar Xie Mei dengan santai.
Setelah beberapa kali mandi darah, kini ia sudah jauh membaik.
Ia kembali menyalurkan segumpal kabut hitam ke dalam jantung Long Xinming. Long Xinming pun mengucapkan terima kasih dengan penuh sukacita dan keluar.
Kini Long Xinming telah mencapai tahap pertengahan Tingkat Dewa.
Sementara itu, Long Zhibin yang tak bisa lagi menghubungi Long Xinming hanya bisa terpaku. Ia merasa ada yang sangat tidak beres dengan keadaan Long Xinming sekarang.
Intuisinya memberitahu bahwa mungkin telah terjadi sesuatu di Kota Sembilan Naga, namun apa yang sebenarnya terjadi baru akan ia ketahui setelah kembali.
Di reruntuhan Menara Langit di Kota Biru Tua.
“Apa yang sedang kau cari?” tanya Lan Li pada sebuah bayangan di sudut gelap.
Sang Penguasa Bayangan pun muncul dari dalam kegelapan.
“Di mana menara itu, tua bangka?” tanya Penguasa Bayangan tanpa basa-basi.
Sejak tiba di Kota Biru Tua, ia sudah menyadari menara yang ia cari telah lenyap.
Ia mencari di reruntuhan itu berhari-hari namun tetap tidak menemukan jejak menara tersebut.
“Kapan pemimpin Kuil Bayangan jadi suka bertindak diam-diam begini?” Lan Li mengeluarkan dua kursi dari cincin bintangnya, melempar satu ke Penguasa Bayangan dan duduk di kursi satunya. “Duduklah, mari kita bicarakan baik-baik. Aku tidak boleh mengabaikan tamu.”
Penguasa Bayangan pun menerima kursi itu dan duduk tanpa sungkan.
“Tua bangka, kalau waktu itu bukan karena roh menara membantumu, mana mungkin kau masih hidup sampai sekarang? Di mana menara itu? Katakan padaku!” Penguasa Bayangan kembali menanyakan soal menara pada Lan Li.
Sebelum Perang Kebangkitan Dewa pecah, Penguasa Bayangan pernah datang ke Ze Lan, yang dulu belum bernama Kota Biru Tua.
Saat itu, Lan Li bukanlah tandingan Penguasa Bayangan, hingga akhirnya Penguasa Bayangan terluka parah oleh roh menara dan tertidur panjang, lalu menghilang tanpa jejak.
Hingga beberapa waktu lalu, Qin Ruo membangunkan kembali roh menara itu.
Lan Li terkekeh, tidak mempedulikan sebutan tua bangka dari Penguasa Bayangan. “Beberapa hari lalu aku memang merasakan keberadaanmu. Ternyata kau masih belum bisa melupakan menara itu.”
Lan Li sendiri tidak tahu bagaimana Penguasa Bayangan bisa mengetahui rahasia menara itu, namun sejak pertempuran itu, Penguasa Bayangan tak pernah muncul lagi di Sektor Bintang Ze Lan.
Ia mengira Penguasa Bayangan telah menyerah untuk mendapatkan menara, ternyata kini muncul kembali. Untung saja, menara itu sudah dibawa pergi oleh Qin Ruo.
“Jika tidak beritahu di mana menara itu, aku akan mengambil nyawamu,” ancam Penguasa Bayangan dengan aura membunuh yang jelas.
Sejak terluka parah oleh roh menara waktu itu, ia terus merencanakan pembalasan hingga hari ini.
Sayang, dari semua perhitungannya, ia tak pernah menyangka Li Guiqi dari Aula Bayangan Darah tidak akan mengambil tindakan keras terhadap Ze Lan.
“Aku juga tidak tahu ke mana menara itu pergi. Tiba-tiba saja ia menghilang dari Kota Biru Tua,” jawab Lan Li tenang.
Lan Li mustahil memberitahu Penguasa Bayangan bahwa kini Qin Ruo adalah pemilik menara itu.
Qin Ruo saat ini jelas bukan tandingan Penguasa Bayangan. Jika sampai ketahuan, Qin Ruo pasti tidak akan mampu menahannya.
Menara itu tidak boleh jatuh ke tangan Penguasa Bayangan.
“Menara itu telah mengakui siapa sebagai tuannya?” tanya Penguasa Bayangan dengan tenang.
Ia memang mengetahui beberapa rahasia menara, namun tidak yakin kebenarannya kecuali jika ia kembali masuk ke dalam menara itu.
“Itu tak bisa aku beri tahu padamu. Semua orang tahu apa saja yang dilakukan Kuil Bayangan di berbagai sektor bintang. Dalam urusan Ze Lan kali ini, kalian pasti juga terlibat, bukan?” ujar Lan Li pelan pada Penguasa Bayangan. Bukankah urusan di Sektor Bintang Qian Long pun begitu?
“Itu kau salah sangka. Aku juga tidak tahu kenapa yang turun tangan malah Istana Sembilan Naga. Seharusnya yang bertindak adalah orang bodoh lain,” jelas Penguasa Bayangan, “Tapi karena kulihat Istana Sembilan Naga keliatan kuat, jadi aku beri kesempatan itu pada mereka. Tak kusangka Long Zhibin dari Istana Sembilan Naga ternyata tak berguna, dan lebih tak terduga lagi, Li Guiqi dari Aula Bayangan Darah ternyata tidak menggunakan kekerasan pada Ze Lan.”
Penguasa Bayangan mencoba membela dirinya. Sebenarnya ia sudah mengatur agar Federasi Bintang Lianmei, di bawah pimpinan Feng Xuefu, yang menyerang Ze Lan.
Tak disangka Feng Xuefu malah memilih berdiam diri.
“Lalu, sebenarnya kekuatan mana yang awalnya kau siapkan untuk melawan Ze Lan?” tanya Lan Li lagi, rasa penasarannya semakin besar.
“Sebenarnya tidak masalah kuberitahu. Federasi Bintang Lianmei, Feng Xuefu. Urusan ini nanti akan aku tagih padanya. Sebelumnya, aku sudah mengambil sedikit bunga dari mereka, dalam perjalanan ke Ze Lan, aku membunuh wakil pemimpin mereka,” kata Penguasa Bayangan dengan santai.
Baginya, Feng Xuefu memang bukan orang penting.
“Ngomong-ngomong, kau pasti pernah dengar ramalan itu, kan?” tanya Lan Li setelah mendengar penjelasan Penguasa Bayangan.
Lan Li samar-samar merasa semua perkembangan ini pasti ada hubungannya dengan dirinya.
“Tentu saja aku tahu. Tapi semuanya sudah dimulai. Tak lama lagi kau juga akan mendengar kabar itu, dengan syarat, kau masih hidup saat itu,” ujar Penguasa Bayangan ringan, namun nada membunuhnya tak ditutupi sama sekali.
Lan Li pun jelas merasakan niat membunuh dari Penguasa Bayangan, yang benar-benar tanpa ampun.
Ia pun berdiri dan mulai merenggangkan tubuhnya.
“Tubuhku yang sudah renta ini entah masih sanggup menahan seranganmu atau tidak.”
Saat Lan Li melakukan pemanasan, suara tulang-tulangnya terus berderak.
Penguasa Bayangan hanya menatap Lan Li yang sedang merenggangkan tubuh, tanpa ikut campur.
Dalam hati ia menggerutu, “Ini yang disebut sudah renta? Orang tua renta mana bisa bergerak selincah ini?”
“Aku sudah selesai pemanasan, kau bisa mulai kapan saja,” kata Lan Li sambil memutar lehernya hingga terdengar suara berderak.
“Sebelum kubunuh, aku akan memberitahumu satu kabar,” ujar Penguasa Bayangan sambil tersenyum licik.
Ia yakin kabar ini akan sangat mengguncang Lan Li.
Lan Li pun berhenti, mengernyit dan bertanya, “Kabar apa?”
Dalam hati, Lan Li berpikir sejenak, tampaknya tidak ada berita yang benar-benar penting baginya.
Lalu Penguasa Bayangan menyebut satu nama, “Qin Rulong.”
Lan Li terkejut. Ia mulai menebak bahwa kematian Qin Rulong mungkin tidak sesederhana yang ia kira.
Dulu, Qin Rulong pernah memberitahunya bahwa saat menara itu menghilang, seseorang pasti akan mencarinya, dan menyuruh Lan Li untuk lebih berhati-hati.
Kini Lan Li pun semakin yakin akan hal itu. Kalau bukan karena ingin memastikan kebenaran ini, ia pasti sudah mengikuti Qin Ruo ke Kota Shenji sejak lama.
Namun ia masih yakin bisa selamat dari tangan Penguasa Bayangan.
“Bukankah Qin Rulong sudah lama mati? Atau kematiannya ada hubungannya denganmu?” Lan Li menatap tajam setiap gerak-gerik Penguasa Bayangan dan bertanya.